LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
244. Pelarian Mara Deva dan gurunya Pancasiksa di perguruan pedang setan.


__ADS_3

"Braja musti segera beritahukan kepada adik-adik mu untuk menyingkir dari area pertarungan".


Ki Braja Geni memberi perintah pada murid tertuanya.


"Guru pertarungan ini belum berakhir, pertarungan juga masih seimbang siapa tahu mereka berdua akan terluka parah kita bisa merebut pedang Naga Bergola". Braja musti menyanggah perintah gurunya Braja Geni.


"Apa kau berani melawan Ki Bagus Atma dan Ki Srengga gurunya pemegang pedang Naga Bergola itu, cepat jangan membantah lagi".


Dalam hal ini Ki Braja Geni lebih teliti dan sudah mempertimbangkan dengan matang walau pun Shun Land kalah dia akan berhadapan dengan Pancasiksa kalau Shun land menang dia akan berhadapan leluhur Ki Bagus Atma dan kelompok pendukung Shun Land.


Tapi bagai mana pun Ki Braja Geni masih mempunyai keinginan yang kuat untuk memiliki pedang Naga Bergola dan kitab Tarian Rajawali Api yang ada di warangka pedang tersebut.


Sementara itu pendekar pedang setan sudah mendahului pergi Nyai Andita si pedang setan memberikan alasan pada Deva Putta bahwa dirinya lebih awal menyingkir dari area pertarungan untuk mempersiapkan hal yang paling buruk.


Deva Putta yang memang ahli strategi politik dan perang menyetujui dan sekaligus memberikan perintah untuk mencarikan jalan melarikan diri keluar dari kota Sundapura dan menyiapkan persembunyian yang aman bila pertarungan tidak bisa di menangkan oleh Mara Deva dan gurunya Pancasiksa.


Dalam hal ini dari golongan hitam memang mempunyai sifat licik dan ingin mendahulukan kepentingan sendiri tidak ada rasa kesetiakawanan yang ada saling memanfaatkan satu sama lain.


Berbeda dengan aliran putih yang benar-benar memegang prinsip kehidupan tentang ajaran ketuhanan, mereka menumbuhkan rasa kasih sayang dan rasa kesetiakawanan saling membela satu sama lain dengan keikhlasan.


Tidak ada rasa keinginan memanfaatkan orang-orang di sekeliling untuk kepentingan golongannya apalagi untuk kepentingan pribadinya.


Enam orang melesat cepat kearah timur mereka adalah Ki Braja Geni dan kelima muridnya panca Braja, yang di tuju Ki Braja Geni pelabuhan Brantas di timur daratan luas Dwipa.


Tujuan utama Ki bara Geni kembali ke daratan luas Sula ke perguruan Braja hitam yang sudah berpuluh tahun di tinggalkan demi menunggu pedang Naga Bergola ada yang bisa mencabut kemudian merebut pedang tersebut.

__ADS_1


Tetapi rencana berpuluh tahun berakhir dengan kegagalan walau pun begitu Ki Braja Geni tetap mempunyai keinginan besar untuk memiliki pedang Naga Bergola demi mewujudkan impian dirinya dan gurunya menguasai dunia persilatan.


Sesampainya di pelabuhan berantas Ki Braja Geni langsung mencari kapal yang berlayar tujuan daratan luas Sula.


Dengan ketinggian setingkat Ki Braja Geni dan kelima muridnya tidak sulit untuk mencari tumpangan menuju daratan luas Sula.


Sementara Nyai Andita si pedang setan menunggu ketiga pembesar istana Naga hitam di perbatasan kota Sundapura.


Benar saja tidak berselang lama Kama Deva, Asvaghosa dan Deva Putta muncul tergesa-gesa turun dari perahu kecil, ketiganya setelah dapat telepati dari Pancasiksa untuk melarikan diri mereka menaiki perahu kecil dengan menyamar seperti petani agar luput dari pengejaran pasukan khusus senyap yang di pimpin langsung Antaka pendekar Syair kematian.


Perahu kecil meluncur dengan tenang menuju hilir dan akhirnya bertemu rombongan nyai Andita si pedang setan.


