LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
231. Jati diri Dewi langit


__ADS_3

Shun land menaiki tangga kepalanya menunduk di ikuti oleh Dewi langit dan kedua adiknya Lalu putri Serindang bulan sedangkan Boma yang terakhir menaiki tangga karena pikirannya sudah bersama makanan lezat dia tidak melihat bahwa palang pintu rumah Bolon pendek tak ayal lagi kepalanya membentur tiang.


"Adaaaah kepala kuu...!!!


Spontan Boma menjerit kesakitan kepalanya benjol sebesar ibu jari.


"Ini adalah bukti orang yang dalam pikirannya terisi oleh makanan tidak akan mempunyai kebiasaan yang bagus, pintu ini sebenarnya untuk mengajarkan pada kita untuk selalu hormat pada tuan rumah dengan cara menundukkan kepala". Shun land berkata dengan nada serius.


(Tangga dan palang kayu yang pendek mempunyai falsafah bahwa kita harus menghormati tuan rumah, lebih luasnya lagi kita harus saling menghormati satu dengan lainnya, sebenarnya masih banyak lagi falsafah dari rumah BOLON adat Batak Toba)


Di dalam rumah terlihat sangat luas tidak ada kamar atau pun pembatas memang ada bagian-bagian rumah untuk masing-masing pengisi rumah.


Tapi pangeran Agam tidak memakai peraturan itu karena pertimbangannya bawah seorang raja mempunyai hak di mana pun dia inginkan.


Shun land di persilahkan duduk sedangkan pangeran Agam ke belakang mencari sang ayah tuan Bungaran dan Nyai Cici ibunya.


Tidak lama tuan Bungaran dan Nyai Cici datang di iring pangeran Agam.


Setelah dekat tuan Bungaran dan istri berlutut memberikan hormat pada Shun Land lalu duduk bersila melingkar di sampingnya nyai Cici.


"Terima kasih Paduka raja Sudi mampir menjenguk paman, maaf paman tidak bisa hadir pada waktu kompetisi olah Kanuragan".


Tuan Bungaran membuka pembicaraan.


"Tidak apa-apa paman salam dari ibunda Ratu dan ayahanda semoga paman sehat slalu, perkenalkan ini Kakak saya dan ini adalah putri Serindang bulan dari Rijang Renah Selawi dia wakil saya di kerajaan Gendis". Shun Land menjawab dan memperkenalkan Boma dan putri Serindang bulan.


Tuan Bungaran pun memperkenalkan ibu pangeran Agam dan ketiga putrinya.


Tiga wanita satu paruh baya dan dua gadis seusia pangeran Agam, mereka bertiga membawa minuman dan makanan, di sangka Boma hanya itu makanan yang di suguhkan akan tetapi setelah ketiga wanita itu pergi datang lagi empat orang dua laki-laki dan dua perempuan mereka berempat membawa banyak makanan dan buah-buahan.


"Ayah bagai mana kalau pembicaraan kita putus dulu kita makan dulu setelah makan kita akan melanjutkan bicaranya, kasihan kayanya kak Boma sudah kelaparan".

__ADS_1


Pangeran Agam memberikan usulan.


"Pangeran Agam memang sangat pengertian dan baik sekali, saya jadi malu".


Timpal Boma sambil bicara tangannya menggeser piring yang ada di dekatnya dengan wajah mesem mata melirik ke kiri dan ke kanan tubuhnya sedikit plintat-plintut seperti malu-malu.


Tapi tangannya Boma menyasar sana sini mengumpulkan lauk ke piring nasi di depannya, tanpa aba-aba dan basa-basi tangan Boma lincah memindahkan makan dari piring ke mulutnya.


Semua mata tertuju pada Boma tapi tidak di hiraukan oleh Boma malah berkata dengan percaya diri.


"Kenapa kalian semua malah memandangku bukannya makan sayang masakannya kalau keburu dingin".


Mulut Boma sangat lincah mengunyah makanan, di depan Shun Land panggang ikan besar terpampang jelas.


