
"Pangeran Labas Paban,... apa pangeran mengetahui bagai mana keluarga besar Bangsawan Andi". Shun Land bertanya lebih lanjut. Pangeran Labas Paban lalu langsung menjawab.
"Paduka setelah saya bertemu dengan pangeran Khal Shugal saya memberi kabar kepada kebangsawanan Andi melalui sisa telik sandi pasukan khusus senyap ke daratan luas Sula agar cepat bersembunyi karena semua yang berhubungan dengan dekat paduka semuanya di singkirkan, sebelum saya berlayar saya mendapatkan kabar bahwa Bangsa Andi lolos dari pasukan gelap istana, tetapi saya mengetahui secara tepat kemana mereka bersembunyi menurut Telik sandi mereka berlayar ke pulau Garam atau madu oro".
(Pulau Garam adalah sebutan atau gelar pulau Madura kala itu menjadi pemasok garam terbesar di Jawa timur, Menurut Babad Sumenep Madura Nama Madura di ambil dari kata MADU ORO)
Shun Land lalu bertanya. "Apa rencana selanjutnya pangeran Labas Paban". Pangeran Labas Paban mendengar pertanyaan Shun Land, berpikir sejenak mencari bahasa yang tepat untuk menyampaikan tujuannya.
"Begini paduka sejak jaman ayah saya beliau telah mengabdi kepada Ratu Shi khal ibundanya paduka, dan sekarang pun saya ingin meneruskan pengabdian kepada paduka secara nyata dengan harapan hakekat saya mengabdi pada kebenaran yang paduka agung kan".
Setelah mendengar jawaban pangeran Labas Paban Shun Land bicara yang di tujukan pada semua yang hadir di sana.
"Kita telah mendengar cerita dari pangeran Labas Paban, Raja jaya lelana telah melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap rakyat, ini suatu kejahatan yang nyata dirinya telah menjadi raja yang lalim ini harus kita lawan, raja Jaya Lelana memang kakak saya tetapi kita melawan dan memerangi bukan pada orangnya tetapi pada kejahatannya dan tindakan sewenang-wenang yang melanggar peraturan Sang Maha Pencipta alam semesta, apa lagi telah terang-terangan ingin berperang dengan kita tujuan besarnya ingin menguasai dan merampas apa yang kita miliki, peradaban bangsa kita akan jatuh ke lembah hitam yang paling bawah bila negeri kita di pimpin oleh seorang raja yang jahat dan lalim semoga kalian mengerti bahwa kita mempunyai kewajiban untuk berjuang melawan Angkara murka di muka bumi ini, kita harus siap membela kebenaran dan keadilan Sampai titik darah penghabisan demi peradaban kita, demi bangsa kita yang akan di tulis oleh anak cucu kita".
Shun Land berhenti bicara menatap kesemua yang hadir, mereka semuanya menundukkan kepalanya dan merasakan gejolak semangat di dada mereka untuk berjuang bersama raja mereka yang sangat bijaksana walaupun usianya sangat muda. Shun Land lalu meneruskan bicaranya.
__ADS_1
"Pangeran Labas Paban sekarang pangeran saya tugaskan mendampingi pangeran Agam di temani putri Angiat sebagai pengatur keuangan dan sebagai pemimpinan telik sandi di kawasan ini, apa kalian berdua siap dan setuju".
Shun Land melihat keduanya ada ketertarikan hingga lebih baik untuk bekerja bersama, putri Angiat dan pangeran Labas Paban saling memandang dan menjawab hampir bersamaan.
"Setujuuu...!!! Paduka".
Dewi Langit memegang tangan putri Angiat penuh arti, sedangkan tuan Bungaran dan nyai Cici tersenyum melihat putrinya secara tidak langsung menunjukkan rasa ketertarikan kepada pangeran tampan dari bangsawan Banjar dan mendapatkan sambutan yang sama dari pangeran Labas Paban.
Kehadiran Shun Land di Samosir membuat rakyat bersemangat untuk menjadi bagian perjuangan mempertahankan kedaulatan negerinya yang sekarang ini terancam dari manusia hamba nafsu serakah.
