LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
308. Jaya Sempurna 41. Geger di pelabuhan Cilamaya.


__ADS_3

Bersamaan dengan debu yang menghilang tubuh Shun Land pun hilang dari sana. Tidak ada yang terbunuh kecuali Bandi, Tarkik dan Tarkim. Tubuh Mereka semua menyaksikan kejadian itu mematung di sisi jalan, setelah asap dan debu menghilang mereka saling pandang dan beberapa perempuan menjerit karena banyak barang-barangnya yang ikut jadi debu.


Dari atas empat buah peti emas jatuh dan terdengar suara tanpa wujud. "Ini ganti barang kalian yang hilang bagikan dengan rata dan adil". Semuanya menatap ke atas tetapi tidak ada siapapun.


Pada hari itu penghuni pelabuhan Cilamaya berdatangan tak terkecuali penguasa perwakilan Kerajaan Tarumanegara juga datang dia adalah Purawa murid dari Ki Rangga Wisesa, Purawa mewakili Ki Rangga Wisesa mengantikan Pangeran Shan land sebelum ke daratan Nusa kencana.


Purawa menanyakan apa yang terjadi pada nyonya besar yang sudah terkenal menjadi pemilik kedai dan rumah penampungan ikan perwakilan Bandi. Tetapi nyonya besar tidak bisa menjawab karena kejadian itu begitu cepat. Nyonya besar hanya bisa memberikan penjelasan ada tamu tampan ingin bertemu Tuannya juragan Bangor dan tiba-tiba terjadi ledakan meratakan yang ada.


Purawa pun bingung untuk menyimpulkan kejadian ini akhirnya Purawa dan beberapa bawahannya kembali ke tempat tugasnya. Juragan Tarman yang mengetahui siapa yang meledakannya tidak berani berkata apa-apa.


Sedangkan orang yang membuat peristiwa itu sudah berada di kamar pribadinya sedang merebahkan badannya sedangkan kepalanya di pangkuan Lasmini.


Shun Land sedang berpikir langkah selanjutnya apakah membawa kapalnya atau berjalan melalui darat menuju lembah Dieng ke persembunyian Karta dan Karto si topeng hitam dan pendekar tanpa wujud.


Akhirnya Shun Land memutuskan untuk meninggalkan kapalnya melanjutkan perjalan melalui jalur darat sekaligus ingin membasmi perampok dan para penyamun yang saat ini marak di berbagai daerah.


Shun Land bangkit dari rebahannya dan duduk di samping Lasmini lalu berkata. "Neng Lasmini kita akan melanjutkan perjalan melalui jalur darat menuju gunung Dieng ada sesuatu yang perlu kakang kerjakan di sana".


"Asiiik aku sudah bosan di ruang sempit ini, terus bagai mana dengan kapal ini kan banyak harta bendanya". Lasmini balik bertanya.

__ADS_1


"Kapal ini kita tinggalkan di sini dan kita membawa seperlunya saja biar kapten kapal Paman Barja dan kawannya menjaga di sini dia adalah salah satu kapten kapal yang handal dan seorang prajurit yang berilmu tinggi". Shun Land memberi penjelasan.


Shun Land langsung mempersiapkan semuanya dan menyuruh kapten kapal Barja untuk membeli 3 kuda yang berkualitas tinggi sengaja Shun Land membeli kuda lebih untuk membawa barang dan beberapa kotak koin emas untuk di bagikan di perjalanan.


Keesokan harinya Shun Land meninggalkan kapalnya di iringi lambaian tangan Kru kapalnya menuju lembah Dieng.


------------------


Di beberapa hari berlalu akhirnya kematian ketiga bawahannya Asvaghosa sampai juga di lembah gunung Ceremai di perguruan pedang setan Dewi Andita. Asvaghosa sedikit mempunyai kecemasan walau pun sudah yakin bahwa Shun Land belum kembali. Tetapi Dewi Andita yang sekarang menjadi pasangan Bersenang-senangnya menyakinkan Asvaghosa bahwa itu hanya kebetulan dan mungkin Bandi sendiri yang berbuat ceroboh dan menyinggung pendekar yang berilmu tinggi.


