LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
177. Pertarungan Niraya Sura vs Pendekar syair kematian.


__ADS_3

Keduanya berlutut di hadapan Ki Aria natanagara dan yang lainnya.


Sementara itu Niraya Sura berkelebat di antara pepohonan hutan sebelah barat kota guha pawon merasa cukup jauh dan di kiranya tidak ada yang mengikuti Niraya Sura berhenti sambil menstabilkan nafas yang memburu.


"Hampir saja aku mati oleh bocah keparat itu dari mana dia tahu kalau kompetisi pendekar muda persilatan adalah jebakan, ternyata di dalam kelompok ku telah masuk mata-mata".


Niraya Sura duduk di akar pohon besar pohon beristirahat ingin mengembalikan tenaga dalamnya.


Sayup-sayup terdengar bait-bait syair menggetarkan jiwa Niraya Sura yang dalam ketakutan.


"Berlari lah hingga engkau merasa aman


"Tapi engkau tak bisa lepas dari takdir keadilan


"Takdir engkau menyusuri kematian


"Terimalah hembusan angin pembalasan


"Aku tangan takdir yang engkau taburkan


"Aku wakil dari kebencian yang engkau ciptakan


"Tidurlah dengan Angkara murka


"Angin ini wakil dari neraka yang engkau tanam tindak kejam pada mereka....


Dengan berakhirnya bait syair menggema sebuah badai angin horisontal menerjang Niraya Sura dengan cepat.


Walau pun Niraya Sura seorang pengecut tetapi ilmu Kanuragan dia cukup tinggi.


Mendapat serangan pendekar syair kematian dia tidak gugup dengan gesit dia melenting ke atas angin badai serangan Antaka mengenai pohon besar itu hingga banyak dahan besar yang patah.


"Hahahaha Antaka kau sungguh punya nyali mengejar ku tempo hari nyawamu terselamatkan hari ini malaikat maut menjemput mu". Setelah bicara Niraya Sura menyerang dengan pedang yang telah di aliri tenaga dalam.


Antaka si pendekar syair kematian tidak menghindar serangan Niraya Sura, dia Songsong dengan golok pancaroba sebuah pusaka pemberian Leluhur agung Ki Srengga gurunya.


Bentrok senjata tingkat bumi kelas atas membuahkan percikan api dan gelombang kejut lumayan besar.


Niraya sura Terpundur tiga langkah sedangkan Antaka hanya Terpundur satu langkah, wajah Niraya Sura penuh kekagetan pasalnya terakhir bentrok dengan Antaka tenaga dalam Antaka di bawahnya.

__ADS_1


Tapi sekarang tenaga dalam Antaka berkembang melebihi kekuatan tenaga dalamnya.


Niraya Sura mempersiapkan serangan berikutnya mengunakan jurus Naga hitam menari yang di gabungkan dengan ilmu saipi angin ajaran dari Mara Deva.


Tubuh Niraya Sura melesat dengan cepat pedang Niraya Sura bagai Naga yang Menari menerjang Antaka yang sudah bersiap dengan jurus golok menebar kematian.


Dua kekuatan bentrok di udara membuahkan gelombang kejut merusak pohon-pohon di sekitar Pertarungan.


Niraya Sura terpental cukup jauh darah merembes dari sudut bibirnya menandakan luka dalam walau tidak parah.


Antaka merapal jurus syair kehidupan dari Ilmu ot Danum kehidupan pasangan jurus syair kematian untuk menahan efek benturan.


"Aku siap jadi bawahan mu bila kau membantuku Kama Deva" Niraya Sura berteriak keras.


Selesai ucapan Niraya Sura dari sebuah pohon turun dua orang laki-laki, Kama Deva dan satu pengikutnya, mereka berdua berdiri di samping Niraya Sura yang sudah terluka.


Hampir bersamaan dengan Kama Deva, Ki Bajul pakel turun dari salah satu pohon yang berlawanan.


"Kama Deva kau lawan ku jangan kau ikut campur pertarungan mereka." Suara Ki Bajul pakel di tujukan pada Kama Deva.


"Hahahaha tenang Bajul pakel aku hanya ingin memastikan kematian Niraya Sura."


Sontak saja Niraya Sura sangat marah dengan ucapan Kama Deva yang sesungguhnya saudara satu junjungan dan saudara satu seperguruan sama-sama mengabdi dan berguru pada kunjungan Mara Deva.


"Nikmati hasil keserakahan mu Niraya Sura hahahaha". Kama Deva berkata pada Niraya Sura setelah itu dia melesat ke arah barat di ikuti pengikut setianya.


