
Keduanya menyepakati waktu acara lamaran dan acara pernikahan pernikahan di gabungkan menjadi satu hari, acara tersebut akan di gelar di istana.
Di dalam kediaman pribadi pangeran Shun land bermeditasi dengan tenang, setelah memasuki tahapan meditasi rasa, Alam bawah sadar pangeran Shun land pergi ke guru batinnya.
Diri pangeran Shun land kala itu sedang berada di dimensi alam Roh, ingin mempertanyakan kekuatan Mara Deva.
"Berilah aku petunjuk guru tentang mara Deva dan kekuatannya". Ucap pangeran Shun land pada guru batinnya.
Sang guru tersenyum akan murid yang pikirannya terlalu polos menurutnya.
"Kau ini terjauh berpikir angan mu terlalu ke depan hingga hati mu di landa kekhawatiran yang tinggi, seolah kau tidak memiliki keyakinan bahwa hidup dan kehidupan ini telah di tentukan oleh sang maha kuasa....
Lakukan lah apa yang engkau kuat hadapi dengan lapang dada dan hilangkan rasa takut mu, hanya karena kau bertemu pengikut Mara Deva, yang ilmunya lebih tinggi dari mu kala itu, angan mu sudah bertemu dengan Mara Deva.....
Aku tidak akan menjawab karena bila menjawab aku ikut campur urusan dunia, itu melanggar aturan yang sudah di gariskan sang maha kuasa....
Kau telah banyak mendapatkan petunjuk, ikutilah petunjuk itu, berusahalah sekuat mu menang dan kalah bukan tujuan mu, tapi perjuangan mu yang sepenuh hati itu lebih penting...
Percayalah dan yakinlah bahwa sang maha kuasa akan selalu menolong mu, ingat jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi berlebihan, itu hak penguasa alam, kau boleh berencana tapi jangan terlalu memperhitungkan rencana mu, karena kau bukan Tuhan....
Aku akan memberimu petunjuk padamu berlatihlah di daratan luas Dwipa, di sebuah kawah gunung yang di sana terdapat hawa panas muni, seraplah hawa panas muni itu untuk menambah kekuatan api abadi mu.
Ingat jangan terlalu berpikir tujuan musuh mu tapi fokuslah pada tujuan mu".
Setelah mendengar kalimat terakhir ucapan guru batinnya pangeran Shun land seperti terlempar kembali ke kesadaran dia bermeditasi.
Dia perlahan membuka matanya hatinya terasa ringan setelah mendapat nasihat dari guru batinnya.
Tidak terasa pangeran Shun land bermeditasi sudah tiga hari penuh setelah kembali dari kediaman permaisuri Sari Tungga Dewi.
__ADS_1
Terlihat istrinya tertidur sambil duduk dengan kepala di meja beralaskan tangan kanannya.
Pangeran Shun land pergi membersihkan diri, sang istri yang mendengar pintu pemandian berderit dia terbangun dan melirik ke tempat bermeditasi sudah tidak ada suaminya.
Permaisuri May lien berdiri melangkah ke tempat kamar mandi, dengan pelan-pelan terlihat suaminya sedang berendam air hangat, dia pun melucuti pakaiannya dan menghampiri pangeran Shun land ikut berendam.
(Tidak usah di ceritakan yaaa hiiiihiiihiiii)
Keesokan harinya pagi-pagi permaisuri Sari Tungga Dewi menghadap Raja muda Shun land menceritakan perkara pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja akan menikah dan pernikahan ini akan di gelar di istana, hari ini adalah hari pernikahannya.
Pangeran Shun land pun Segera bersiap, kedua permaisuri, permaisuri May lien dan permaisuri Sari Tungga Dewi membantu mempersiapkan memakaikan pakaian kebesaran kerajaan sebagai seorang raja.
Permaisuri Dewi sumayi pun datang bersama Boma dan Dewi sumayi, tidak lama pangeran Makkamaru dan putri Dian Prameswari dwibuana datang.
Pangeran Shun land melihat kedua sejoli ini mengerutkan dahinya lalu berkata, "Sepertinya aku ketinggalan berita ada yang diam-diam bertali kasih, bagai mana kalau sekalian sesepuh Badewa Tjilik Riwut langsung menikahkan dua pasang pengantin sekaligus".
Semua tertawa menertawakan pangeran Makkamaru yang takut kepada kekasihnya putri Dian Prameswari dwibuana.
