
Shun land dan leluhur Ki Srengga melompat mendaki tebing berbatu itu bagi yang tidak memiliki ilmu saipi angin sepertinya tidak mungkin bisa menaiki tebing itu.
Shun land melanjutkan berlatih jurus terakhir Tarian Naga Kahyangan hingga hari menjelang malam.
Ki Kusuma Wijaya dan nyai Larasati menyiapkan masakan ala kadarnya di perguruan ujung kulon untuk Shun land.
Keesokan harinya Shun land pamitan kepada leluhur Ki Srengga dan Ki Kusuma Wijaya dan nyai Larasati.
Sang Rajawali Api terbang rendah dan mendarat di depan Rumah leluhur Ki Srengga Shun land tidak banyak basa-basi langsung meloncat ke punggung sang Rajawali Api.
"Kita ke istana Sundapura".
Tanpa banyak bicara sang Rajawali Api melesat terbang tinggi membawa tuannya ke istana kerajaan Tarumanagara.
----------------*****---------------
Seratus dua puluh tujuh kapal perang yang di pimpin Asvaghosa berlayar menuju daratan luas Kalimantan timur.
Setiap Kapal membawa 220 prajurit lengkap dengan pakaian dan senjata perang.
Tujuan utama Armada Naga Hitam yang di pimpin Asvaghosa untuk menyerang kerajaan Kutai khal.
Kilas balik ke belakang, Asvaghosa mendapatkan kabar dari Kayan tangan kanan Kama Deva untuk menyerang kerajaan Kutai khal di Daratan luas Kalimantan timur.
Asvaghosa langsung melapor ke junjungan Mara Deva yang di dampingi oleh Deva Putta.
Asvaghosa menceritakan bahwa dirinya mendapat pesan dari Kama Deva bahwa dirinya untuk menyerang kerajaan Kutai khal di daratan luas Kalimantan timur.
Deva putta otak strategi kekuasaan Mara Deva menyetujuinya, junjungan Mara Deva memerintahkan selain menyetujui menyerang kerajaan Kutai khal dia juga memerintahkan untuk membunuh Bocah pemilik tubuh empat lintang kelima pancer.
Junjungan Mara Deva memerintahkan Deva putta untuk menyebarkan sayembara siapa yang bisa membunuh bocah pemilik tubuh empat lintang kelima pancer akan memberikan hadiah satu juta keping emas dan menjadikan pimpinan di suatu wilayah kekuasaannya.
__ADS_1
Iring-iringan kapal perang yang di pimpin Asvaghosa membelah perairan samudra Sunda besar setiap kapal yang berlawanan arah akan minggir para bajak laut sisa-sisa anak buah Bajak laut Karimun tidak berani untuk kontak langsung.
Di antara yang kapal berpapasan dengan iring-iringan armada laut Naga hitam ada tiga kapal yang menjauh dari iring-iringan armada laut Naga hitam.
Tiga kapal tersebut berbendera putih dengan tulisan armada Inong bale, tiga kapal tersebut di pimpin oleh seorang Laksamanawati yang gagah berani bernama Keumalahayati.
Laksamanawati Keumalahayati berasal dari tanah Rencong kerajaan peurlaeulak/perlak.
(Kesultanan Peureulak atau Kesultanan Perlak adalah kerajaan Islam di Indonesia dan merupakan kesultanan yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh sekarang disebut-sebut antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292. Peureulak atau Perlak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama "Negeri Perlak".)
#Laksamanawati Keumalahayati asal tanah Rencong/Aceh adalah Laksamanawati pertama di dunia dia memimpin 3000 Prajurit yang kebanyakan dari mereka adalah perempuan.
(Aceh telah dihuni manusia sejak zaman Mesolitikum. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan situs Bukit Kerang yang diklaim sebagai peninggalan zaman tersebut di kabupaten Aceh Tamiang. Selain itu, pada Situs Desa Pangkalan juga telah dilakukan ekskavasi serta berhasil ditemukan artefak peninggalan dari zaman Mesolitikum berupa kapak Sumatralith, fragmen gigi manusia, tulang badak, dan beberapa peralatan sederhana lainnya. Selain di kabupaten Aceh Tamiang, peninggalan kehidupan prasejarah di Aceh juga ditemukan di dataran tinggi Gayo tepatnya di Ceruk Mendale dan Ceruk Ujung Karang yang terdapat disekitar Danau Laut Tawar. Penemuan situs prasejarah ini mengungkapkan bukti adanya hunian manusia prasejarah yang telah berlangsung di sini pada sekitar 7.400 hingga 5.000 tahun yang lalu.).
