
Sedangkan Boma tidak langsung masuk ke kamarnya tetapi dia menemui, Nahkoda kapal lemo-lemo untuk mencari empat ekor kuda kualitas terbaik.
Pagi sekali pangeran Shun Land dan tiga yang lainnya, sudah berkemas.
Nahkoda kapal lemo-lemo dan kepala pelabuhan bernama Sotang, sahabat lama Nahkoda, menunggu di halaman penginapan.
Boma keluar dengan pakaian seperti bangsawan, kepala pelabuhan membungkukkan badan dan kepalanya, menghormat Boma,
Tidak lama pangeran Shun Land dan pangeran Sanjaya triloka beserta putri Dian Prameswari dwibuana keluar dengan berpakaian seorang pendekar.
"Maaf Sedikit terlambat" pangeran Shun Land bicara.
"Tuan Boma, kepala pelabuhan, tuan Sotang memberikan saran yang bagus, menurut saya" Nahkoda Lemo-lemo bicara pada Boma.
"Silahkan tuan Sotang, utarakan saran tuan"
Boma mempersilahkan kepala pelabuhan Sotang untuk bicara. Langsung di jawab tuan Sotang.
"Begini tuan Boma, saya sarankan tuan menyewa seorang penunjuk jalan, agar perjalanan tuan bisa cepat dan tidak tersesat....
"Perjalanan menuju gunung pamaton itu jaraknya lumayan jauh, melewati lembah-lembah dan hutan yang lebat"
"Bagai mana pendapat mu saudara Satria Nusa kencana" Boma melempar pertanyaan ke pangeran Shun Land.
"Itu ide bagus, tapi apa tuan tahu orang yang tepat untuk pekerjaan ini". Pangeran Shun meminta rekomendasi.
"Saya punya satu orang yang hebat untuk penunjuk jalan dia telah menelusuri area yang tuan tuju bahkan sudah beberapa kali menjelajahi sampai ke sungai Barito".
Kepala pelabuhan memanggil anak buahnya untuk menghubungi dan memanggil orang tersebut.
Bersamaan itu wakil nahkoda Tana Beru membawa empat ekor kuda besar yang sudah terlatih.
Keempat menaikan barang bawaan yang tidak begitu banyak.
Dua orang berkuda datang, salah satunya langsung turun dan memberi hormat, yang satunya lagi langsung berbalik arah dan kembali ke pos penjagaan pelabuhan.
"Karba tuan Boma ini butuh, jasa penunjuk jalan menuju ke gunung pamaton, apa kau siap membantu". Kepala pelabuhan bertanya langsung ke pokok persoalan.
Boma dan Karba si penunjuk jalan bicara harga tarif upah, setelah ada kesepakan mereka berlima menaiki kuda masing-masing, menuju penyebrangan.
Kepala pelabuhan tuan Sotang, kembali ke Kediamannya, dan Nahkoda Lemo-lemo beserta kru kapal kembali ke kapal mereka.
Muara sungai tanah bumbu, tidak begitu besar, kapal tidak bisa masuk kedalam.
Perjalanan menuju gunung pamaton harus menyeberangi sungai tanah bumbu bila tidak menyeberang jalan akan memutar itu lebih jauh.
__ADS_1
Jasa penyeberangan agak ke barat, sesampainya di penyebrangan, mereka tidak bisa langsung menyebrang semuanya.
Rakit yang terbuat dari bambu yang di ikat, hanya bisa menyenangkan dua ekor kuda dan penunggangnya, tidak harus menunggu lama giliran pangeran Shun Land dan putri Dian Prameswari dwibuana yang menyebrang pangeran Sanjaya triloka yang terakhir.
Sesampainya di sebrang Boma dan Karba menunggu di bawah pohon besar, pangeran Shun Land dan putri Dian Prameswari dwibuana duduk di akar pohon tersebut.
"Paman berapa lama kita sampai ke lereng gunung pamaton" Shun land bertanya pada Karba.
"Kalau tidak ada halangan paling lambat tiga hari tuan Satria Nusa kencana, yang membuat kita bisa lama, kita harus melalui hutan Pinus yang jalannya hanya setapak, belum lagi hewan buas yang kita hadapi....
"Tiga hari yang lalu saya mengantar empat pendekar dengan tujuan yang sama, sampai empat hari, karena di pertengahan jalan ada danau di sana kami menemui ular besar boa, untung ketua rombongan mempunyai ilmu tinggi, hingga bisa membunuh ular tersebut...
