LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
164. Kota guha pawon


__ADS_3

"Tuan Niraya Sura dua hari yang lalu datang empat kapal laut besar setiap kapal membawa seratus lima puluh lebih prajurit langsung menyerang pusat pelabuhan tidak ada berdaya untuk melawan,.....


Keesokan harinya para pengikut kita yang masih setia banyak yang terbunuh secara misterius dan sisanya hilang tak di ketahui rimbanya,....


Kami berempat bisa selamat karena menyamar menjadi pedagang ikan, untuk menyakinkan mereka kami membeli ikan dengan sisa-sisa uang kami, ikan saya tinggalkan di perbatasan pelabuhan agar lebih cepat dalam perjalanan,....


Begitulah yang terjadi tuan ". Bandi mengakhiri laporannya dia menceritakan apa yang terjadi di pelabuhan Cilamaya.


"Kau tahu asal kapal-kapal itu". Niraya Sura bertanya.


"Tidak tuan kami baru kali ini melihatnya tapi yang jelas semua kapal mempunyai simbul di depan kapal mereka dengan ukiran kayu burung Rajawali dan di lambung atas depan ada ukiran naga". Bandi menjawab apa adanya.


Niraya Sura sekilas ingatannya terlintas kerajaan Kutai khal yang mempunyai lambang burung Rajawali.


"Apa mungkin ini armada laut kerajaan bocah pemilik tubuh empat lintang kelima pancer". Niraya Sura berkata sendiri sambil menatap kosong ke depan.


"Dua pelabuhan pusat perdagangan kita telah di kuasai pihak luar makin sulit kita untuk menguasai daratan luas Dwipa ini". Niraya Sura berkata dalam hati.


Akhirnya Niraya Sura membuat keputusan.


"Kita kembali ke guha pawon kita akan menyusun kekuatan di sana".


Rombongan pun berbalik arah kembali ke selatan menuju perguruan Gelap ngampar, mereka berempat tidak ada yang berani berkata sepatah kata pun.


Shun land dan rombongan sampai pada sebuah gapura seperti gapura kerajaan.


Dewi bulan merah, Wirantaka dan Mahisa taka terkejut dari sebuah perguruan sedang hanya beberapa tahun bisa menjadi sebuah kota yang cukup besar.


Ketiganya menyodorkan untuk turnamen pendekar muda persilatan, seorang anak muda menghampiri mereka menghentikan kudanya.


"Nyonya..... apakah Nyonya membutuhkan penginapan saya bisa menunjukkan pada nyonya dan tuan sebuah penginapan yang nyaman untuk menunggu waktu turnamen di buka, tuan dan nyonya akan merasa puas dengan pelayanan dan harga cukup terjangkau". Pemuda itu menawarkan penginapan.


"Saya pun bisa mengantar Nyonya dan tuan pendekar ketempat yang tuan inginkan seperti pandai besi yang bisa meningkatkan kualitas senjata buat para pendekar". Pemuda itu menambahkan.

__ADS_1


Dewi bulan merah menengok ke belakang Shun land mengerti menganggukkan kepala mengerti maksud Dewi bulan merah.


Kuda Dewi bulan merah di tuntun oleh pemuda itu menuju penginapan yang dia maksud.


Sampailah di sebuah gapura yang di jaga empat orang dua di sebelah kanan dua lagi di sebelah kiri, mereka berdiri dan membukukan badan serta mengangkubkan kedua tangan di depan dada atas tanda menghormati tamu yang datang.


Shun land turun dari kudanya di ikuti yang lainnya, Shun land membalas penghormatan para penjaga gapura serta merta di ikuti oleh yang lainnya.


Setelah rombongan berlalu salah satu penjaga gapura berkata pada temannya. "Baru kali ini aku melihat seorang anak muda yang terlihat dari pakaiannya seorang pendekar tapi dia sangat hormat pada kita hanya seorang penjaga gerbang yang ilmunya sangat rendah".


"Iya kalau yang lain boro-boro membalas hormat turun dari kudanya pun tidak, kalau dia jadi peserta aku akan mendukung dia biar cuti dulu ingin menyaksikan pendekar muda sopan santun tidak sombong". Temannya menyahuti.


