
"Semoga kita berjumpa lagi, dan bukan sebagai musuh". Ki Kama Deva berlalu.
Berita nama pendekar LEGENDA RAJAWALI API, menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut.
Nama itu jadi pembicaraan di setiap sudut kota bahkan sampai ke pelosok negri. Nama Satria Nusa kencana menjadi suatu bahasan di setiap-tiap kedai.
Khususnya kaum hawa sangat mengidolakan pendekar muda ini.
Kedai di pedukuhan Paau, ramai kembali, sesekali terdengar suara pekikan burung Rajawali api di udara pedukuhan itu.
"pak kapan kita bertemu pendekar legenda Rajawali api nya, aku ingin belajar ilmu Kanuragan, agar nanti aku bisa menendang bokong orang yang merampok kita".
"nanti juga akan ketemu, yang penting kamu belajar yang rajin dan giat berlatih".
Obrolan seorang ayah dan anak yang berusia sembilan tahun, di samping meja pangeran Shun Land.
sang pangeran Shun Land melirik ke anak tersebut yang menatapnya, pangeran Shun Land tersenyum.
Anak itu mendekati sang pangeran Shun Land. "kakak nanti kalau ketemu sama pendekar legenda Rajawali api, katakan Samo ingin belajar ilmu Kanuragan, untuk melawan orang-orang jahat".
"iya dede nanti kakak sampaikan, yang penting Samo jadi anak baik yah". hati pangeran Shun Land merasa lucu tingkah Samo, dia pun tidak menyangka bahwa dirinya akan seterkenal itu.
"Samo sini tak boleh ganggu kakak yang lagi makan''. ayah Samo memanggil.
pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana tidak menyangka kejadian di kampung Santui, mempunyai dampak yang besar pada masyarakat banyak.
"paman Karba, cukup sampai di sini saja paman mengantar kami, saya tidak ingin paman terlibat urusan saya dengan padepokan tapak maut".
pangeran Shun Land lalu memberikan sisa uang jasa, yang di bayar separoh di depan, dan memberikan lebih beberapa puluh keping.
"tuan Satria Nusa kencana ini terlalu banyak". Karba berniat mengembalikan uang kelebihan, namun di tolak oleh pangeran Shun Land.
"ambil paman itu tanda terima kasih kami kepada paman telah mengantar ke tempat tujuan kami".
Pangeran Shun Land dan ketiganya keluar setelah Boma membayar biaya makan dan minum di kedai itu.
semua mata memandang ke arah pangeran Shun Land, setelah mendengar Karba menyebut Satria Nusa kencana kepada pangeran Shun Land.
__ADS_1
"ternyata kita selama ini, makan bersama pendekar yang terkenal itu". celetuk seseorang di samping meja bekas makan pangeran Shun Land dan rombongan.
setelah cukup jauh dan tidak ada yang melihat, pangeran Shun Land memanggil sang Rajawali api.
Tak lama sang Rajawali api datang di hadapan pangeran Shun Land.
"apa kau mampu mengantar kita semua ke padepokan tapak maut".
pangeran Shun Land bertanya pada sang Rajawali api.
"aku mampu membawa empat kali lipat dari kalian, tapi apa kalian akan mengundang para pendekar lainya yang ingin menjajal kemampuan mu, ingat sekarang ini tuan ini menjadi sorotan utama para pendekar, belum lagi di padepokan itu ada sekitar tiga puluh orang pendekar". sang Rajawali api memperingatkan.
pangeran Shun Land berpikir, "ada benarnya burung emprit ini".
"baiklah aku akan berjalan kaki saja mungkin paling lambat sore nyampe ke sana".
pangeran Shun Land dan tiga sahabatnya memutuskan untuk berjalan kaki saja.
memang bila berlari menggunakan ilmu saipi angin paling lama dua waktu menanak nasi, tapi demi menghemat tenaga dalam, mereka semua berjalan kak.
sang Rajawali api terbang dan menghilang di langit kedalam hutan.
semakin kedalam hutan para pengguna jalan itu semakin jarang.
