
Pagi itu mentari bersinar cerah secerah nuansa istana kerajaan yang telah membuktikan keperkasaan pemiliknya, yang mampu menangkap dan mengadili seorang pembunuh yang telah melenyapkan ibunda sang Raja muda Shun land.
Pangeran Shun Land dan permaisuri May lien, sedang menunggu, kedua permaisuri di pendopo taman belakang istana, yang rencananya akan berangkat ke danau biru di tengah hutan.
Sang Rajawali api bermain dengan Lodaya sang harimau besar di halaman taman belakang istana, mereka melepas rindu sudah tiga bulan lebih tidak bersama.
Permaisuri Dewi sumayi berlari melihat sang Rajawali api, sang Rajawali api mengerti apa yang di inginkan permaisuri Dewi sumayi, dia merendahkan tubuhnya.
Permaisuri Dewi sumayi tidak mengindahkan pangeran Shun Land dan permaisuri May lien yang sedang menunggu, tapi langsung naik ke punggung sang Rajawali api.
Tubuh sang Rajawali api sekarang sudah sebesar badan sapi berumur setahun, tingginya hampir sedepa setengah.
Permaisuri Dewi sumayi di bawa terbang berputar-putar berkeliling istana kerajaan.
Memang semenjak di istana sang Rajawali api sangat dekat dengan permaisuri Dewi sumayi, dari pada kedua permaisuri yang lainnya.
Lodaya sang harimau besar di tinggal sang Rajawali api ngeloyor ke pendopo menghampiri pangeran Shun land lalu menggosokkan kepalanya ke dada pangeran Shun land.
Dia pun lalu berbaring di samping permaisuri May lien, permaisuri May lien membelai-belai kepala Lodaya sang harimau besar yang sedang merajut di tinggal sang Rajawali api sahabatnya.
Tak lama kemudian permaisuri Sari Tungga dewi datang bersama Boma dan Mawinei yang sedang mengandung tiga bula lebih.
Mereka berlima duduk di pendopo taman belakang istana menunggu permaisuri Dewi sumayi yang di bawa terbang sang Rajawali api.
Dua pelayan datang membawa minuman hangat dan makana sarapan pagi, setelah meletakan minuman makanan mereka kembali ke dapur istana.
Walaupun pun pangeran Shun land seorang raja muda kerajaan Kutai khal yang sangat berpengaruh tetapi di hadapan ketiga permaisuri dan sahabat-sahabatnya dia bersikap seperti orang biasa, karena sikap asli pangeran Shun land tidak senang dengan tata cara bergaul istana yang banyak trik dan intrik politik, dan sikap menjilat kepura-puraan.
"Pangeran, kapan pengeran berangkat ke daratan luas Dwipa". Boma bertanya di sela-sela mengunyah makanan.
"Aku akan berangkat setelah pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana datang yang sedang berkunjung ke Pangeran Makkamaru di daratan luas Sula". Pangeran menjawab dengan singkat.
Angin kepakan perkasa sayap Rajawali api sampai ke pendopo, berbarengan dengan hinggapnya kaki Sang Rajawali api di halaman istana.
"Boma kau akan ikut ke danau biru di tengah hutan". Pangeran Shun land bertanya pada Boma.
"Weeeh aku kemari ingin ikut di ajak permaisuri Sari Tungga Dewi, sengaja aku ajak sang isteri ku yang paling cantik ini, untuk melihat indahnya danau biru tengah hutan dan melihat peliharaan permaisuri May lien yang hijau itu". Boma menjawab dengan bersungut-sungut.
"Kalian berempat naik ke punggung burung emprit itu, sedangkan aku berjalan sama Lodaya dan adik May lien". Pangeran Shun land mengaturnya.
Sang Rajawali api mendengar itu, matanya berapi-api, lalu bicara melalu telepatinya.
__ADS_1
"Dasar raja muda sempruuuul, sekali lagi bilang aku emprit, ku jatuhkan dua istri mu ke rawa banyak buayanya".
Pangeran Shun land menanggapi dengan santai ucapan sang Rajawali api, "kau ingin permaisuri ku Dewi sumayi menceramahi mu tiga tiga malam, kau berani ???".
Sang Rajawali api bergidik ngeri, untuk mengahadapi ngomelnya perempuan, jangankan berhari-hari dua jam saja kuping terasa terbakar, mending dia bertarung dengan naga api hitam musuh bebuyutannya dari pada harus menghadapi 0melan permaisuri Dewi sumayi.
"Dasar raja sempruul beraninya berlindung di balik Gelung perempuan". sang Rajawali api mengerti.
Permaisuri Sari Tungga Dewi mendekati sang Rajawali api yang di sana sudah ada permaisuri Dewi sumayi, lalu Segera naik.