"Menurut penduduk kampung yang dekat dengan danau itu. Ular besar itu banyak kadang kala sampai ke perkampungan penduduk, semoga saja kita tidak menjumpainya"
Karba memberikan keterangan terperinci.
Pangeran Sanjaya sampai dengan kudanya.
Mereka berlima menaiki kudanya, karba memimpin perjalanan itu, kuda dipacu dengan cepat tidak berapa lama waktu sekitar pertengahan hari sampailah mereka di tepi hutan pinus.
"Tuan-tuan dan nyonya berhati-hatilah hutan ini masih jarang dilintasi orang, mereka memilih memutari hutan Pinus ini, tapi itu lebih jauh dua kali lipat, setelah melewati hutan Pinus ini ada perkampungan kecil, di sana kita beristirahat"
Karba memperingati orang-orang yang menyewanya.
Karba mengangkat tangan dan menghentikan kudanya, pangeran Shun Land maju ke depan ada apa Karba menghentikan kudanya.
Wajah Boma pucat pasi bagai tidak ada darahnya, melihat badan ular di tengah jalan setapak yang mereka lalui.
Ular bercorak kembang warna coklat kehitaman, sebesar batang pohon kelapa, tidak terlihat kepala dan ekornya, tidak terbayang berapa panjang ular itu.
Mereka diam Tak bergerak menunggu ular itu lewat, tapi insting kuda yang sensitif menangkap adanya bahaya.
Kuda putri Dian Prameswari dwibuana meringkik dan berbalik badan, betapa kagetnya putri Dian Prameswari dwibuana melihat kepala ular sebesar badan domba betina menatapnya, dalam jarak 5 deva.
Mereka berempat menoleh ke belakang ternyata badan ular yang menghadang mereka adalah bagian badan dekat ekor, sedangkan kepalanya melingkar ke belakang mereka.
Putri Dian Prameswari dwibuana melolos cambuk senjata andalannya yang melilit di pinggangnya, bersiap melawan ular tersebut.
Putri Dian Prameswari dwibuana melompat turun dari kudanya, begitu juga pangeran Sanjaya triloka yang melihat kakak tertuanya dalam bahaya tidak tinggal diam.
Pangeran Sanjaya triloka mencabut pedang Braja hitam, senjata tingkat bumi kelas tinggi.
Senjata ada beberapa tingkatan bagai mana tinggi ilmu si empu menempa senjata tersebut.
__ADS_1
Ada empat tingkat senjata, setiap tingkatan ada empat kelas, 1.Biasa 2.Sedang 3.Tinggi.
tingkatkan senjata
Senjata biasa.
Senjata Bumi.
Senjata langit.
Senjata bintang.
Senjata sumpit raja neraka yang di miliki pangeran Shun Land, adalah senjata langit kelas tinggi, selain bahannya yang terbuat dari tulang mahluk kelas tinggi, senjata itu ada Roh yang bersemayam di dalamnya
Ular tersebut diam tak bergeming hanya menjulur-julurkan lidahnya.
"Awas Boma" pangeran Shun Land berteriak, sambil melesat mendorong badan Boma.
Ekor ular boa coklat kehitaman melintas di atas kuda Boma, sedangkan Boma dan pangeran Shun Land berguling-guling di tanah.
"Paman Karba giring kuda menjauh dari sini".
Pangeran Shun Land menyuruh Karba menjauhkan kuda-kuda mereka, agar terhindar dari amukan ular boa coklat yang sedang lapar.
Karba menggiring kuda kuda yang panik melihat ular yang sangat besar, bila melilit tubuh kuda hanya butuh beberapa tarikan nafas untuk meremukan tulang-tulangnya.
Putri Dian Prameswari dwibuana melayangkan cametinya ke arah kepala sang ular boa coklat kehitaman, ular tersebut tidak menghindar diam saja.
Cameti yang dialiri tenaga dalam, tidak berdampak sama sekali oleh sang ular boa coklat.
Putri Dian Prameswari dwibuana, menghentakkan kakinya, tubuhnya melenting ke belakang setelah menyerang tidak ada hasil.
...****************...
jangan lupa like dan support nya.
komentar di tunggu untuk pertumbuhan tulisan ini
SALAM NUSANTARA
SALAM GARUDA PERKASA
__ADS_1