LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
330. Jaya Sempurna 63. Berita dari si Cakar elang Ki Maliwa


__ADS_3

Lima orang penunggang kuda memacu kudanya sangat cepat menuju markas Raja tengkorak, diantara mereka ada yang mempunyai kekuatan melebihi tapak besi dan raja tengkorak dia adalah pendekar bangau putih Ki Sarwana dari hutan Muria.


Ki Sarwana atau pendekar bangau putih mengalah menjadi bawahan dan menyetor upeti wilayah ke Raja tengkorak bukan karena kalah bertarung dengan raja tengkorak atau Tapak besi tetapi karena di suatu pertarungan yang hampir menghilangkan nyawanya di tolong oleh 3 raja kematian yang memang ilmu Kanuragannya lebih tinggi dan bertarung selalu bertiga deng Dewi Sukma dan Dewi angin-angin.


Raja kematian yang murid dari Dewi angin-angin dan murid dari Dewi Sukma juga tapak besi murid dari Ki Kala Durga secara otomatis pendekar Bangau putih Ki Sarwana menjadi bawahannya. Dalam kesempatan ini Ki Sarwana bersama dua anak buahnya Tangkil dan Waru, sedangkan yang duanya lagi adalah si Cakar elang atau Ki Maliwa yang berasal dari daratan Sula bagian dari Bangsawan Wana,


Ki maliwa adalah salah satu murid perguruan Tapak Geni murid dari Braja Geni, pada waktu itu Ki Braja Geni pergi meninggalkan perguruan berpuluh tahun tidak kembali, Ki Maliwa menyusul sampai di Daratan Sunda Dwiva tetapi tidak bertemu Ki Braja Geni, akhirnya bergabung dengan pendekar Bangau putih Ki Sarwana.


Ki Maliwa sendiri Sekarang mengetahui gurunya telah kembali dan mendapatkan kabar bahwa perguruannya telah berkembang pesat setelah ada seseorang yang menyokongnya. (Baca chapter 255)


Ki Maliwa pun mendapatkan kabar dari salah satu pedagang yang berasal dari bangsawan Wana bahwa perguruan Tapak Geni telah menjadi salah satu pilar kekuatan di kerajaan Kutai Martadipura. Saat ini Ki Maliwa bermaksud akan pergi ke daratan Sula menemui gurunya tetapi sebelumnya dia ingin meminta izin pada pimpinannya Raja tengkorak.


Lima kuda berhenti di depan pintu gerbang yang mirip dengan pintu gua tetapi pintu tersebut telah hancur Ki Sarwana melangkahkan kudanya pelan-pelan masuk kedalam markas di ikuti dua anak buahnya Tangkil dan Waru, Ki Maliwa dan satu anak buahnya bernama Marjatan menunggu di luar markas.


Ki Sarwana merasa ada yang aneh biasanya bila masuk ada beberapa anak buah raja tengkorak yang berjaga kini tidak ada satupun markas itu sepi. "Tangkil kau periksa ada orang tidak di dalam markas".


Tangkil segera turun dari kudanya dan masuk ke dalam markas Raja tengkorak tidak lama kemudian Tangkil keluar dan mengeluarkan kepala tanda di dalam Markas tidak berpenghuni.


"Coba kau periksa ke samping dan ke belakang markas siapa tahu ada orang" Ki Sarwana lanjut memerintah Tangkil, Tangkil tanpa berkata langsung berjalan ke samping dan kebelakang.

__ADS_1


Mata Tangkil tertuju pada gundukan tanah yang berada di samping batu besar, penasaran Tangkil mendekatinya setelah dekat mengamati gundukan tanah tersebut dan melihat ada gambar tapak tangan kanan.


"Ketua ada kuburan baru dan tanda sebuah tapak di batu besar lihatlah kesini" Tangkil berteriak. Pendekar Bangau putih Ki Sarwana turun dari kudanya bersama Waru dan menghampiri Tangkil.


Pendekar Bangau putih Ki Sarwana meneliti gambar tapak tangan yang ada di atas batu lalu berkata seolah pada dirinya. "Ini bukan di buat tapak Besi kerena tenaga dalamnya lebih tinggi berarti ini gambar tapak tangan Ki Lamsijam adik tapak besi yang tenaga dalamnya lebih tinggi tapi dia tidak mau berontak ke kakaknya".


