
"Tenang jangan khawatir tentang itu kami mengerti tentang itu" pendekar itu tertawa puas
Semua ikut tertawa, pesta berlanjut tidak ada yang berani melarang atau pun mengganggu.
Di kapal itu dari pemilik kapal dan para ABK, serta bagian keamanan, tidak ada yang mau mengusik tiga pendekar itu.
Ketiga pendekar itu adalah, murka dewa, asur Pati dan pemimpin mereka Niraya Sura, dari ketiganya sulit, di tebak dari mana, asal mereka, karena mereka selalu berpindah-pindah tempat.
Menurut kabar angin Kapal yang mereka, tumpangi pun berada di bawah kekuasaan, tuannya tiga pendekar tersebut.
Tenang ilmu olah Kanuragan dari ketiganya sangat tinggi, terutama Niraya Sura, sangat sulit untuk mencari tandingannya.
Pendekar syair kematian, pernah bentrok di dengan Niraya Sura, tapi hasilnya, pendekar syair kematian mendapatkan tiga tulang iganya patah, andai tidak di tolong kakak seperguruannya Ki Bajul Rakel, pendekar syair kematian, tinggal nama.
Berdirinya kerajaan Kutai khal, telah menyebar ke seantero Dunia, dan sudah menjadi bidikan kelompok misterius, untuk di jadikan pijakan, kekuatan yang tersembunyi.
Kemajuan kerajaan Kutai khal yang pesat dan kekuatan orang-orang di dalamnya yang kuat, menjadikan target pijakan, di prioritas pertama.
Setelah mereka menancapkan kekuasaan di dataran luas Dwiva, yang sudah di kuasai hampir 70 persen, hanya bagian ujung kulon, dan bagian timur, di wilayah klan Wajak, yang mereka belum berani mencoba menyentuhnya.
Pendekar Niraya Sura adalah salah satu, petinggi kelompok misterius itu.
Cara kelompok misterius ini, bekerja sangat rapih dan hati-hati.
Andaikan ada serangan ke lawan mereka, itu di lakukan oleh orang suruhan, pendekar tingkat bawah, yang mudah di lumpuhkan, hingga keberadaan mereka sangat sulit di temukan.
Kedai makanan itu menghadap ke arah pelabuhan, pengunjung kedai itu sebagian besar, adalah para awak kapal dan para pedagang antara daratan.
Kedai dibagi menjadi 4 kelas, kelas paling bawah, kelas ini dikunjungi oleh para ABK kapal dan para kuli panggul pelabuhan.
Kelas kedua, berada di lantai dua, di dalamnya berisi lima belas meja, masing-masing mempunyai empat kursi, pengunjung kelas ini kebanyakan, para pelancong, para pendekar pengelana, serta pedagang antar daratan besar.
Kelas ketiga, ada di lantai tiga, pengunjungnya adalah para saudagar kapal, dan para pedagang-pedagang besar antar daratan luas, di sinilah Maasiak dan kedua anak buahnya, sedang makan.
__ADS_1
Maasiak memilih meja yang paling depan, hingga bisa melihat kapal, yang datang dan pergi, ini adalah hari kedua waktu perkiraan, kapal yang membawa tiga pendekar yang akan di temuinya.
Sedangkan untuk kelas ke empat, yang mengunjungi nya hanya para ketua klan dan para bangsawan, yang kemungkinan memiliki, urusan penting hingga menyeberang ke luar daerahnya.
Kedai makanan itu menghadap ke arah pelabuhan, pengunjung kedai itu sebagian besar, adalah para awak kapal dan para pedagang antara daratan.
Kedai dibagi menjadi 4 kelas, kelas paling bawah, kelas ini dikunjungi oleh para ABK kapal dan para kuli panggul pelabuhan.
Kelas kedua, berada di lantai dua, di dalamnya berisi lima belas meja, masing-masing mempunyai empat kursi, pengunjung kelas ini kebanyakan, para pelancong, para pendekar pengelana, serta pedagang antar daratan besar.
Kelas ketiga, ada di lantai tiga, pengunjungnya adalah para saudagar kapal, dan para pedagang-pedagang besar antar daratan luas, di sinilah Maasiak dan kedua anak buahnya, sedang makan.
