
Raja muda Shun land, memberi penjelasan tentang keberangkatan nya pada pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana.
"Tidak apa paduka Raja muda, sembari kita berdua mengenal lebih jauh daratan luas Kalimantan ini" pangeran Sanjaya triloka menjawab penuh semangat.
"Paduka Raja, apa tidak sebaiknya paduka berbulan madu dulu" celetuk Boma sambil berdehem.
"Masalah bulan madu aku menunda dulu, karena pemikiran ku belum tengang sebelum mengusut sampai tuntas, dalang dari pembunuhan sang ibu angkat ku, Boma apa kamu akan ikut"
Raja muda Shun land, menjawab di akhiri dengan pertanyaan kepada Boma.
"Jelas ikut, percuma aku berguru pada tuan panglima Shu khal, walau kadang guru yang sangat menjengkelkan"
Jawaban Boma yang membuat semua nya tersenyum geli, sembari melihat roman panglima Shu khal.
Panglima Shu khal hanya tertawa "Dasar murid kurang ajar"
Mereka semua tahu antara panglima Shu khal dan Boma, kadang bagai musuh bebuyutan kadang seperti Ayah dan keponakan.
"Tuan panglima aku sekarang wakil pengawal istana, Andai tuan panglima berbuat menjengkelkan diriku, besok-besok di larang masuk istana" Boma berkata sambil membusungkan dada.
Pangeran Kitri yang berada di belakang Boma bergeser ke samping, melirik ada kepala pengawal istana Djata datang.
Setelah bicaranya usai punggung Boma ada yang menepuk.
"Diam pangeran Kitri, ini jabatan dari tuan panglima Shu khal, jabatan ini pula yang akan menjegal tuan panglima Shu masuk ke istana, senjata makan tuan hahahaha"
Boma sambil bicara menipis tangan yang menepuk tanpa menoleh.
Tertawanya bagai orang yang menang perang.
Panglima Shu khal tertawa terbahak-bahak, semuanya yang hadir semua tertawa.
"Waaaah kalian malah tertawa, baik tunggu saja tanggal mainnya" Boma bersungut-sungut di tertawakan.
Semua malah tambah keras tertawanya,
Punggungnya ada yang menepuk yang menepuk lagi, tapi kali ini ada suara yang berkata.
"Jangan keterlaluan, minta maaf sama tuan panglima Shu khal"
__ADS_1
Mendengar suara pamiliar Boma menengok kebelakang,
Wajahnya merah padam, dengan muka cengengesan berkata "eeeh ayah mertua, maaf tuan panglima dan semua yang hadir, izin undur diri, istri saya yang hamil muda menyuruh saya pulang"
Suasana menjadi pecah, oleh gelak tawa atas tingkah Boma, yang berubah bagaikan anak-anak, yang ketahuan ngambil mangga tetangga oleh pemiliknya.
Sang Ratu SHI khal dan maha Patih Jhasun, meninggalkan aula istana lebih dulu, di sambung panglima Shu khal, sesepuh agung Khal San, dan istrinya, mengikuti sang Ratu SHI khal meninggalkan istana.
Tabib Lau lien pun berpamitan bersama pendekar Antaka dan panglima Tian agan dan yu asri haring.
Tinggallah Sang raja muda beserta ketiga istrinya, tapi putri Sari Tungga Dewi, segera pamitan.
"Sang Prabu, aku harap malam ini dan besok, adik May lien, yang menemani sang prabu, setelah itu terserah sang Prabu, mau di temani aku atau adik Dewi"
Sambil berpamitan putri Sari Tungga Dewi menghampiri Sang Raja muda, lalu berlutut menghaturkan hormat.
Sang Raja muda Shun land, bangkit lalu meraih lengan atas, menyuruh berdiri dan mencium kening dan pipi permaisuri Sari Tungga Dewi.
Permaisuri Sari Tungga Dewi berbalik melangkah tanpa menengok ke belakang, walau hatinya berat meninggalkan pangeran Shun Land, tapi demi menghargai dan menghormati sang suami, dia mengalah.
Permaisuri Dewi sumayi, menyusul kakak sepupu jauhnya meninggalkan istana.
