
"Hai lepaskan tidak perlu aku tidak berniat memiliki pelayan". Shun land berkata dengan nada sedikit marah.
Pelayan itu melepaskan pelukannya wajahnya merah dia menyangka pahlawannya orang yang mudah di goda.
Api membubung tinggi bau amis daging yang terbakar menyeruak masuk ke hidung mereka.
Semuanya tawanan berkumpul Shun land bicara pada mereka. "Kita menyingkir dari sini karena hewan buas akan segera mendatangi tempat ini karena bau amis dari mayat yang terbakar, ikuti aku jangan jauh dari kelompok".
Setelah itu Shun Land memimpin mereka keluar dari bekas markas perampok Singa lapar. Mereka menuju Pedukuhan Caravan.
(Arti Caravan \= kafilah atau gerobak, jaman dulu daerah Karawang sebelum nama Karawang sebut. jadi jalur para kafilah atau rombongan para pedagang dari muara sungai Citarum atau dari Batavia atau Banten yang menuju arah ke Cirebon atau Kuningan, sayang sampai sekarang tidak ada data atau sejarah yang valid siapa yang mencetuskan nama Karawang).
Pagi pun menjelang Rombongan Shun land sudah berada di batas perkampungan pura yang menjadi korban singa maruta.
Para Penduduk berbondong-bondong menyongsong mereka ada sebagian para tawanan yang berasal dari kampung pura ini, mereka di sambut Isak tangis bahagia.
Sebagian lagi meneruskan perjalan menuju Pedukuhan Caravan khususnya ke perguruan Singa perbangsa yang di pimpin Aria Wirasaba.
Darja dan Carsan memimpin jalan, Shun land berjalan di belakang mereka bersama para bekas tawanan yang lainnya.
Tidak ada pembicaraan yang penting hanya pembicaraan memperkenalkan diri pada Shun land dan berterima kasih.
Tidak begitu lama sampailah di gerbang Pedukuhan Caravan yang di tandai dengan kayu yang di tancapkan di kedua sisi jalan.
Ki Aria Wirasaba dan murid-muridnya yang akan berangkat ke perkampungan Pura dan mengejar para perampok.
Mereka begitu gembira bahwa para pemuda dan gadis yang di culik perampok Singa lapar telah kembali di selamatkan pendekar pengembara muda.
Ki Aria Wirasaba langsung menyongsong pendekar muda Satria Nusa kencana.
"Pendekar muda terima kasih tugas yang seharusnya aku kerjakan telah di kerjakan oleh pendekar muda dengan hasil yang sangat menggembirakan semoga saja dengan hancurnya perampok Singa lapar yang di ketuai oleh singa maruta, masyarakat pedukuhan Caravan dan sekitarnya menjadi tentram dan aman".
Setelah berterima kasih dalam ucapan ki Aria Wirasaba mempersilahkan untuk masuk ke dalam pendopo perguruan singa perbangsa.
Setelah duduk Shun land berkata, "terima kasih sepuh Aria telah memperlakukan saya seperti pahlawan besar padahal itu hanya kebetulan saya lewat ada yang butuh pertolongan". Shun land merendah.
"Bolehkah saya bertanya dari mana dan hendak kemana nak mas Satria ini". Ki Aria Wirasaba menanyakan prihal Shun land.
__ADS_1
"Saya ini dari kerajaan yang baru berdiri kerajaan Tarumanagara di pelabuhan Tarumanagara, tujuan ku ke perguruan Gelap ngampar di guha pawon ingin mengikuti kompetisi pendekar muda persilatan".
Shun land menjawab apa adanya.
Sedang asik berbincang datang seorang gadis yang membawa hidangan alakadarnya dari pedukuhan, dan gadis itu adalah wanita yang mencuci pakaian Shun land waktu di markas Singa maruta.
Gadis itu tersipu malu ternyata dia lebih muda setelah berdandan dan berpakaian dengan baik.
"Kenalkan nak Satria dia adalah anak gadis ku satu-satunya sudah beberapa hari dia tidak pulang eeh pas pulang dia bersamaan dengan nak mas Satria singgah di sini". Ki Aria Wirasaba memperkenalkan anak gadisnya.
Ayu Sondari adalah anak guru besar perguruan Singa perbangsa dia pergi beberapa hari yang lalu untuk menyusup ke markas perampok Singa maruta.
Saat itu Ayu Sondari melumuri badannya dengan daun kentutan yang baunya seperti kentut menyengat sehingga dia aman dari kecabulan anggota perampok Singa lapar.
Dia hanya jadi tukang pengantar minuman dan tukang masak di markas Singa lapar.
"Kenalkan nama saya Ayu Sondari pendekar muda". Ketika Ki Aria menoleh ke depan pendopo Ayu Sondari menempelkan tangan ke bibirnya di tujukan pada Shun land.
