LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
155. Ki Rangga Wisesa ungkap sejarah kelam dunia persilatan daratan luas Dwipa


__ADS_3

"Tidak sepuh saya merasa sangat ikut gembira anak Ki sepuh bisa normal kembali". Shun land berkelakar.


Tiba-tiba Nyai Geuntis datang "sekali lagi kau berkata dia anak angkat kau akan tidur di luar selamanya".


Nyai Geuntis setelah mendengar obrolan suaminya dengan Shun land sekarang dia tahu bahwa di bawa suaminya bukan anaknya.


"Cah ayu siapa nama mu, apa cah ayu ini istri nak mas Satria". Nyai Geuntis duduk di samping Ayu Sondari.


"Saya Ayu Sondari, saya bukan istri atau calon istri Pemuda rese itu Nyai, hanya kebetulan tujuan saya sama". Ayu Sondari menjawab sekenanya.


Nyai Geuntis sengaja menemani mereka di sela-sela masaknya.


"Sebelum tidur kalian kita makan bersama ibu masak ayam hutan besar-besar hasil berburu si Purawa, Nak mas Satria cah ayu panggil saja ibu yaaa". Nyai Geuntis meminta mereka berdua memanggilnya ibu.


"Kakang Rangga kalau anak kita ada cah Ayu Sondari ini kita jadikan mantu kita yaaah". Nyai Geuntis menggoda Ayu Sondari.


"Huuus nyai ngomongnya malah ngelantur". Ki Rangga Wisesa menyahuti.


"Nak mas Satria maaf ibu tadi salah menduga" Nyai Geuntis meminta maaf atas ke salah pahaman tadi.


"Tidak apa ibu saya senang ibu menganggap saya anak ibu, saya bisa sampai kemari karena ingin mencari seseorang yang telah membunuh ibu saya dengan keji". Shun land bicara apa adanya.


"Kalau begitu jadikan ibu sebagai ganti ibu nak mas Satria". Nyai Geuntis berkata dengan tulus hati.


Ki Rangga Wisesa mengalihkan pembicaraan.


"Nak mas Satria, dulu Ki Srengga bercerita bahwa dia menanti seseorang yang akan membereskan dunia persilatan yang sudah hampir empat generasi menjadi kacau balau karena ulah satu kelompok yang mengatas namakan utusan Tuhan, mereka memasuki setiap perguruan dengan mengajarkan ilmu Saipi kepada setiap orang yang mau menjadi pengikutnya". Ki Rangga Wisesa diam sesaat mengenang beberapa puluh tahun yang lalu.


"Ceritakan sepuh agar saya lebih mengerti keadaan di daratan luas Dwipa ini, ini sungguh berbeda dengan daratan luas Kalimantan asal saya". Shun land berharap Ki Rangga bisa menjelaskan keadaan yang sedang terjadi di daratan luas Dwipa secara keseluruhan.


"Tiga puluh tahun yang lalu di dataran luas Dwiva ini menjamur perguruan olah kanuragan berbagai aliran hingga di suatu waktu terjadi pembantaian besar-besaran banyak perguruan kecil dan menengah musnah di bunuh orang misterius,....


Akhirnya dari empat perguruan besar mengadakan pertemuan kala itu Ki Srengga menjadi pemimpinnya karena dia yang paling tinggi ilmu Kanuragannya dari kami semua,....

__ADS_1


Kami pun memutuskan untuk menyelidiki peristiwa tersebut hingga akhirnya kami mendapat suatu yang mengejutkan di luar dugaan kami semua, hasil penyelidikan kami tertuju pada dua perguruan besar yang terlibat,...


Perguruan Badak liar dari barat dan perguruan pedang setan dari gunung ceremai di timur, nyai Andari dan Aryateja tidak mengakui kami tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak mempunyai bukti,....


Kami pernah mencari pelaku tapi kami tidak menemukan jejak. Setelah kejadian itu banyak pelabuhan di bangun oleh orang-orang dari Swarnabumi dari timur sampai ke barat, di antara kami pun jadi saling curiga satu sama lain,....


Setelah peristiwa itu perampokan perjudian dan perbudakan meraja rela rakyat kecil jadi semakin sengsara,...


Kami menanti pendekar dalam ramalan seperti perkataan Ki Srengga pendekar muda yang akan memimpin menuju kemajuan perdamai dan kesejahteraan pada masyarakat terutama perdamaian dunia persilatan tidak saling membunuh dan saling mencurigai"......


Ki Rangga Wisesa mengakhiri ceritanya.