------------------


Berbeda dengan pendekar tiga raja kematian yang mendiami puncak gunung Sumbing, Ki Kala Durga yang sudah mengetahui bahwa Ki Srengga adalah guru dari Shun Land tetapi Ki Srengga mengetahui bahwa yang mengalahkan Mara Deva adalah Shun Land. Setelah mengetahui dengan detail Ki Kala Durga merasa ada penyesalan karena bagaimana pun juga suatu waktu akan ada tindak lanjut dari Shun Land yang secara kekuatan berbeda jauh. Ini menjadi ganjalan di hati.


Memang sekarang ini Ki Kala Durga mendengar bahwa raja Shun Land telah menghilang dan belum kembali dalam waktu lama, tetapi sebagai pendekar yang sudah ratusan tahun malang melintang di dunia persilatan mempunyai firasat tidak kembalinya Raja Shun Land tidak sederhana yang terlihat.


Dengan nada yang sangat berat Ki Kala Durga mengajak berbincang dengan Dewi Sukma dan Dewi angin-angin. "Baru kali ini aku merasa salah dalam memilih target. Pantas saja Asvaghosa anak Mara Deva tidak melakukan dengan tangannya sendiri karena mengetahui bahwa Srengga mempunyai murid yang mempunyai kekuatan melampaui gurunya. Aku merasa di jebak oleh bang*** Asvaghosa, Sukma coba benar atau salah kesimpulan ku ini".


"Kesimpulan kakang memang benar tetapi kejadian sudah terjadi kita harus siap dengan resikonya andaikan datang murid si Srengga kita akan menghadapinya bersama sampai titik darah penghabisan, sekarang kakang jangan terlalu di pikirkan mendingan kita menghibur diri bukannya aku telah menjadi seperti perawan lagi". Dewi Sukma berpikir lebih realistis kejadian yang sudah terjadi tidak mungkin bisa di ulang lagi dan memikirkan hanya membuang energi saja.

__ADS_1


"Benar kata kakak Sukma dari pada kita menghabiskan waktu memikirkan sesuatu yang tidak berguna lebih baik kita saling menyempurnakan diri sudah lama kita tidak bersenang-senang, tunggu dulu aku segera mengambil minuman sayang kalau tidak di minum kita beli mahal-mahal padahal kita meminta dengan paksa" Dewi angin-angin menimpali ucapan Dewi Sukma.


Dewi angin-angin kembali membawa satu ke di besar dan menuangkan pada gelas kecil ke Ki Kala Durga. Akhirnya mereka bertiga terhanyut dalam kesenangan dunia.


----------------------


Shun Land berjalan menyusuri pantai Utara Sunda Dwiva, sebenarnya Shun Land telah salah mencari dulu pendekar kembar Karta dan Karto yang berada di lembah Dieng.


Andaikan Shun Land mengetahui bahwa persembunyiannya tiga raja kematian lebih dekat yang berada di puncak gunung Sumbing niscaya Shun Land akan menuju tempat Ki Kala Durga dan kedua kekasihnya.


Tetapi kerena tidak mempunyai informasi tentang Ki Kala Durga dan kedua kekasihnya Shun Land menuju lembah Dieng terlebih dahulu yang sebenarnya persembunyiannya mereka bertiga kelewatan.


Pada masa itu daratan Sunda Dwiva tidak seperti saat ini pantai Utara masih lurus belum terkikis ombak dan pulau Sunda Dwiva masih luas menjorok ke laut Dwiva.


Shun Land dan Lasmini berjalan bersama beberapa pedagang perjalan mereka penuh canda dan tawa, Lasmini yang tadinya berkuda sekarang menaiki salah satu kereta milik pedagang pakaian dan kuda Lasmini di naiki salah satu pengawal pribadi pedagang kain tersebut.


Sehari telah berlalu Shun Land dan Lasmini melakukan perjalan Shun Land banyak bertanya pada para pedagang tentang daratan luas Sunda Dwiva. Karena secara keseluruhan Shun Land belum pernah menjelajahi daratan luas ini.


Hari mulai gelap rombangan pedagang setelah menemukan tempat terbuka mereka berhenti untuk istirahat lalu mendirikan tenda guna menghindari dingin angin malam.

__ADS_1


*********************


__ADS_2