
Pangeran Shun land menyabetkan Sumpit raja neraka ke pergelangan tangan pimpinan perampok, darah mengalir dengan pelan.
"kepala kampung katakan pada ketua perguruan singa perbangsa Aria Wirasaba untuk melapor ke pihak kerajaan tarumanegara, minta bantuan pangan dan keamanan katakan kalian di utus oleh Satria Nusa kencana".
setelah berkata pangeran Shun land menyambar salah satu anggota perampok yang menyerah berlari sambil memanggulnya.
"Aku harus kuat berbuat kejam kepada orang-orang berbuat semena-mena menyiksa dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa". Sambil berlari mengunakan ilmu saipi angin pangeran Shun land berkata dalam hatinya.
Pada dasarnya pangeran Shun land belum pernah menggunakan cara kejam terhadap lawannya, perasaannya merasa tidak tega walau pun terhadap orang-orang yang jahat, tapi melihat apa yang terjadi tadi membuat pendirian yang lunak mulai berubah.
"Andaikan aku melunak mereka tetap saja akan kembali ke jalan sama, mereka pantas mati karena mereka sampah masyarakat".
Setelah jauh dari pedukuhan Caravan di pinggir sungai Citarum pangeran berhenti dan meletakkan anggota perampok itu yang berada di punggungnya.
Dengan dua kali gerakan totokan pada anggota perampok itu dilepaskan.
"Kau hanya mempunyai dua pilihan satu kau menuruti perintahku yang kedua tubuhmu akan kulempar ke sungai purba yang penuh dengan buaya buaya lapar".
"Jawab pertanyaan ku dengan jujur. Di mana markas kalian". Pangeran Shun land memulai mengintrogasi.
"Tuan pendekar kelopak kami bermarkas di rawa marta tetapi selain kami ada beberapa kelompok yang lebih besar dari kami". Anggota perampok menjawab.
"Apa kau tidak berbohong, kau tahu konsekuensinya bila kau berbohong". Pangeran Shun land menggertak.
"Tidak tuan pendekar saya tidak Berani berbohong pada tuan pendekar". Perampok gemetar ketakutan.
"Tuan saya telah berkata jujur menjawab pertanyaan tuan pendekar, bebaskan saya tuan". Perampok itu menghiba.
Pangeran Shun land duduk bersandar ke pohon besar yang rindang berkata dengan santai.
"Kau ku bebaskan dengan satu sarat kau harus menangkap ikan dan membakarnya untuk ku, sampai aku kenyang kau sanggup".
"Baik tuan saya akan laksanakan". Perampok itu segera melompat kepinggir sungai purba Citarum dia menepuk air di pinggir sungai dengan mengeluarkan tenaga dalam.
Sontak saja ada tiga ikan gabus sebesar bayi meloncat ke atas, dengan tangkas perampok itu menyabet dengan ranting pohon hingga terjatuh ke pinggir sungai tanpa bergutik lagi.
__ADS_1
Pangeran Shun land melihat dengan dari belakang dan bergumam dalam hati. "Kau mau menipuku bajiangan kecil".
Perampok itu membakar tiga ikan gabus besar itu, setelah di rasa sudah matang di berikan pada pangeran Shun land.
"Silahkan tuan pendekar, sekarang apa saya boleh pergi".
"Sabar dulu jangan terburu-buru makan dulu ikan ini, aku tidak akan habis sendirian". Pangeran Shun land menyuruh perampok itu makan bersama.
Perampokan itu memilih yang ikan paling kecil.
Sambil makan pangeran Shun land berkata dalam hati. "Aku akan ikuti permainan mu, kau tidak tau tubuh ku kenal dengan racun".
Setelah makan habis sepipih ikan bakar tubuh Pangeran Shun Land menggelepar kejang-kejang dan membujur lemas.
Perampok itu tertawa terbahak-bahak sangat puas sekali.
"Kau ini sangat dungu buaya mau di kadalin, tapi betapa kuat tubuhnya racun raja kobra tidak membuat nyawanya melayang hanya pingsan".
Setelah melihat musuhnya tidak berdaya dia memanggulnya dan berlari menuju markas mereka, perampok ini mempunyai rencana bila siuman akan menjadikan budaknya.
Pangeran Shun land yang berpura-pura pingsan diam saja tanpa perlawan.
Pangeran Shun land yang pura-pura pingsan mendengarkan dengan seksama, dia menahan amarahnya betapa liciknya orang ini dia mengorbankan anak buahnya demi keselamatan dirinya tanpa rasa bersalah dan rasa berdosa sedikit pun.
