LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
252. Geger kematian panglima Antaka pendekar Syair kematian.


__ADS_3

"Serahkan semuanya pangeran ku". Putri


Malu berkata manja sambil berusaha merenggut keperjakaan panglima Antaka.


Terdengar teriakan panglima Antaka yang kesenangan tetapi lama-lama terikat itu berubah teriakan yang memilukan.


Terlihat keluar dari tubuh panglima Antaka sinar ke Kuningan masuk ke tubuh Dewi Sukma alias Putri Malu, dengan bersamaan sinar kekuningan masuk ketubuh Putri Malu sedikit kerutan di tubuh Dewi Sukma menghilang menjadi mulus kembali seperti gadis berusia belasan tahun.


Teriakan panglima Antaka yang menghembuskan nafas terakhirnya terdengar sangat memilukan dan penuh kesakitan yang luar biasa.


Putri Malu melompat dari atas tubuh panglima Antaka ketika tubuh panglima Antaka berkerut mengering sampai ke leher hingga wajah panglima Antaka tidak ikut mengering.


Putri malu berjalan bagaikan seorang penari sexy menuju Ki Kala Durga dan Dewi angin-angin yang sedang mengayuh bahtera seribu kesenangan.


"Kakang apa kau tidak tertarik dengan aku yang cantik seperti gadis lagi". Putri malu bicara sambil menempelkan dadanya di bahu Ki Kala Durga yang sedang mendayung.


Kecantikan Dewi Sukma di dapat dari Ajian Gendam mereguk Sukma yang menghisap kekuatan para perjaka, berbeda dengan Dewi angin-angin yang mempertahan kecantikannya dengan mandi darah para wanita yang masih perawan menghisap darah itu melalui pori-pori seluruh kulitnya hingga meregenerasi sel-sel seluruh tubuhnya hingga warna rambutnya tidak ikut meregenerasi menjadi berwarna putih.


Dengan sekali ayunan kepala panglima Antaka terpisah dari tubuhnya oleh senjatanya sendiri.


Ki Kala Durga membungkus kepala panglima Antaka dan mengambil warangka Golok pancaroba yang terselip di pinggangnya panglima Antaka yang mengering.


Dengan sekali ayunan tongkat mutiara hitam tubuh panglima Antaka hancur menjadi debu terbawa angin.


Sedangkan kudanya di biarkan karena sudah di tunggu segerombolan Srigala lapar yang tidak berani mendekat.


"Kita harus bergegas agar malam nanti kita bisa menggantungkan kepala panglima kebanggaan kerajaan di atas pintu gerbang kota ibu kota Sundapura". Ki Kala Durga berkata sambil menaiki kudanya di ikuti oleh kedua wanitanya.


Tiga penunggang kuda sampai di tepian hutan pinggir ibu kota Sundapura kerajaan Tarumanagara.

__ADS_1


"Kakang apa kita masuk ke ibu kota sekarang apa menunggu sampai malam". Dewi angin-angin bertanya yang masih di atas punggung kuda.


"Kita masuk saja tidak akan ada yang mengenal kita berpura-pura lah seperti pelancong dari pedalaman yang ingin mengetahui keramaian dan ke indahan ibu kota, kita akan membeli pakaian yang pantas di dalam kota hingga tidak mencurigakan, ingat sembunyikan seluruh kekuatan kalian". Ki Kala Durga menjawab dengan santai.


Ke tiganya berjalan kembali menuju ke gerbang ibu kota Sundapura setelah melewati para penjaga gerbang ibu kota dengan mudah karena Putri Malu menggunakan ilmu gendamnya untuk mempengaruhi pemikiran para penjaga.


Sampailah mereka bertiga di dalam kota mencari penginapan yang tidak begitu ramai.


Setelah memesan satu kamar besar dan menitipkan kuda untuk di rawat ketiganya meninggalkan penginapan di antar salah satu pelayan yang di bayar untuk menemani mereka berbelanja pakaian.


Ki Kala Durga mengaku ayah dari Putri Malu dan Dewi angin-angin hingga tidak ada yang menyangka bahwa kedua wanita itu adalah pasangan dan memiliki usia yang seumuran.


Mereka berbelanja pakaian seperlunya pelayan itu pun di belikan dua stel pakaian yang cukup bagus.


