
"Kenapa berhenti pendekar jangkus ini baru empat jurus apa kau sudah menyerah". Shun land meledek
Dewi Andita si pedang setan sangat terhinakan baru kali ini dia merasakan di permalukan oleh pendekar muda bau kencur.
Dia pun mempersiapkan jurus pamungkasnya dan mengeluarkan seluruh kekuatan tenaga dalam mengalirkan ke pedangnya.
Shun land melihat pedang yang berkilat keperakan tidak menganggap remeh dia mengalihkan kekuatan api abadi lebih banyak dan menyiapkan jurus pertama Saipi Geni membakar raga.
Tubuh Dewi Andita si pedang setan meliuk-liuk dengan cepat seluruh tubuhnya seakan di tutupi dengan pedang setannya, menerjang dengan cepat ke arah Shun land.
Shun land bukannya menghindar tapi menyongsong dengan cepat serangan Dewi Andita si pedang setan.
Dua senjata mengandung tenaga dalam yang kuat berbenturan yang satu pedang setan yang satu lagi sebuah Sumpit raja neraka menghasilkan dentuman kecil dan percikan api.
Imbas dari kekuatan besar itu membuat debu-debu berterbangan dan permukaan tanah sedikit cekung.
Tubuh Dewi Andita si pedang setan terdorong lima langkah jatuh terduduk sedangkan Shun land kokoh di tempatnya.
Darah segar merembes di sudut bibir Dewi Andita si pedang setan menandakan ada luka dalam walau tidak parah.
Pedang setan Dewi Andita ada retakan kecil di ujungnya. Dewi Andita si pedang setan bangun di bantu tumpuan pada pedangnya.
"Sesuai perjanjian kita akhiri pertarungan ini kau dan pendekar badak liar pergilah dan lupakan kejadian ini, kita bertemu lagi di kompetisi pendekar muda persilatan, hati-hati lah pendekar muda mu jangan sampai bertemu dengan ku di arena pertarungan". Shun land dengan tegas.
Setelah debu menghilang Ayu Sondari dengan cepat berlari dan memeluk Shun land dengan erat. Dan berkata "Kau tidak terluka".
"Pergilah pendekar jangkus" Ayu Sondari melotot ke arah Dewi Andita si pedang setan.
Amarah Dewi Andita si pedang setan meledak tapi dia masih mempunyai perhitungan dia diam saja dan berbalik badan lalu berjalan sambil berkata.
"Badak liar ayo kita pergi kecuali kau ingin mati di sini".
Arya Teja, kedua muridnya dan empat murid si pedang setan mengikuti guru mereka sambil tertunduk.
__ADS_1
Hati Dewi Andita si pedang setan sangat sakit hati di dalam hatinya berkata. "Kau bisa menang sekarang tunggu pembalasan ku setelah mempelajari ilmu saipi angin kau akan ku jadikan budak ku".
Timbul di hati Dewi Andita si pedang setan dendam yang membara pada Shun Land sampai ke ubun-ubunnya.
Semua mata memandang ke arah Shun land tidak ada yang menyangka pendekar muda ini bisa mempermalukan pendekar pedang setan dan Pendekar Badak liar yang sangat terkenal di dunia persilatan daratan luas Dwipa.
"Aku sungguh tidak menduga sepuh Ki Srengga dari ujung kulon memiliki murid muda yang sukar di cari tandingannya". Mahisa taka memuji Shun Land.
"Itu cuma kebetulan saja sepuh". Jawab Shun land singkat.
Dewi bulan merah pun menghampiri. "Ooh kau ini murid sepuh Ki Srengga pantas saja kau menguasai dengan sempurna ilmu saipi angin".
"Terima kasih pendekar muda atas pertolongan mu kalau tidak ada pendekar muda kami semua mungkin mendapatkan kesulitan dari Badak liar dan pedang setan". Ki Wirantaka mengucapkan terima kasih dengan tulus.
"Sudah menjadi kewajiban ku sepuh kita saling membantu, tapi bagai mana kalau kita bicaranya di kedai makan itu, kerusakannya hanya biliknya saja yan bolong". Shun land menjawab lalu berjalan.