"Paduka aku pamit dulu, adik May lien titip suamiku layani dengan baik" sambil menggelayut di lengan atas sang Raja muda, lalu pergi sambil tersenyum pada putri May lien.
Sang Raja muda Shun land mengajak putri May lien ke ruangan pribadinya, Tampa banyak bicara putri May lien berjalan di samping sang raja muda.
Sesampainya di kamar pribadi sang pangeran permaisuri May lien, izin membersihkan diri.
Mata sang Raja muda terbelalak melihat permaisuri keluar dari kamar kecil, dengan mengenakan gaun transparan, yang telah di sediakan oleh para pelayan istana atas suruhan sang ratu.
Lekuk tubuh indah terpampang jelas, kulit putih mulus bagai giok, hanya di balut kain tipis warna putih.
Bila kaki melangkah belahannya terbuka, kaki jenjang dari betis sampai ke paha bagian depan terlihat jelas di terangi cahaya lentera yang cukup besar.
Degup jantung Sang raja muda, meronta-ronta, Nafasnya sesak bagai di tindik batu besar.
Sedang asik menikmati pemandangan indah, yang membuat angannya melambung keatas awas awan
Permaisuri May lien, sampai di depannya tersenyum manis, bahagia hatinya melihat sang raja muda, terpesona akan dirinya.
__ADS_1
Memang di akui kecantikan putri May lien sangat susah di cari tandingan, yang membuat paling istimewa penampilan adalah, warna kulitnya yang sangat putih, yang menjadi ciri khas, gadis asal negeri tirai bambu.
Wajah cantik putih mulus di dekatkan pada wajah tampan milik raja muda, dengan menahan nafas, raja muda menyambut dan menyodorkan bibinya ke arah bibir merah merekah.
Sedikit lagi bibir itu bersentuhan. Permaisuri May lien melangkah mundur dan menjulur lidahnya, sang raja muda bangkit berdiri mengikuti dengan pandangan lekat ke tubuh indah itu.
Sang permaisuri duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan kebelakang, kedua bukit kembar di depan dada membuat mata enggan berkedip.
Raja muda tampan, mendekati hingga jarak hampir bersentuhan, lagi-lagi permaisuri mundur dengan menekan tumit kakinya ke tepi ranjang.
Sang raja muda mengikuti dengan merangkak hingga jarak tubuh mereka tetap hampir bersentuhan.
Permaisuri May lien terlentang, Bawah badan sang raja muda yang bertumpu pada kedua tangannya.
Matanya sayu milik permaisuri may Lien memandang wajah tampan, pelan tapi pasti wajah tampan Raja muda Shun land, mendekati wajah cantik putih mulus, sedikit memerah karena malu.
Dan akhirnya......
Suara pintu di ketuk terdengar, di barengi suara pelayan wanita memangil sang raja muda.
"Paduka maaf saya di suruh sang Ratu untuk mengantarkan minuman ini katanya penting, harus kalian berdua meminumnya"
Raja muda Shun land menarik nafas dalam sekali, bangkit dan membuka pintu, pelayan hanya menunduk tak berani menatap wajah Raja muda.
Nampan kecil dengan dua gelas minuman warna kekuningan, dan satu gelas besar teh yang baunya harum, di sodorkan, lalu di terima, "terima kasih bibi" hanya itu yang keluar dari mulut sang raja muda.
Pintu tertutup rapat, malam itu mereka berdua mengukir kenangan indah yang akan di kenang sepanjang hidup mereka.
Bintang dan rembulan tersipu malu menyaksikan kedua insan lain jenis, menumpahkan rasa dan perasan mereka di malam itu,
Ranjang pengantin menjadi saksi bisu, gelora getar-getar cinta mereka.
Tetesan-tetesan keringat menyaksikan gelora gairah cinta dua insan memadu cinta.
...****************...
like end support para sahabat membuat author seakan mempunyai hutang Budi,
saran dan kritik di kolom komentar bagai guru penyemangat author
__ADS_1
terima kasih sahabat atas dukungannya,
🙏🙏🙏🙏🙏