LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
372. Jaya Sempurna 105. Pangeran Agam dan Dewi Langit.


__ADS_3

Sementara itu di tengah Danau Toba yang indah penuh dengan ikan yang berlimpah, pulau Samosir Kokoh berdiri ditengah air yang kadang surut dan kadang pasang.


Pangeran Agam sedang sibuk berlatih kitab Bayu sejagat kiriman dari pangeran Sanjaya triloka di halaman belakang di sisi halaman Dewi langit sang adik Shun Land sedang menemani yang sekarang menjadi istri pangeran Agam, dari wajah Shi Maharati atau Dewi Langit bermuram durja sejak kembali dari tanah leluhurnya menemui sang kakak pangeran Shan land.


Sebagai anak bungsu merasa sangat sedih karena sang kakak sulungnya ingin memberontak terhadap sang kakak pertama raja Shun Land, Dewi Langit sudah menasehati sang pangeran Shan land bahwa dia bisa naik tahta kerajaan karena jasa adiknya raja Shun Land, tetapi pangeran Shan land tetap saja pada pendiriannya bahwa dia lebih berhak karena anak yang paling tua, pangeran Shan land tidak berpikir bahwa kerajaan yang di duduki sekarang ini bukan kerajaan warisan tetapi kerajaan yang mutlak di dirikan Raja Shun Land dari nol.


Dewi langit yang sedang asik dengan lamunannya di kagetkan datangnya seorang pelayan yang menegur dari belakang.


"Nyai Dewi ada surat dari Sunda Dwiva sepertinya dari kerajaan Tarumanegara, surat untuk pangeran Agam". Pelayan itu menyodorkan sebuah gulungan yang di bungkus bambu di beri hiasan kepala burung.


Dewi langit langsung menerimanya dan berkata. "Terima kasih bibi...." pelayan itu langsung pergi kembali, "kakang berhenti dulu ada surat dari Sunda Dwiva sepertinya dari kakang Shun Land". Dewi langit bicara sedikit keras karena jarak yang sedikit jauh.


Pangeran Agam langsung menghentikan latihannya langsung melesat ke arah Dewi Langit gerakan pangeran Agam semakin cepat dan halus. "Pasti ada masalah penting tidak biasanya kakang Shun Land mengirim surat". Pangeran Agam bicara dalam hati.


Dewi Langit memberikan surat tersebut pada pangeran Agam tanpa banyak bicara pangeran Agam menerima dan membacanya.


"Dari Raja Shun Land di istana Sundapura.

__ADS_1


Pangeran Agam saya tunjuk untuk menjadi pimpinan pembangunan benteng di setiap pelabuhan di timur daratan lua Swarna Bumi. Dan sampaikan kepada raja Nagur agar membantu prosesnya, selain itu berikan pemberitahuan kepada semua yang bernaung di bawah kekuasaan kerajaan Tarumanegara Bahwasanya siapa yang tidak membantu pembangunan benteng di setiap pelabuhan pesisir timur daratan luas Swarna Bumi di anggap telah membelot. Sekian titah ini langsung dari Raja Shun Land.


Penulis putri Dian Prameswari Dwibuana".


Pangeran Agam menarik nafas dalam-dalam karena tahu arah dari surat tersebut, mereka berdua saling pandang pangeran Agama pun bicara pada istrinya tercinta sekaligus adik dari kedua raja yang sepertinya akan berperang besar-besaran.


"Adik Dewi tidak bisa menginjakan kaki di dua buah kapal, menurut kakang kita jangan terbawa ke perasaan tetapi kita harus memilih dengan akal dan pemikiran yang jernih hingga kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak, kakang sendiri tetap berpihak pada kakang Shun Land, tetapi kakang tetap adil silahkan adik Dewi memilih kepada siapa berpihak". Pangeran Agam apa yang di dalam pemikiran istrinya dirinya tetap memberikan pilihan kepada sang istri dengan bebas memilih menurut pendirian Dewi langit.