Di istana kerajaan Sang Ratu SHI khal dan maha Patih Jhasun sudah hadir keluarga bangsawan Danum tetua Ampong telah hadir beserta istri dan kerabat dekat mengiring pengantin wanita putri Sanja.
Di barisan kanan ada keluarga besar Sesepuh agung Khal San beserta ibu Sesepuh mewakili ayah dan ibu pangeran Sanjaya triloka yang menjadi pengantin pria.
Tiba-tiba pangeran Balawa dari Bangsawan Ngaju sebagai pengatur acara mengantikan pangeran Dehen, yang di tugaskan sebagai wakil kerajaan di kota provinsi Santui, dia berdiri lalu memberi pengumuman.
"Kepada seluruh yang hadir harap berdiri dan mengucapkan salam kepada paduka raja muda pangeran Shun land yang memasuki istana kerajaan".
Semua yang hadir tidak terkecuali sang ratu SHI khal dan maha Patih Jhasun berdiri dan secara serempak mengucapkan salam hormat dan sembah bakti kepada paduka Raja muda pangeran Shun land.
"Salam hormat kepada paduka Raja, sembah bakti kami haturkan semoga paduka raja dan permaisuri semua selalu di berkahi oleh sang maha pencipta".
__ADS_1
Pangeran Shun land Segera berlutut beserta ketiga permaisurinya menghaturkan salam hormat dan sembah bakti kepada ibunda Ratu SHI khal dan maha Patih Jhasun.
Acara pernikahan di mulai dengan acara langkahan Pangeran Sanjaya triloka kepada putri Dian Prameswari dwibuana sebagai kakaknya.
Setelah itu acara pernikahan di mulai sampai selesai, dan acara selanjutnya makan-makan dan pesta pernikahan dengan tarian di iringi musik kala itu.
Sore menjelang acara pun selesai semua tamu undangan telah kembali, yang tinggal pangeran Shun land beserta ketiga permaisurinya pangeran Makkamaru dan Putri Dian Prameswari dwibuana, Boma beserta Mawinei serta pangeran Balawa dari Bangsawan Ngaju.
Putri Dian Prameswari dwibuana memulai obrolan. "Paduka adik Sanjaya triloka mungkin tidak jadi berangkat menemani paduka ke daratan luas Dwipa, dia ingin mengabdi di kerajaan ini mohon petunjuk paduka".
"Baguslah kalau begitu pangeran Sanjaya triloka akan menjabat sebagai panglima perang mengantikan kakang Khal Shugal di sini nanti acara pengangkatan akan di atur oleh permaisuri Sari Tungga sebagai perwakilan ku, terus bagai mana rencana putri Dian Prameswari dwibuana sendiri".
Pangeran Shun land balik bertanya.
"Saya dan pangeran Makkamaru tetap akan menemani pangeran ke daratan luas Dwipa". Putri Dian Prameswari dwibuana menjawab tanpa ragu-ragu.
"Apa tidak sebaiknya kalian menikah dulu di sini nanti segala sesuatu nya biar kerajaan yang mengatur ketua Labusa biar pihak kerajaan yang menjemput". Pangeran Shun land mencandai pangeran Makkamaru dan Putri Dian Prameswari dwibuana.
"Terima kasih atas kebaikan paduka raja sebagai sahabat kami, tapi kami telah sepakat untuk menikah di daratan luas Dwipa di istana bangsawan Wajak, karena putri Dian Prameswari dwibuana anak pertama menurut adat di sana pernikahan harus di adakan di mempelai wanita, begitu paduka". Pangeran Makkamaru membantu menjawab.
Pangeran Shun land tertawa, "kalian ini serius banget basa saja lah aku ini sahabat kalian, apa karena aku duduk di sini". Pangeran lalu turun dari kursi singgasana duduk bersama dekat Boma.
"Dasar raja sempruul di hormati malah bercanda". Terdengar di batin pangeran shun Land suara sang Rajawali api.
"Tunggu saja burung emprit naga bumi Sabui akan menghajar mu menyebutku raja sempruul biar tahu rasa kau". Jawab pangeran Shun land melalui telepati.
Sang Rajawali api tidak menjawab lagi dia merasa bila bertarung akan kalah dengan naga bumi Sabui karena kekuatannya belum pulih.
...****************...
__ADS_1