
Tubuh komandan Nadabutar melayang beberapa depa dan mendarat dengan berlutut, sesaat kemudian komandan mengangkat tangan tanda menyerah.
kemudian komandan Nadabutar memenuhi janjinya mengucapkan sumpah darah dan berjanji setia pada kerajaan dan setia pada raja yang sah.
panglima Kosam, pejabat tinggi keuangan Nambolon merasa sangat kaget dengan sekali serang anak buahnya terjatuh dan menyerah.
"Pangeran lihat apa yang di kerjakan paduka raja Tarumanagara Shun Land". sambil menunjuk ke lapangan lalu meneruskan bicaranya.
"Percayalah pangeran raja Shun Land bukan raja sembarang Mara Deva yang dan tentaranya yang berjumlah puluhan ribu di kalahkan paduka raja Shun Land sendirian, perlu pangeran ketahui juga paduka raja Shun Land adalah pemilik tubuh 4 lintang kelima pancer yang sangat istimewa".
ketiga putri Raja Narayad Damadik dan ketiga menantunya merasa takjub mendengar penuturan penasehat kerajaan tuan Bungaran yang tidak mungkin berbohong.
Komandan Nadabutar berjalan menunduk keluar dari arena, sementara itu penonton yang sudah bertaruh di pihak komandan Nadabutar sangat kecewa mereka mencemooh komandan dengan sebutan.
"jago kandang sombong huuu". Teriakan penonton yang menjagokan nya.
Di salah satu benteng kota seorang pertapa berdiri memperhatikan ketengah arena, hatinya bergumam.
"Tidak salah sang maha Kuasa mempercayakan tubuh 4 lintang ke 5 pancer pada mu pendekar muda"
Sesaat kemudian tubuh itu menghilang bagai di terbawa angin.
"Silahkan yang mau menjajal ilmu olah Kanuragan bila perlu jangan satu-satu dua atau tiga boleh".
Shun Land bicara sambil bersedekap berdiri di tengah arena pertarungan.
Panglima Kosam yang merasa kesal langsung berkata pada kedua anak buahnya.
"Namanindo, Nallagan kalian berdua majulah jangan permalukan kesatuan pasukan kita kaya kutu kupret yang sembrono dalam bertarung".
Keduanya langsung Berdiri dan melompat ke hadapan Shun Land.
"Salam hormat paduka mohon petunjuk kami berdua ingin mencoba bertarung dengan paduka".
Keduanya memberi hormat keduanya lebih sopan dari pada komandan Nadabutar.
"Silahkan komandan jangan sungkan-sungkan keluarkan ke mampuan kalian agar tidak seperti komandan Nadabutar".
__ADS_1
Shun Land menjawab sedikit memprovokasi kedua komandan bawahan panglima Kosam.
Di luar arena Boma memasang tarian berbalik 4 untuk kemenangan Shun land dan 2 untuk kemenangan dua komandan.
"Empat berbanding dua, empat untuk kemenangan dua komandan dan dua untuk kemenangan raja muda itu". Boma berteriak bertaruh untuk kemenangan komandan.
"Hay gendut jangan plin-plan tadi kau bertaruh untuk raja muda sekarang malah berbalik itu tidak bisa, kau tetap bertaruh untuk raja muda". Salah satu yang kalah taruhan protes.
"Baik aku bertaruh untuk raja muda itu dengan perbandingan 2 berbanding 4, 2 untuk kemenangan raja muda 4 untuk kemenangan dua komandan setuju".
Mereka yang ingin mengembalikan uang kekalahan tadi bertaruh lebih banyak karena taruhan di balik, kali ini Boma lebih banyak mendapatkan.
Yang tadi kalah taruhan menganalisis bahwa raja muda Shun Land pasti kalah karena melawan satu komandan saja hampir kalah cuma sayang komandan Nadabutar ceroboh membuat dia kalah.
Kali ini raja muda Shun Land melawan 2 komandan yang ilmu olah Kanuragannya lebih tinggi dari komandan Nadabutar hingga mereka memastikan kekalahan raja muda Shun Land.
Boma sampai di dekat panglima Kosam lalu berkata,
"Tuan panglima masih berani bertaruh untuk kedua anak buah tuan".
"Aku akan bertaruh tapi tanpa perbandingan".
"Tuan panglima keberaniannya kalah sama mereka para pedang pasar, mereka berani perbandingan 2 berbanding 4 tuan panglima malah 1 banding 1". Boma pura-pura hendak pergi.
