
Shun Land duduk lalu memejamkan matanya, mula mula pemikirannya berpusat pada satu titik yaitu hatinya dan niat hatinya. Lalu rasa dan perasaannya di kontrol dengan akalnya sedikit demi sedikit perasaannya berfokus pada niat hati yang ingin menghadap pada Sang Maha Pencipta untuk mencari jawaban, apa yang ada di peta warisan dari Sanghyang Tunggal.
Akhirnya pikiran rasa dan perasaan menyatu, segala keinginan hilang, segala ingatan hilang yang tersisa hanya niat untuk mencari jawan. Akhirnya jiwa, batin rasa pemikiran larut dalam meditasinya.
Hingga pagi menjelang Shun Land tidak menemukan jawaban dalam meditasinya tentang warisan dari leluhur Sanghyang Tunggal. Perlahan Shun Land membuka matanya terlihat dari lubang pintu yang terbuat dari daun kelapa yang di anyam pangeran Makkamaru yang tertidur pulas di depan pintu sambil kepalanya bersandar di tiang pintu.
Shun Land keluar dengan hati-hati takut mengganggu pangeran Makkamaru yang tidur kelelahan pemikirannya dan sekarang semua kekhawatirannya telah hilang hingga tertidur pulas. Shun Land melangkah ke belakang di sana ada sumur galian tuan Labusa.
Setelah membersihkan diri Shun Land kembali ke depan duduk di kayu gelondongan yang di buat tempat duduk dekat dengan pangeran Makkamaru. Dari kejauhan suara Sang Legenda Rajawali Api terdengar suaranya begitu melengking keras apalagi ketika Sang Legenda Rajawali Api menukik turun dan hinggap di depan gubuk tuan Labusa.
Pangeran Makkamaru terbangun mendengar suara sang Legenda Rajawali Api ketika menengok ke samping terlihat Shun Land beranjak dari duduk santainya menghampiri Sang Legenda Rajawali Api.
Pangeran Makkamaru wajahnya memerah karena malu lalu berjalan ke belakang untuk membersikan diri. Bersiap untuk berangkat ke daratan luas Sula.
Sebelum berangkat mereka berdua duduk membicarakan rencana pergi ke sana ini di pinta oleh pangeran Makkamaru yang mengetahui bahwa di kawasan Pelabuhan Makassar telah menjadi salah satu pelabuhan pangkalan armada laut Tombak Perak milik Pangeran Shan land atau Pangeran Jaya Lelana.
Dalam pembicaraan itu pangeran Makkamaru mengusulkan untuk melalui jalur timur. "Sang prabu Jaya lebih baik kita melalui laut Polres di kepulauan Selayar kita baru belok ke arah Utara, setelah melewati gunung Moncong Lompobatang kita menelusuri lembah Lohe dan lembah Ramma maaf Sang prabu saya hanya menginginkan tidak terjadi bentrokan sebelum kita benar-benar siap itu pun saya mendengar dari sang Prabu sendiri".
__ADS_1
Pangeran Makkamaru mengingat Shun Land, Shun Land sendiri merasa ucapan pangeran Makkamaru memang benar adanya akhirnya mereka berdua sepakat dan mendekati Sang Legenda Rajawali Api yang sedang duduk santai menghadap ke laut.
Sebenarnya Sang Legenda Rajawali Api mengetahui semua area daratan luas Sunda besar dan Sunda kecil, tetapi dirinya diam saja, pada jaman dahulu Sang Legenda Rajawali Api sering berkeliling bersama Raja Agung Sundaland Jatiraga ke seluruh wilayah Kerajaan Sundaland.
Sang Legenda Rajawali Api terbang rendah menelusuri perairan laut Polres, pulau Talon, pulau pulau Selayar hingga sampailah di pesisir Bira, dari pesisir Bira Sang Legenda Rajawali Api tanpa di perintah langsung ke arah gunung Moncong Lompobatang dan menyusuri lembah Lohe dan lembah Ramma, hingga sampailah di hutan pinus Malino.
Tanpa di ketahui Sang Legenda Rajawali Api yang sedang larut dalam kenangan bersama tuannya yang terdahulu, yang demi kelangsungan kehidupan dirinya di masa depan rela mengorbankan dirinya dan menyelamatkan Rohnya di simpan dalam telur yang terbungkus kekuatan api abadi Sang Raja Agung Sundaland Jatiraga untuk melindunginya dari ledakan kehancuran kala itu.
