
Di duga pemuda itu tak memiliki ilmu yang tinggi ternyata ilmunya sangat tinggi, membuat ilmu yang selama ini di latih bertahun-tahun hilang tanpa bekas.
Semua yang ada di ruang itu sangat terkesima dengan pemuda itu, dengan mudahnya mengalahkan jagoan pasar yang sering berbuat onar.
Kecuali dua orang di salah satu meja sudut ruangan, timbul rasa ingin tahu sampai di mana ketinggian ilmu olah Kanuragan pemuda tersebut.
"Kakang aku ingin menjajal ilmu bocah itu bagai mana" salah satu pendekar itu meminta izin pada temannya
"Silahkan adik, sembari kau menjajal ilmu yang selama ini kau latih, tapi jangan di sini karena yang membuat keributan parah, malam berikutnya mati dengan misterius"
Yang di sebut kakang menjawab dan memperingati.
"Aku akan menunggu sepertinya dia akan menyewa kamar dan mendesah dengan pelayan itu"
Pemuda itu masuk ke dalam ruangan yang ketiga ternyata, di dalamnya terdapat tempat hiburan kaum Adam yang membutuhkan hiburan malam ples(+)
Di tengah-tengah Ruangan ada meja bulat sedikit besar dan tiang besi di tengahnya, dua penari meliuk-liuk erotis, pakaiannya hanya menutupi bagian penting saja itu pun sangat minim.
Pemuda itu berjalan sekian biasa saja, pada hal dalam hatinya kaget, sebagai lelaki normal, melihat pemandangan itu naluri kejantanannya terpicu.
Untuk saja jiwa pemuda itu sudah kokoh, pemikirannya sudah terkontrol dengan baik, hingga pemandangan itu hanya sekilas membuat kaget, setelah itu dia biasa-biasa saja.
Pelayan Dasem Menarik tangan pemuda itu, ke salah satu kamar VIP yang kedap suara.
Pemuda itu menurut saja bagai kerbau yang tusuk hidungnya.
Sesampai di dalam pemuda itu duduk di tepi ranjang, pelayan itu dengan cepat melepaskan seluruh kain yang menempel di tubuhnya,
Belum sempat melarang pemuda itu, pelayan sudah pelontos tanpa sehelai benang, dan duduk di samping pemuda itu.
Pemuda itu menyuruh memakai pakaiannya kembali.
"Pakaian lah pakaian mu kembali, aku tak bermaksud ingin tidur bersama mu"
"Mengapa tuan, apa saya kurang menarik buat tuan, ini yang pertama kalinya saya akan melakukan ini, karena saya melihat tuan orang baik, saya rela melepas satu-satunya milik saya yang sangat berharga, terus apa arti tuan ingin bicara secara pribadi pada saya dan tidak ingin banyak orang tau"
Pelayanan itu sedikit kecewa dan tersinggung.
Pemuda itu memukul jidatnya, ternyata pelayan itu salah mengartikan ucapannya.
__ADS_1
"Jangan tersinggung Nyai, saya sangat tertarik dengan nona, nona sangat cantik, tapi ucapan saya hanya ingin bicara menawarkan suatu pekerjaan sampingan di kedai ini, maksud saya bukan pelayanan seperti ini" pemuda itu menjelaskan maksudnya.
Mendengar ini wanita itu segera mengenakan pakaiannya lagi lalu duduk di samping pemuda itu dengan tatapan tajam meneliti maksud pemuda itu.
"Katakan tuan maksud tuan ini, andai saya bisa melakukan saya siap" pelayan itu penasaran pekerjaan apa yang akan di berikan pemuda ini, yang berpakaian seperti bangsawan.
"Tapi nyai harus berjanji, merahasiakan ini walau pemilik kedai ini bertanya, sanggup ? Saya akan membayar dengan pantas"
Pemuda itu mengajukan permintaan dulu, sebelum menceritakan maksudnya.
"Baik saya akan berjanji tidak akan membocorkan pembicaraan ini walau nyawa saya taruhannya, apa saya perlu sumpah darah ke bumi tuan"
Pelayanan Dasem berucap dengan sungguh-sungguh.
"Tidak perlu nyai, melakukan sumpah darah aku percaya nyai orang jujur, dengarkan baik-baik" pemuda itu berhenti sejenak untuk menarik nafas.
