
Hari bergulir dengan cepat, dua hari berlalu.
Sore itu Raja muda Shun land, sedang bersantai dengan sang permaisuri May lien.
Terlihat wajah penuh kebahagiaan tiada terkira.
"Kakak Shun, kakak lima hari lagi berangkat ke perjalanan menuju daratan luas Dwipa, dan tidak bisa di tentukan kapan bisa pulang.
Permaisuri May lien berhenti untuk mengambil nafas lalu melanjutkan bicaranya.
"Sebaik kakak Shun, mendatangi kakak sari Tungga Dewi, atau kakak Dewi sumayi, saya ingin mereka mendapatkan perlakuan yang sama seperti ku"
Raja muda Shun land tidak langsung menjawab tapi dia berpikir sejenak.
"Aku juga berpikiran seperti mu, tapi aku merasa canggung, andai boleh memilih aku hanya ingin mempunyai satu istri dirimu, sekarang aku akan mengantarmu, sekaligus ingin berkunjung ke putri Sari Tungga Dewi"
Permaisuri May lien mengangguk setuju, mereka pun berjalan bergandengan dengan mesra, menuju kediaman tabib Lau lien.
"Salam ayah mertua, maaf baru bisa berkunjung, semoga tidak membuat ayah mertua kecewa" Raja muda Shun land menangkupkan kedua telapak tangannya seraya membungkukkan badan dan kepalanya, memberi hormat kepada sang ayah mertua.
"Salam paduka Raja, maaf tidak bisa menyambut dengan baik kepada paduka Raja" tabib Lau lien hendak berlutut tapi di cegah raja muda Shun land.
"Tidak perlu seformal ini ayah mertua, karena ini bukan di istana"
Setelah berbahasa-basi sedikit, raja muda Shun land, berpamitan pada tabib Lau lien dan permaisuri May lien.
Dengan sekali hentakan kaki Raja muda Shun land, melesat menggunakan jurus saipi anginnya, tidak membutuhkan waktu lama, sampailah dia di depan gapura kediaman sesepuh agung Khal San.
Dua penjaga gapura segera memberi hormat dan mempersilahkan Raja muda untuk masuk.
Sementara penjaga yang lainnya berlari memberi tahukan pengawal yang berjaga di pintu kediaman sesepuh agung Khal San.
Panjang dalam langsung mengetuk pintu tiga kali dan segera masuk, di dalam ada ibu sesepuh Dewi Iswari, sedang duduk, menikmati teh hangat.
"Nyonya sesepuh paduka Raja berkunjung, dia sedang melangkah kemari''
__ADS_1
Ibu sesepuh Dewi Iswari segara bangkit dari duduknya, berjalan cepat menyongsong Raja muda Shun land, yang hampir sampai di depan pintu kediaman.
"Salam Ibu mertua maaf baru menyempatkan diri berkunjung mohon, ibu mertua melebarkan pintu maaf"
Raja muda Shun land, berlutut di depan ibu Sesepuh Dewi Iswari, walau dia sudah di nobatkan sebagai raja.
Tetapi raja muda Shun land, menganggap ibu sesepuh Dewi Iswari, adalah orang tua yang wajib di hormati, selain sebagai mertua dia juga sebagai pengganti ibundanya.
Ibu sesepuh Dewi Iswari, segera membangunkan raja muda Shun land, dari berlutut nya.
"Tidak pantas seorang raja berlutut di hadapan orang tua ini, akan merendahkan pamor sebagai raja, jangan lakukan lagi" ibu sesepuh Dewi Iswari berkata dan di jawab raja muda Shun land
"Tapi Bu" sebelum bisa melanjutkan bicaranya, Ibu sesepuh Dewi Iswari memotong bicara raja muda Shun land.
"Tidak ada tapi-tapian, peluk saja bunda ini, apa kau tidak rindu memeluk ibu mu, bagai waktu dulu kau kecil"
Ibu sesepuh Dewi Iswari memeluk raja muda Shun land dengan, kasih dan sayang seorang ibu pada anaknya.
Raja muda Shun land, mendapatkan ucapan dan pelukan ibu sesepuh Dewi Iswari.