Shun land mendengarkan dengan seksama, dia pun bisa menarik garis besar bahwa seluruh kejadian ini ulah dari kaki tangan Mata deva biang dari kejahatan.


Nyai Geuntis dan Purawa datang membawa nasi dan ayam bakar tiga ekor besar-besar.


Meraka pun makan bersama penuh canda tawa, kerinduan Ki Rangga Wisesa dan Nyai Geuntis pada Jaya lelana Anak angkatnya sedikit terobati dengan kedatangan Shun land.


Ayu Sondari berangkat tidur bersama Nyai Geuntis yang sangat ramah dan baik.


Kedua murid Ki Rangga Wisesa telah kembali ke tempat peristirahatannya.


Tinggal Ki Rangga Wisesa dan Shun land yang tersisa.


"Sepuh ada yang ingin saya sampaikan pada Ki sepuh" Shun land memulai obrolan yang penting.


"Silahkan nak mas sampaikan jangan ragu-ragu". Sahut Ki Rangga Wisesa.


"Sepuh dua atau tiga hari lagi pelabuhan Cilamaya akan di serang oleh armada laut Naga biru dari kerajaan Tarumanagara yang baru berdiri,....


Untuk membebaskan dari cengkeraman kekuasaan orang-orang yang kejam dan licik. Pimpinan serangan itu bernama Antaka pendekar syair kematian murid Eyang Srengga".


Shun land berhenti bicara memberi waktu Ki Rangga Wisesa bicara tapi Ki Rangga Wisesa diam menunggu dirinya meneruskan bicara.

__ADS_1


"Menurut saya perguruan gelap ngampar mempunyai peran penting atas kejadian akhir-akhir ini". Shun Land meneruskan bicara.


Shun land meminta selembar kain lalu menggambar kepala burung di bawahnya tertulis Satria Nusa Kencana.


"Sepuh bila suatu saat Jaka lelana pulang suruh dia ke istana kerajaan Tarumanagara dan katakan pada Ratu Dian Prameswari dwibuana bahwa dia di perintahkan untuk memimpin daerah pelabuhan Cilamaya".


Kain itu di terima oleh Ki Rangga Wisesa dan di simpannya di balik baju.


Ki Rangga Wisesa hatinya menebak-nebak siapa gerangan pendekar muda ini yang mempunyai kekuasaan bisa memerintahkan seorang ratu kerajaan, tanpa sadar Ki Rangga Wisesa berkata.


"Siapakah sebenarnya nak mas Satria ini ?, Jangan-jangan nak mas Satria adalah Pemimpin yang di katakan Ki Srengga".


"Nanti juga sepuh mengetahui sendiri siapa diri saya". Shun Land menjawab singkat.


Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam untuk beristirahat, tetapi sebelum itu Shun land untuk menghubungi perguruan Singa perbangsa Ki Aria Wirasaba dan perguruan kecil lainnya untuk bergabung ke perguruan ujung kulon Ki Srengga.


Pagi telah menjelang matahari sinarnya menembus kabut tipis yang menyelimuti hutan tropis di wilayah sepanjang sungai purba cilamaya.


Shun land dan Ayu Sondari telah membersihkan diri dan duduk di bale pendopo rumah Ki Rangga Wisesa. Para penduduk perkampungan Cikampek menjadi heboh mereka menyangka Shun land adalah Jaka lelana yang pulang dan membawa istri Cantik berkulit kuning Langsat.


Nyai Geuntis membawa satu keranjang kecil terbuat dari anyaman bambu buah rambutan yang masih segar.


Tanpa pikir panjang Ayu Sondari langsung memakan buah rambutan dan melempar kulitnya ke arah Shun land yang sedang memeriksa kuda di depan pendopo.


Shun land hanya menarik nafas panjang atas perbuatan iseng Ayu Sondari dan memandang dengan tajam.


Ayu Sondari yang di tatap malah tersenyum dan melambaikan tangan menyuruh Shun land mendekat, Shun land jadi penasaran apa yang di inginkan gadis iseng itu.


"Apa yang kau inginkan" Shun land sedikit ketus.


"Jangan marah, pagi-pagi marah cepet tua kau cicipi buah rambutan ini", Ayu Sondari menyuapi Shun land buah rambutan yang sudah tidak ada bijinya.


"Manis sekali enak banget lagi dong'' Shun land ketagihan

__ADS_1


"Ngupas sendiri" Ayu Sondari tersenyum lepas sambil menyodorkan keranjang.


...****************...


__ADS_2