Malam pun berlalu Dewi angin-angin meminta pada pelayan untuk mengisi kamarnya ketika mereka bertiga akan keluar dengan alasan ingin menikmati indah kota pelabuhan di malam hari tanpa curiga pelayan itu mengiyakan karena di bayar dengan beberapa keping uang emas.


Dengan cepat ketiganya menotok para penjaga gerbang Ki Kala Durga segera menancapkan kepala panglima Antaka di salah satu tombak prajurit dan tombak itu di pasang di atas salah satu sisi gapura gerbang.


Ketika pagi menjelang para penjaga telah terlepas dari totokan Ki Kala Durga dan kedua wanitanya sangat kaget wajah mereka pucat pasi melihat ke atas salah satu gapura di sanah berdiri tombak yang di atasnya ada wajah orang yang sangat di hormati di kalangan istana.


Dua orang prajurit berlari menuju ke istana untuk melaporkan kejadian itu.


Para penduduk dan para pedagang yang mau keluar atau masuk ke dalam ibu kota Sundapura berkerumun melihat kepala panglima Antaka yang tertancap di atas gapura.


Tiga orang menuntun kuda masing ikut melihat kepala panglima yang tertancap di tombak di atas gapura.


Tidak lama datang serombongan dari prajurit yang di komandoi oleh panglima Sarpa ingin meyakinkan berita yang di laporkan prajurit bertugas menjaga malam itu.


Panglima Sarpa sampai menitikkan air mata melihat nasib sahabatnya yang telah banyak membantu dan mengajari ilmu saipi angin padanya bernasib sangat tragis.

__ADS_1


Saking tak tega panglima Sarpa memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan kepala panglima Antaka.


Panglima Sarpa terduduk berlutut saking menahan rasa marah dan sedih, marah siapa yang berani melakukan ini, sedih karena di tinggal sahabat sekaligus sebagai kakak yang selalu memberi semangat untuk berbuat kebaikan.


Putri Malu sengaja bertanya dengan gaya yang sangat polos pada panglima Sarpa.


"Tuan siapa sebenarnya kepala yang tertancap itu, biadab sekali yang melakukannya".


"Benar nona sungguh kejam tidak berprikemanusiaan yang melakukannya, dia adalah sahabat saya panglima Antaka yang sangat dekat dengan paduka raja Shun Land sekaligus kakak seperguruan paduka raja".


Panglima Sarpa menjawab apa adanya dia tidak mengetahui bahwa yang di kutuknya ada yang bertanya.


Putri Malu segera berlalu menemui Ki Kala Durga dan Dewi angin-angin di seberang jalan memegang pelana kuda.


Pagi itu seluruh isi istana dan penduduk ibu kota Sundapura di buat geger dengan kematian panglima Antaka.


Permaisuri Sari Tungga Dewi dan permaisuri May Lien ikut menguburkan jasat tanpa tubuh di halaman belakang istana.


Putri Dian Prameswari dwibuana sangat kehilangan karena jalannya pemerintahan kerajaan di pegang oleh panglima Antaka belum lagi menghadapi betapa terpukulnya sang raja Shun Land yang sudah menganggap panglima Antaka seperti kakaknya sediri.


Hari itu permaisuri Sari Tungga Dewi dan permaisuri May Lien mengucapkan hari itu sebagai hari berduka sampai hari ke tujuh.


Sementara kejadian ini berlangsung Shun land hari itu sedang berangkat kembali ke istana Rijang Renah Selawi di pesisir pantai Utara daratan luas Swarnabumi.


"Kakang apa kita langsung menuju ke ujung kulon memburu Ki Srengga apa kita melapor Dudu ke anak Mara Deva Asvaghosa di pelabuhan Cilamaya". Putri Malu bertanya pada Ki Kala Durga.


"Kita kembali ke pelabuhan Cilamaya menemui Asvaghosa dan mengambil upah kita setelah itu kita akan menyambangi Ki Srengga guru dari raja Shun Land memberi kejutan jangan sekaligus semoga saja musuh bebuyutan mu Ki Bagus Atma tidak ikut campur, andai raja Shun Land yang lebih tinggi ilmu olah Kanuragan nya menemukan kita, kita bicara melakukan karena di di bayar Mara Deva hahahaha". Ki Kala Durga menjawab bagai tanpa dosa.


_____*****_____

__ADS_1


__ADS_2