Pelayanan Dasem mengangguk mengerti.
"Aku sedang mencari salah satu pembunuh bayaran dengan gelar pendekat tapak Geni, apa nyai pernah mendengar nama itu"
Pemuda itu mendekatkan bibirnya ke telinga pelayan Dasem, hingga ujung kumisnya menyentuh kupingnya, membuat wajah pelayan itu memerah bagai cabe merah keriting.
Pelayanan Dasem termenung mengingat-ingat kejadian yang telah lalu.
"Tuan tiga hari yang lalu ada dua pendekar yang menyebut nama itu, begini ucapan salah satu dari mereka, yang temanya menyebutnya pendekar tapak besi.....
"Adik kalau begitu mudah melakukan tugas itu kita yang melakukan tugas itu, bukan kakang tapak Geni" .....itu yang sempat saya dengar, waktu itu saya hanya lewat membawakan minuman ke meja di sebelah pendekar itu" pelayan Dasem menceritakan apa yang diketahuinya.
Pemuda itu terlihat sangat senang ternyata kepergiannya ke kedai bunga mawar merah mendapatkan informasi yang penting, dia merasa mulai ada benang merah yang tersambung, dengan yang di carinya.
"Nyai Dasem perhatikan setiap pendekar yang berkunjung kesini, hasilnya kau tulis dan informasi kan ke pedagang buah-buahan di samping toko penjual senjata.....
Katakan "aku membeli buah dalam senyap''
dia akan mengerti, dan tiga hari dari sekarang akan datang seseorang yang bernama Gustaman memberi uang untukmu,
Terimalah itu dari aku" pemuda itu menjelaskan panjang lebar.
Sebenarnya Gustaman adalah salah satu anggota elite pasukan senyap yang di pimpin Antaka pendekar syair kematian.
__ADS_1
Pemuda itu memberi sekantong keping emas ke pelayan Dasem. "Ingat pembicaraan ini jangan sampai keluar jaga dengan nyawa mu"
Pelayanan Dasem menerima dan membukanya, matanya melotot, betapa tidak, seumur hidupnya baru melihat dan menggenggam uang sebanyak itu.
Uang itu pikirnya bisa membeli sebidang tanah tanah dan rumah cukup mewah.
"Setelah ini selesai aku akan memberi pekerjaan yang layak untuk mu"
Saking senangnya pelayan Dasem memeluk dan mencium pemuda itu dengan gemesnya.
(Dasar kaum hawa kalau melihat duit jadi melehoy up' kelepasan hiiiihiiihiiii)
Mendapat perlakuan itu pemuda ini hanya menggelengkan kepala.
"Tuan sebaiknya keluar melalui jalan belakang tapi hati-hati ada dua penjaga di sana nanti saya yang mengantar"
Pelayan Dasem memberi saran, pemuda itu hanya mengangguk.
Mereka berdua keluar dari kamar dan menuju ke samping ruangan, cahaya yang temaram, membuat tidak menarik pengunjung yang lain.
Setelah pintu belakang terbuka pemuda itu melesat pergi, di pandangan pelayan Dasem, pemuda itu menghilang.
Setelah sadar dari kagetnya pelayan Dasem menyesal lupa menanyakan nama pemuda itu.
Dua penjaga yang di luar yang sedang mengantuk hanya merasakan angin yang menerpa sekilas, tidak menyadari ada yang keluar dari pintu yang di jaganya.
Dua pendekat yang menunggu pemuda itu, sangat heran sudah sekian lama pemuda itu belum keluar, salah satunya bertanya
"Kakang tapak besi, apa kakang melihat pemuda itu keluar, aku dari tadi tidak melihat dia keluar, apa kita terlalu mabuk hingga tak melihatnya"
Yang bernama pendekar tapak Geni, menjawab
"Tidak adik aku pun tidak melihat dia keluar, mengapa adik tapak Bayu begitu penasaran, dengan pemuda itu"
"Aku sangat penasaran tadi dia mengeluarkan aura api seperti kakang tapak Geni" yang di panggil pendekar tapak Bayu menjawab, alasan dia ingin bertarung menjajal ilmu pemuda itu.
...****************...
like end support juga kritik dan saran di kolom komentar di tunggu
__ADS_1
kang Rudi Gustaman Trim's 🙏🙏🙏
Jangan lupa jagalah kesehatan sebelum sakit datang......