LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
91. memburu pendekar tapak Geni sang pembunuh 6


__ADS_3

Tiba-tiba sebuah bayangan menyambar tubuh naga hitam. Dan menghilang kedalam hutan.


kedua mahluk agung itu menghampiri Raja agung kerajaan Sunda land, yang sedang terduduk kehabisan tenaga dalamnya.


Di topang senjata kelas bintang tombak trisula Raja agung Sunda land, berusaha berdiri.


Dua mahluk legenda naga bumi Sabui dan sang Rajawali api, berdiri di hadapan sang Raja agung kerajaan Sunda land


Raja agung lantas mengucapkan ujaran mengingatkan dan memohon kepada dua sahabatnya itu.


"perang kecil telah berakhir dan perang besar menunggu di masa depan, Mara Deva walau tidak di katakan kalah oleh ku, tapi dia dan tunggangannya terluka parah, mungkin beberapa ratus tahun atau ribuan tahun dia bisa memulihkan kekuatannya....


"pada waktu itu terjadi kekuatannya akan berlipat ganda, kekuatan tunggangannya naga api hitam, akan berlipat ganda pula, yang mungkin kekuatan panasnya bisa melelehkan batu dengan satu hembusan nafasnya....


"waktu itu terjadi, aku mungkin tidak ada lagi di dunia ini, tapi kita bisa melakukan persiapan dengan memberikan petunjuk dan bimbingan, untuk manusia terpilih dengan tubuh istimewa, tubuh empat lintang kelima pancer yang akan melawan Mara Deva simbul hawa nafsu keangkara murkaan di bumi ini.


"naga bumi, Garuda api kalian suatu hari di masa depan bila di takdirkan berjumpa Dengan manusia terpilih bertubuh empat lintang kelima pancer, kau wajib mengikutinya dan patuh padanya, di pundaknya terpukul beban berat meneruskan kewajiban kita...


"Aku yakin sang maha pencipta akan memberikan lebih kekuatan melebihi kekuatan ku, ilmu saipi akan ku sempurnakan dan ku tulis untuknya.


"ingat sahabatku bila waktunya tiba menuju perang besar kau kalian harus mendampingi dan membantunya dengan jiwa dan raga kalian"


Pandangan Rajawali api nanar matanya entah sejak kapan berair mengingat pesan-pesan terakhir sang tuannya sekaligus sahabatnya Raja agung Sunda land.


Ingatan Sang Rajawali telah kembali enam puluh persen lebih. Hingga bisa mengingat kejadian-kejadian besar bersama sang Tuan Raja agung Sunda land dan sahabat sejatinya naga bumi Sabui.


Lamunan sang Rajawali api buyar ketika sentuhan lembut dari putri Dian Prameswari dwibuana menyapu bulu lehernya.


Sang Rajawali api menundukkan kepalanya hingga tangan lembut putri Dian Prameswari dwibuana bisa menyentuh kepala atasnya.


Sang Rajawali api sangat gembira, dia tahu bahwa putri Dian Prameswari dwibuana, mempunyai niat yang tulus ingin berteman dengannya.


Sebenarnya bisa saja sang Rajawali api bicara bahasa manusia dengan putri Dian Prameswari dwibuana tapi di sana banyak orang, kru kapal yang sedang mengiris, memotong ikan besar pemberian naga bumi Sabui, dan ikan yang di dapatnya untuk persediaan makan sang tuan pangeran Shun Land beserta para sahabatnya.


Sang Rajawali api merendahkan tubuhnya, kepalanya mengisyaratkan agar putri Dian Prameswari dwibuana naik ke punggung depannya dekat lehernya.


Putri Dian Prameswari dwibuana sedikit ragu tapi anggukan kepala sang Rajawali api meyakinkannya, putri Dian Prameswari dwibuana naik ke punggung sang Rajawali api.

__ADS_1


Dengan sekali hentakan kaki Sang Rajawali api naik keatas dan terbang mengitari kapal pinisi pangeran Shun Land.


Teriakan histeris keluar ketika pertama meluncur cepat, tapi akhirnya tertawa keras di bawa terbang rendah dan pelan oleh sang Rajawali api.


Semua kru kapal memandang tersenyum kelakuan wanita cantik bagai putri ini, bagai bidadari terbang bersama angsa hitam dalam dongeng.


Pangeran Shun Land tersenyum dan berkata dalam hati.


