LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
376. Jaya Sempurna 109. Sampai di Perguruan Kanoman sumur Pitu.


__ADS_3

"Kakang tadi waktu May berangkat tidak menjumpai Lodaya berada di rumah, aku sangat khawatir kakang". Permaisuri May Lien berkata sambil menatap wajah Shun Land dengan serius. Shun Land lalu menjelaskan tentang Lodaya.


"May jangan terlalu khawatirkan Lodaya harimau kumbang itu, perlu May ketahui Lodaya adalah hewan purba yang mempunyai roh seperti kita dia lahir di sini tetapi dia sampai bisa menyebrang ke dataran luas Nusa kencana entah bagai mana cara, dia sampai kesana hanya untuk menjalankan tugasnya dari Sang Maha Pencipta membantu kakang, membuka ilmu olah Kanuragan kakang dan menjaga Batu roh Sang Legenda Rajawali Api hingga Sang Legenda Rajawali Api terlahir kembali, Jangan khawatir masalah Lodaya,.....


,..... May juga Adik Dewi Sumayi harus tahu kakang menemukan wilayah di gunung Gora untuk mendirikan istana di sana ada Batu altar yang bersinar di tengahnya bergambar kepala Sang Lodaya, kakang masih belum mengerti maksud dari gambar tersebut sedangkan batu altar itu tempat kedua kursi singgasana Keprabon Raja dan Ratu,......


,.....Kakang menduga Lambang kerajaan Galuh Sindula harus kepala Lodaya dan pusaka pemberian Sanghyang Wenang yang berbentuk Kujang, tapi kakang harus membicarakan dulu dengan ibu Gora Sindula sebagai pengaping Wahyu Keprabon Sundaland". Shun Land bicara panjang lebar pada kedua istrinya.


Kedua istrinya permaisuri May Lien dan permaisuri Dewi Sumayi mendengar dengan serius. Mereka bertiga tidak menunggu terlalu lama, mereka bertiga hanya menunggu 2 kali waktu memasak nasi, Sang Legenda Rajawali Api sudah datang kembali menjemput mereka.


Kedua kaki kekar Sang Legenda Rajawali Api mendarat dan langsung berkata. "Kau ini sangat menjengkelkan kau sudah dapat terbang karena tenaga dalam mu sangat tinggi belum lagi kekuatan api abadi mu kau bisa melayang hingga sehari penuh, eeeh malah menunggu ku dasar raja malas". Sang Legenda Rajawali Api bicara dengan kesal.


"Sudah jangan banyak cingcong setelah kita meresmikan istana Galuh Sindula atau Galuh Purba kita akan berlatih membiasakan kerja sama dengan Naga Bergola aku juga ingin memperkenalkan seseorang mungkin kau akan mengenalnya". Sesudah bicara Shun Land kedua tangannya meraih pinggang kedua istrinya dan melayang ke punggung Sang Legenda Rajawali Api.


Tanpa banyak bicara lagi Sang legenda Rajawali Api melesat ke angkasa meliuk-liuk membawa sang junjungannya menuju lereng gunung Ceremai.


Sang Legenda Rajawali Api dengan gagahnya turun di halaman perguruan Kanoman sumur Pitu sayapnya di bentangkan hingga bayangannya menutupi hampir seluruh kawasan perguruan, kala itu matahari sudah condong ke barat.

__ADS_1


Para murid hampir seluruhnya keluar ingin melihat junjungan mereka turun dari burung mitos yang sekarang terlihat nyata adanya. Sang Legenda Rajawali Api menampakan kakinya di tengah halaman perguruan.


Di sana sudah berjejer pemimpin perguruan Kanoman sumur Pitu Nyai Dewi Sukma berdampingan dengan Nyai Darmawati, pangeran Sanjaya triloka beserta istri putri Sanja, Pramuja dan istri putri Dyah Prameswari Dwibuana serta ke empat Adik seperguruannya, Lamsijam, Delay dan Pataya serta ke empat anak buahnya, pangeran Dehen dan istri Nyai Sri Tanjung pendekar bulan merah, yang paling depan permaisuri Sari Tungga Dewi dan Dewi Pakuan di apit Nyai Gora Sindula.


Shun Land turun melayang sambil kedua tangannya menggandeng pinggang permaisuri May Lien dan permaisuri Dewi Sumayi. Berbarengan dengan kaki Shun Land menyentuh tanah berdiri di apit kedua permaisurinya, secara serempak yang berada di sana berlutut dan mengucapkan salam secara serempak.


