LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
402. Sang Garuda 03. cerita pangeran Labas Paban.


__ADS_3

Pangeran Agam dan pangeran Labas Paban mengatur pernafasan dengan teratur, perlahan tapi pasti rasa hangat mengalir di setiap pembuluh darahnya lalu ke daging dan sampai di persendian dan tulang hingga tembus ke sum-sum.


Lama-kelamaan rasa hangat semakin tinggi hingga menjadi rasa panas luar biasa seluruh persendian seakan melepaskan diri dari tulangnya. Terdengar suara letupan kecil setiap kali rasa panas sampai pada puncaknya, mereka berdia berusaha mengatur jalan darahnya agar stabil.


Pada puncaknya mereka menahan nafas guna menahan rasa sakit luar biasa di setiap persendiannya setelah itu berangsur-angsur mereda sedikit demi sedikit setelah rasa sakit menghilang sepenuhnya mereka berdua menyetabilkan jalan darahnya lalu di lanjutkan dengan menghimpun tenaga dalam yang terkuras habis kerena pertempuran yang singkat tadi tetapi sangat banyak menguras tenaga dalam.


Mereka berdua seperti Monster yang memakan daging lembut, hawa murni di sekitar seperti di serap beberapa puluh orang saking derasnya Mereka berdua menghisapnya.


Benar yang di katakan Shun Land hanya butuh dua waktu menanak nasi mereka sudah berdiri sambil menggerak-gerakkan badannya yang terasa sangat ringan seluruh persendian dan otot-ototnya terasa sangat lentur dan bertenaga.


Keduanya melirik satu sama lain pangeran Agam menjulurkan tangan kanannya kedepan untuk mempersilahkan pangeran Labas Paban untuk masuk ke dalam ruangan utama kediaman Bangsawan Samosir.


Pedangan yang memberi tumpangan pada pangeran Labas Paban Berani keluar dari keretanya setelah memastikan bahwa pendekar tersebut adalah benar-benar sahabat pangeran Agam.


Sesampainya di dalam pangeran Agam dan pangeran Labas Paban mengucapkan terima kasih kepada Shun Land yang telah membuka simpul-simpul dalam peredaran darah dan di setiap persendiannya. Shun Land lalu menjawabnya dengan rendah hati.


"Kalian adalah sahabat saya terlebih adik pangeran Agam yang memang suami dari adik saya sendiri sudah sepantasnya saya membantu kalian berdua sebisa yang saya mampu, Saya telah mendengar dari adik saya Shi Maharati yang pernah ke istana Martadipura tetapi saya ingin langsung mendengar dari pangeran Labas Paban bagai mana situasi di istana Martadipura dan bagai mana pangeran Labas Paban sampai kesini".

__ADS_1


"Paduka Raja sebelum saya bercerita bolehkah saya mandi terlebih dahulu dan saya meminta dengan kerendahan hati kepada pangeran Agam beberapa stel pakai untuk ganti baju dan celana saya yang sudah sangat tidak layak ini". Pangeran Labas Paban menjawab sambil melirik ke pangeran Agam.


"Saya jadi malu sahabat ku karena terlalu berantusias ingin mendengarkan kisah mu hingga lupa sahabat ku ini sudah seperti tukang kebun yang sering di palak duitnya oleh Kak Boma, baik ikutlah dengan ku pangeran Labas Paban". Pangeran Agam sedikit bercanda.


"Hay Hay jaga bicaramu itu begini-begini aku ini kakak iparmu, Adik Dewi yang paling cantik dalam sebulan jangan kasih jatah tuh suamimu yaaa yang nurut ya sama kakak". Boma menimpali dan bicara lemah lembut pada Dewi Langit.


"Iya kakak ku yang paling baik, tapi nanti kakak juga jangan suka merayu para pelayan di istana adik ini malu masa kakaknya paduka raja doyan sama pelayan yang panuan dan banyak kutilnya". Dewi Langit menjawab perkataan Boma sambil menyandarkan kepalanya pada bahu kiri Boma.


"Enggak panu an dan tidak mempunyai kutil mereka berdua kulitnya sangat mulus dan putih dari ujung rambut hingga ujung ka...Ki". Boma di akhir kalimat tersadar bahwa ucapan Dewi langit adalah jebakan.


