
Shun Land berlari ke geladak belakang lalu masuk ke ruangan para awak kapal sambil tengak-tengok salah satu ABK bertanya.
"Tuan anda mencari siapa sepertinya". Melihat sebuah pedang berada di punggungnya ABK tersebut jadi sangat sopan.
"Paman saya mencari seorang pertapa tua berjenggot putih dan panjang, paman di mana kapiten kapal ini". Shun Land menjawab di akhiri dengan pertanyaan.
Seorang pria pendek berbadan gempal datang menghampiri lalu berlutut di hadapan Shun land, dia rupanya sang kapten melihat kapten mereka berlutut yang ada di sana mengikuti berlutut dan menundukkan kepala.
Sang kapten memberi hormat lalu berkata dengan sopan.
"Ada apakah paduka mencari saya apa ada anak buah saya yang kurang ajar pada paduka biar saya menghukumnya".
"Bangunlah kalian semua, paman saya hanya ingin bertanya pada paman apa tadi waktu berangkat ada penumpang seorang pertapa tua dengan jenggot putih panjang".
Shun Land menjawab hatinya sangat penasaran siapa gerangan pertapa tua yang kekuatan tenaga dalamnya tidak bisa di ukur.
"Perasaan saya tidak ada penumpang pertapa sejak saya pertama berlayar, Karsim apa kau menerima penumpang seorang pertapa...???". Sang kapten menjawab dan bertanya pada petugas penerimaan penumpang.
Karsim menggelengkan kepala tanda tidak merasa ada yang mendaftar seorang pertapa laki-laki.
Shun Land keluar dari ruang kendali kapal dengan seribu pertanyaan di hatinya, "siapa sebenarnya pertapa itu sungguh ilmunya sangat tinggi aku di buat seperti patung walaupun hanya sebentar para Roh di tubuh ku pun tidak bisa berbuat apa-apa, sungguh pertapa itu harus aku temui suatu saat lagi.
Putri Serindang bulan melihat Shun Land keluar dari ruang kendali kapal dengan berjalan sambil melamun segera bertanya.
"Kakak ada apa ? Apa kakek tua itu ada di dalam".
"Tidak ada apa-apa putri hanya kakak heran mengapa dia tidak ada di kapal ini menghilang begitu saja, semoga pertapa sakti itu orang baik". Shun Land menjabat dengan nada yang keheranan.
Tidak lama kapal sampai di dermaga Shun land bergegas berjalan turun dari kapal.
Di dermaga Shun Land mencari pedagang kuda kebetulan sekali di sana banyak calo kuda menawarkan kuda tunggangan.
"Tuan ikuti saya jangan khawatir tuan kuda-kuda di tempat saya kuda terbaik di Toba".
Benar saja ucapan calo kuda di istal tersebut kuda-kudanya sangat bagus dan sehat.
__ADS_1
Setelah mencapai kesepakatan harga Shun land keluar dengan menunggang kuda, Shun land memilih warna hitam dan putri Serindang bulan memilih berwarna putih.
Shun Land keluar dari dermaga Ajibata menuju ke Utara dalam kondisi pemikiran yang terganggu memikirkan pertapa tua sakti Shun land tidak memperhatikan jalan yang ia tuju.
Hingga akhirnya masuk sebuah hutan yang lebat, matahari sudah condong ke barat Shun land masih berjalan dengan santai di atas kudanya di ikuti putri Serindang bulan.
"Kak Shun apa kakak tahu jalan yang kita lalui sekarang". Putri Serindang bulan ragu Shun Land mengetahui jalan yang sedang di laluinya sekarang.
Shun Land menghentikan kudanya sambil menengok kanan kiri, pikirannya sadar selama ini dia tidak tahu jalan yang di tempuh kearah mana.
"Entah lah, untung kau menyadarkan ku yang jelas kita menuju ke timur Utara kita istirahat dulu". Shun Land menjawab.
Setelah menemukan tempat yang sedikit lapang Shun Land berhenti lalu turun di ikuti putri Serindang bulan.
Mereka duduk di bawah pohon yang rindang.
"Tunggu di sini dulu aku akan melihat sekeliling". Stelah bicara Shun Land mengarahkan tenaga dalamnya lalu menghentikan kakinya.