"pangeran... !!! apa pangeran mendengar jeritan seseorang di depan". pangeran Sanjaya triloka berhenti berjalan mendengar kan dengan baik-baik. tapi suara itu menghilang.
"aku juga mendengar tapi sangat pelan, tapi cuma sekali''. Boma ikut bicara.
"itu mah cuma pendengaran orang yang lapar", sahut putri Dian Prameswari dwibuana.
mereka pun tertawa bersama, perjalan di lanjutkan dengan langkah kaki di percepatan.
Tapi semakin dekat semakin jelas suara seorang perempuan, dari suaranya perempuan berumur paruh baya.
Tanpa banyak bicara pangeran Shun Land melesat ke depan menuju arah suara itu.
Tapi sayang dia terlambat datang, di sana telah tergeletak dua orang masing-masing mengalami luka bacok, satu lengan kirinya hampir putus, dan yang satu lagi di punggung yang cukup dalam.
__ADS_1
Satu mayat tergeletak dengan luka sayatan hampir di semua tubuhnya.
seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang hampir terlepas semua, duduk di dekat roda gerobak sambil menangis, dari keadaannya seperti habis korban pemerkosaan.
"Bangs****t". hanya itu yang keluar dari bibir pangeran Shun Land, tangannya mengepal penuh kemarahan.
"Tapak Geni bila perguruan mu, terlibat dengan perampokan perampokan ini akan ku musnahkan perguruan perguruan tapak maut dari muka bumi ini", gumam hati pangeran Shun Land sambil mengeratkan gigi gerahamnya.
Boma dan putri Dian Prameswari dwibuana, menolong orang yang hampir putus tangannya dalam keadaan pingsan.
lengan itu, yang menempel hanya kulit saja, putri Dian Prameswari dwibuana tanpa ragu-ragu mengiris kulit yang tersisa. dan membuang lengan itu jauh. hingga bila sadar orang itu tidak melihat lengannya yang terpisah.
lengan putus itu di bungkus kain dari baju orang tersebut, untuk menghentikan pendarahan.
pangeran Sanjaya triloka, menotok bagian punggung yang terluka sabetan golok, menghentikan pendarahan.
ketika mereka sedang merawat yang terluka, datang dua orang pemuda menunggang kuda. dan berhenti membantu membopong korban perampokan ke pinggir jalan.
Dua pemuda yang sebaya dengan pangeran Shun Land, hendak melanjutkan perjalanannya, tapi di hentikan Pangeran Shun land.
"ki sanak tunggu sebentar" pangeran Shun Land menghampiri dua pemuda yang hendak naik ke kudanya.
"Ada apa tuan", pemuda itu bertanya dengan sopan.
"Bila ki sanak tidak keberatan tolong antarkan paman dan bibi ini ke tempat tujuannya, nanti kami akan membayarnya, ku rasa ini cukup banyak". pangeran Shun Land bicara ambil melempar sekantong kepingan koin emas.
Pemuda itu menangkapnya. melihat banyaknya koin emas, kedua pemuda itu saling memandang dan menganggukkan kepalanya bersaman.
"Baik tuan, memang kami lagi membutuhkan uang untuk perjalan kami ke kampung Santui, yang sekarang jadi sebuah pedukuhan, ingin mendaftar menjadi prajurit di sana, tapi kami ragu untuk di terima, salah satu pemuda menjawab dengan jujur.
"Bila kalian sampai di pedukuhan Santui, katakan pada ketua perwakilan kerajaan yang bernama Rumaga, bahwa kalian di utus, Satria Nusa kencana kalian akan segera di terima''. Pangeran Shun Land memberikan rekomendasi.
pangeran Shun Land kelanjutan perjalanan dengan berlari, menggunakan ilmu saipi angin, karena waktunya tersita menolong korban perampokan.
Tidak lama terlihat sebuah gapura terbuat dari kayu besar.
"Tapak Geni keluar, kau harus mempertanggung jawabkan semua kejahatan dan kekejian mu selama ini".
__ADS_1
Terdengar suara menggema yang di lambari tenaga dalam
...****************...