Boma dan Mawinei mengikuti dan naik ke punggung sang Rajawali api.
Mereka berempat di bawa terbang oleh sang Rajawali api menuju ke danau biru di tengah hutan.
Permaisuri May lien naik ke punggung Lodaya sang harimau besar sedangkan pangeran Shun Land memilih untuk berlari mengunakan jurus Saipi angin.
Pangeran Shun land ingin mencoba kekuatan tenaga dalamnya di gunakan untuk berlari adu kecepatan dengan Lodaya sang harimau besar.
Setelah masuk ke dalam hutan pangeran Shun land bicara pada Lodaya sang harimau besar dan permaisuri May lien.
"Lodaya aku ingin menjajal kemampuan berlari Ku dengan kemampuan tenaga dalam ku yang baru, kita adu kecepatan siapa yang lebih cepat sampai ke sana, biar adil adik Mey Lien biar aku yang gendong".
Lodaya mengangguk tanda setuju. Sedangkan putri May lien diam saja.
Setelah permaisuri berada di gendongannya. Pangeran Shun land melesat bagaikan kilat, "pejamkan matamu". Pangeran Shun land memerintah permaisuri May lien.
permaisuri May lien memejamkan matanya Menurut tanpa protes.
Lodaya sang harimau besar pun berlari dalam waktu yang bersama dengan pangeran Shun land.
Tapi sungguh di luar dugaan pangeran Shun land, kecepatan larinya sekarang telah melebihi kecepatan Lodaya lebih dua kali lipat.
Hanya butuh waktu satu kali waktu menanak nasi pangeran Shun land sampai di danau biru tengah hutan.
Sesampainya di sana pangeran Shun land menurunkan permaisuri May lien, yang ternyata dia ketiduran di gendongan pangeran Shun land.
Pangeran Shun land membangunkan permaisurinya yang satu ini yang spesial di hatinya. "Kau ingin terus tidur sambil ku gendong, sampai kedua permaisuri ku datang dan mereka meminta ku untuk menggendongnya, bergantian".
"Maaf aku ketiduran habis nyaman seperti di ayunan". Permaisuri May lien turun wajahnya memerah malu di depan pangeran Shun land suami tercintanya.
Angin di sekitar itu menderu sang Rajawali api mengepak-ngepakan sayapnya, sebelum mendarat.
__ADS_1
"Dasar burung emprit bisanya pamer melulu". Pangeran berkata melalui telepati.
Sang Rajawali api menengok sambil matanya ada kilatan api menahan marah pada sang tuannya, yang sungguh mengesalkan hatinya.
"Raja sempruul malah meninggalkan sahabat sejatinya Lodaya di belakang, Raja tega sempruuuul". Sang raja wali bicara sambil berjalan menuju pohon dekat pintu gua.
Permaisuri Sari Tungga Dewi dan permaisuri Dewi sumayi berjalan ke arah pengeran Shun Land dan permaisuri May lien.
Boma dan Mawinei menuju ketepian danau karena sedari masih di punggung sang Rajawali api Mawinei menunjuk danau biru yang sangat indah.
Sesampai di tepian danau ketika Mawinei menunduk hendak menyentuh air danau, dari dalam danau biru itu, terlihat kepala ular hijau sangat besar.
Sontak saja Mawinei menarik badannya berdiri, tangan kanan menunjuk ke arah kepala ular tangan kiri mencengkram ************ Boma dengan keras, sambil berteriak, "ituuuuuu''...
Boma menjerit lebih keras...
"Burung kuuuuu".
Semua melompat serempak ke arah mereka, permaisuri May lien lalu melambaikan tangannya ular hijau itu ngeloyor ke dalam danau, mengerti apa yang di maksud permaisuri May lien.
Mawinei yang masih kaget masih mencengkeram burung suaminya dengan keras.
Boma masih menunjuk-nunjuk kearah tangan Mawinei yang mencengkeram dengan keras.
Mawinei melihat ke arah tangan Boma wajahnya memerah karena malu di sana ada pangeran Shun Land dan ketiga permaisurinya.
Lalu melepaskan cengkeramannya dan menarik tangannya dengan pelan, sambil menunduk malu.
Boma terduduk merasakan mules yang luar biasa bagai di hantam bogem mentah.
Pangeran Shun land dan ketiga permaisurinya tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata.
"Burung ku.... Burung kuuuu...". Pangeran Shun land menirukan ucapan Boma sambil terpingkal-pingkal.
...****************...
like and supportnya serta komentar sangat membantu tulisan ini untuk berkembang.
Terima kasih sahabat NOVELTOON yang telah setia mengikuti tulisan ini.
Jangan lupa jaga kesehatan dengan pola hidup sehat.
__ADS_1
SALAM NUSANTARA
SALAM GARUDA PERKASA