"Nyai Andita junjungan Mara Deva berpesan untuk saat ini perguruan pedang setan akan di jadikan tempat persembunyian untuk sementara waktu".


Deva Putta berkata pada nyai Andita, mereka pun berlari mengunakan ilmu meringankan tubuh sempalan dari ilmu saipi angin.


Naga hitam mendarat di depan jalan Nyai Andita rombongan, mereka langsung berhenti langsung berlutut di hadapan Junjungan mereka Mara Deva dan gurunya Pancasiksa.


"Berdiri kalian semua, cepat naik ke punggung Naga Api Hitam semua aku dan guru akan menyusul jangan banyak berpikir kita harus bertindak cepat".


Mara Deva memerintahkan anak buahnya, sedangkan dirinya dan gurunya Pancasiksa mengalah tidak menunggangi Naga Api Hitam, karena mereka berdua dengan tenaga dalamnya bisa melesat bagai terbang dan mempertahankan di udara semau yang mereka inginkan.


Naga api hitam turun dan mendarat di kaki gunung ceremai tepatnya di halaman perguruan pedang setan yang cukup luas.


Nyai Andita, Kama Deva, Asvaghosa, Deva Putta dan kelima muridnya begitu turun dari punggung Naga api hitam langsung menuju pendopo utama.

__ADS_1


Di sana sudah ada Pancasiksa dan Mara Deva yang sudah duduk di pendopo menunggu Naga Api Hitam datang membawa Nyai Andita si pedang setan.


"Junjungan kita langsung saja masuk ke dalam tidak aman di luar sini aku takut ada anak buah Wirantaka melihat kita mereka sering memata-matai perguruan ku".


Nyai Andita si pedang setan mempersilahkan Mara Deva dan gurunya Pancasiksa.


Mereka masuk ke ruang utama kediaman nyai Andita si pedang setan ruangan itu sangat luas kursi mewah berukiran indah berjejer dan ada beberapa ranjang serta meja meja kecil, di sudut ruangan ada lemari mewah berisi botol botol minuman.


Pancasiksa yang tidak suka dengan keramaian di antar murid Nyai Andita ke ruangan bawah tanah yang tidak banyak orang mengetahui ruangan itu.


"Shun Land permainan baru di mulai kau boleh bangga telah merampas pasukan ku dan wilayah kekuasaan ku, akan ku buat diri mu 'hidup segan mati pun tak mu".


Mara Deva bergumam sambil Berdiri di ujung ruangan menatap langit dari jendela yang terbuka.


"Aku harus ke daratan Sula yang dekat dengan daratan luas Nusa kencana, pangeran Khal Shubal dan pangeran Jaya lelana kau adalah tiket kehancuran saudara mu Shun Land tunggu aku, akan ku jadikan kalian berdua pendekar sebanding saudara mu Shun Land".


Mara Deva memulai rencana serius untuk menghancurkan Shun Land, dalam pemikirannya tidak ada yang dapat mengalahkan Shun Land selain saudara sedarahnya yang memiliki struktur tubuh yang sama.


"Nyai Andita kau harus mengutus anak buah mu ke daratan Swarnabumi untuk mengambil kotak-kotak emas ku yang ku sembunyikan di wilayah dekat istana ku, kita akan menyusun kembali kekuatan kita, Deva Putta kau hubungi Braja Geni kita akan jadikan perguruan Braja hitam markas besar kita dan sebagai kedok untuk mengelabuhi pihak keturunan Hyang Jatiraga".


Mara Deva memerintahkan kedua bawahannya dia ingin segera memulai rencananya untuk menghancurkan kerajaan Tarumanagara.


Asvaghosa meminjam murid Nyai Andita yang mulai berdatangan karena di perintahkan sang guru untuk kembali dari persembunyian untuk menghubungi sisa anak buahnya di berbagai pelabuhan.


Selain itu nyai Andita si pedang setan mengutus empat murid kepercayaannya untuk mengambil kotak-kotak koin emas milik Mara Deva di daratan luas Swarnabumi.

__ADS_1


______*****______


__ADS_2