Tubuh Shun Land melesat ke atas dengan sangat cepat seperti sebuah sinar menuju angkasa.
Dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam dan tehnik ilmu saipi angin Shun Land melayang di udara bagai seekor burung.
Di tengah tengah ada istana berdiri megah, "kerajaan apa di depan mengapa tuan Bungaran tidak mengatakan ada kerajaan besar tidak jauh dari Samosir".
Shun Land lalu turun lalu berkata, "kita harus berjalan lagi di depan ada sebuah kota, kelihatannya seperti sebuah kerajaan agar kita tidak bermalam di dalam hutan".
"Kakak tadi di persimpangan malah mengambil jalan ke kanan mungkin kalau mengambil jalan ke kiri jalan itu jalan utama menuju kota di depan".
Putri Serindang bulan berasumsi.
Mereka berdua memacu kudanya menelusuri jalan setapak mungkin jalan itu jalan alternatif menuju kota kerajaan tersebut.
Matahari hampir tenggelam saat Shun Land sampai di depan gerbang banyak para orang yang akan masuk ke dalam kota hingga mengantri.
Pemeriksaan sangat ketat mereka yang akan masuk ke dalam kota di periksa satu-persatu mereka yang tidak memiliki tanda pengenal di suruh kembali lagi, mereka bisa masuk kecuali mempunyai uang jaminan sebanyak 1000 keping emas.
__ADS_1
Bagi para saudagar yang niat berdagang tidak menjadi masalah tetapi bagi para pendekar pengelana ini harus mengurungkan niatnya untuk memasuki kota karena uang seribu keping emas bukan jumlah yang sedikit.
Shun Land dan putri Serindang bulan ikut mengantri putri Serindang bulan tidak khawatir tentang tanda pengenal karena memiliki lencana seorang putri dari kerajaan Rijang Renah Selawi dan lencana ratu kerajaan Gendis wakil kerajaan Tarumanagara.
Satu Rombongan berkuda datang berjumlah 9 orang satu orang memimpin dengan kuda hitam paling besar berjalan di depan sedangkan delapan yang lainnya mengiring di belakang.
Penduduk dan para pedagang yang mengantri memberikan jalan mereka menundukkan kepala tan da menghormat.
Shun Land menarik putri Serindang bulan untuk ikut memberikan jalan dengan kesal putri Serindang bulan ikut minggir memberikan jalan.
"Emang siapa dia tidak mengikuti peraturan mengantri". Ucapan putri Serindang bulan agak keras.
"Jaga ucapan mu Nona pada tuan Naraga". Suara keras pengawal di belakang penunggang kuda hitam.
"Tuan Naraga atau pun siapa pun harus menaati peraturan antrian karena hukum berlaku buat siapa pun". Putri Serindang bulan menimpali dengan suara yang keras.
Para penduduk dan pedagang yang mengantri pandangannya tertuju pada putri Serindang bulan.
Melihat jadi pusat perhatian Shun Land segera angkat bicara.
"Maaf tuan tuan atas ke lancang istri saya maklum wanita kalau lagi merah emosinya mudah keluar".
Putri Serindang bulan sedikit tercengang mendengar Shun Land menyebut dirinya istrinya.
"Tidak tuan, istri anda benar silahkan mendahului, hukum memang harus tidak memandang bulu". Yang di sebut tuan Naraga mempersilahkan Shun Land untuk mendahului.
Di antara para penduduk ada yang berbisik pada temannya.
"Memang benar kata orang Menantu raja Darayad Damadik sangat sopan santun dan berbudi luhur sangat bijaksana".
"Iya benar andai dia yang menjadi raja mengantikan mertuanya kita sangat senang memiliki raja yang rendah hati". Temannya menimpali.
"Menurut ku ketiga menantu paduka raja memang semuanya memiliki perangai yang luhur Budi". Seorang yang berdiri dekat dua orang itu ikut bicara.
"Terima kasih atas ke rendahan hati tuan tapi tuan pantas mendahului kami karena mungkin tuan mempunyai kepentingan yang lebih dari kami". Shun Land tetap menolak dengan halus.
__ADS_1
Tuan Naraga meneruskan berjalan begitu di depan gerbang para prajurit yang berjaga semuanya membungkuk tanda memberikan hormat, lalu membuka gerbang sedikit lebar.
______*****_____