LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
162. Sang Rajawali Api kembali dari daratan luas Kalimantan


__ADS_3

"Kang Darja sehat dia baik baik saja" ayu Sondari tidak menceritakan peristiwa jadi tahanan gerombolan Singa maruta.


Suasana hening mereka bermain dengan pemikiran mereka sendiri di saat lelap dengan pemikiran mereka teriakan sang Rajawali Api terdengar tidak lama kemudian telah hinggap di halaman sang Rajawali Api membuat debu berterbangan.


Shun land meloncat dengan girang sudah sekian lama dia tidak berkomunikasi dengan sang Rajawali Api.


Shun land langsung meloncat ke punggung sahabatnya ini yang bila dia mati di mana pun berada dia merasakan dalam jiwanya.


(Dalam proses batin kita bisa merasakan orang yang dekat dengan kita walau sangat jauh tapi tidak bisa berkomunikasi)


Dengan sekali hentakan kakinya sang Rajawali Api telah terbang lagi menuju ke selatan yang ada di sana mereka takjub para penduduk pun mereka keluar dari rumah sambil berteriak


"Ada Rajawali besaaaar".


Mereka ramai mendongak ke atas langit.


Sang Rajawali Api terbang tidak lama lalu menukik dan hinggap di sebuah gunung purba di sebelah selatan gunung hejo(hijau).


"Kau kangen yaaaa padaku". Sang Rajawali Api berkata.


"Sedikit" Shun land bicara sambil memandang ke barat terlihat matahari yang tinggal separuh di selimuti lembayung senja.


Langit kekuningan sinar matahari pun berwarna kuning sangat indah memanjakan mata membuat pikiran melayang ke masa-masa yang telah berlalu.


Pemikiran Shun land melayang pada orang-orang yang sangat di cintai di sebrang laut sana kerinduan tanah kelahiran walau pun belum setahun dia meninggalkannya.


Dadanya sesak ketika teringat hangat pelukan ibunda susunya ibu angkatnya rasa sakit sangat merobek di dalam dadanya tak terasa beberapa butir air mata menetes mata memerah.


Sang Rajawali Api diam dia merasakan apa yang di rasakan tuannya, Shun land pun mengingat saudara angkatnya anak kandung satu-satunya ibu susunya, saudara satu-satunya yang tersisa.


"Kita ke kerajaan Tarumanagara negara berapa lama kita kesana" Shun land berkata.


Tanpa banyak bertanya sang Rajawali Api langsung terbang tinggi ke angkasa.


"Tidak sampai satu waktu menanak nasi sampai". Jawab sang Rajawali Api.


Tidak lama sampailah di pinggir hutan dekat Utara di sebelah barat pelabuhan Tarumanagara.


Boma yang sangat mengenal teriakan sang Rajawali Api langsung berlari ke pinggir hutan yang biasa sang Rajawali Api turun dia pun sangat kesepian tinggal di istana kerajaan Tarumanagara yang baru berdiri.

__ADS_1


Bagai mana pun Shun land sejak kecil bagaikan adik kandungnya sendiri walau pun sekarang sudah sangat tinggi ilmu Kanuragannya tetap saja sebagai saudara tua dia ada rasa khawatir akan keselamatan adik sekaligus sahabat karibnya ini.


Tanpa ragu-ragu Boma yang telah menguasai ilmu saipi angin yang sudah meningkat sejak di latih Ki Bajul pakel langsung meloncat ke punggung sang Rajawali Api.


"Aku ikut kemana pun keu pergi aku tidak mau nanti ibu menyalahkan ku di alam sana bila kau ada yang mencelakai mu, kau rindu padaku" Boma berkata setelah berada di punggung sang Rajawali Api.


Shun land hanya mengangguk sambil menepuk leher sang Rajawali Api untuk terbang ke perguruan Pagar ruyung.


"Kita langsung ke perguruan Pagar ruyung". Shun land bicara pada sang Rajawali api.


Sang Rajawali Api turun di halaman perguruan Pagar ruyung mereka berdua turun dan langsung menuju pendopo depan rumah Ki Sobarna.


Mereka berdua terpaku diam sambil menatap Dewi bulan yang tidak memakai caping yang menutupi sebagian wajahnya rambutnya yang ikal di biarkan terurai.


"Dia ibu raja sempruul" Boma berteriak tak sadar di sana langsung bersimpuh di depan Dewi bulan merah.


"Aku tahu ibu bukan ibu saya dan raja sempruul itu tapi bolehkah saya dan adik saya memanggil ibu sebagai ganti ibu kami yang telah tiada". Boma berkata di hadapan Dewi bulan merah di ikuti Shun land yang masih kaget.


Shun land sendiri sangat tercengang betapa tidak wajah Dewi bulan merah sangat mirip sekali dengan mendiang ibu susunya. Dari wajah rambut dan postur tubuh hanya kulit Dewi bulan merah kuning Langsat sedangkan ibu kameng putih khas suku Dayak Kalimantan yang mirip bangsa tirai bambu.


