LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
366. Jaya Sempurna 99. Penghormatan ketiga permaisuri pada Ratu Galuh Sindula.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali istana sangat ramai para pejabat tinggi kerajaan semuanya datang, permaisuri Sari Tungga Dewi sudah menerima banyak pejabat kerajaan, semuanya menerima kabar bahwa Sang Legenda Rajawali Api datang ke istana Sundapura, Mereka semua menanyakan apa Sang Legenda Rajawali Api bersama raja mereka.


Dia sana ada putri Dian Prameswari Dwibuana dan pangeran Makkamaru, ada panglima Tarpa dan panglima Sarpa juga panglima pasukan khusus senyap Ki Bajul pakel.


Permaisuri Sari Tungga Dewi tidak bisa menjawab dengan alasan bahwa dirinya tidur sedari sore, saat mereka menerka-nerka Sang Legenda Rajawali Api bersama raja mereka.


Suasana saling tanya berhenti ketika hinggapnya sang legenda Rajawali Api di tengah halaman taman di punggungnya ada permaisuri Dewi Sumayi yang masih terbuai dalam mimpinya.


Dua orang keluar dari kediaman permaisuri May Lien berjalan perlahan ketika itu pandangan masih samar, setelah lebih dekat secara serentak semuanya berlutut sambil mengucapkan salam.


"Salam pada paduka raja". Ucapan itu di balas oleh Shun Land, "Bangunlah kalian semua ada apa pagi-pagi sudah berkumpul". Sebelum ada yang menjawab dari pintu kediaman khusus tamu keluar dua orang wanita, semua mata tertuju pada mereka berdua.


Dewi Pakuan dan nyai Gora Sindula jadi salah tingkah di lihat semua orang yang berlutut di hadapan Shun Land tanpa di perintah mereka berdua jadi mengikuti berlutut.


"Nanti aku akan menjelaskan pada kalian, sehabis makan pagi kita berkumpul di istana hanya orang-orang terdekat yang di undang, sudah kalian kembali kekediaman masing-masing". Shun Land mengerti apa yang semua pikirkan terhadapnya.


Shun Land berjalan ke arah Sang Legenda Rajawali Api yang tidak berani bergerak takut sahabat kecil di kehidupan yang keduanya ini terbangun. Shun Land dengan pelan-pelan menggendong permaisuri Dewi Sumayi ke kediaman pribadinya yang sekarang di tempati permaisuri Sari tungga dewi.


Permaisuri May Lien, permaisuri Sari tungga dewi dan Dewi Pakuan serta nyai Gora Sindula mengikuti Shun Land, permaisuri May Lien menggandeng tangan Dewi Pakuan tanpa bicara.


Permaisuri May Lien sudah menduga apa yang terjadi, namun kali ini permaisuri May Lien mempunyai pandangan berbeda setelah melihat pamor Dewi Pakuan bersinar di wajahnya.


Shun Land meletakan permaisuri Dewi Sumayi di atas pembaringan Shun Land keluar, permaisuri Dewi Sumayi yang pura-pura tidur langsung membersih diri dan merapihkan pakainya lalu keluar.

__ADS_1


Mereka semua duduk di kursi berjejer permaisuri Dewi Sumayi duduk di sebelah Permaisuri Sari Tungga Dewi. Sedangkan Shun Land duduk sendirian di hapan kelimanya.


Shun Land berpikir keras mencari bahasa yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Setelah sekian lama terdiam akhirnya Shun Land buka suara.


"Dengarkan baik-baik, ketika aku melakukan meditasi mendalam di puncak gunung Krakatau akhirnya aku di temui oleh leluhur ku dan memerintahkan aku melakukan Laku Ritual Topongrame, selama lima tahun, yang di maksud Topongrame adalah membuang segala tentang status sosial dan menyembunyikan diriku yang sebenarnya, dalam laku Ritual Topongrame juga aku harus melayani rakyat dan membantu rakyat, dalam meditasi itu aku juga mendapat gambaran masa depan,......


,..... Aku melihat seluruh negri ini penuh dengan kobaran api peperangan yang dahsyat, dalam menjalankan laku Ritual Topongrame aku tidak boleh menolak apapun yang terjadi aku harus menerimanya,.......


,..... Suatu waktu aku singgah untuk makan di pedukuhan Cikawung aku menolong seorang gadis yang terkena racun raja kala dan akhirnya sembuh, hanya saja ibu gadis itu mempunyai Nazar mangku bumi yang apabila tidak di laksanakan akan menimbulkan bencana di pedukuhan tersebut,......