Akhirnya Singa maruta sampai di suatu bangunan yang di balik pohon bambu yang padat bila sekilas tidak akan ada yang menyangka di balik pohon bambu ada suatu markas para penyamun.
Dua orang berjaga di pintu masuk di salah satu celah pohon bambu yang padat.
Melihat ketua mereka datang mereka berdua menyongsong. "Bawa dia ke ruang tahanan". Singa maruta memerintahkan salah satu anak buahnya.
Markas itu di keliling beberapa lapis
benteng terbuat dari bambu yang ujungnya lancip di ikat dengan kuat, tinggi benteng bambu itu sekitar dua depa orang dewasa.
Bangunan itu terbagi menjadi tiga, satu bagian bangunan induk dan dua yang lain, satu untuk para tahanan tahanan dan satu lagi untuk para anggota kelompok penyamun singa lapar.
__ADS_1
Shun land di masukan ke dalam bangunan tahanan di sana terbagi tiga ruangan satu untuk laki, yang duanya untuk para wanita tua dan para gadis antara usia 14 sampai 20 tahun.
Penjaga pintu masuk memasukan Shun land di ruang yang pertama seraya kata "sayang sekali pemuda ini sangat tampan tapi nasibnya akan berakhir di ranjang nyai siren".
Shun land di satukan dengan beberapa anak muda dan ada dua laki-laki yang kulitnya sudah keriput tapi sorot matanya seperti anak muda.
Di markas utama singa maruta sedang menghadap pimpinan tertinggi nyai Siren.
Di sana juga ada Sarkowi anak buah Kama Deva untuk mengawasi Niraya Sura yang gagal dalam bertugas di daratan luas Kalimantan.
"Singa maruta mengapa kau datang dengan tangan kosong di mana Brewok dan dua temannya".
Nyai Siren pemilik ilmu gendam merenggut Sukma.
"Ketiganya tewas Nyai di bunuh seorang pemuda, tapi nyai tenang saja pemuda itu sudah aku tangkap dan di jebloskan ke tahanan, dia juga bisa di gunakan oleh nyai untuk upacara awet muda di bulan purnama". Singa maruta memberi penjelasan.
"Bagus kalau begitu, aku lebih suka pengikut ku mati dari pada harus mengkhianati ku seperti ketiga muridku tiga Dewi kematian yang belot mengkhianati ku ikut dengan raja muda perayu perempuan itu".
Nyai Siren sangat marah mengenang ketiga muridnya, menurutnya ketiga muridnya termakan hasutan raja muda Shun land.
"Sarkowi kapan ketua Kama Deva akan ke dataran luas Dwipa". Nyai Siren bertanya.
"Menurut ketua Kama Deva setelah menyelesaikan perguruan Badak liat di Labuan yang akan menjadi pintu masuk pasukan junjungan besar Tuan Mara Deva ke daratan luas Dwipa". Sarkowi memberi penjelasan.
Dalam hal ini seluruh golongan hitam sudah bergabung ke barisan junjungan Mara Deva. Yang di kepalai oleh Kama deva sedangkan Niraya Sura mengontrol yang formal.
Daratan luas Dwipa saat ini menjadi dua golongan satu di pihak aliran hitam yang di pimpin Kama Deva, sedangkan di pihak aliran putih di pimpin oleh ketua perguruan Cimande Ki Arya natanagara di lereng gunung salak yang di dukung oleh Mahisa Taka ketua perguruan Ciomas di lereng gunung Karang daerah barat.
Sedangkan di daerah timur di kuasai oleh dua perguruan besar, di pihak Kama Deva ada perguruan pedang setan yang di ketuai oleh nyai Andita, yang bermarkas pedukuhan Cipari di kaki gunung ceremai.
Sedangkan di pihak golongan putih ada perguruan macan putih di lembah Bengawan solo, yang di ketuai Guru besar Wirantaka.
Di sana juga ada wilayah kekuasaan bangsawan Wajak yang di ketuai oleh Birawa ayah dari putri Dian Prameswari dwibuana yang menjadi pimpinan tertinggi di kerajaan Tarumanagara setelah Pangeran Shun Land.
Di ujung daratan luas Dwipa ada kekuasan bangsawan Osing di bawah kepemimpinan Lembu miruda di bantu dua putranya Bima koncar dan Menak pentor dan pendekar wanita pilih tanding Sri Tanjung.
__ADS_1
Wilayah ujung Dwiva ini bergabung dengan bangsawan Wajak hingga pihak golongan hitam sangat sulit untuk menguasainya.
...****************...