
Sontak saja seisi ruangan utama istana tertawa bahagia.
Di gelar lah pesta besar untuk menyambut sang kakak berpuluh tahun di cari akhirnya atas kehendak sang maha Pencipta di pertemukan.
Shun land hatinya terasa ringan salah satu tujuannya telah tercapai.
Setelah pesta selesai Shun land berkumpul di istana bersama semua sahabat-sahabatnya untuk membicarakan rencana memindahkan pusat pemerintahan dari daratan luas Kalimantan ke daratan luas Dwipa.
Shun land pun mengatakan alasannya.
Di dataran luas Dwipa lebih subur.
Di daratan luas Dwiva lebih dekat dengan musik utamanya yang mengaku utusan Tuhan.
Dia merasa penduduknya lebih padat dari pada di daratan luas Kalimantan.
Dan yang paling penting Shun land merasa paling cocok untuk basis kekuatan tentaranya mengontrol semua keamanan.
Putri Dian Prameswari dwibuana, pangeran Makkamaru, pendekar syair kematian, Ki Bajul pakel dan pangeran Nanjan yang menjadi ahli strategi armada perang mendukung keputusan Shun land.
Shun land pun mengatakan yang memimpin kerajaan Kutai khal kakaknya sendiri pangeran Shan land atau Jaka lelana.
Shun land pun memerintahkan kepada pimpinan tertinggi strategi perang di daratan Panglima Antaka untuk mendekati Perguruan perguruan bergabung dengan kerajaan untuk membasmi ketidak Adilan dan tindakan semena-mena.
Pangeran Nanjan dan panglima armada laut Tarpa di tugaskan untuk menguasai setiap pelabuhan yang ada di daratan luas Dwipa.
Putri Dian Prameswari dwibuana di tugaskan untuk menghubungi ketua bangsawan wajak untuk mendekati setiap perguruan yang ada di timur.
Panglima Sarpa di tugaskan untuk melatih para pemuda untuk menjadi prajurit yang tangguh dan bermental baja di bantu pangeran Makkamaru.
Setelah mengatur semuanya pangeran menyuruh kakaknya untuk kembali ke daratan luas Kalimantan bersama Boma agar sang ratu SHI khal dan perdana menteri Jhasun mengetahui bahwa anak sulungnya benar-benar masih hidup.
__ADS_1
Untuk sementara waktu ibu kota kerajaan Tarumanagara negara di tempatkan di pelabuhan Citarum, setelah mengadakan pertemuan dengan para sesepuh perguruan baru di putuskan di mana akan di jadikan kota pusat pemerintahan kerajaan Tarumanagara.
Keesokan harinya Boma dan pangeran Shan land pergi ke daratan luas Dwipa, tapi ketika akan berangkat Ayu Sondari berlari mengejar ke pinggir hutan yang biasa sang Rajawali Api berdiam diri.
Boma dan pangeran Shan land atau Jaka lelana tidak bisa menolak, Shun land pun hanya menarik napas dalam-dalam dia tahu Ayu Sondari kalau sudah mempunyai keinginan tidak bisa di tolak, ayahnya sendiri pun tidak bisa melarang.
-------------------*****----------------
Di istana lembah hitam Junjungan Mara Deva sedang menerima laporan dan mendengarkan pendapat Deva Putta.
"Katakan dengan jelas pada ku Putta apa laporan dan pendapatan mu, karena selama ini kau yang terbaik dalam hal strategi dan pemikiran untuk langkah selanjutnya". Junjungan Mara Deva berkata.
Sebenarnya junjungan Mara Deva walau pun mempunyai ilmu tinggi dan berumur panjang karena menguasai ilmu ajian Rawarontek tapi dia mempunyai kelemahan sebagai manusia biasa yaitu tidak memiliki kecerdasan untuk mengatur kekuasaan dan memecahkan persoalan ngejelimet tentang memerintah.
Dia pun mempunyai sifat asli yang sangat penakut andai dia mempunyai keberanian dan kecerdasan maka dia sudah menguasai daratan luas Dwipa.
Tetapi di hati kecilnya junjungan Mara Deva mempunyai sifat takut dia tidak berani terang-terangan muncul.
Di hati kecil Junjungan Mara Deva ketakutan akan keturunan Raja agung Jatiraga tiba-tiba menyerang dan dia kalah dalam pertarungan.
Di istananya sendiri Junjungan Mara Deva tidak lepas dari ketiga putra dan putrinya untuk menjaga keamanannya.