Pangeran Shun land memulai makan, setelah Shun Land memulai makan Mereka semua pun ikut makan.


Sambil makan sesekali Mata Shun Land melirik ke Dewi Langit hatinya terenyuh, sebenarnya air mata Shun Land ingin menetes setiap melihat sang adik yang telah menjadi seorang gadis dewasa parasnya sangat cantik mirip sang ibunda ratu SHI khal tapi Shun Land menahan rasa haru di dadanya.


Sebenarnya Shun Land sudah hampir menyakini bahwa Dewi langit adalah adiknya tetapi dia ingin lebih yakin hingga ingin menanyakan langsung pada tuan Bungaran.


Dewi langit menjadi sangat penasaran ada apa dengan dirinya kenapa sang raja besar Tarumanagara dan Kutai Martadipura setiap melihatnya wajahnya terlihat sedih.


Sementara itu Boma melihat ikan bakar besar di depan Shun Land masih utuh di atas piring tangannya sangat cekatan menggeser piring tersebut dengan wajah menghadap ke arah lain.


Pangeran Agam yang melihat kelakuan Boma hampir pecah tertawa kalau tidak menghormati Shun Land pastinya sudah terbahak-bahak.


Shun land hanya melirik sedikit tidak memperdulikan tingkah Boma malah meminta tolong pada putri Angiat untuk mendekatkan satu piring irisan daging.


Putri Angiat menyodorkan satu piring irisan daging goreng di terima oleh Shun Land tanpa ragu-ragu, Shun Land meletakan piring daging itu di depan Boma tanpa ekspresi.


"Kau ini seorang adik yang sangat baik ibu kita sangat bangga di alam sana". Boma berkata sambil tersenyum.

__ADS_1


Putri Serindang bulan yang mengerti maksud Shun Land memberikan satu piring penuh dengan daging adalah menyungkur supaya jangan malu-maluin.


(nyungkun bhs Jawa panturaan)


Tetapi di tanggapi oleh Boma suatu kebaikan putri Serindang bulan jadi tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah Boma yang tidak berubah bila bertemu dengan makanan.


Setelah selesai makan Shun Land ingin bicara berdua dengan Tuan Bungaran, akhirnya semua keluar memberikan privasi.


"Bibi Cici tidak usah keluar karena ada pertanyaan untuk kalian berdua". Shun Land melarang nyai Cici yang hendak berdiri.


"Silahkan Paduka paman jadi penasaran sekali". Tuan Bungaran mempersilahkan.


Sebelum bertanya Shun Land menarik nafas dalam-dalam sambil memilih bahasa yang tepat.


"Begini tuan Bungaran dan Nyai Cici saya mendengar pada waktu kompetisi olah Kanuragan bahwa Dewi langit adalah anak angkat tuan Bungaran dan Nyonya Cici...??".


Tuan Bungaran tidak menyangka Shun Land mempertanyakan prihal Dewi langit padahal perkiraan tuan Bungaran Shun land akan membicarakan prihal kebangsaan untuk bergabung di bawah panji-panji kerajaan Tarumanagara.


"Paduka benar... nama Dewi langit yang saya berikan pun sebenarnya menyimpan asal usulnya, begini kejadiannya.....


Pada waktu itu saya sedang berjalan di tengah hutan dengan anak buah saya tiba-tiba badai angin melewati jalan kami.


Sekilas saya melihat ke udara ada yang meluncur jatuh dari udara seperti seorang anak saya dengan sigap meloncat menangkap anak tersebut.


Tubuh anak itu penuh dengan luka memar dan pakaian rusak tapi masih ada detak jantungnya, saya pun menolong anak tersebut dan membawa pulang sesampainya di rumah istri saya ingin merawat dia dan mengangkat anak.


Kemudian saya bernama dia Dewi Langit karena anak yang jatuh dari langit pada waktu itu dia berusia sekitar 7 atau 8 tahun begitulah paduka sejarah anak angkat saya Dewi langit".


Tuan Bungaran mengakhiri ceritanya.


_______*****______

__ADS_1


__ADS_2