LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
329. Jaya Sempurna 62. Halusnya perasaan Shun Land stelah mendapatkan pemahaman.


__ADS_3

Shun Land duduk di atas batu tepi sungai matanya memandang air yang mengalir sungai yang jernih, tanpa terasa air matanya menetes entah kenapa semenjak belajar memahami arti dan makna laku Ritual Topongrame hatinya sangat sensitif terhadap penderita rakyat kecil. Malah sekarang ini Shun Land kadang melupakan kepedihan dirinya yang sebenarnya sangat berat karena harus menghadapi kenyataan bahwa ibu dan ayahnya terbunuh oleh orang yang tak di kenal.


Sakin dalamnya Shun Land memikirkan bagaimana cara untuk mengatasi permasalah rakyatnya yang sedang dalam keadaan prihatin yang luar biasa sedangkan dirinya tidak kekurangan satu apapun walaupun berada di dalam hutan. Dirinya tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikan lalu menghampiri dari belakang.


"Kakang tidak mau mandi, kalau mau biar Lasmini membantu menggosok punggung kakang". Ternyata yang memperhatikan adalah Lasmini.


Setelah sudah sekian lama bersama Lasmini sudah memahami keadaan Shun Land tentang perasaan hatinya dengan gerak gerik dan gaya bicaranya saja Lasmini apa yang ada di hati Shun Land.


Dalam kondisi Shun Land seperti ini Lasmini tidak berani bercanda atau pun bicara sembarangan. "Tidak neng terima kasih, kakang tidak ingin mandi, kakang kesini hanya ingin melihat sungai". Jawab Shun Land.


"Kakang Lasmini tahu saat ini kakang lagi sedih berbagilah dengan ku kakang jangan di tanggung sendiri walaupun Lasmini tidak bisa membantu setidaknya Lasmini tahu beban berat yang kakang tanggung". Lasmini duduk dengan lututnya di hadapan Shun Land dan menyeka air mata Shun Land dengan kedua tangannya dengan lembut.


"Kakang sedang kesal dengan manusia yang menakut-nakuti rakyat lemah sampai mereka ketakutan untuk keluar mencari nafkah, kakang tidak akan memberikan ampunan pada mereka yang mengunakan sedikit kekuatan mereka untuk menekan yang tidak berdaya". Shun Land berkata apa adanya.


"Kakang bersabarlah ada waktunya kita bersabar dan nanti juga kakang mempunyai kesempatan bertemu mereka". Lasmini mencoba untuk menghibur.


"Kakang masih ingatkah waktu pertama kali kakang memeluk Lasmini di sungai hutan itu Lasmini sangat bahagia sekali waktu itu karena kakang mau menyentuh Lasmini, kadang Lasmini kalau kakang tidur pada waktu itu Lasmini menangis sedih karena kakang tidak mau menyentuh Lasmini". Lasmini bicara mendongakkan kepalanya hingga jarak wajahnya sangat dekat dengan wajah Shun Land.


Lasmini juga membelokan pembicaraan agar Shun Land pemikirannya agak sedikit teralihkan yang sedang dalam kesedihan.

__ADS_1


"Kakang masih ingat neng Lasmini berpura-pura terpeleset ke dalam air, maafkan kakang waktu itu yaaa". Shun Land mencolek hidung Lasmini dan tersenyum.


"Iiih Lasmini jadi malu sekarang kakang tahu Lasmini pura-pura jatuh ke sungai, kakang jahat sekali, sekarang jangan lihat wajah Lasmini". Lasmini lalu menutup wajahnya sambil menggoyangkan kepalanya kanan kiri.


Mereka pun duduk berdua menghabiskan senja di pinggir sungai tanpa bicara masing-masing bermain dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba Lasmini berkata.


"Kakang bagai mana kalau malam ini kita jebak pengantin baru untuk kita semua pura-pura mencari sesuatu meninggal mereka berempat dan kakang perintahkan paman Lamsijam untuk sementara pura-pura menjadi kakang tidur bersama istinya kakang mengartikan maksud Lasmini".


