
Di ruangan makam istana kerajaan Gendis terlihat meja makan berbentuk Opal sangat besar berada di tengah-tengah ruangan di kelilingi oleh kursi indah terbuat dari kayu jati purba dengan hiasan kepala Naga di atasnya menambah kesan sangat mewah.
Di atas meja tertata berbagai masakan enak dari masakan berbagai hewan darat sampai masakan ikan dari laut ada di sana di selingi buah-buahan tertata rapih.
Aroma harum masakan sampai tercium sampai ke ruang pribadi raja hidung Boma yang sangat sensitif pada bau masakan lezat langsung mencium bau tersebut hingga tubuhnya ikut bangun dalam mata yang terpejam Boma bergumam.
"Aroma masakan ini sangat mengganggu tidur ku tapi sayang kalau di lewatkan".
Tubuhnya tidak bisa tahan terhadap bau masakan lezat, Boma bangkit dari tempat tidur langsung menuju ruangan tempat mandi yang di sana ada pintu kecil keluar.
Pintu tersebut adalah jalan pelayan wanita untuk melayani Mara Deva ketika mandi.
Boma tidak sengaja mengetuk dua kali pintu tersebut tiba-tiba pintu terbuka dua pelayan cantik masuk dengan pakaian yang sangat minim sangat memanjakan pandangan mata.
Boma terperangah melihat kedua pelayan tersebut hasrat lelakinya bangkit.
Kedua pelayan itu tanpa di perintah mendekati Boma lalu berjongkok di kanan dan kiri, satu dari mereka langsung mengguyur badan Boma yang satu lagi menggosok punggung Boma.
Tangan Boma yang sangat agresif meraba sana sini tetapi kedua pelayan wanita itu diam saja malah tertawa cekikikan penuh gembira sang tuan menyukai nya.
Boma keluar dari kamar pribadi raja dengan wajah ceria pakaian yang di pakainya sangat bagus bagai seorang raja.
Boma berjalan menuju ruangan utama istana di sana tidak ada siapa-siapa hanya penjaga istana dan beberapa pelayan wanita saja.
Dengan tanpa beban Boma duduk di singgasana lalu bicara sendiri.
"Ooh ini kursi yang banyak di perebutkan orang sampai tidak mengenal saudara atau pun orang tua, mereka saling memfitnah saling membunuh demi duduk di kursi ini tapi sayang buat ku duduk di sini tidak ada bedanya duduk di kursi lain karena menurut ku lebih enak duduk di belakang kursi meja makan hahahaha".
Boma tertawa sendiri para pelayan melihatnya dengan heran karena raja bertubuh tambun ini berbeda dengan raja yang berbadan sedang berwajah tampan.
Boma melambaikan tangannya kepada para pelayan wanita, para pelayan itu mendekat dengan segera.
__ADS_1
Setelah dekat mereka membungkukkan badannya seraya berkata. "Apa yang perlu saya lakukan tuan".
"Di mana raja Shun Land dan putri Serindang bulan sekarang". Boma bertanya.
"Mereka sedang di ruangan makan menjamu Ki Maming pelayan makam Nyai Dewi Iswari Tunggal Pertiwi leluhur sang Raja Shun land". Salah satu pelayan menjawab.
"Waduh saya lupa jangan-jangan saya ketinggalan makan, tolong antar saya ke ruang makan". Boma seperti bicara lalu bergegas berdiri.
Kedua pelayan berjalan di ikuti Boma menuju ruangan makan istana, sebenarnya ruangan itu juga dulunya sebagai ruangan tempat pesta makan dan minum serta pesta se* bebas Mara Deva dan bawahannya.
Ketika Boma masuk ke ruangan semua berdiri memberi hormat termasuk Shun Land.
"Salam pada kakak raja semoga selalu di berkahi sang maha Pencipta".
"Hey... hey.... Aku bukan raja biasa saja lah". Boma menjawab seenaknya Lalu duduk di pimpinan pasukan Udacca.
"Pak Sardi bisa bapak ceritakan tentang Harsa bagai mana orangnya". Shun Land di sela-sela makan bertanya pada pak Sardi penjaga makam.
