
Putri Sanja berpamitan pada suaminya pangeran Sanjaya triloka dirinya sudah mengantuk, tenda ada dua yang satu untuk Shun Land dan Lasmini dan yang satunya lagi untuk putri Sanja dan nyai Kasmia serta nyai Karmia.
Para lelaki semuanya berbaring beralaskan dedaunan di bawah pepohonan bagi mereka hidup di alam bebas sudah biasa. Yang tidak ada Delay dan Pramuja yang sedang menjalankan tugas. Baru menjelang seperempat malam Keduanya kembali.
Saat itu pangeran Sanjaya triloka masih dalam meditasinya untuk meningkatkan tenaga dalamnya setelah mendapatkan kitab Bayu sejagat kemajuan ilmu Kanuragan pangeran Sanjaya triloka mengalami kemajuan pesat.
Shun Land keluar dari tendanya meninggal Lasmini yang lelap dengan mimpi-mimpinya.
Mereka bertiga duduk melingkar, Delay dan Pramuja akan memberikan hasil mencari informasi di sekitar jalan yang akan di lalui.
Pada jaman itu wilayah di sana masih berupa hutan belantara pedukuhan-pedukuhan pun paling banyak ada 20 sampai 30 keluarga itu pun sangat berjauhan. Jalan yang sekarang di lalui hanya jalan setapak bila hujan tidak bisa di lalui.
"Bagai mana hasilnya paman Delay dan kakang Pramuja". Shun Land bertanya singkat. Delay menjawab dengan cepat "tuan jalan di depan sangat sulit tapi bila memutar memakan waktu 3 kali lipat, di depan kita akan menemui 2 pedukuhan, pedukuhan Prawata dekat sebuah danau dan pedukuhan Purwa(Purwadadi sekarang)di tengah alas Purwa keluar dari alas Purwo kita langsung sampai ke Sangiran lembah begawan Solo itu menurut penduduk pedukuhan Prawata".
Delay memberikan laporan.
"Bagai mana menurut kakang Pramuja kakang lebih hapal kare dari sana". Shun Land meminta pendapat. Di jawab dengan sangat hati-hati oleh Pramuja pendekar Kilat Pati.
"Benar tuan yang di katakan paman Delay, saya sendiri sebenarnya belum pernah melewati jalur ini tetapi mengenai alas Purwo saya hapal, di daerah alas Purwo cukup aman tetapi di daerah pedukuhan Prawata ada beberapa pembuat onar masyarakat sisa dari anak buah raja tengkorak yang cukup meresahkan berjumlah 7 orang dengan pemimpinnya ilmu juga lumayan tinggi malah menurut penuturan kepala pedukuhan meraka sudah tidak bergabung lagi dengan raja neraka karena pernah raja neraka mengutus beberapa orang malah terjadi pertempuran di mengangkang pendekar Danau emas nama ketuanya saya tidak tahu, mungkin paman Lamsijam mengetahui karena tangan kanan Tapak besi". Pramuja memberikan informasi lebih terperinci.
"Baiklah besok aku akan mendahului bersama paman Lamsijam, semoga di sana banyak harta benda yang kita bawa". Shun Land mengakhiri pembicaraan lalu pergi menemui Lasmini yang sedang memasak untuk sarapan pagi bersama putri Sanja dan nyai Karmia dan Kasmia.
Shun Land dan Lamsijam sudah berada di tepi danau terlihat di sebelah barat danau pemukiman yang berjejer, namun suasana pemukiman itu terasa lengang di jalan tidak terlihat penduduk lalu lalang.
__ADS_1
"Paman kita langsung saja ke markas mereka paman mengetahuinya kan". Shun Land bertanya. Lamsijam langsung menjawab. "Tuan markas mereka berada di tengah danau, di sana ada tanah seperti bukit di jadikan markas, tuan pendekar Tongkat emas ilmunya melebihi saya mereka hanya takut pada 3 raja kematian Ki Kala Durga sebenarnya mereka buka anak buah raja tengkorak tetapi mereka tidak berani berkeliaran di daerah raja kematian karena takut pada 3 raja kematian Ki Kala Durga".
"Tenang paman biar saya yang menghadapi". Shun Land setelah berkata langsung memegang tangan Lamsijam di bawa ke terbang melintasi danau menuju tengah danau. Setelah sampai Shun Land langsung turun di depan halaman markas Danau emas. Lamsijam hatinya sedikit berdebar karena baru kali melayang di udara.
