LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
184. Ilmu saipi bumi dan perpisahan dengan guru batin.


__ADS_3

Bila saya mengunakan kekuatan dalam pedang tersebut berlebihan bisa-bisa tubuh saya meledak.


"Guru saya mohon izin untuk berlatih kembali."


Shun land berdiri lalu berjalan kearah pantai kali ini dia berlatih di pantai tidak jauh dari mulut gua Sanghyang Sirah.


Shun land mengulang dari jurus pertama Tarian Naga bertapa lalu jurus kedua Tarian Naga menyelam di lautan.


Setelah itu Shun land meneruskan ke jurus ketiga Tarian Naga menari di angkasa dari lambang hingga sampai cepat.


Tidak terasa Pajar telah menyingsing di ufuk timur Shun land menghentikan latihannya, dia pun beristirahat di batu datar dekat mulut gua Sanghyang Sirah.


Tidak terasa Shun land tertidur dalam tidurnya dia bermimpi bertemu dengan Leluhur agung Sang hyang triloka guru batinnya.


"Kau telah mendapat apa yang menjadi hak mu, aku membuat dua pusaka bintang yang satu ini memiliki kelebihan dari yang satunya yang aku khususkan untuk pemilik tubuh empat lintang kelima pancer, perlu kau ketahui bahwa di jaman ku pun aku belum menjumpai tubuh yang di anugerahi seperti mu, tapi aku mempunyai keyakinan bahwa di suatu masa akan lahir dari keturunan ku memiliki anugerah dari yang maha Pencipta."


Leluhur agung Sang hyang Triloka berhenti bicaranya.


Shun land membuka mulutnya untuk bicara sambil tertunduk patuh di hadapan guru batinnya.


"Terima kasih guru yang telah membimbing saya sampai sejauh ini tapi tidak ada yang bisa saya berikan kepada guru untuk saat ini hanya sebatas rasa terima kasih yang keluar dari lubuk hati yang sangat dalam."


"Tidak cucuku aku tidak mengharapkan apa pun dari mu cuma satu titip ajaran ku yang terpenting ilmu saipi, kau gunakan sebaik mungkin karena sesungguhnya kedua ilmu pedang Tarian Rajawali Api dan Tarian Naga Kahyangan itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan ke empat ilmu saipi, andai kau telah menguasai ke empatnya tapi memang sangat berat untuk mendalami ilmu saipi yang ke empat yaitu saipi bumi tapi di masa depan mu kau bisa mendalaminya."


Sang Leluhur agung Sang Hyang Triloka bicara memberikan pesan kepada Shun land.


Shun land memberanikan diri untuk bertanya tentang ilmu saipi Bumi.


"Guru berikanlah sedikit bimbingan pada murid tentang ilmu saipi bumi hingga pada waktunya nanti murid lebih mengerti makna yang terkandung di dalamnya".

__ADS_1


"Baiklah aku akan menjelaskan garis besarnya semoga engkau bisa mencerna penjelasan ini menjadi suatu pemahaman yang mengisi ruang jiwa dan batin mu,...


Ilmu saipi Bumi intinya kau harus memahami sifat Bumi, sifat Bumi adalah sabar yang tidak berujung tapi bila Bumi murka murka hanya dengan menggerakkan sedikit mahluk yang ada di atasnya akan musnah,...


Kau ketahui bumi kita ini kita injak, kita ludahi, kita kotori dengan kotoran kita, kita bakar, kadang ada yang menyumpahi dia selalu sabar dan tidak menuntut apapun dari kita,....


Bila engkau ingin memiliki ilmu Saipi Bumi maka belajarlah sabar dalam segala hal seperti Bumi, kau jangan marah bila di ludahi, kau jangan marah bila di lempari kotoran manusia atau pun kotoran hewan, kau jangan marah bila kau di hina, kau jangan marah bila keluarga mu yang menyakiti, kau jangan marah harga diri mu di injak-injak,...


Bumi mempunyai kesabaran tiada batas bersikap dan belajarlah mempunyai sifat sabar seperti bumi niscaya kau memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat,...


Karena jiwa dan raga mu akan menjadi kepanjangan dari sang maha Pencipta, ucapan mu menjadi sabdanya yang nyata, sikap dan tingkah laku mu menjadi wakilnya,...