Pak Sardi berkata sambil mengenang tuannya yang sudah hampir setengah tahun tidak ada kabar berita nya.
"Apakah pak Sardi pernah mendengar Harsa membicarakan adiknya Dewi Mirnawati apakah masih hidup apa sudah mati". Shun land menjebak dengan pertanyaan untuk mengetahui bahwa pesan Harsa di tujukan kepada siapa.
"Paduka raja tuan Harsa sangat menyayangi adiknya bila tidak ada tugas dan mempunyai waktu senggang dia sering menghabiskan waktunya di makam ibunya sering saya menemaninya tidak bosan-bosannya tuan Harsa menceritakan hal-hal yang indah atau pun hal-hal yang menjengkelkan waktu masih bersama adiknya, dia sangat menyesali adiknya tidak memiliki bakat ilmu Kanuragan hingga dia harus di singkirkan dari istana, tetapi tuan Harsa mengetahui bahwa adiknya masih hidup bahkan secara diam-diam tuan Harsa membantu adiknya dengan memberikan kitab kitab ilmu Kanuragan dan pusaka bintang Sumpit raja sebagai tanda bahwa kapan pun di manapun tuan Harsa akan mengenali anak keturunan adiknya begitu lah yang saya ketahui paduka".
Shun Land menahan nafas ketika pak Sardi mengatakan pusaka sumpit raja neraka miliknya yang telah di berikan kepada Wisanggeni.
"Putri Serindang bulan tolong atur dan bantu pak Sardi agar mempunyai lahan yang sedikit luas dan uang yang cukup untuk kehidupan pak Sardi dan keluarganya.
"Terima kasih paduka". Nyai Sati istri pak Sardi berterima kasih.
"Baik paduka". Putri Serindang bulan menjawab sambil melirik ke pimpinan pasukan Udacca, Udacca mengangguk mengerti isyarat putri Serindang bulan.
__ADS_1
Esoknya pembangunan makam Nyai Dewi Iswari Tunggal Pertiwi di mulai di kerahkan ratusan pekerja ahli agar pembangunan makam cepat selesai.
Dalam waktu tiga hari pembangunan makam selesai dengan hasil yang sangat memuaskan hati Shun Land.
Diam-diam Shun Land menulis surat dan surat tersebut di berikan pada Pak Sardi agar di berikan pada Harsa apabila Suatu saat nanti Harsa mengunjungi makam ibunya.
Prihal ini tidak ada yang mengetahui kecuali Boma yang mengantarkan surat tersebut.
Setelah pembangunan makam selesai Setelah pembangunan makam selesai keesokan harinya di ruangan jamuan makan istana seluruh pejabat tinggi di undang untuk menghadiri acara jamuan tersebut tidak terkecuali pak Sardi penjaga makam.
"Udacca saya titip makam leluhur saya dan keluarga pak Sardi berikan jabatan atau pekerjaan yang layak di istana para anak dan saudaranya pak Sardi".
Shun Land tidak ingin makan Leluhurnya rusak atau pun hilang hingga dia langsung menitipkan pada Udacca selain ke putri Serindang bulan.
"Pak Sardi tolong rawat dan Jaga makam leluhur saya dengan baik".
Shun Land pun memberi pesan pada pak Sardi agar dia dengan sungguh-sungguh menjaga dan merawat makam leluhurnya.
"Kak Boma saya memberi 2 pilihan padamu".
Shun Land bicara pada Boma yang di jawab dengan cepat dan gesit walau mulutnya penuh dengan makanan.
"Apa itu paduka".
"Pilihan nya 1.tetap tinggal di sini dan ku angkat menjadi raja pilihan kedua tetap ikut bersama ku". Shun land menyebutkan dua pilihan tersebut.
"Aku memilih ikut melanjutkan perjalanan bersama ku, kalau tinggal di sini nanti kalau bertemu Mawinei dan para permaisuri aku tidak berdaya".
Boma menjawab tanpa berpikir lagi, andai yang lain yang di tawarin pasti akan memilih menjadi raja.
_______*****_______
__ADS_1