Shun Land menceritakan semuanya ke ketiga permaisurinya tidak ada yang di sembunyikan sedikit pun. Setelah selesai Shun Land menceritakan semua dengan serentak ketiga permaisuri Shun Land langsung berdiri dan belutut di hadapan Dewi Pakuan ketiganya mengucapakan salam.


"Salam dan sembah bakti Pada ratu Galuh Sindula". Ucapan mereka bertiga berbarengan jelas saja ini membuat kaget Dewi Pakuan yang tadinya merasa bersalah karena menikah dengan suami mereka, tetapi mereka bertiga malah menghormati dirinya.


,......Karena kita semua adalah istri dari kakang Jaya Sempurna yang wajib kita setia dan bakti Kepada suami kita yang memang kadang menjengkelkan". Entah apa yang terjadi semenjak di menyatukannya mustika Manik Maya Dewi Lasmini atau Dewi Pakuan bicaranya seperti ada yang mengajari.


Ketiganya lalu berdiri dan duduk kembali mata mereka berempat menatap tajam Shun Land, Shun Land langsung berkata.


"Penjaga segera ke dapur istana katakan segera bawakan makanan dan minuman segera aku ingin segera makan makanan enak istana ini". Shun Land sengaja berkelit melawan satu orang saja repot apa lagi melawan ke empatnya bisa seperti neraka sesungguhnya di muka bumi ini.


"Siap laksanakan......!!!". Terdengar suara dari balik pintu. Suara itu menyadarkan mereka bertiga untuk bersiap acara kerajaan menyambut kedatangan sang raja Sundapura yang telah kembali.


Ketiga permaisuri Shun Land pergi ke kediaman masing-masing yang tertinggal mereka bertiga. Nyai Gora Sindula yang sudah memiliki usia lebih lama mengerti apa yang harus di lakukan.

__ADS_1


"Aden dan putri saya ingin kembali ke kediaman tamu ibu merasa masih lelah ingin beristirahat kembali". Tanpa mendapatkan persetujuan dulu nyai Gora Sindula segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.


Tinggallah mereka berdua Dewi Pakuan berkata, "Terima Kasih kakang telah mengangkat derajat saya setinggi ini". Dewi Pakuan bersujud di hadapan Shun Land dengan sepenuh hati.


"Bangunlah kau tidak pantas menyembah Ku karena kau adalah Ratu kerajaan , Galuh Sindula penerus Raja Agung Sunda Land Jatiraga". Shun Land segera meraih Dewi Pakuan yang tidak mau bangun bercucuran air mata kebahagiaan.


Berita kembalinya sang pendekar Rajawali Api membuat gegerkan kota Sundapura, tidak di sangka berita ini membuat reaksi rakyat sangat luar biasa. Di pintu gerbang luar istana kerajaan Tarumanagara penduduk kota berjibun ikut antrian ingin melihat raja mereka yang telah lama tidak kembali.


Mendengar kedatangan Shun Land Boma segera bangkit dan berkata pada Mawinei.


"Kau tidak sedang mengerjai ku kan....!!!". Boma sedikit tidak percaya kabar yang di berikan Mawinei. Mawinei langsung menjawab.


"Tadi pagi-pagi sekali ada prajurit utusan permaisuri May Lien memberikan kabar ini kepada saya, tadinya saya ingin membangunkan kakang tapi aku tak tega kakang baru saja tertidur".


"Kau ini sangat keterlaluan berita sangat penting ini tidak langsung kau beritahu aku, jangankan lagi tidur lagi sekarat pun harusnya kau beri tahu aku". Boma mengomeli Mawinei istrinya dan langsung membersihkan diri bersiap untuk berangkat ke istana Sundapura.


"Bila benar kau telah kembali aku tidak akan memandang di dalam istana atau pun banyak orang kau akan ku berikan pelajaran membuat kakak mu menjadi mayat hidup". Boma ngedumel di hatinya.


Di istana sudah ramai orang mempersiapkan makan besar menyambut kedatangan sang raja Shun Land, para pelayan istana dan puluhan bahkan ratusan sibuk sekali mempersiapkan segala sesuatunya.


Para pejabat tinggi mulai berdatangan di luar gerbang ada kereta kerajaan yang berjalan pelan karena banyak penduduk kota berjalan ke arah yang sama.


"Mudah-mudahan kita tidak terlambat di acara penyambutan menantu kita yang Koko, Nyai Iseng berkata pada tabib Lau Lien". Ternyata yang di dalam kereta adalah mertua sang raja Shun Land, Nyai Iseng dan tabib Lau Lien.

__ADS_1


**************"***


__ADS_2