Panglima Kosam yang sudah panas hatinya kerena kekalahan tadi sedikit tak terkendali, kemudian memanggil kedua prajurit bawahannya.
"Kau ambilkan 5 kotak besar koin emas ku di rumah Ki aku inginkan gadis yang bersama pria gendut ini cepat".
Tuang panglima Kosam ingin mempermalukan Boma dengan mengambil gadis cantik yang di sangka istrinya Boma.
"Kena kau ku kerjai panglima oon hahah" Boma tertawa dalam hatinya.
"Aku bertaruh ini dan lima kotak besar koin emas satu kotak berisi 1 juta koin emas, ingat nyawamu dan wanita mu menjadi taruhannya apa kau berani".
Panglima memberikan satu kantong besar koin emas sebagai tanda jadi pertaruhan.
"Tenang tuan panglima saya tidak akan lari bila perlu tuan utus beberapa pasukan untuk mengawasi ku dan wanita ku" Boma berkata sambil mengambil kantong koin emas lalu kembali ke tempat semula.
__ADS_1
Shun land telah mengetahui dengan jelas bahwa keadaan tidak kondusif di dalam istana dan di luar istana di rencanakan olah pejabat tinggi keuangan yang menginginkan singgasana kerajaan.
"Komandan bolehkah saya membuat pesan dulu sebelum kita bertarung saya takut dalam pertarungan ini nyawa saya melayang".
Shun Land berkatabsedikit keras hingga para penonton terutama pihak pejabat tinggi keuangan dan panglima Kosam mendengar dengan mimik wajah seperti yang sebenarnya.
"Silahkan paduka kami berdua akan sabar menunggu di arena ini". Salah satu komandan mempersilahkannya.
Shun Land berjalan menuju rombongan penasehat dan para menantu Raja Narayad Damadik setelah dekat lalu membisikan sesuatu pada penasehat kerajaan tuan Bungaran dan pangera Saraga setelah itu dia kembali ke tengah arena pertarungan.
"Silahkan komandan untuk menyerang bersama-sama cabut senjata kalian berdua".
Shun Land memasang kuda-kuda jurus pertama tapak harimau kumbang, tapak harimau menghancurkan raja.
Kedua komandan mencabut pedang masing-masing Mereka berdua sangat serius tidak hati-hati tidak seperti komandan Nadabutar.
Pertarungan sangat sengit terjadi satu lawan lawan dua kali ini pun sama Shun Land meladeni keduanya seperti kewalahan tetapi tidak satupun serangan kedua komandan itu yang mengenai bagian tubuh Shun Land.
Sementara itu penasehat kerajaan tuan Bungaran pergi ke belakang arena latih para prajurit sedangkan pangeran Naraga sibuk mengatur sesuatu kepada anak buahnya.
Putri Serindang bulan masih mengawasi jalannya pertarungan dan sesekali mengamati Boma karena dengan samar seperti mengenali nya akan tetapi Kate jarak terlalu jauh hingga tidak bisa melihat secara jelas bahwa itu adalah Boma.
Penonton riuh rendah melihat Shun Land terlihat terdesak hingga mundur ke samping arena Pertarungan dekat rombangan tiga menantu Raja Narayad Damadi.
"Pangeran Narasi tolong pinjamkan pedang". Shun land meminta pedang.
Dengan sigap tuan Narasi melemparkan pedang miliknya pada Shun Land.
"Haduh sandiwara lagi di mainkan suami mu dasar raja caper maklum di sana ada putri Serindang bulan". Boma merbisik pada permaisuri Dewi Sumayi.
"Biarkan saja tanpa sandiwara suamiku memang jadi rebutan para putri kerajaan, dulu aku juga berebut dengan Kaka Sari dan adik May, dari pada berebut kami sepakat untuk berbagai weeew". Permaisuri Dewi Sumayi membalas sambil menjulurkan lidah pada Boma.
"Dasar sudah pada mabuk cinta". Boma bergumam pelan.
Sedangkan di tenga arena pertarungan semakin sengit saling serang dan saling bertaha.
Panglima Kosam dan pejabat tinggi keuangan kerajaan Nambolon jadi semakin geregetan ingin segera melihat Shun Land kalah dalam adu ilmu olah Kanuragan.
__ADS_1
_______*****_______
terima kasih pada para sahabat NT yang telah mengikuti LRA selama ini sehat selalu buat kalian beserta keluarga Aamiiin.