
Maasiak dan kedua pengawalnya Brojo dan Angsana dipersilahkan masuk mereka bertiga pun duduk menghadap Ki Arya natanagara.
"Selamat datang di gubug kami yang alakadarnya ini, mohon tolong jelaskan maksud Ki sanak ini Sudi mampir di tempat kami ini". Ki Arya natanagara memberi sambutan.
Maasiak langsung menjawab dengan sopan santun dia ini bagai serigala berbulu domba
"Maaf tuan Arya kami mengganggu waktu tuan dan murid-murid, tapi kami kemari mempunyai maksud yang sangat penting menurut kami semoga tuan Arya memakluminya".
"Selamat datang di gubug kami yang alakadarnya ini, mohon tolong jelaskan maksud Ki sanak ini Sudi mampir di tempat kami ini". Ki Arya natanagara memberi sambutan.
Maasiak langsung menjawab dengan sopan santun dia ini bagai serigala berbulu domba
"Maaf tuan Arya kami mengganggu waktu tuan dan murid-murid, tapi kami kemari mempunyai maksud yang sangat penting menurut kami semoga tuan Arya memakluminya". Maasiak berhenti sejenak lalu melanjutkan.
"Perkenalkan saya Asma Sengkuni dari perguruan gelap ngampar di guha pawon, kami kesini ingin mengantarkan undangan turnamen pendekar muda persilatan, dengan tujuan agar kami bisa saling bertukar pengalaman,....
Guru besar kamu Ki Saron ingin menjalin hubungan persaudaraan dengan perguruan-perguruan di daratan luas Dwipa ini menjadi suatu ikatan yang saling membantu,.....
Kami juga telah mempersiapkan uang perjalan bagi perguruan yang mau berpartisipasi dalam turnamen laga pendekar muda persilatan,....
Tapi kami pun meminta ke waktu pada guru besar perguruan untuk hadir menyaksikan pertandingan laga murid yang berlaga".
Maasiak mengakhiri bicaranya.
Maasiak berganti nama demi menghindari kejaran pangeran Shun land dan para bawahannya.
Ki Arya natanagara kemudian menjawab dengan tenang dan lemah lembut. "Kalau saya sendiri menyambut baik rencana ini tapi semua terserah murid saya, Danur, Praja, Casmita dan Suteja apa kalian akan mendaftar". Ki Arya natanagara bertanya pada empat muridnya.
"Baik saya akan datang". Danur murid tertua Ki Arya natanagara menyanggupi untuk datang.
"Saya juga akan datang" Casmita ikut menyahuti.
Mendengar ini Maasiak sangat senang tersungging senyuman licik di bibirnya.
__ADS_1
"Tuan Arya kami pun ingin memberikan sedikit Uang untuk bekal perjalan kalian". Maasiak bicara sambil menyodorkan kotak kecil kepada Ki Arya natanagara.
Tapi Ki Arya natanagara mendorong kembali kotak tersebut sambil berkata. "Maaf tuan Asma Sengkuni kami tidak ingin terikat, kami tidak akan menerima uang ini, sampaikan pada Ki Saron bahwa kami akan berusaha untuk datang".
Maasiak berkerut keningnya, "Sombong sekali kau di kasih uang tidak mau". Bergumam dalam hati.
Maasiak yang sudah banyak mengenal karakter orang, langsung mengambil kembali uang tersebut lalu berpamitan.
"Kami mohon diri tuan Arya natanagara terima kasih atas keramahannya".
Mereka bertiga keluar dari pendopo di antara oleh Ki Arya natanagara dan ke empat muridnya.
"Tuan Sengkuni kemana lagi yang akan kita tuju" Brojo bertanya pada Maasiak.
"Kita kembali ke guha pawon tapi sebelum pulang kita akan mampir ke pelabuhan Tarumanagara, ada yang ingin aku pastikan di sana".
Setelah menjawab dia segera memacu kudanya ke arah Utara menuju pelabuhan Tarumanagara yang sekarang berubah jadi kerajaan Tarumanegara di bawah kepemimpinan Putri Dian Prameswari dwibuana dan pangeran Makkamaru.
Pangeran Shun land telah menguasai jurus saipi air walau ada kendala yaitu dia belum bisa menyelaraskan dengan jurus Saipi Geni yang bertolak belakang.