"Dasar burung emprit bisa saja mengambil hati para putri di istana putri Dewi sumayi, di sini kau mendekati putri Dian Prameswari dwibuana dasar emprit"


Terdengar di batin pangeran shun "kau ini iri saja dengan Garuda perkasa ini, aku kan gagah wajar saja para putri berebut ingin terbang dengan ku, emang kau pemuda sempruuuul hahahah"


Sang Rajawali api mengolok-olok pangeran Shun Land, melalui telepati batinnya.


Pangeran Makkamaru pertama kali sedikit khawatir, kekasih hatinya akan jatuh tetapi setelah melihat sang Rajawali api terbang tenang kekhawatirannya hilang.


Makan siang siap dari ikan tangkapan naga bumi Sabui, sisanya di jemur untuk cadangan makanan hari-hari mendatang.


Mulut Boma penuh Dengan makanan seakan takut kehabisan, sang Rajawali api turun ke geladak kapal, putri Dian Prameswari dwibuana sebelum pergi bergabung makan.


Putri Dian Prameswari dwibuana kembali lagi membawa tiga potong daging ikan besar, mengulurkan ke sang Rajawali api.


Sang Rajawali api mematuk dan menelan satu persatu daging yang di ulurkan putri Dian Prameswari dwibuana.


Akhirnya Boma tergelak di dek depan kapal, yang di jadikan tempat makan.


Putri Dian Prameswari dwibuana duduk di sisi pangeran Shun Land.


"Satria Nusa kencana sangat beruntung mempunyai sahabat Sang Rajawali api, terima kasih telah di bolehkan terbang dan berteman dengan sahabat Rajawali api"


Dian Prameswari dwibuana memulai obrolan.


"Tidak apa-apa itu hak burung emprit, mau bergaul dengan siapa" pangeran Shun Land menjawab sambil melirik sang Rajawali api yang sedang bersimpuh di ujung dek kapal.


Sang Rajawali api memandang pangeran Shun Land dengan kesal di sebut burung emprit, mengikuti naga bumi Sabui.


"Ingat yang di rumah sudah ada tiga" Boma nyeletuk sambil memiringkan tubuhnya ke arah sang Rajawali api.

__ADS_1


Putri Dian Prameswari dwibuana menepuk sisi perut pinggir pinggang Boma, yang sedang meringkuk kekenyangan memunggungi putri Dian Prameswari dwibuana.


"Aduuuuh.....,, Boma menjerit kesakitan.


Semuanya tertawa terbahak-bahak melihat Boma kesakitan perut yang sedang kekenyangan, di pukul agak keras entah bagai mana rasanya.


Boma berguling menjauh dari jangkauan putri Dian Prameswari dwibuana


"Tak nyangka putri cantik ini lebih sadis dari predator hahaha" Boma berkata sambil tertawa menjauh mendekati sang raja wali dan duduk bersandar di pinggir kapal.


Kapal melaju dengan kecepatan sedang dan mulai berbelok ke kanan menuju tepian nampak muara sungai yang tidak begitu besar.


Ada pemberhentian kapal cukup besar di tanah Bumbu. Kapal berhenti sang nahkoda lemo-lemo turun dengan perahu kecil. Menuju pengelola pemerintah kapal.


Nahkoda kapal lemo-lemo bicara sebentar dan membayar uang pangkal selama sebulan, seharga dua puluh keping emas, uang tersebut berikut jatah keamanan kapal selama bersandar di sana.


Nahkoda kapal lemo-lemo kembali dan memanggil empat kru kapalnya untuk membeli air tawar yang sedikit berkurang.


Empat kru kapal di beri uang untuk membeli air tawar, masing masing membawa dua tong air yang di pikul.


"Kita akan menginap di sini semalam" pangeran Shun Land bicara kepada pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana, di sana juga ada Boma dan wakil nahkoda tana beru.


"Tuan Satria Nusa kencana, saya tahu penginapan di pelabuhan tanah bumbu, yang terbaik pelayanan nya sangat memuaskan, ada tempat mandi air hangatnya juga, harganya cukup baik"


Wakil Nahkoda kapal Tana beru memberikan rekomendasi.


"Boma kau ikut paman Tana Beru, mendaftar untuk empat orang" pangeran Shun Land memberi tugas Boma.


Boma berjalan mengikuti wakil Nahkoda Tana beru dan bicara agak pelan tapi masih terdengar yang ada di sana.


""Tana Beru, apa ada pelayan wanita ples-plesnya di sana"


"Ingat di rumah Mawinei sedang mengandung ponakan ku" pangeran Shun Land menyindir.


Boma melirik sambil cengar-cengir kuda.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2