LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
435. Sang Garuda 36. Bertemu Pataya.


__ADS_3

Di dalam hutan alas kalongan Santaka setelah menyakinkan tidak ada yang mengikuti duduk di bawah pohon besar mengeluarkan pisau dari balik bajunya.


Mulut Santaka menggigit kain robekan celana tanpa ragu-ragu Santaka memotong kakinya sebatas betis bawah. Ini dilakukan agar racun raja kala tidak naik ke seluruh tubuhnya. Sebelum memotong Santaka menotok jalan darah di kakinya.


Santaka menggeram dengan keras ketika mata pisau harus memotong bagian tulang yang keras, Santaka akhirnya dapat memotong kakinya walaupun harus menahan sakit yang luar biasa. Dengan sobekan pakaiannya Santaka mengikat lengan lalu dengan sisa kesadarannya mengikat juga kakinya. Akhirnya Santaka tergeletak di bawah pohon besar itu tanpa sadarkan diri.


______________


Aji Wisesa dan aji Wijaya yang memilih untuk berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh dan Aji Saipi Angin telah jauh melesat meninggalkan Kota Medangdili ibukota kerajaan Galuh Sindula, mereka berdua akhirnya sampailah di pelabuhan Cilamaya.


Aji Wisesa yang merasakan hatinya gelisah tanpa sebab mengajak Asiknya untuk beristirahat di pelabuhan tersebut, setelah menemukan kedai yang cocok Aji Wisesa dan Aji Wijaya masuk ke sebuah kedai untuk mengisi perutnya yang sudah terasa ingin di isi.


Aji Wisesa dan Aji Wijaya makan dengan lahap sambil memperhatikan sekelilingnya, datanglah lima orang dan duduk di meja sebelah meja Aji Wisesa dan Aji Wijaya.


"Aji Wisesa kebetulan sekali kita bertemu di sini ada tugas apa kalian berdua sampai di pelabuhan Cilamaya ini". Pimpin dari mereka berlima bertanya. Aji Wisesa dan Aji Wijaya mendengar suara yang sudah tidak asing lagi langsung menengok ke arah sumber suara.


"Paman Pataya kebetulan sekali kita bertemu mari paman kita makan bersama, bagai mana paman apa kak Boma sudah di temukan". Aji Wisesa menjawab dan bertanya. Ternyata mereka berlima adalah Patayan dan rombongan yang sedang dalam perjalanan pulang menuju ke istana Galuh Purba.


Mereka pun makan bersama, di sela-sela makan Aji Wisesa menceritakan tuhan yang di embannya untuk menyempatkan Surat kepada ketua perguruan Ciomas. Aji Wisesa yang sudah mengenal Pataya sejak lama bahkan sudah seperti paman sendiri tidak ragu-ragu lagi menceritakan semuanya.

__ADS_1


(Lihat di Chapter-Chapter Topongrame).


"Paman semenjak saya keluar dari kota Medangdili, saya merasa ada yang mengikuti beberapa orang dan saya merasa suatu perasaan yang tidak biasanya seperti akan terjadi sesuatu yang tidak baik pada kami berdua". Aji Wisesa menceritakan pula kegelisahan yang tanpa tanpa sebab pada Pataya.


Pataya terdiam dia tidak langsung menjawab perkataan Aji Wisesa. Ketika tidak ada yang bicara salah satu anak buah Pataya yang bernama Bahruah berkata. "Ketua menurut saya kita mengawal adik Aji Wisesa dan adik Aji Wijaya, masalah menyampaikan laporan ke Permaisuri Sari Tungga Dewi kita meminta bantuan pada tuan Pramuja yang bertugas di sini, bagai mana pun Raja kita sedang di incar kekuasaannya, walaupun keadaan tenang tapi menurut saya situasi mencekam".


"Bahruah aku percaya padamu sejak pertama kau bergabung firasat mu selalu benar, Sarjani dan Laika kalian berdua menemui tuan Pramuja atau istrinya putri Diyah Prameswari Dwibuana, ceritakan semuanya nanti tuan Pramuja yang akan mengirim berita ke Permaisuri Sari Tungga".