 


Pagi-pagi sekali Shun Land dan Lasmini serta pangeran Sanjaya triloka dan adik-adik seperguruannya berdiri di depan pintu tenda kedua pengantin baru ternyata belum bangun. "Kebakaran tenda kebakaran" Aji Wijaya berteriak keras".


Jelas saja yang ada di dalam tenda yang masih tidur berlari keluar, Lamsijam terlihat hanya memakai kain yang menutup burung kenarinya sedangkan Karmia keluar memakai selimut untuk menutupi badannya.


Berbeda dengan Delay yang keluar tanpa busana dan istrinya hanya mengenakan kain tipis, walau pun Kasmia sudah berusia 30an keatas dan memiliki tubuh tinggi gemoy berkulit kuning Langsat membuat para laki-laki di sana memalingkan wajahnya sambil tertawa terbahak-bahak.


Lamsijam keluar sambil menundukkan kepala pergi ke arah sungai kecil tidak lama di ikuti istrinya tanpa bicara, berbeda dengan Delay yang keluar biasa saja bersama Kasmia istrinya yang tersenyum malu-malu.


"Terima kasih telah memberikan waktu buat kami untuk meneruskan keturunan hahahaha". Delay berkata di akhiri dengan tertawa lebar. Setelah itu Delay mengajak istrinya ke sungai untuk mandi.


Pangeran Sanjaya triloka bersama yang lain bersiap untuk berangkat ke lembah begawan Solo bangsawan Wajak berada, sedangkan Shun Land dan Lamsijam akan pergi ke dalam hutan Muria untuk mendatangi markas kelompok Bangau putih dan kelompok Cakar elang Ki Maliwa

__ADS_1


"Paman sebaiknya kita ke markas Raja tengkorak dulu siapa tahu mereka sedang berada di sana bukankah ini sudah lewat 2 hari dari bulan purnama waktunya mereka menyetor upeti, bila tidak ada kita langsung menyatroni mereka markas mereka". Shun Land memberikan usulan dan di iyakan Lamsijam.


Dua kereta dan dua gerobak berjalan perlahan di depan pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja sedangkan kusir pengganti Lamsijam adalah adik seperguruan pangeran Sanjaya triloka Anggada, untuk kusir gerobak tugas Sarpatinaka dan Kinayung. Pramuja dan Antakusuma berjalan di belakang mengawasi kuda barang dan kuda yang tidak di tunggangi.


Shun Land dan Lamsijam melesat ke arah markas Raja tengkorak dalam waktu yang tidak lama mereka sudah berada di depan gerbang markas Raja tengkorak, terlihat dua orang penunggang kuda sedangkan menunggu sesuatu.


"Paman mengenal dua orang tersebut" Shun Land berbisik.


"Mereka adalah pendekar Cakar elang dari daratan luas Sula murid dari Braja Geni yang satunya anak buahnya, Cakar elang bergabung dengan Raja kematian mengikuti Bangau putih Ki Sarwana dari hutan Muria jumlah mereka sebenarnya ada 11 orang".


Lamsijam memberikan keterangan dengan jelas. Terlihat tiga orang keluar dari menuntun kuda mereka adalah Bangau putih Ki Sarwana dan kedua anak buahnya.


"Bagaimana kakang Sarwana keadaan di dalam apa yang terjadi". Ki Maliwa bertanya.


"Sepertinya tapak besi ada yang membunuh dan adiknya menguburnya terlihat dari gambar nisan di samping kuburannya". Ki Sarwana menjawab.


"Terus apa langkah kita selanjutnya". Cakar elang bertanya lebih lanjut.


"Kita kembali ke markas, ini adalah kesempatan kita menguasai wilayah bekas kekuasaan Raja tengkorak, kau jangan kembali kita akan menjadi dua penguasa jalur alas Roban". Si bangau putih berkata di akhiri gelak tawa kegembiraan, keinginan berdiri sendiri kini ada jalan yang tidak di sangka-sangka.

__ADS_1


Mereka tidak mengetahui nyawanya sudah di ujung tanduk. Shun Land yang mendengar perkataan Bangau putih merasa kesal, kematian pemimpinnya tidak membuat mereka takut malah semakin menjadi-jadi.


***************


__ADS_2