Ayu Sondari, Dewi bulan merah dan kedua guru perguruan dan semua muridnya mengikuti Shun Land masuk ke kedai makan.
Mendengar ini salah satu perempuan setengah baya langsung maju dan berkata. "Tuan muda baik sekali masalah meja itu gampang".
Ternyata dia adalah pemilik kedai makan itu dia langsung menyuruh dua orang laki-laki merubah tiga meja menjadi satu meja makan panjang.
Shun land duduk, di samping kanan ada Ayu Sondari dan Dewi bulan merah di depannya ada Wiranata bersebelahan dengan Aria Teja ke empat murid mereka duduk di samping guru masing-masing.
"Tuan muda ini pesanan kalian berdua yang tadi tidak sempat kami hidangkan, masakan telah kami hangatkan kembali". Dua pelayan menata hidangan Shun land dan Ayu Sondari.
Tidak lama hidangan mereka semua datang mengganti hidangan yang tadi berantakan karena pertarungan pendekar Badak liar dan Arya teja.
Setelah makan selesai Shun land bicara pada Ayu Sondari. "Ini peringatan yang terakhir turuti ucapan ku, atau kau pulang".
Shun land bicara dengan serius, Ayu Sondari hanya mengangguk dan tertunduk malu tidak mengindahkan perkataan Shun land, hingga hampir saja nyawanya melayang.
"Nak mas Satria bagai mana kalau perjalan kita ke perguruan Gelap ngampar Kita jalan bersama". Ki Mahisataka dari perguruan golok Ciomas memulai dari pembicaraan serius.
__ADS_1
"Tidak apa sepuh lebih banyak orang lebih bagus, tapi saya mempunyai masalah bagai mana caranya saya bisa mendaftar sedangkan saya tidak bersama dengan guru saya". Shun land menjawab dan mengungkapkan kesulitannya.
"Bagai mana kalau nak mas Satria berpura-pura dari perguruan Osing dari ujung timur, nanti bibi yang menjadi guru nak mas Shun land". Dewi bulan merah menawarkan solusi.
"Itu lebih bagus, perguruan Osing juga mendapatkan undnagan". Ki Wirantaka dari perguruan macan putih bicara mendukung ucapan Dewi bulan merah.
"Tapi bagai mana mungkin saya tidak menguasai jurus-jurus dari perguruan bibi". Shun land bertanya.
"Itu mudah nanti bibi ajarkan beberapa jurus pokok perguruan bibi di perjalanan dengan pondasi ilmu saipi angin nak mas Satria itu bukan perkara sulit". Dewi bulan merah menimpali.
Akhirnya Shun land setuju dengan usulan Dewi bulan merah, Shun land memangil pelayan tapi yang datang pemilik kedai.
"Berapa bibi semuanya". Shun land bertanya
"Tuan muda dan para pendekar semua tidak usah membayar malah saya berterima kasih tuan muda sudah mengusir mereka yang angkuh dan arogan". Pemilik kedai makan menjawab.
"Tidak bibi,.... apa ini cukup dengan biaya perbaikan kedai makan bibi". Shun land tetap memberikan sepuluh keping uang emas.
Melihat koin emas pemilik kedai makan gemetar karena uang itu bagai penghasilan dua minggu. Pemilik kedai tidak berani menerimanya.
"Mengapa bibi diam apa kurang". Shun land hendak merogoh ke balik bajunya.
"Baik lah tuan saya menerima kalau tuan memaksa tapi ini terlalu banyak". Pemilik kedai makan berkata.
Shun land tetap merogoh dua puluh keping lagi koin emas. "Terima ini bibi tapi bibi pesan saya bila ada pengemis meminta makan jangan di usir beri mereka makan secukupnya".
Pangeran Shun land memberikan semua uang dengan jumlah tiga puluh keping emas itu bukan jumlah yang sedikit bagi wilayah pedusunan.
Dengan tangan gemetar pemilik kedai makan akhirnya menerima sambil mengiyakan permintaan Shun land.
Mereka bertujuh meninggalkan kedai makan menuju penyebrangan dengan menuntun kuda mereka masing-masing.
...****************...
__ADS_1