"Salam hormat dan sembah bakti pada paduka raja Jaya Sempurna beserta keluarga". Suara itu terdengar bergemuruh karena begitu banyak yang berada di sana.


"Bangunlah kalian semua aku sama seperti kalian jangan perlakukan aku seperti memperlakukan seorang hamba pada tuannya". Shun Land menjawab. Lalu berjalan ke pendopo utama di ikuti keempat istrinya dan yang lainya.


Sementara itu Sang Legenda Rajawali Api bicara pada batin Shun Land, "Aku ingin mengunjungi Naga Bumi Sabui yang menjaga istana Galuh Sindula, dan menanyakan siapa yang sebenarnya membangun istana sebesar dan semegah itu dengan waktu Singkat".


Penobatan ini akan di pimpin oleh Nyai Gora Sindula sebagai pengaping Wahyu Keprabon Galuh Sindula yang sah.


Dalam kesempatan ini Shun Land melihat keseriusan Dewi Sukma dan Dewi Darmawati merubah Ajian gendam mereguk Sukma menjadi Ajian Kanoman dengan ritual mandi tujuh sumur sebagai sarat mutlak untuk dirinya dan para murid-muridnya yang sudah cukup tinggi penguasaan ilmu Batiniahnya.


"Paduka raja ini kitab yang saya susun ulang tentang ajian Gendam mereguk Sukma yang sudah saya selaraskan dengan Ajian Saipi Banyu/air bersama adik Dewi Darmawati, sesuai dengan wejangan paduka kitab ini saya beri nama kitab Kanoman Sumur Pitu". Dewi Sukma menyodorkan sebuah kitab yang di tulis di atas beberapa lembar kulit Menjangan.

__ADS_1


Shun Land menerimanya untuk mempelajari dan meneliti isi kitab tersebut apa masih bertentangan dengan 4 kitab Saipi, Saipi Angin, Saipi Banyu/air, Saipi Geni/Api dan Saipi Bumi.


Shun Land di iring permaisuri Sari Tungga Dewi dan Dewi Pakuan ke kamar khusus yang sudah di siapkan oleh Dewi Sukma sebagai pimpinan perguruan.


Dewi Pakuan di suruhnya oleh permaisuri Sari Tungga Dewi untuk menemani Shun Land ini untuk menghilangkan rasa bersalah pada Shun Land. Sedangkan dirinya ingin membicarakan tentang peralihan kerajaan bersama pangeran Sanjaya triloka dan yang lainnya.


Di pembicaraan itu permaisuri Sari Tungga Dewi menjelaskan titah raja Shun Land yang ingin membangun benteng di setiap pelabuhan besar sebagai pertahan pertama dari serangan pasukan musuh yang akan menyerang.


Permaisuri Sari Tungga Dewi juga menjelaskan bahwa pimpinan pembangunan ini di limpahkan kepada pangeran Sanjaya triloka, dan meminta putri Sanja yang ahli dalam administrasi keuangan untuk menepati jabatan keuangan kerajaan Galuh Sindula yang akan di resmikan.


Lamsijam di minta menjadi pendamping pangeran Sanjaya triloka dalam melaksanakan tugas sebagai pemimpin pembangunan benteng pertahanan di setiap pelabuhan besar.


Permaisuri Sari Tungga Dewi juga berbicara pada pangeran Dehen yang telah di pilih sebagai pimpinan Strategi armada Naga Biru yang berpusat di kota Sundapura di dampingi Laksamana Sarpa dan laksamanawati Komalahayati, untuk itu pangeran Dehen di perintahkan untuk berangkat besok bersama Nyai Sri Tanjung istrinya.


Pangeran Sanjaya triloka langsung mengadakan pertemuan dengan beberapa telik sandi untuk menghubungi Bangsawan Osing Banyuwangi untuk menjadi pemimpin benteng pertahanan di pelabuhan Brantas.


Pramuja mengirim kedua adik seperguruan ke istana Kebangsawanan Wajak untuk memberitahu leluhur Ki Birawa dan ibunda Ratu Prameswari Dwibuana tentang pembangunan benteng pertahanan di setiap pelabuhan sebagai pintu masuk pasukan musu.

__ADS_1


****************


__ADS_2