
"Tunggu Kau keterlaluan melewati batas pergi tanpa pamit dan datang tanpa pesan begini cara mu membalas orang yang menjagamu sejak kecil, kau harus menerima hukuman". Boma berjalan mendekat dengan linangan air mata kegembiraan adik satu-satunya kembali tanpa ada kekurangan satu pun.
Shun Land pun berjalan berjalan mendekati hatinya terenyuh pilu melihat sang kakak yang menjaganya sejak kecil terlihat kurus memikirkan dan mengkhawatirkan dirinya karena pergi tanpa kabar berita.
Shun Land tanpa ragu-ragu berlutut di hadapan Boma tanpa menghiraukan bahwa dirinya seorang raja besar, bagi Shun Land kakak yang satu ini melebihi nyawanya sendiri, hati Shun Land begitu teriris melihat keadaan Boma yang berantakan.
"Maaf kan aku kakak tiada pergi tiada beritahu aku tidak akan berdiri jika kau kau tidak memaafkan ku". Shun Land berkata sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya.
Semuanya hening tidak ada yang berani bicara bernafas pun di pelankan, Boma lalu berkata sambil mengangkat kedua bahu Shun Land.
"Tidak perlu perkataan maaf melihat mu tidak kekurangan sesuatu apapun kakak mu ini sangat bahagia, bangunlah tidak pantas seorang raja besar berlutut pada yang lain di hadapan rakyatnya". Shun Land bangun mereka pun berpelukan dengan gembira.
Boma melepas pelukannya lalu berkata sedikit keras "Tunggu-tunggu dulu hukum tetap hukum tidak boleh di permainkan. Kepada yang semua yang hadir dengarkan, kita sudah sepakat kerajaan kita adalah kerajaan yang berdaulat dan berazaskan hukum, setuju tidak bila sang raja yang berbuat salah pergi meninggalkan kewajibannya bila mendapatkan hukuman demi keadilan".
"Setujuuuuuuuuuuu........!!!!!". Rakyat yang berjibun teriak serempak.
"Baik Saya akan menghukum dengan hukum sang raja harus menggendong ku sampai ke dalam istana, karena dulu dia sering meminta di gendong". Boma berkata dengan tegas.
Semua rakyat yang mendengar jadi tertawa ternyata hukumannya seorang raja menggendong kakaknya. Shun Land menjawab dengan mantap.
"Baik saya terima hukuman ini dan saya pun berpesan kepada kalian semua jangan sekali-kali menyentuh menyakitinya kakak ku ini bila ada yang berani maka aku sendiri akan menghukum tanpa pengadilan terlebih dahulu". Shun Land bicara serius, tujuan Shun Land peringatan ini agar tidak ada yang berani terhadap keluarganya satu-satunya yang selalu dekat dan mengkhawatirkannya.
__ADS_1
Shun Land mengendong Boma berjalan ke dalam istana di iringi gelak tawa rakyatnya penuh kegembiraan. Di pertengahan jalan menuju singgasana di dalam istana, seorang bocah perempuan berusia lima tahunan menghampiri Shun Land yang mengendong Boma.
"Ayah turun kasian paman Raja ayah kan sudah tua, Biar Prastiwi yang di gendong yaaa paman Raja". Anak perempuan ini bicara sangat mengemaskan.
Boma turun dari punggung Shun Land lalu berkata, "paman raja lagi kena hukuman karena bersalah dede Pertiwi juga akan kena hukuman bila bersalah".
"Baiklah kalau begitu biar Pertiwi yang menghukum paman Raja biar tidak nakal lagi, paman Raja jongkok Pertiwi mau menghukum paman, bibi permaisuri jangan membela yang bersalah yaaaa".
Suara Pertiwi membuat mata Shun Land berkaca-kaca Shun Land sangat ingat bahwa dirinya tidak akan bisa mempunyai keturunan. Shun Land berjongkok dan berkata. "Paman raja siap di hukum oleh Dewi Cantik tapi paman raja ingin di cium dulu".
Pratiwi berlari lalu mencium Shun Land dan berjalan ke belakangnya lalu naik ke atas punggung Shun Land, Shun Land berjalan ke kursi singgasana Mawinei menghampiri dan menggendong Pertiwi lalu kembali duduk bersama Boma.