Sang Legenda Rajawali Api jadi teringat ucapannya sendiri pada kali pertama pada Shun Land di ruang batin Shun Land. ''kekuatan api yang masuk kedalam jiwa dan ragamu adalah kekuatan api dari junjungan ku yang menyegel ku untuk melindungi ku dari efek ledakan kehancuran Ribuan tahun yang silam, hingga jiwa dan bayi ragaku tidak hancur, dengan menghilangnya sebagian segel api ini jiwa ku bisa keluar dari cangkang ku, aku akan berdiam di dalam jiwa mu sebelum seluruh segel api hilang dan bayi ragaku lahir''. (Lihat Chapter 10-14).
Lamunan itu buyar Ketika semburan api sangat panas datang dari arah kanan, sang Legenda Rajawali Api dengan cepat menukik kebawah menghindari semburan api yang berasal dari Sang Naga Api Hitam musuh bebuyutannya.
Shun Land dengan cepat melemparkan Pangeran Makkamaru sambil berkata. "Tunggu aku di mulut gua Leang Tedongnge".
Tindakan Shun Land ini untuk melindungi pangeran Makkamaru yang tidak akan sanggup menahan panasnya semburan api dari Naga Api Hitam. Shun Land berdiri di atas punggung sang Legenda Rajawali Api dan segera mencabut pedang Naga Bergola bersiap menghadapi sang Naga Api Hitam dan penunggangnya.
Sang Legenda Rajawali Api dan sang Naga Api Hitam saling berhadapan, tetapi kali ini yang menunggang Sang Naga Api Hitam bukan Mara Deva tetapi kakaknya Shun Land sendiri pangeran Shan land.
__ADS_1
"Adik Shun Land belum saatnya kita beradu kekuatan tunggu aku bila waktunya tiba, kita akan menunjukkan siapa yang terbaik dan terkuat diantara keturunan Sang Raja Agung Sundaland Jatiraga". Terdengar suara pangeran Shan land menggelegar di udara di landasi tenaga dalam yang tinggi.
"Kakang sadarlah, kita saudara satu kandung, andai Kakang ingin menguasai Daratan luas Nusa kencana dan daratan luas Sula Saya ikhlas, tetapi kakang harus adil dan bijaksana, tetapi kakang harus berhenti menjadi kaki tangan Mara Deva dan gurunya Pancasiksa yang membuat kakang jadi manusia kejam dan tidak ada rasa kemanusiaan". Shun Land membalas ucapan sang kakak pangeran Shan land.
"Adik jangan menasehati ku dari awal memang leluhur kita sudah pilih kasih adik telah di warisi kitab Aji Saipi sedangkan aku harus mencari sendiri dan berjuang sendiri untuk mencapai kekuatan ini, untung saja leluhur Pancasiksa memberikan aku Aji Saipi hingga aku mencapai tingkatan sejauh ini". Pangeran Jaya Lelana menimpali.
"Kakang dengarkan aku, kakang hanya di jadikan bidak oleh Pancasiksa untuk memenuhi ambisinya membalas dendam dan memusnahkan seluruh keturunan Raja Agung Sundaland Jatiraga,...". Tetapi ucapan Shun Land langsung di potong oleh pangeran Shan land.
"Adik Shun Land jangan menebar fitnah pada guru Leluhur Pancasiksa yang telah memberikan ilmu pada ku, ini jelas Adik adalah orang yang serakah menggunakan fitnah yang kotor untuk mempengaruhi ku, dari mana adik mengetahui bahwa guru Pancasiksa mempunyai dendam pada keturunan sang Raja Agung Sundaland Jatiraga sedangkan dia sendiri adalah adik seperguruan sang raja agung Sundaland Jatiraga dan sekaligus adik iparnya sendiri".
Ucapan pangeran Jaya Lelana atau pangeran Shan land sangat sulit untuk di jawab oleh Shun Land. Shun Land pun ingat dengan pusaka Tombak Trisula yang di pegang pangeran Shan land dan akan membicarakan bahwa pusaka Tombak Trisula tersebut di rampas Mara Deva dengan membunuh kedua orang tua mereka. Tetapi sebelum Shun Land bicara di dahului oleh pangeran Shan land.
"Sudahlah Adik Shun Land tunggu waktunya kita bertarung menentukan siapa yang terkuat". Setelah bicara pangeran Shan land langsung melesat pergi bersama Naga Api Hitam.
Shun Land akan mengejar tetapi sang Legenda Rajawali Api tidak mau dengan alasan bisa jadi ini adalah jebakan pangeran Shan land, Shun Land akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengejar pangeran Shan land.
______*****_____
__ADS_1