Sebuah bangunan dari kayu berlantai tiga dengan lebar bangunan dua puluh depa orang dewasa, di lantai tiga berjejer meja makan dengan rapi setiap meja di keliling enam kursi kiri kanan.


Di depan ada meja di tunggu seorang gadis cantik sebagai tempat pendaftaran.


Sebelum mereka sampai ke depan penginapan tiga orang laki-laki datang menghampiri. "Tuan apakah tuan-tuan membutuhkan perawatan untuk kuda kuda tuan".


Salah satu laki-laki itu bertanya, ketiga laki-laki itu pegawai penginapan sekaligus jasa perawatan kuda, Shun land langsung menjawab.


"Lima puluh keping perak tuan satu ekornya, biaya istal dan makan selama di sini berbeda akan di masukan ke tagihan biaya penginapan". Jawab pelayan penginapan.


(1 keping emas \= 100 keping perak, 1.keping perak \= 100 keping perunggu).


"Ini paman uangnya". Shun land memberikan sepuluh keping emas.


"Ini terlalu banyak tuan". Laki-laki itu menghitung sepuluh kuda, Shun land langsung menimpali.


"Sisanya untuk paman dan kawan-kawan bagi dengan adil tolong jaga dan rawak kuda kuda kami".


Mereka bertiga sangat senang mendapat tips sangat besar.


Kuda kuda mereka di bawa oleh mereka ke samping penginapan menuju istal yang ada di belakang bangunan penginapan.

__ADS_1


Pemuda pelayan memimpin menuju tempat pendaftaran tamu, "Tuan berapa kamar yang butuhkan di sini ada dua kelas, kelas 1, dan kelas 2, kelas 1 di lantai tiga kelas 2 di lantai 2. Silahkan tuan memilih". Pemuda pelayan memberikan pilihan.


Setelah sepakat Dewi bulan merah berkata.


"Kami membutuhkan enam kamar di kelas satu".


Setelah mendaftar mereka di mengikuti pelayanan ke lantai tiga.


Terlihat di lantai tiga delapan kamar berbaris di tengah-tengah ada ruangan makan dengan ada empat meja besar setiap meja di kelilingi enam kursi.


Shun land dan Boma memilih paling depan, hingga bisa melihat ke jalan, di sebelahnya Dewi bulan merah dan Ayu Sondari di ikuti yang lainnya.


"Pelayan setelah kami membersihkan diri siapkan sepuluh porsi makanan". Shun land memesan makanan sambil memberikan uang tips.


"Baik tuan terima kasih atas ke baikan tuan". Pemuda itu berkata dengan sopan hatinya senang mendapatkan uang cukup besar.


Di dalam kamar langsung membersihkan diri di ikuti Boma mereka bergantian karena hanya ada satu tempat mandi.


Ruangan itu cukup besar dan tempat tidur yang cukup untuk tidur tiga orang.


"Ada apa yang di dalam tas mu kok bergerak-gerak". Shun land bertanya pada Boma, selain pakaian Boma membawa satu tas terbuat dari kulit domba.


"Itu burung merpati burung spesialis penghantar pesan aku di suruh membawanya oleh putri Dian Prameswari dwibuana kemanapun aku pergi jika aku ingin memerlukan sesuatu aku tinggal kirim saja". Boma menjawab.


"Kalau begitu kirim pesan pada Putri Dian Prameswari dwibuana agar paman Antaka membawa pasukannya secukupnya untuk menyelidiki kota baru ini". Shun land memerintah Boma mengirim pesan.


Mereka pun keluar ke tempat makan di sana sudah ada Dewi bulan merah dan yang lainya.


Setelah usai makan Shun land mendahului memulai pembicaraan. "Paman Mahisa taka menurut paman siapa yang akan mendaftar ke pusat perguruan gelap ngampar, kalau saya pergi ke sana saya takut Niraya Sura dan bawahannya mengenal saya".


"Menurut pendapat saya biar kami bertiga yang mendaftar kalian tunggu saja di sini, nanti kalau waktunya tiba tuan Satria baru menghadiri dengan pakaian yang berbeda hingga Niraya Sura tidak mengenali kalian berdua". Jawab Mahisa taka.


Setelah di sepakati mereka kembali ke kamar masing-masing.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2