Maasiak memilih meja yang paling depan, hingga bisa melihat kapal, yang datang dan pergi, ini adalah hari kedua waktu perkiraan, kapal yang membawa tiga pendekar yang akan di temuinya.
Sedangkan untuk kelas ke empat, yang mengunjungi nya hanya para ketua klan dan para bangsawan, yang kemungkinan memiliki, urusan penting hingga menyeberang sampai ke luar daerahnya.
"Tuan aku mendapatkan informasi dari sesama pembunuh bayaran, menurut informasi mereka dari kelompok besar yang sedang berkembang, di daratan luas Dwipa, kekuatan ini telah menguasai hampir 70 persen, wilayah itu" jawab Antang dengan tegas.
Sebenarnya Maasiak sudah tahu, karena kelompok ini sering muncul di daratan luas Swarna, daratan asal Maasiak.
"Antang, Badrowi, kita harus hati-hati, kita sekarang bermain besar, berhati-hati dalam bicara'' Maasiak memperingati anak buah kepercayaannya.
Aslinya keluarga juragan pasar, tuan Upiak arai, bisa sampai ke daratan kecil Kalimantan, atas dasar bantuan kelompok ini.
Bisnis kerajinan tangan seperti pakaian dan komoditi, keramik yang di pasok dari negeri tirai bambu, itu hanya sekedar menutupi bisnis ilegalnya, kekuatan bisnis sebenarnya adalah minuman dan tempat-tempat hiburan malam.
Entah apa tujuan yang sebenarnya, kelompok ini yang jelas bila ada perlawanan dari wilayah yang di tuju nya mereka melawan hanya sekedarnya, dan meninggalkan bisnis mereka, seakan uang tidak berharga bagi kelompok ini.
Hari semakin sore sinar matahari sudah di ujung tanduk, lembayung senja menghiasi cakrawala, sinar kemerahan menyebar keseluruhan wilayah kerajaan Kutai khal, kejadian hari ini, hanya sebuah kenangan, ada yang indah ada yang membuat hati menangis.
Sebuah kapal besar yang berhias kepala naga hitam di ujung depan kapal, merapat ke sisi kanan pelabuhan.
__ADS_1
Sebuah kamar berantakan, di dalam kapal tersebut, terlihat tiga wanita tertidur tanpa busana, saling tindih tak beraturan,
"Murka dewa, asur Pati, bangun pesta sudah berakhir, kita harus bekerja, agar junjungan kita, merasa puas dengan kinerja kita, kita tidak boleh mengecewakan, kalau tidak kepala kita taruhannya" Niraya Sura bicara keras.
Murka dewa yang tertidur segera bangun, tapi dadanya di tahan tubuh molek tanpa busana, "jangan pergi'' suara lembut penuh manja menghias pendengaran murka dewa
"Tenang yayi kakang akan segera kembali, kau dan kawan-kawan mu, jangan tinggalkan kapal ini, semua kebutuhan mu sudah ada yang mengurus, bila kau kesepian carilah anak buah kapal yang ganteng untuk menemanimu, hahahaha''
murka dewa tertawa dan bangkit dari pembaringannya, wanita itu ikut berdiri dan memeluk murka dewa, "aku hanya ingin dirimu" pelayan malam merajuk
Ketiganya bersiap berdandan seperti saudara kapal yang akan berbisnis.
Kapal pun bersandar malam itu.
Palka di buka, para kru kapal sibuk mengikatkan tali ke tiang pancang pelabuhan.
Tangga di turunkan tiga pendekar keluar, sebelum turun Niraya Sura memberi perintah.
"Turunkan barang dagang ku semua, sebelum Pajar harus selesai"
"Siap ketua, jangan khawatir, kami mengerti apa yang tetua inginkan" sang kapten kapal memberi keyakinan tugasnya Takan mengecewakan.
"Bagus kapten kapal, Rhony black, jaga juga wanita itu, bila kau mau pakai lah, tapi jangan kasar-kasar hahaha" pendekar Niraya Sura tertawa terbahak, masih ada pengaruh minuman di sikapnya.
"Ketua memang yang terbaik, mengerti apa yang kita ingin" kapten kapal Rhony black, membayangkan hal-hal yang menyenangkan.
...****************...
like end komennya serta support nya di tunggu
Salam Nusantara 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1