Di antara tiga kapal tersebut seorang wanita cantik gagah terselip di pinggangnya senjata pusaka langit Rencong Pudoi, berdiri di geladak depan memandang iring-iringan armada kapal laut Naga hitam yang di pimpin Asvaghosa.
"Fatma kita belok ke arah selatan menuju daratan luas Dwipa kita akan bicara dengan raja baru dari kerajaan Tarumanagara". Laksamanawati Keumalahayati bicara pada anak buahnya dengan tegas.
Di salah satu iring-iringan armada laut Naga hitam Asvaghosa memanggil anak buah kepercayaan Durjana.
"Durjana kita langsung arahkan kapal ke selat Makassar konon menurut telik sandi pusat kekuatan ada di pulau kecil di selat itu". Asvaghosa bicara tanpa keraguan.
"Baik tuan". Durjana menjawab.
Asvaghosa bertubuh tinggi besar berkulit hitam beralis tebal sorot mata tajam memandang ke depan ke tiga kapal yang merubah arah ke selatan.
Tangan kanan Asvaghosa bernama Demagog menghampiri ke Asvaghosa lalu bicara. "Tuan ada tiga kapal di depan apa yang harus kita lakukan".
"Biarkan mereka pergi selagi tidak mengganggu perjalan kita, kita jangan berbuat sesuatu yang mengganggu perjalanan kita untuk menyerang kerajaan Kutai khal". Asvaghosa tidak memperdulikan kapal- kapal yang berpapasan dengan Armada laut Naga hitam.
-------------*****------------
__ADS_1
Sementara itu di markas Bhayangkara-2 bekas perguruan Tapak Maut milik Ki tapak sakti di gunung Pamaton yang sekarang di pimpin oleh pangeran Khal Shugal sedang mengumpulkan para anak buah.
Di pendopo utama telah hadir Rumaga dari Bengawan Ngaju, pangeran Dehen dari bangsawan Ot Damum, pangeran Labas Paban dari Bangsawan Banjar, pendekar Tapak besi, Pendek Tapak Bayu, di sana juga ada pendekar Moni mantan pengikut pendekar Racun kematian atau Dukun Cidra.
(Baca chapter 120-121, ada komentar bertanya tugas pendekar Moni, jawabannya di chapter 185 ini).
Pendekar Moni pada waktu itu di perintahkan oleh Shun land untuk menemui permaisuri Sari Tungga Dewi dan pangeran Khal Shugal untuk membangun istana di pedukuhan kecil pinggir sungai Barito.
Pedukuhan itu bernama Martapura sekaligus menjadi nama istana Shun land juga memerintahkan seluruh keluarga besar dan para bangsawan untuk pindah ke istana baru kerajaan Kutai khal di daratan luas Kalimantan sebelah selatan.
Pedukuhan itu dekat dengan gunung Pamaton yang menjadi markas Bhayangkara-2.
Pimpinan kerajaan Kutai khal di pegang oleh pangeran Khal Shugal yang tadinya di pegang permaisuri Sari Tungga Dewi.
"Paman pendekar Moni sampai di mana Rombongan para pejabat tinggi sekarang ini"
Pangeran Khal Shugal memulai pembicaraan.
"Menurut telik sandi Dewi kematian sudah sampai di kota Santui". Jawab pendekar Moni.
"Berapa rombongan semuanya paman Moni".
Pangeran Khal Shugal lanjut bertanya.
"Semuanya dibagi 6 rombongan, orang bangun terakhir yang dipimpin oleh tuan panglima Shu khal baru sampai di pelabuhan Tana Bumbu". Pendekar moni menjawab dengan terperinci.
"Pak mantap besi bagaimana perkembangan iring-iringan kapal armada laut ke arah mana mereka menuju". Pangeran Khal Shugal bertanya pada pendekar tapak besi yang diutus untuk mengawasi perairan selat Malaka dan pesisir Selatan daratan luas Kalimantan.
"Saya tidak mengetahuinya dengan pasti tujuan iring-kapal tersebut pangeran, tapi kita tidak khawatir seluruh kapal-kapal kita telah di pindahkan ke pelabuhan Barito".
Pendekar Tapak Besi menjawab dengan serius.
__ADS_1
--------------*****-----;-;;+-----