"Baiklah setelah mendengarkan pidato dan sekaligus perintah padukan raja, acara selanjutnya adalah makan bersama dan kepada kepala dapur istana segera membagikan makan kepada yang di luar istana". Putri Dian Prameswari dwibuana sebagai pengatur acara memberi tahukan acara selanjutnya. Tetapi Shun Land segera bicara.
Para pejabat pun akhirnya tidak ada yang masuk ke ruangan maka istana tetapi mengikuti Shun Land ke halaman depan istana.
Para prajurit Istana dengan sigap mengangkut makan yang sudah di tata di ruangan makan istana ke halaman depan istana.
Shun Land di dampingi ke empat istrinya makan bersama dengan rakyatnya tanpa jarak, para prajurit pun di suruh Shun Land untuk makan bersama.
Suasana makan bersama semakin meriah oleh candaan Boma, Shun Land dan keluarga istana dan orang-orang terdekat Shun duduk melingkar, di suana yang gembira itu pangeran Makkamaru berkata.
__ADS_1
"Saya ingin bercerita sedik boleh.....? cerita bukan masalah serius tapi ini berita yang luar biasa". Semuanya menoleh ke Pangeran Makkamaru yang jarang bicara tapi kali ini dia bicara spontan saja mereka berseru.
"Boleeeeh.....!!!". Mereka serempak bagai ada yang ngomandoi. "Ketika itu saya memasuki sebuah gua yang sangat sulit untuk di jangkau". Pangeran Makkamaru berhenti berkata untuk minum, mata Boma tajam menatap Pangeran Makkamaru. Tapi pangeran Makkamaru seolah tidak mengetahuinya dan melanjutkan ceritanya.
"Ketika itu saya masuk berdua kedalam gua itu, di dalam gua ada seekor burung besar sedang duduk bertengger di atas batu dengan mata terpejam, saya kaget sekali teman saya itu langsung menangis meraung-raung sambil berkata tersendat-sendat, kalian ingin tahu tidak menangisnya bagai mana....?".
"Ingin dooong" panglima Tarpa menyahuti yang duduk di belakang Boma, Boma yang sudah tahu jalan ceritanya menoleh pada panglima Tarpa dengan lirikkan tajam sekali. Sebenarnya pangeran Makkamaru menceritakan Boma waktu di gua Sanghyang Sirah di ujung Kulon.
"Begini nangisnya.... lalu pangeran Makkamaru menirukan seorang yang menangis tapi di tambah-tambahi, 'yang membuat saya terharu dia menangis sambil memanggil, 'ibuuuu ibuuuuu aku sangat sedih tapi aku juga ingin makan' hahahaha".
Pangeran Makkamaru bicara bibir di peletat-pletotin dan tertawa.
"Pangeran sebenarnya teman pangeran itu siapa...? Dan di gua apa kejadian itu saya jadi penasaran kalau tahu orangnya saya akan segera mengirim makan kasihan sudah lagi sedih eeeh lapar juga". Panglima Tarpa bertanya seolah-olah benar-benar tidak mengetahui siapa teman pangeran Makkamaru. Mendengar ucapan panglima Tarpa kuping Boma terasa panas tapi tidak berdaya karena memang demikian kejadiannya.
"Maaf panglima Tarpa saya bisa menyebutkan nama gua tersebut, apa lagi nama orangnya itu bahaya, tapi yang jelas dia adalah sahabat baik saya.
Semuanya tertawa sambil menatap Boma, Boma hanya cemberut sambil sesekali melirik ke arah pangeran Makkamaru. Lalu berkata seolah bicara sendiri.
"Puaskan menertawai ku tunggu saja tanggal mainnya" Boma lalu melanjutkan makannya.
Acara makan pun berakhir para penduduk kota memberi hormat lalu pergi dengan rasa senang karena raja mereka tidak sombong mau makan bersama dengan mereka.
__ADS_1
Shun Land beranjak dari duduknya di ikuti 3 permaisurinya dan Dewi Pakuan Shun Land langsung kembali ke kediaman pribadinya di ikuti oleh Dewi Pakuan sedangkan yang lainnya kembali ke kediaman masing-masing.
***************