Mereka yang ada di sana sangat tidak menyangka kalau yang selama ini bersamanya adalah seorang raja.


"Boleh dengan senang hati paduka raja dan nak mas ini". Dewi bulan merah berkata walau masih sedikit bingung.


Mereka semua segera merubah dari duduk bersila ke bersimpuh lalu menangkupkan kedua telapak tangan di taruh di depan muka dan membungkuk ke depan tiga kali seraya mengucapkan.


"Salam kepada paduka raja terima sembah bakti kami maaf bila bertindak kurang sopan terhadap paduka".


"Sudah sudah saya kurang senang yang demikian ini bersikaplah seperti biasa, ini gara-gara ucapan kau gajah bengkak". Shun land melarang mereka bersikap seperti di istana yang tidak dia senangi.


Mereka semua duduk seperti semula Boma duduk di pinggir Dewi bulan merah Shun Land duduk di tempat semula dekat dengan Ayu Sondari.


"Perkenalkan dia bernama Boma Somantri kakak ku dia yang menjaga ku sejak kecil". Shun land memperkenalkan Boma dan menyebutkan nama lengkap Boma.


Boma merogoh ke balik bajunya mengeluarkan cincin yang mata batu permata biru milik ibunya, cincin hadiah dari sang Ratu SHI khal.


Boma meraih tangan Dewi bulan merah dan memakaikannya seraya berkata. Ini milik ibu kami yang telah kami yang telah kembali mohon ibu terima".


Shun lan berdiri dan duduk bersimpuh sambil memegang sebuah kalung terbuat dari emas bermata berlian hijau.

__ADS_1


"Kalung ini saya akan berikan pada ibu sehabis penobatan ku sebagai Raja Kutai khal tapi belum sempat aku berikan dia mendahului pergi terimalah ibu sebagai pengganti ibu kami". Tanpa menunggu jawaban Shun land memakaikan kalung tersebut pada Dewi bulan merah.


"Aku Sri Tanjung sangat bahagia memiliki tiga anak sekaligus yang satu gagah dan tampan yang satu gagah kaya gajah Swarnabumi dan yang satunya cantik kaya Dewi kahyangan". Dewi bulan merah bicara sambil memeluk kepala Shun Land dan Boma.


"Aaah sama saja dulu dengan sekarang, enak di bagian gagahnya tapi ujungnya tidak enak gajah Swarnabumi". Boma bersungut-sungut.


Semuanya tertawa gembira bagai sebuah keluarga yang utuh.


Tapi setelah tertawa tak terdengar Boma berseru. "Baunya ini habis makan besar bau ikan panggang, kau adik tak berbakti makan tidak menyisakan ku".


Semuanya saling pandang satu sama lain.


Tidak lama Nyai Darsiati membawa satu piring nasi dan satu ikan gabus bakar besar hampir sebesar betis orang dewasa.


Boma cengengesan melihat nyai Darsiati menempatkan dua piring ke depan Boma.


"Saya bercanda Nyai tapi terima kasih sayang kalau basi di luar". Boma berkata malu-malu menarik kedua piring tersebut sambil menggeser duduknya sedikit ke belakang.


Tanpa menoleh kiri kanan Boma langsung menghantam dua piring itu, semuanya menggelengkan kepala sambil tersenyum lucu.


"Terima kasih nyai enak sekali". Setelah berkata tidak lama kemudian Boma sudah tidak duduk lagi terlentang dan terdengar dengkuran menikmati hari yang menjelang malam.


"Nak mas Satria bila akan beristirahat silahkan masuk kedalam, Ayu antara ke kamar tamu kakang mu" Nyai Darsiati menyuruh Ayu Sondari mengantar Shun land ke tempat istirahat di kamar tamu.


Shun land berdiri dan mengikuti Ayu Sondari di depan kamar ketika Shun land akan masuk Ayu Sondari berkata.


"Paduka bila tidak kau anggap aku kekasih bolehkah aku mengganggap padu sebagai kakak".


Shun land tersenyum tau maksud Ayu Sondari lantas menjawab. "Ayu aku sudah mempunyai tiga istri tapi selama ini kau sudah ku anggap adik ku".


Ayu mendengar ini sedikit kecewa tapi di tersenyum di hatinya sangat senang dia mengerti ke adaan Shun land.


Sebelum pergi Ayu mencium pipi Shun land dan berkata dengan ceria "terima kasih kakak ku yang ganteng". Dan berbalik pergi.


Shun land hanya menggelengkan kepala lalu menuju tempat pembaringan.


Ki Sobarna mengantar Ki Wirantaka dan Ki Mahisa taka ke rumah sebelah yang dulunya di tinggali para murid perguruan Pagar ruyung, para murid keduanya memiliki tidur di pendopo bersama Boma yang sudah dalam mimpi indah.


Dewi bulan merah dan Ayu Sondari tidur di rumah utama yang ada beberapa kamar kosong.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2