"Niraya Sura sudah habis masa jaya mu mana junjungan mu yang kau banggakan itu." Antaka berkata sambil mempersiapkan jurus pamungkas dari jurus syair kematian yang di gabungkan dengan jurus Badai angin jurus terakhir saipi angin.


Badai angin tiba-tiba muncul dari gerakan gerakan Antaka hingga tubuhnya di selimuti angin yang berputar kencang menerjang dengan kecepatan tinggi.


Niraya Sura hanya bisa membuat tameng dari sisa-sisa tenaga dalamnya.


Tubuh Antaka yang di selimuti angin memutari tubuh Niraya Sura sangat cepat debu-debu ikut terbang hingga menutupi pandangan dari luar.


"Aaaah.......!!!


Terdengar suara Niraya Sura menjerit keras setelah itu terlihat kepala Niraya Sura sudah terpisah dari tubuhnya.


"Terima kasih kakang Bajul telah ikut mengejar Niraya Sura, kalau kakang tidak muncul aku tidak akan sanggup mengimbangi mereka berdua."

__ADS_1


Ucap Antaka sambil berjalan menghampiri Ki Bajul pakel sambil menenteng kepala Niraya Sura.


Kedua melesat cepat ke timur menuju kota guha pawon.


Sementara itu di tengah arena kompetisi pendekar muda persilatan Ki Saron si gelap ngampar dan Ki Kartolo si Golok iblis sudah di ikat sebagai tawanan.


Sedangkan Maasiak di ikat terpisah dan di keliling oleh pasukan khusus senyap.


"Aku menyerah paduka raja dan siap untuk menerima hukuman, tapi sebelum paduka menghukum saya izinkan saya bercerita sedikit." Juragan Upiak arai bicara sambil berlutut di hadapan Shun land.


"Silahkan paman bicara." Shun land berkata dengan tenang.


"Paduka raja perlu paduka ketahui saya tidak pernah membunuh atau pun merugikan orang lain walau pun saya mengikuti Niraya Sura, saya hanya menjalankan tugas saya sebagai pengatur strategi dagang dan bisnis Niraya Sura,....


Yang ke dua Maasiak bukan anak kandung saya dia adalah anak kandung Niraya Sura dengan istri pertamanya yang dia pasrahkan kepada junjungannya untuk di jadikan gundiknya,....


Sedangkan Maasiak pada waktu itu masih bayi di serahkan pada saya untuk mengurusnya maka sifatnya pun sama seperti bapaknya sangat licik,....


Begitulah paduka semoga paduka bisa mempertimbangkan hukuman pada saya, saya siap jadi abdi yang setia dan menggunakan ke ahlian saya untuk perkembangan kerajaan paduka dan rakyat kerajaan."


Juragan Upiak arai menjelaskan panjang lebar, Maasiak sangat kaget mendengar penjelasan juragan Upiak arai pantas saja dia di biarkan hidup oleh Niraya Sura walau pun telah berbuat kesalahan patal di daratan luas Kalimantan ternyata dia adalah anak Niraya Sura.


"Paman Upiak arai saya akan mempertimbangkan keputusan saya setelah di adakan rapat dengan pembesar kerajaan lainnya."


Shun land berkata dengan bijaksana dia tidak langsung memutuskan hukuman sebelum mengadakan rapat dengan orang-orang yang telah mendukungnya sepenuh jiwa dan raga.


"Sepuh Aria natanagara, sepuh Wirantaka, sepuh Mahisa taka, Ibu Sri Tanjung bagai mana kalau ketua perguruan gelap ngampar dan perguruan Golok setan saya kunci tenaga dalamnya bila mereka mempunyai niat baik untuk berubah menjadi baik saya akan melepas kuncian tenaga dalamnya."


Shun land meminta pendapat sesepuh dunia persilatan aliran putih yang ada di sana.


"Itu lebih bagus paduka saya ikut keputusan paduka." Ki Aria natanagara dari perguruan Cimande mengutarakan pendapatnya.


Yang lainnya menganggukkan kepala tanda setuju.


Shun land mengeluarkan kekuatan api abadinya dan mengalikan ke kedua telapak tangannya lalu menempelkan ke punggung Ki Saron dan Ki Kartolo, kekuatan api abadi membungkus organ dalam kedua pendekar itu, hingga bila mereka mengalirkan kekuatan tenaga dalam akan membentur api abadi berakibat bisa hancur organ dalamnya.


Tehnik ini Shun pelajari dari tehnik penanda jiwa dia kembangkan dengan kekuatan api abadi. Hingga tidak mempunyai efek apapun pada yang di tanamkan Api abadi di dalam tubuh seseorang.


Seluruh pasukan Niraya Sura yang menyerah di pisahkan dan di jaga oleh pasukan Khusus senyap.

__ADS_1


-------------------*****----------------


__ADS_2