"Junjungan menurut saya lebih baik kita bunuh saja bocah yang mempunyai tubuh empat lintang kelima pancer sebelum dia berkembang masalah mencari pedang naga bergola nanti kita pikirkan lagi, saya rasa untuk saat ini junjungan tidak ada tandingannya dalam hal ilmu Kanuragan,..
Deva putta berhenti sejenak lalu melanjutkan.
"Coba banyangkan oleh junjungan bila bocah itu telah mendapatkan pedang naga bergola dia pun telah menguasai ilmu saipi keseluruhan itu lebih sukar untuk di bunuh'. Memungkas pendapatnya.
Junjungan Mara Deva termenung beberapa saat memikirkan usulan Deva putta, lalu bicara. "Terus bagai mana menurut mu".
"Junjungan kita akan mulai menyerang secara terbuka dari darat di mulai dari pelabuhan labuhan di selat Krakatau sambil mencari Bocah pemilik tubuh empat lintang kelima dan membunuhnya". Deva putta menjawab dengan tegas. Lalu melanjutkan bicaranya.
"Biar kakang Mara Deva yang melakukan tugas ini dan pasukan sedangkan Niraya Sura yang bila bergabung dan mau jadi bawahan kakang Kama Deva kita akan biarkan hidup dia sangat ahli dalam bisnis". Deva putta mengakhiri bicaranya.
"Baik laksanakan apa yang kau katakan tadi".
__ADS_1
Junjungan Mara Deva membuat keputusan.
Mereka pun keluar dari ruangan pribadi junjungan Mara deva yang terdapat istri istrinya yang berpakaian hampir tanpa busana.
Junjungan Mara Deva melanjutkan pesta birahinya dengan para istri istri mudanya di hiasi dengan minum dan makanan.
-------------------*****-------------------
Di istana halaman istana kerajaan Kutai khal sang Rajawali Api turun dengan gagahnya membawa Boma, pangeran Shan land atau Jaka lelana dan Ayu Sondari.
Ayu Sondari yang merasa cintanya bertepuk sebelah tangan melihat kakak Shun Land yang sangat mirip dengan Shun land hatinya langsung berbelok 180 derajat.
Pangeran Jaka lelana pun tidak menolak di dekati Ayu Sondari seperti memberikan sinyal terbuka, apalagi ketika di atas punggung sang Rajawali Api Ayu Sondari menyandarkan kepalanya ke dada pangeran Jaka lelana.
Boma yang mengerti kedua insan lain jenis ini hanya tersenyum-senyum sendiri.
Ayu Sondari seorang gadis lugas yang berpenampilan ala laki-laki tapi itu semua tidak menghilangkan kecantikannya yang sangat luar biasa, dia mempunyai kulit kuning Langsat khas warna kulit bangsawan Sunda Dwiva dengan rambut hitam bergelombang andaikan dia berdandan kecantikannya tidak kalah dengan permaisuri Sari Tungga Dewi atau permaisuri Dewi sumayi.
Mendengar teriakkan sang Rajawali Api yang khas seisi istana dan kota Nusa kencana sangat mengenalnya.
Seluruh isi istana Sunda ageng keluar ingin menyambut raja mereka yang baru kembali dari pengembaraan di daratan luas Dwipa.
Pangeran Jaka lelana turun di ikuti Ayu Sondari yang nempel terus bagai jangkar kapal sama talinya lalu Boma melompat, tapi sayang di sana tidak ada Mawinei.
Permaisuri May lien, permaisuri Dewi sumayi, permaisuri Sari Tungga Dewi, ratu SHI khal dan maha Patih Jhasun menatap keheranan karena tidak biasanya Raja Shun land memakai ikat kepala hitam khas jawara Pasundan dan kulitnya sedikit hitam.
Tidak dengan pangeran Jaka lelana melihat kedua orang tuanya dia langsung melangkah dengan cepat melewati tiga permaisuri lalu berlutut di hadapan sang ibunda Ratu SHI khal dan maha Patih Jhasun seraya berkata.
"Bunda ayahanda ini Shan land telah kembali maafkan Shan land yang membuat hati ibunda dan ayahanda bersedih".
Mendengar ini bunda ratu SHI khal kakinya langsung lemas dan berlutut menghadap pangeran Jaka lelana dan memegang bahu pangeran Shan land lalu berkata.
"Benarkah ini anak bunda Shan land" setelah berkata ratu SHI khal langsung membuka baju di bahu kiri pangeran Jaka lelana, setelah di buka nampak sebuah tanda merah (toh) bulat sebesar koin emas di bahu kiri, sedangkan Shun Land mempunyai tanda ini di sebelah bahu kanan.
Setelah melit tanda itu Ratu SHI khal memeluk pangeran Jaka lelana.
__ADS_1
...****************...