"Saya masih waras kakang tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar, saya juga sepenuh hati akan memihak dan membela kakang Shun Land yang memang dia di jalan yang benar dan hak, dengan seluruh jiwa dan raga saya akan membela keadilan yang di bawa kakang Shun Land". Ucapan Dewi Langit bergetar bertekad kuat memilih kebenaran yang di bawa sang kakak pertama Shun Land.


"Kalau sudah mantap Adik Dewi jangan pikirkan hubungan kekeluargaan tapi pikirkan bahwa kita membela kebenaran dari sang maha Pencipta karena itu adalah kewajiban setiap insan yang hidup di alam semesta ini, yuu kita ke ayah membicarakan ini". Pangeran Agam memberikan motivasi kepada sang istri Dewi Langit.


Pangeran Agam dan Dewi Langit masuk kemudian keduanya duduk di hadapan Bangsawan Bungaran, pangeran Agam langsung menyodorkan surat dari kerajaan Tarumanegara raja Shun Land sambil bicara. "Ayah ini surat dari daratan luas Sunda Dwiva raja Shun Land kerajaan Tarumanegara yang ditujukan pada saya khususnya umumnya kepada setiap raja-raja yang bernaung di bawah panji-panji kebesaran Kerajaan Tarumanegara".


Dengan cepat Bangsawan Samosir tuan Bungaran menerima dan membacanya dengan seksama, setelah membacanya Bangsawan Samosir tuan Bungaran menarik nafas dalam-dalam sambil menatap ke atas seakan menerima beban yang berat.


"Perang besar dalam ramalan yang di tulis di fragmen tanah liat oleh leluhur kita tidak bisa di elakan lagi tapi di sana juga di tuliskan agar kita tidak salah memihak karena akan mendapatkan karma pada kehidupan mendatang". Bangsawan Samosir tuan Bungaran seperti bicara sendiri tatapannya jauh kedepan memandang langit dari jendela yang terbuka.

__ADS_1


Bangsawan Samosir lalu berkata pada pangeran Agam dan Dewi Langit. "Ada tiga pelabuhan besar. 1 pelabuhan Deli Balawan, 2. Pelabuhan sungai ular dan ke 3. Pelabuhan Datuk. Kita akan membangun benteng di ketiga pelabuhan itu, kau yang memimpin pembangunan benteng itu dan aku yang akan memberitahu para pemimpin yang masih setia bernaung di bawah kerajaan Tarumanegara termasuk raja kerajaan Nagur". Bangsawan Samosir tuan Bungaran memberikan perintah.


-----------------


Pada masa itu Kepulauan di selat Malaka belum berpenghuni termasuk kepulauan Batam masih hutan belantara walau pun ada berpenghuni tapi masih bisa di hitung dengan jari.


---------------------


Sang Legenda Rajawali Api turun dan hinggap di halaman taman belakang istana Sundapura, Dewi Pakuan dan permaisuri May Lien juga Nyai Gora Sindula segera turun.


Permaisuri May Lien langsung menarik tangan Dewi Pakuan menuju kediaman sang raja Shun Land sesampainya di sana hanya menemui empat prajurit yang berjaga Dewi Pakuan langsung bertanya.


"Paman penjaga tahu kemana paduka raja sekarang ini". Tapi yang di tanya malah saling tatap kebingungan membuat Dewi Pakuan marah. Belum sempat keluar perkataan pada kedua prajurit penjaga permaisuri May Lien menarik lengan kiri Dewi Pakuan lalu berkata.


"Biar kakak yang bertanya, nyai Ratu Galuh Sindula diam saja". Dewi Pakuan diam saja kerena sadar perkataan yang akan di lontarkan terbawa emosi.


"Katakan saja paman apa yang di ketahui paman tentang paduka". Permaisuri May Lien bicara lemah lembut.

__ADS_1


"Baik tuan permaisuri May Lien, saya mendengar paduka bicara pada putri Dian Prameswari Dwibuana bahwa paduka dan kedua permaisuri Sari Tungga Dewi dan permaisuri Dewi Sumayi akan menyusul tuan permaisuri dan Nyai Ratu Galuh Sindula ke gunung Gora, makanya saya bingung tadi kok paduka berdua ada di sini". Salah satu penjaga menjawab.


*************


__ADS_2