Yang di panggil Sarjani dan Laika segera berdiri dan berangkat menuju pusat keamanan pelabuhan. Di belakang meja Aji Wisesa dan Aji Wijaya ada dua orang sedang menikmati makan dengan tenang dari pakaiannya mereka berdua adalah nelayan tetapi mereka berdua memasang kuping hingga setiap perkataan di meja Pramuja mereka rekam dalam ingatan mereka.


_______________


Sarjani dan Laika sampai di hadapan Pramuja di sana juga ada putri Diyah Prameswari Dwibuana, Sarjani menceritakan semuanya, setelah itu mereka berdua pun kembali ke kedai makan.


____________


Di dalam kedai Pataya yang sudah banyak pengalaman dalam membuat perangkap, memberikan arahan untuk menjebak yang mengikuti Aji Wisesa dan Aji Wijaya.


"Sekarang adik Aji Wisesa dan Aji Wijaya menunggang kuda dan membawa kereta barang di belakang. Sedangkan kami berempat akan berada di dalam kereta tersebut". Pataya mengutarakan rencananya.

__ADS_1


Aji Wisesa dan Aji Wijaya akhirnya menyetujui rencana yang di buat Pataya. Aji Wisesa membeli sebuah kereta yang sederhana, tanpa ada yang mengetahui keempat anak buah Pataya masuk dan yang satu menjadi kusir sedangkan Pataya sendiri menaiki kuda berjalan di belakang kereta.


Rombongan Aji Wisesa dan Aji Wijaya berangkat meninggalkan kota pelabuhan Cilamaya menuju ke barat. Aji Wisesa dan Aji Wijaya selalu siap siaga dengan segala kemungkinan.


Rombongan Aji Wijaya mengambil jalan memutar melalui jalur jalan Cikampek pada saat itu jalan masih di tengah tengah hutan tropis yang sangat lebat, setelah melalui perkampungan Cikampek mereka memasuki hutan Buah Kosambi.


Sedang enak enak berjalan sambil menikmati hutan yang rindang dan angin sepoi-sepoi tiba-tiba sebuah tali keluar dari tanah melintang menghalangi jalan, kuda yang di tunggangi Aji Wisesa dan Aji Wijaya berhenti mendadak begitu juga dua kuda yang menarik kereta mereka meringkik ketakutan.


Di saat yang sama di perkampungan Cikampek panglima Tarpa membawa tiga ratus pasukan berkuda dan seratus pasukan khusus senyap untuk menyisir wilayah barat yang terjadi beberapa kejahatan yang meresahkan masyarakat.


Sebelum sampai di sana panglima Tarpa mendapatkan informasi dari Pramuja bahwa Aji Wisesa dan Aji Wijaya beserta rombongan Pataya baru saja pergi dari kota pelabuhan Cilamaya.


Panglima Tarpa yang mendapatkan informasi bahwa Aji Wisesa dan Aji Wijaya ada yang mengikuti menjadi timbul kecurigaan bahwa di istana sudah ada penyusup, alasan ini jelas terbaca oleh panglima Tarpa karena tugas mengirimkan surat kepada ke 2 ketua perguruan hanya orang dalam yang mengetahui.


Panglima Tarpa akhirnya menyuruh seluruh pasukannya untuk beristirahat di perkampungan Cikampek, untuk menjalankan tugas ini Panglima Tarpa di bantu oleh Lamsijam yang kekeh ingin berangkat karena merasa jenuh berada di lingkungan istana. Dirinya hanya mempunyai kegiatan mengawasi para pendekar muda yang berlatih di pusat pelatihan para prajurit.


Lamsijam yang sudah merasa seperti adik sendiri terhadap Aji Wisesa dan Aji Wijaya dirinya berkata ketika panglima Tarpa memutuskan untuk beristirahat.


"Panglima Tarpa saya ingin langsung mengejar rombongan Aji Wisesa dan Aji Wijaya saya merasa khawatir bagai mana pun mereka berdua masih sangat muda".

__ADS_1


Dalam hal ilmu Kanuragan dan tenaga dalam Lamsijam tinggi dari panglima Tarpa tetapi dalam ilmu berperang panglima Tarpa lebih mahir. Panglima Tarpa mendengar ucapan Lamsijam tidak bisa menolak, karena pada dasarnya panglima Tarpa berhenti di sana hanya ingin mengirimkan surat kepada panglima Ki Bajul Pakel bahwa di dalam istana ada mata-mata pihak musuh.


________*****_______


__ADS_2