Shun land hanya mengangguk dan tersenyum lucu akan tetapi dalam hati Shun land memuji keberaniannya menyusup seorang diri ke gerombolan Singa maruta.
"Saya menyesal sekali atas jalan hidup yang di pilih Adik singa maruta, dia adalah adik satu-satunya mendiang ibunya Ayu Sondari Anak dari pemilik perguruan singa perbangsa ini" Ki Aria Wirasaba bicara sambil menunduk.
"Tidak apa-apa nak Satria dia memang pantas mendapatkannya karena sejak kecil dia mempunyai karakter yang sangat licik dan mengumbar hawa nafsu, dia juga pergi dari sini karena di usir oleh bapaknya sendiri".
Ki Aria Wirasaba bercerita tentang singa maruta panjang lebar.
Shun land menyarangkan untuk bergabung dengan kerajaan Tarumanagara dan meminta bantuan pangan.
Shun land menyarangkan untuk bergabung dengan kerajaan Tarumanagara dan meminta bantuan pangan.
"Ki Aria bila kenapa katakan pada Ratu Dian Prameswari dwibuana bahwa Ki Aria di utus oleh Satria Nusa kencana". Shun land meminta kain selebar dua jengkal lalu dia menggambar kepala Rajawali Api dan di bawahnya nama Satria Nusa kencana.
"Berikan ini pada Ratu Dian Prameswari dwibuana dia akan mengerti dan Segera mengurus pasukannya ke sini membantu warga yang terkena musibah oleh kekejaman Singa maruta". Shun land memberikan kain itu.
Setelah itu Shun land berpamitan untuk melanjutkan perjalan menuju wilayah guha pawon tepatnya ke perguruan Gelap ngampar.
Semua penduduk melepas kepergian Shun land dengan rasa haru para penduduk berharap mempunyai raja seperti pendekar muda itu yang luhur Budi.
__ADS_1
Kuda tunggangan Shun land di tuntun olah Darja sambil memberikan tali kekang kuda Darja berkata,
"pendekar muda bila lewat ke daerah sini jangan sungkan untuk singgah ke perguruan ini kami semua menganggap nak mas ini bagai saudara kami".
Semua penduduk mendengar ucapa Darja langsung mengiyakan.
"Selamat tinggal semoga kita di pertemukan lagi di masa depan". Setelah berkata begitu Shun land memacu kudanya dengan pelan setelah sedikit jauh dia menambah kecepatan mudanya.
Di jalan setapak menuju selatan seekor kuda putih di pacu dengan cepat menyusul kuda hitam yang di tunggangi Shun land.
Setelah dekat penunggang kuda itu berteriak. "Tunggu pendekar Shun land Ayu ikut dengan pendekar".
Ternyata dia adalah Ayu Sondari anak dari guru besar perguruan Singa perbangsa Ki Aria Wirasaba.
Shun land menghentikan lari kudanya dia menghela Nafas, "Mau apa lagi gadis ini mengejar ku". Hati Shun land bergumam.
"Aku ikut dengan mu tidak ada penolakan, kalau pendekar menolak aku akan berteriak-teriak dan mengumumkan bahwa kau memperkosa ku".
Ayu Sondari merobek baju bagian depannya sambil mulutnya mau berteriak.
"Berhenti kau boleh ikut dengan ku tapi dengan satu syarat kau harus menuruti segala perintah ku tutup kembali pakaianmu". Shun land tidak ada pilihan mengijinkan Ayu Sondari yang bersifat nekad bila ke keinginannya tidak di turuti.
"Siap ketua laksanakan". Ayu menjawab seenaknya. Dalam hati Shun land bergumam sambil memperhatikan gaya bicara Ayu Sondari.
"Andai dia masih ada tentu sebesar dia sikapnya sama adik di mana kau berada".
Shun land sangat terenyuh melihat sikap Ayu Sondari teringat adik perempuan satu-satunya sikapnya sama percis dengan dia.
Shun land tidak mengetahui bahwa dia telah bertemu dengannya waktu kontes latih tanding adik pangeran Agam Dewi langit adalah Adik kandungnya sendiri.
"Hay kenapa bengong kau tertarik ya melihat gunung kembar ku tadi yaaaah...
Ayo ngakuuuuu....
Kemarin malam pura-pura tak mau sekarang melongo setelah aku dandan cantik". Ayu Sondari menggoda.
"Tidak aku melihat di belakang mu itu". Shun land menunjuk ke belakang Ayu Sondari, Ayu Sondari menoleh ke belakang, Shun land memacu kudanya.
__ADS_1
"Pemuda tengik menipu ku awaaas kau". Ayu Sondari memacu kudanya menyusul Shun land sambil bersungut-sungut.
...****************...