Dewi Langit langsung duduk dengan tegak dan matanya melorot tangannya reflek menjewer kuping Boma, Boma meringis kesakitan. "Ampun adik ku kakak tak akan mengulangi mereka menggoda kakak waktu sedang mandi, itu cuma kecelakaan".


Boma matanya hampir keluar semua habis sudah kalau istri keduanya Betari mengadili dirinya sedangkan Betari dari ras Raksasa.


Dewi Langit akhirnya melepaskan kuping Boma, terlihat kuping itu menjadi merah. "Adik Dewi siapakah pangeran tadi yang masuk bersama kak pangeran Agam". Putri Angiat bertanya penasaran.


"Cieee kakak ku ini ternyata memperhatikan pangeran tampan tadi jangan jangan ada udang di balik pertanyaan ini, Dia itu pangeran Labas Paban dari kebangsawanan Banjar dari daratan luas Nusa kencana".

__ADS_1


Dalam hal ini putri Angiat sangat wajar karena paras pangeran Labas Paban memang sangat tampan melebihi kakaknya sendiri pangeran Agam. Wajah putri Anggiat merona merasa malu pada ucapan Dewi langit yang terang-terangan mengatakan dirinya tertarik pada pangeran Labas Paban, yang aslinya memang benar adanya.


Pangeran Labas Paban telah kembali dengan pakaian yang bersih terlihat paras tampan sangat mencolok duduk di hadapan Shun Land berdekatan dengan pangeran Agam.


Dewi Langit menyenggol bahu putri Angiat sambil tersenyum, tentu saja membuat putri Angiat menunduk malu. Pangeran Labas Paban lalu mulai bicara tentang pertanyaan Shun Land.


"Paduka untuk saat ini istana Martadipura tidak seperti dulu lagi, sekarang istana Martadipura lebih mirip dengan istana milik pribadi bukan milik rakyat atau pun milik keluarga besar Raja, Semua pejabat tinggi yang memegang aturan paduka raja yang menempatkan kepentingan Rakyat di nomor satukan di singkirkan dengan cara halus atau pun cara yang keji seperti keluarga besar saya,.....


,..... ayah saya dan saya pribadi yang selalu menentang keputusan Raja Jaya Lelana, dengan berbagai keputusan sangat memberatkan rakyat, rakyat kecil yang sudah sengsara di tambah dengan peraturan yang tidak manusiawi, mereka seakan hidup dalam cengkeraman penjajah yang berkedok pelindung rakyat". Pangeran Labas Paban berhenti bicara matanya nanar menatap jauh ke depan setelah membuang beban yang sesakan dada lalu meneruskan ceritanya.


"Malam itu saya baru masuk ke kamar istirahat terdengar suara pintu di dobrak keras, saya segera keluar terlihat 20 pendekar memasuki kediaman saya sepuluh orang menyerang saya dan sepuluh orang menuju kamar peristirahatan ayah dan ibu saya,......


Kekuatan mereka memang di bawah saja sekitar 65ribu lingkaran tenaga dalam sedangkan saya hampir mencapai 80ribu lingkaran tenaga dalam, tetapi karena saya melawan 10 orang akhirnya saya terdesak dan bila di lanjutkan bisa membuat saya terbunuh, akhirnya saya berusaha mencari celah untuk melarikan diri bukanya takut mati tetapi mati sia-sia lebih hina, di suatu kesempatan saya beradu kekuatan langsung dengan 4 orang pendekar itu, imbas benturan membuat saya terpental Kesempatan itu di gunakan saya oleh saya dengan cara menguat kan pentalan itu hingga tubuh saya terlempar keluar dari kepungan 10 pendekar itu,...


,..... kesempatan itu tidak saya sia-siakan saya melesat lari hingga tidak terkejar, esoknya saya sembunyi-sembunyi bertanya pangeran Khal Shugal ternyata berita yang di edarkan istana adalah bahwa rumah saja habis di rampok dan kedua ibu dan bapak saya terbunuh, saya di beri sedikit koin emas oleh pangeran Khal Shugal untuk berlayar ke daratan luas Swarna Bumi, karena kapal yang akan berlayar ke daratan luas Sunda Dwiva di jaga ketat,....


,..... Dan akhirnya saya sampai juga ke sini kehadapan paduka raja". Pangeran Labas Paban mengakhiri ceritanya sembari meneteskan air mata yang tak terasa keluar mengingat kejadian tragis itu.

__ADS_1


_______--------*****--------_______


__ADS_2