Akhirnya pangeran Shun land membuat keputusan jurus Saipi Air ini untuk meredam Panas jurus Saipi Geni sehingga dia bisa mengeluarkan kekuatan api abadi dengan leluasa tidak takut tubuhnya meledak.
Di sore itu Ki Srengga pangeran Shun land Ki Bajul pakel dan Boma duduk di depan guha Sanghyang Sirah, mereka berempat sedang membicarakan undangan turnamen yang datang dari perguruan gelap ngampar.
"Bagai mana menurut pangeran tentang undangan turnamen pendekar muda persilatan yang di adakan di perguruan Gelap ngampar di guha pawon". Ki Srengga bertanya kepada pangeran Shun land
"Menurut saya kita akan menghadirinya, tapi guru tidak perlu datang biar paman Bajul pakel yang berpura-pura menjadi guru perguruan ini, saya dan Boma yang mendaftar menjadi peserta". Pangeran Shun land mengemukakan pendapat.
"Tapi bagai mana dengan syarat peserta yang tidak boleh memilih tenaga dalam yang melebihi lima belas ribu lingkaran, sedangkan pangeran sekarang ini memiliki hampir dua puluh lima ribu lingkaran". Ki Bajul pakel mengajukan pertanyaan.
"Itu bisa saya sembunyikan dengan hanya menunjukkan kekuatan air saya yang tidak terlalu tinggi". Pangeran Shun land bicara penuh perhitungan.
Boma yang duduk di pinggir tebing sambil bersandar rupanya dia sudah tak sadar diri hanyut dalam tidur yang lelap di belai angin pantai selatan yang sepoi-sepoi.
__ADS_1
Ki Bajul pakel menunjuk ke arah Boma memberitahukan pada pangeran Shun land.
"Paman Bajul pakel dapat dari mana dua ayam bakar sebesar ini, paman satu ayam dengan guru, saya satu sendirian maklum sudah seminggu tidak makan habis bermeditasi". Pangeran Shun land bicara keras dan di panjangkan kalimatnya.
"Raja sempruul serakah amat sendiri''. Boma terbangun segera.
"Mana bagian ku kok sudah tidak ada". sambil bicara Boma tengak-tengok.
"Makanya jadi orang jangan suka tidur jadi tak ke habisan hahaha". Ki Bajul pakel tertawa, Ki Srengga hanya senyum senyum, pangeran Shun land tidak mengeluarkan ekspresi hanya mulutnya berpura-pura menikmati makanan lekat terakhir.
"Waaah kau adik angkat yang tega banget makan sendiri, awas kalau sampai ke istana ku sampaikan kau bermain sama Dewi Kamalia pada permaisuri May lien, habis kau....!!!!". Boma mengancam.
Semua tertawa terpingkal-pingkal, pangeran tidak tahan menahan tawa.
"Boma sudah tidak ada ayam bakar itu hanya membangunkan mu orang sedang bicara serius kau malah tidur". Ki Srengga melerainya.
"Maaf guru habis angin pantai ini membuat nyaman banget mata saya sangat sensitif guru". Boma berkilah.
"Dasar kau yang doyan tidur". Pangeran Shun land menimpali.
Boma tidak membalas hanya matanya yang melotot dia tidak berani di hadapan kedua gurunya. Karena Boma saat ini di latih oleh Ki Bajul pakel untuk menyempurnakan ilmu saipi anginnya.
"Pangeran Menurut saya pangeran besok langsung menuju rawa batu jaya mengambil mustika air panca warna masih ada waktu dua bulan lagi menjelang turnamen pendekar muda persilatan di perguruan Gelap ngampar". Ki Srengga membelokkan pembicaraan ke yang penting.
"Baik lah guru besok saya berangkat, tapi saya titip kakak angkat saya ini untuk sementara waktu tinggal di sini bersama guru, biar saya bersama paman Bajul pakel yang berangkat besok pagi". Pangeran Shun land membenarkan usulan gurunya lebih cepat lebih bagus.
Boma mendengar ini sangat kaget dan perasaan sedih akan di tinggal oleh saudara angkat satu-satunya tapi dia memakluminya karena ini tidak membutuhkan orang banyak.
Boma bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pantai dengan wajah tertunduk hatinya sangat sedih walau dia tahu mungkin berpisah dengan saudara angkatnya hanya beberapa bulan.
Pangeran Shun land, Ki Bajul pakel dan Ki Srengga hanya menatap punggung Boma, tidak berkata sepatah kata pun.
...****************...
__ADS_1