Sifat bumi menggambarkan sifat sang maha Pencipta sabar yang tiada batas pada seluruh makhluknya, Sang maha Pencipta tidak pernah marah pada makhluknya sejahat apa pun semurka apa pun, andai ia memerintahkan alam semesta murka itu adalah kasih sayangnya pada makhluknya agar kembali ke kodrat manusianya,....


Inilah sebabnya ilmu saipi bumi tiada ada dalam tulisannya karena raja agung Jatiraga murid ku, aku larang untuk menuliskannya,...


Apa kau memahami semua keterangan yang aku jabarkan." Leluhur agung Sang Hyang Triloka mengakhiri menjelaskan ilmu saipi Bumi dengan pertanyaan.


"Cucuku tugas ku sudah selesai memastikan , dan mengawal ajaran Leluhur ku ilmu saipi tidak putus dan lestari sampai di jaman mu, sekarang menjadi tanggung jawab mu untuk menjaga, melestarikan dan mengamalkan pada diri sendiri dan anak keturunan mu,...


Sudah waktunya yang tua renta ini melepaskan kerinduan yang sangat dalam pada sang maha Pencipta untuk menemuinya, sudah waktunya kita berpisah,...


Jaga dirimu dan jaga warisan leluhur mu".


Setelah ucapan itu tubuh Leluhur agung Sang Hyang Triloka memudar menjadi serpihan cahaya membungbung tinggi dan hilang dari penglihatan Shun land.


Shun land menatap ke angkasa air matanya mulai merembes membasahi pipinya rasa sakit di dalam dadanya melebihi di tinggalkan sang ibunda kameng ibu susunya.


Hati Shun land sangat kehilangan, dalam benaknya nanti bagai mana kalau ada masalah berat kepada siapa dia akan mengadu.

__ADS_1


Shun land berteriak keras sekali memanggil guru batinnya.


"Guruuuuuu jangan tinggalkan akuuu...!!!".


Leluhur Ki Srengga melihat Shun land yang terisak dalam tidurnya dia mengusap dadanya teringat ketika dia di tinggalkan oleh gurunya yang merawat dia sejak kecil, pada waktu itu seakan jiwanya keluar dari jasadnya.


Leluhur Ki Srengga membangunkan Shun land dengan menepuk-nepuk lengan tangannya yang tertidur dengan posisi miring meringkuk.


Shun land terperanjat kaget dia spontan langsung duduk melihat di sampingnya ada gurunya, "Maaf guru murid tertidur sangat pulas mungkin karena lelah setelah berlatih sehari semalam.".


Leluhur Ki Srengga tidak membicarakan teriakan igoan Shun land tapi memberitahukan bahwa hari sudah sedikit siang dan makanan seekor ayam hutan siap di santap.


Shun land langsung membersihkan diri setelah berganti pakaian dia duduk bersama gurunya Leluhur Ki Srengga.


Shun land menyeruput air hangat lalu menyantap satu ayam hutan besar yang di masak dengan cara di bakar.


"Terima kasih guru saya jadi merepotkan guru." Shun land berkata setelah selesai makan.


"Tidak apa-apa nak mas Satria sudah menjadi kewajiban seorang guru untuk membantu muridnya untuk berkembang lebih dari dirinya, apa nak mas Satria akan meneruskan latihan hari ini."


Jawab Leluhur Ki Srengga sambil bertanya.


"Iya guru saya tinggal berlatih satu jurus terakhir mungkin jurus yang agak rumit karena jurus ini menggunakan sangat besar kekuatan tenaga dalam dan kekuatan Api abadi." Shun land menjelaskan.


"Sebaiknya nak mas Satria jangan berlatih di sini biar tidak terasa bosan bagai mana kalau berlatih di atas di padepokan di sana ada Kusuma Wijaya dan Larasati yang menyempatkan pulang ke perguruan." Leluhur Ki Srengga memberikan saran.


"Baiklah guru saya mengikuti saran guru."


Shun land dan leluhur Ki Srengga melompat mendaki tebing berbatu itu bagi yang tidak memiliki ilmu saipi angin sepertinya tidak mungkin bisa menaiki tebing itu.

__ADS_1


----------------*****--------------


__ADS_2