Hatinya merasa sakit, dia jadi teringat pelukan tulus ibu kameng, sang ibu angkat tercinta.
Ibu sesepuh Dewi Iswari, sedikit heran mengapa Raja muda bagai patung dalam pelukannya, dan matanya sedikit memerah.
"Putra ku mengapa mata mu memerah dan ada sedikit air mata, apa putra ku tidak suka lagi di peluk ibu" ibu sesepuh Dewi Iswari, bertanya penasaran.
Raja muda Shun land, menjawab dengan menunduk.
"Tidak ibunda, putra senang mendapat kasih sayang bunda, bagai bunda memberi kasih sayang pada kakang Khal Shugal, tapi putra sedang teringat ibu angkat....
"Mengapa mereka tega membunuh seorang perempuan tua tak berdosa, andai mereka membenci ku mengapa mereka, tidak mencari ku, dan membunuh ku.....
"Hingga orang yang tak berdosa kehilangan nyawa"
Mendengar ini, ibu sesepuh Dewi Iswari, hatinya ikut terenyuh, dan merasa sedikit iri, pada ibu kameng, telah mendapatkan hati sang raja muda.
__ADS_1
"Bila putra ku mengijinkan, biarkan ibunda mu ini, menggantikan ibunda kameng mu, anggaplah ibunda mu ini, ibu kameng mu yang hilang"
Raja muda Shun land, memeluk ibu sesepuh Dewi Iswari, dengan tetesan air mata, yang tak tertahan.
"Maaf ibunda putra terbawa perasaan"
Di sana telah berdiri permaisuri Sari Tungga Dewi dekat pintu sedari tadi, melihat adegan dan pembicaraan ini, hati permaisuri berkata.
"Pantas saja paduka raja Shun Land ingin mengejar pelaku utama di balik terbunuhnya ibu kameng sang ibu angkat, karena dia sangat mencintainya, aku akan mendukungmu raja ku, apapun keputusan mu"
Raja muda Shun land berjalan masuk ke dalam aula utama rumah kediaman sesepuh agung Khal San, dengan di gandeng ibu sesepuh Dewi Iswari dan permaisuri Sari Tungga Dewi.
Raja muda Shun land, duduk berhimpitan dengan permaisuri Sari Tungga Dewi.
"Di mana ayahanda mu permaisuri, apa dia berada di ruang pribadinya" ibu sesepuh Dewi Iswari, menanyakan keberadaan Sesepuh agung Khal San,
Permaisuri Sari Tungga Dewi menjawab dengan tenang "paduka raja maaf ayahanda tak bisa menemui mu, beliau sedang membatu paman Saman khal, merancang senjata tombak untuk para prajurit".
Dua pelayan datang yang satu membawa nampan berisi gelas dan poci, yang satunya lagi membawa nampan berisi buah-buahan.
Ibu sesepuh Dewi Iswari, berpamitan dengan alasan beristirahat, padahal ingin memberikan privasi kepada mereka berdua, sebagai pengantin baru.
Hari mulai gelap, sang waktu tak mau berhenti walau sejenak.
"Paduka raja, apa paduka mengunjungi saya atas izin adik May" permaisuri Sari Tungga Dewi, bertanya sangat hati-hati.
"Permaisuri ku jangan panggil aku dengan embel-embel paduka, kecuali di tempat resmi, iyaa aku kesini atas kemauan ku dan perintah putri May lien, dia menyatakan bahwa aku harus adil di hadapan kalian bertiga"
Raja muda Shun land memberi jawaban.
"Raja ku hari telah berganti dengan malam, apakah Raja ku ingin beristirahat di sini dan bolehkah aku menemani mu"
Raja muda tak menjawab tapi berdiri dan menggenggam tangan permaisuri
"Tuntun aku sampai ke tempat peristirahatan mu, dan bimbing aku agar menyejukkan hati mu" raja muda Shun land berbisik di telinga permaisuri Sari Tungga Dewi.
__ADS_1
Permaisuri Sari Tungga Dewi berjalan bergandengan menuju ruang pribadinya.
...****************...