Ternyata di markas hanya ada dua orang sedang berjaga di markas keduanya melongo melihat ada orang turun dari langit
Dengan terbata-bata bertanya. "Siapakah kalian ini apa hantu atau dedemit yang di bunuh ketua Danau emas".
Sementara itu pangeran Sanjaya triloka dan rombongan baru saja berjalan beberapa ratus depa lima orang melesat ke depan menghalangi jalan.
"Kami tidak butuh banyak bicara cepat turun dan tinggalkan barang bawaan kalian". Salah satu dari mereka berkata dengan tenaga dalam yang cukup tinggi.
Basara dan Bisiri yang belum memiliki tenaga dalam terjatuh dari kudanya. Putri Sanja mengajak Lasmini dan nyai Karmia juga Kasmia untuk turun dari kudanya dan menjauh dari tempat itu.
Tanpa menahan kekuatannya menyerang dengan jurus pamungkas pedang singa lodra sabetan singa lodra menyapu alam.
Pedang di lapisi tenaga dalam bilahnya memerah menerjang pendekar Tongkat emas dengan sangat cepat angin tebasan terlihat jelas. Tetapi pendekar tongkat emas yang mempunyai kekuatan setara dengan Lamsijam tenang saja menunggu serangan Pangeran Sanjaya.
Begitu pedang singa lodra sudah dalam jangkauan pendekar tongkat emas di angkat secara tiba-tiba tongkat itu membesar dan memanjang menghalau pedang Singa Lodra.
"Draaaaaak.......!!! Suara benda keras patah dengan keras. Pedang singa lodra patah menjadi beberapa bagian pangeran Sanjaya triloka sendiri terpental dan menghantam gerobak perlengkapan sampai hancur.
"Hahahaha menyerahlah kalian bukan lawanku aku mengampuni mu dengan syarat tinggalkan para wanita mu dan barang berharga mu aku tidak ingin mengotori tangan ku dengan darah pendekar kelas teri". Pendekar tongkat emas berkata merendahkan.
__ADS_1
Pramuja yang mendengar itu darahnya mendidih, "Anggada, Natakusuma, Saptatinaka dan Kinayungan kita serang mereka sampai darah penghabisan".
Mereka berlima melompat ke tengah arena di susul Delay yang sudah mengeluarkan pedangnya, "kita tidak boleh mengecewakan tuan Jaya, kita berjuang mempertahankan wanita tuan Jaya sampai dada ini pecah".
Suara Delay sangat keras membangkitkan semangat mereka.
Pangeran Sanjaya triloka yang sudah bangun meloncat ke sisi Pramuja lalu berkata pada Pramuja "kita serang di tongkat emas bersama dengan jurus Panca Braja tingkat Akhir, paman Delay lebih baik jaga Nona Lasmini cepat singkirkan dari sini".
Pramuja mengangguk sedangkan Delay mendengus kesal dan menghentakkan kakinya melayang ke arah Lasmini, hati Delay menggerutu karena harus seperti perempuan keluar dari kalangan tanpa bertarung dirinya tidak takut mati membela tuannya yang telah merubah jalan hidupnya dan bisa merasakan kebahagiaan mempunyai keluarga.
Pramuja dan pangeran Sanjaya triloka mengerahkan segenap kekuatannya mengeluarkan jurus panca braja tingkat akhir kedua tangan mereka memerah perlahan suhu udara di sekitar mereka ikut naik.
Sementara ke empat Adik seperguruan Paramuja telah bertarung dengan sengit dengan empat bawahan Pendekar Tongkat emas, mereka sangat seimbang saling serang dan menghindar, dentingan senjata berbenturan memekikkan telinga.
Pangeran Sanjaya triloka dan Pramuja menyerang dengan ganasnya mereka berdua melesat sangat cepat, tetapi lagi-lagi pendekar Tongkat emas hanya diam berdiri sambil memegang tongkat emasnya.
Begitu pukulan hampir sampai Tongkat itu melindungi tubuh pendekar tongkat emas serangan bertubi-tubi dengan jurus sangat dahsyat tidak menghasilkan apa-apa, malah mereka berdua tangannya mulai terluka dan di suatu kesempatan Tongkat emas dengan cepat menyerang kearah dada mereka berdua yang sulit untuk di hindari.
Pangeran Sanjaya triloka dan Pramuja hanya bisa menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk membendung serangan tongkat emas.
"Deeees........ Tongkat emas menghantam pertahana mereka berdua, membuat pangeran Sanjaya triloka dan Pramuja terpental puluhan depa dan susah untuk bangun.
********************
__ADS_1