
Dalam waktu tiga hari kematian kelompok Alap-alap dan kematian kelompok Datong di jalur alas Roban antara hutan kalongan dan pedukuhan Kaliungu tersebar juga.
Para pedagang yang tadinya ketar ketir sekarang banyak yang berani melalui jalur ini munculnya pendekar muda yang membasmi tanpa ampun menjadi berita hangat di setiap kedai dan obrolan di setiap pelosok.
Berita ini pun belum di ketahui siapa yang membocorkannya Shun Land sendiri belum mengetahui bahwa dirinya sekarang ini menjadi bahan obrolan di setiap sudut kota dan pelosok pelosok.
Mereka pun mengaitkan berita kematian juragan Bangor dan dua rekannya secara misterius dengan pembasmi kejahatan ini, terang saja kelompok persilatan golongan hitam Benyak yang merasa terusik ingin menjajal kehebatan pendekar tanpa nama ini.
Di Dunia persilatan kelas menengah memang masih banyak yang terobsesi ingin di sebut yang terhebat berbeda dengan mereka yang sudah masuk pendekar kelas tinggi yang keberadaanya bisa di hitung dengan jari.
Banyak para pendekar golongan hitam dan golongan putih yang turun gunung, ada yang berniat ingin menjajal kehebatan, ada juga yang hanya ingin bertemu dan berkenalan dengan munculnya pendekar muda pilih tanding bisa membunuh pendekar kelas menengah dengan satu gerakan.
Empat hari telah berlalu tidak di sangka ke empat pedang ini sedang di hinggapi hoki yang tinggi tanpa di sangka-sangka dagangannya habis di pasar pedukuhan Kaliungu.
Pagi itu di kedai pinggir penginapan juragan Warsiman dan ketiga teman pedagangnya serta para pengawal pun duduk bersama. Dalam kesempatan itu juragan Warsiman dan rombongannya ingin mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan kepada Shun Land dan Lasmini.
Setelah barang dagangannya habis terjual, Juragan Warsiman dan rombongan tidak akan meneruskan perjalanan ke timur, mereka semua akan kembali ke pelabuhan Cilamaya untuk mencari barang dagangan yang baru.
Rombongan juragan Warsiman berangkat ke barat sedangkan Shun Land menuntun kudanya ke arah penyebrangan sungai Kaliungu.
Shun Land mengantri di penyebrangan bersama beberapa orang pedagang lokal dan ada 2 orang pendekar pengelana yang satu senjata Tombak dan yang satuannya lagi bersenjata kapak bermata dua.
__ADS_1
Di penyebrangan itu hanya ada dua sampan satu sampan besar untuk yang membawa kuda dan kereta dan sampai lebih kecil untuk mereka yang tidak membawa barang dan kuda, pada saat yang membawa kuda sangat jarang karena kuda sangat mahal yang mempunyai nya hanya para pedagang besar dan para pendekar yang kelas menengah.
Dalam penyebrangan Shun Land satu sampan dengan dua pendekar tombak dan kapak, mereka sedang terlibat suatu obrolan.
"Kakang saya sangat penasaran dengan pendekar muda tanpa Nama yang telah menumpas dua kelompok begal Alap-alap dan kelompok Datong yang katanya membunuh kelompok tersebut hanya dengan beberapa tarikan nafas". Pendekar kapak bermata dua berkata.
"Kakang juga ingin segera berjumpa dan menjajal seberapa tinggi ilmu olah Kanuragannya, tapi intinya kita bukan untuk mencari musuh hanya ingin berkenalan dan mengukur kemampuan kita semoga saja kita bisa segera berjumpa dengan pendekar itu".
Ternyata kedua pendekar kakak beradik itu sengaja turun gunung hanya ingin mencari kebenaran tentang pendekar tanpa nama. Shun Land mengerutkan keningnya dalam hatinya berkata 'penumpasan dua gembong kejahatan yang kemarin aku lakukan sudah tersebar dengan cepat'.