Sebelum berangkat Kemabli ke istana Naga Hitam Shun Land mengatakan bahwa dirinya akan sering berkunjung ke Samosir di setiap waktu, tindakan ini lakukan untuk mengantisipasi adanya serangan agar kejadian di istana Nagur tidak terulang.
Sedangkan Leluhur Harsa sedang menerima laporan kepala prajurit yang mengumpulkan informasi kapal yang mempunyai simbol wanita duduk di geladak bawah.
Shun Land dan Boma di iring panglima Demagog dan Udacca memasuki istana Naga Hitam, Harsa dan ketiga saudara berdiri dan membungkukkan badan lalu memberikan salam hormat terhadap seorang pemimpin. Walaupun mereka berempat adalah Leluhur sendiri tetapi mereka berempat tidak segan-segan merendah diri hadapan Shun Land.
__ADS_1
"Leluhur apabila tidak di muka umum tolong jangan memberi hormat pada saya seperti ini. Karena seyogianya saya harus memberikan penghormatan kepada leluhur. Kecuali di tempat umum atau di hadapan rakyat boleh melakukannya kerena itu adalah bagian dari peraturan istana". Shun Land berkata dengan rasa rendah hati ke pada empat leluhurnya.
"Harsa yang mengerti dan mengetahui bahwa Shun Land telah mencapai tingkatan tertinggi dalam falsafah hidup tentang penghambaan terhadap Tuhan Sang Maha Pencipta yang tidak tidak memerlukan pujian atau pun penghormatan segala menimpali ucapan Shun Land.
"Baik paduka tetapi kami pun mempunyai hak untuk menghormati seorang yang sudah mencapai ilmu penghabaan terhadap Sang Maha Pencipta, maka izinkan kami menghormat pada paduka, bukan berdasarkan keturunan atau pun ingin di sebut berbakti tetapi kami mempunyai kewajiban menghormat kepada seseorang yang lebih tinggi tingkatan spiritualnya terhadap sang maha Pencipta".
Shun Land mendapatkan jawaban Leluhurnya tidak bisa membayar lagi karena itu adalah pondasi inti prinsip hidup yang berketuhanan pada sang Maha Pencipta.
Merekapun duduk melingkar Shun Land berdampingan dengan Boma yang masih larak-lirik mencari kedua pelayan yang belum kelihatan.
"Paman, Leluhur ada yang ingin saya sampaikan pada kalian semua, yang pertama saya ingin memberitahu bahwa Sekarang ini saya mempunyai ide bahwa wilayah daratan luas Swarna Bumi ini sangat luas jadi saya akan membagi menjadi tiga wilayah keamanan, barat tengah dan timur. Di bagian Barat Samosir menjadi pusat ke kendali, untuk itu saya meminta Leluhur Parva dan nyai Tisna untuk mewakili saya sebagai tameng keamanan, di bagian tengah saya meminta pada leluhur Harsa dan Nyai Rati untuk menjadi tameng utama keamanan dan istana ini sebagai pusat komando, sedangkan bagian timur di pedang putri Serindang Bulan dan panglima Durjana langsung di bawah ku karena jarak tidak terlalu jauh dari daratan luas Sunda Dwiva".
Shun Land mengakhiri bicaranya. Leluhur Parva bertanya pada Shun Land. "Paduka andaikan saya dan adik Tisna pergi ke Samosir dan mendapatkan perlawanan dari mereka sedang mereka mengenal kami berdua harus bagaimana......?".
"Leluhur berdua harus bertarung kalahkan mereka semuanya ini juga sebagai latihan bagi mereka agar lebih giat berlatih meningkatkan tenaga dalam mereka setelah itu tunjukan lencana saya agar mereka percaya dan mau belajar pada leluhur". Shun Land menjawab dengan lugas.
__ADS_1
"Saya mengerti paduka, besok saya dan adik Tisna akan berangkat ke Samosir menemui pangeran Agam dan Leluhur Bungaran". Parva menjawab dengan semangat karena telah mendapatkan kepercayaan dari Shun Land ini adalah suatu nilai tersendiri bagi mereka berdua, karena ini adalah tindakan pertama bagi mereka berdua membuka tindakan yang mempunyai arti dan makna kebaikan bagi sesama.
________-------*****-------________