Shun Land mengangguk, setelah membersihkan diri mereka kembali ke tenda. Terlihat Mereka sedang duduk bercengkrama terdengar Lamsijam sedang bercerita tentang masa lalunya. Lamsijam menceritakan kepahitan hidup menjadi seorang adik dari Tapak besi, tetapi kepahitannya tidak membuatnya patah semangat untuk belajar ilmu olah Kanuragan.


Setiap kakaknya berlatih Lamsijam sembunyi sembunyi melihat dan mengingat gerakan satu persatu dari tahap dasar sampai akhir sebuah jurus, Lamsijam pun menceritakan bahwa dirinya sering kali lehernya di tempelkan senjata oleh Si Tapak besi tapi Lamsijam selalu berusaha sabar.


Lamsijam merasa saat ini adalah saat saat yang paling membahagiakan dirinya sejak mengikuti Shun Land dirinya merasa di manusia kan, sebelumnya walaupun sudah tua dirinya masih di anggap seperti budak oleh kakaknya si Tapak besi.


Mereka semua yang mendengar Lamsijam bercerita mengiyakan kebaikan dan welas asih Shun Land sangat mereka rasakan, ketika sedang memuji Shun Land terdengar suara dari balik pohon yang suaranya sangat mereka kenali.


"Biasa muji-muji yaaah..... Kemungkinan ada maunya jangan dengarkan kakang ini mah rencana paman Delay aja, agar bisa keluar malam-malam seperti pada waktu malam pertama sore-sore sudah pergi". Lasmini berkata dan keluar dari balik pohon bersama Shun Land.


Delay tidak bisa membantah karena Shun Land berpesan agar menyebarkan berita itu tidak di katakan kepada siapapun. Tetapi Shun Land menimpali ucapan Lasmini.

__ADS_1


"Memang benar malam itu paman Delay saya mintai tolong agar ke kapal menemui Kru kapal agar bergantian jaga yang tidak jaga supaya makan di penginapan. Dan seperti malam ini saya meminta tolong pada paman Lamsijam dan nyai Karmia untuk mengantikan saya dan istri tidur di dalam tenda, paman Delay dan nyai Kasmia tugas jaga saya dan istri serta yang lainnya akan mencari jejak harimau yang akan membahayakan yang melintas ke sini, mari pangeran Sanjaya, dan semuanya ikuti saya".


Shun Land membalikkan badan melangkah pergi di ikuti Lasmini dan pangeran Sanjaya triloka serta adik-adik seperguruannya.


"Paman Delay dan bibi Kasmia bila kami terlalu malam kembalinya tidur saja di tenda yang satunya". Lasmini berkata sambil berlalu.


Setelah sedikit jauh pangeran Sanjaya triloka bertanya pada Shun Land. "Benarkah ada harimau terlihat di hutan ini tuan Jaya".


Tentu saja pertanyaan ini membuat Lasmini tertawa tapi di segera di tutupi mulutnya takut di dengar Lamsijam dan Delay.


Putri Sanja mengerutkan keningnya berpikir apa yang mereka rencanakan sebenarnya. Belum juga ada jawabannya keburu Shun Land menjelaskan.


"Tidak Pangeran Sanjaya triloka, saya dan neng Lasmini hanya memberikan kesempatan kepada kedua pengantin baru, nanti kita mencari yang cocok untuk beristirahat tapi jangan terlalu jauh dari tenda dan kereta kuda kita agar masih bisa mengawasi barang bawaan kita".


Pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja merasa geli setelah mengetahui maksud semua ini, setelah mendapatkan tempat yang cocok mereka duduk istirahat dan ada pula yang tiduran di atas rumput di bawah pohon rindang.


Malam pun berlalu Pajar datang di iringi mentari yang masih malu menampakkan diri pada bumi yang selalu sabar menerima sinar sang mentari yang hangat.


******************

__ADS_1


__ADS_2