Shun Land berpikir langkah selanjutnya untuk menghadapi para pendekar yang ingin menjajal ilmu dengannya setelah sekian lama berpikir akhirnya Shun Land mendapatkan suatu keputusan langkah dan sikap untuk selanjutnya.
"Paman belikan gerobak isi dengan kayu susun yang rapih biar terlihat seperti barang-barang berharga". Shun Land berbisik pada Delay.
Dua orang pendekar yang berasal dari perguruan langit mendekati Shun Land lalu bertanya. "Kisanak akan kemanakah tujuan Ki sanak semoga saja kita sama tujuan dan bisa berjalan bersama, kenalkan nama saya Aji Wisesa dan ini adik seperguruan saya aji Wijaya dari perguruan langit di kakak gunung langit". Aji Wisesa menangkupkan tinju di depan dada sebagai salam persahabatan.
"Nama saya Jaya Sempurna dan ini istri saya tujuan saya akan ke Daerah Uanggara Belajar berdagang, tujuan tuan Aji sendiri hendak kemana ?" Shun Land pura-pura tidak mendengar percakapan mereka berdua waktu di atas sampan penyebrangan.
"Saya bertujuan berkeliling mencari pengalaman berdiam diri selalu di perguruan merasa bosan, bolehkan saya ikut bersama dengan tuan biar ada teman untuk mengobrol". Aji Wisesa menjawab dan ingin berjalan bersama.
Shun Land berpikir sejenak lalu menjawab. "Silahkan tuan Aji dengan senang hati tapi tuan Aji Wisesa harus kuat telinga bila istri saya mulutnya lagi merepet".
__ADS_1
Lasmini melirik lalu menimpali dengan nada sedikit tinggi, "Jangan memulai bila tidak ingin hidup seperti di neraka". Wajah Lasmini melengos kesal.
Shun Land tertawa lebar. Delay membawa gerobak yang sudah di rapihkan penutupnya juga rapih dan tidak mudah di buka gerobak itu di tarik seekor sapi besar.
"Tuan kita sudah siap berangkat". Delay bicara seolah seorang pembantu dagang.
"Paman Delay kemarin paman berkata pasar raja dan besi ada di hutan Kaliungu". Shun Land bertanya dengan bahasa kiasan.
"Iya tuan tetapi sedikit ke dalam dan sebelum itu tuan juga ingin menemui 3 saudagar mereka sudah menunggu di pertengahan jalan yang akan kita lalui". Delay mengerti bahasa isyarat Shun Land dan menjawab dengan bahasa kiasan juga.
"Baiklah kita berangkat semoga saja para juragan itu baik hati". Shun Land berjalan di depan sedangkan Delay menjadi kusir gerobak dua kuda mereka yang tidak di tumpangi di ikatkan pada belakang gerobak. Aji Wisesa dan aji Wijaya berjalan di belakang Shun Land dan Lasmini.
Aji Wisesa dan aji Wijaya sebenarnya ada ganjalan di hatinya, mengapa seorang pedagang tidak mempunyai pengawal dan merasa heran mengapa barang dagangannya ringan tetapi dia tidak berani bertanya karena takut menyinggung pendekar Jaya Sempurna.
Aji Wisesa dan aji Wijaya mereka berdua termasuk pendekar kelas menengah tingkatan tenaga dalamnya sudah lebih dari 50ribu lingkaran untuk saat ini bisa di sebut pendekar yang susah untuk mencari lawan.
Benar yang di katakan Delay belum masuk terlalu dalam ke hutan Kaliungu timur sudah ada 2 gerobak yang melintang di tengah jalan di lihat sekilas seperti rodanya terselip tatapi bila di lihat enam orang yang berpura-pura mendorong sangat janggal, pakaian mereka semua tidak terlihat seperti seorang pedagang tetapi terlihat seperti para pendekar.
"Tuan Jaya hati-hati sepertinya orang yang menunggu kita sudah kelihatan" Delay memberi tahu agar hati-hati.
****************
__ADS_1