LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
224. Malam perpisahan.


__ADS_3

Sore menjelang sinar matahari kekuningan menyinari ibukota Sundapura angin semilir menambah betahnya para insan yang duduk duduk di depan rumah atau pun mereka yang duduk di pinggir hutan.


Tidak terkecuali penghuni istana Sundapura mereka duduk duduk di taman istana yang luas berbagai bunga warna warni di susun sedemikian rupa memanjakan pandangan mata.


Belum lagi tanaman tanaman yang berbuah seperti mangga jeruk dan yang lainnya menghiasi taman istana Sundapura.


Dua orang duduk di pendopo menghadap ke taman istana merdeka adalah sang raja Shun Land dan permaisuri May Lien.


Merdeka berdua menikmati kebersamaan sore itu dengan menikmati indahnya taman istana dan secangkir teh racikan permaisuri May Lien.


"Kakak Shun ibuku tidak betah tinggal di istana menurutnya sangat membosankan dia ingin meminta izin untuk kembali ke pelabuhan kalianda di Sewarnabumi mengurus kedai miliknya".


Permaisuri May Lien membicarakan prihal ibunya nyai Lien seng, Shun land menoleh sambil mengerutkan keningnya lalu menjawab.


"Kalau ingin mempunyai kegiatan bisnis tidak usah jauh-jauh bagai mana kalau ibu mengelola kedai kembang Tanjung dan penginapan kembang tanjung sekarang ini belum ada yang mengelola setelah Dewi Kamalia tidak ada".


Shun land menawarkan pada ibunda May Lien.


"Kalau begitu aku akan menemui ibu dan bapak untuk kesini". Permaisuri May Lien hendak beranjak tapi di larang oleh Shun Land.


"Kau tidak usah pergi"


Shun land menepuk tangan dia orang prajurit datang menghadap.


"Kalian tolong panggil ibunda Lien seng dan ayahanda tabib kesini". Shun land memberi perintah pada kedua prajurit.


Tidak lama keduanya kembali membawa nyai Lien seng dan tabib Lau Lien.


Setelah memberi hormat pada raja Shun Land mereka berdua duduk depan Shun land dan permaisuri May Lien.


"Ibunda tidak usah kembali ke daratan Swarnabumi ibunda bisa mengelola kedai dan penginapan Kembang Tanjung saya akan memberikan kedai dan penginapan tersebut untuk ibunda".


Shun land langsung ke pokok permasalahan.


"Maaf paduka merepotkan paduka raja, saya merasa bosan tidak ada kegiatan di sini terlalu enak apa-apa semuanya di layani oleh para emban". Nyai Lien seng menjawab.


"Baik ibunda, putri Dian Prameswari dwibuana akan mengurusnya ibunda bisa langsung datang ke penginapan dan memulai mengatur seperti yang Ibunda inginkan".


Shun land memberikan kedai dan penginapan Kembang Tanjung kepada kedua mertuanya agar tidak jauh dari istana.

__ADS_1


Shun land sangat memerhatikan orang-orang yang di sekelilingnya.


Dua gerobak datang setiap gerobak di dorong dua prajurit, satu gerobak berisi ikan laut siap di bakar, dan satu gerobak lagi berisi peralatan manggang dan lainnya.


Di belakang gerobak seorang bertubuh tambun di iring empat wanita pelayan kerajaan.


Dengan tanpa sopan santun pria tambun itu langsung berdiri di depan Shun Land dan permaisuri May Lien sambil bersedekap tangan di dada lalu berkata seolah berkata kepada teman sebaya.


"Ooh begini kelakuan seorang adik datang tidak langsung menemui kakaknya apa sudah merasa tinggi ilmu hingga melupakan tabiat sopan santun dasar Raja semprul".


"Kalau merasa demikian tidak apa-apa, bukannya khawatir adiknya habis bertarung hidup dan mati malah lari dari istana bukannya segera menemui apakan cedera luka dalam atau tidak begini tanggung jawab seorang kakak terhadap adiknya, lebih baik keberangkatan ku besok sendirian saja dari pada bersama seorang kakak yang tidak ada rasa simpati".


Shun land menjawab dengan bahasa yang lebih pedas.


Wajah pria tambun itu melunak mendengar perkataan Shun land yang benar adanya.


Dengan mimik yang memelas dia menghampiri dan duduk di samping Shun Land sambil memeluk dari samping sambil berkata lembut.


"Jangan tega begitu kau adik ku masa kau tega meninggalkan aku, di mana wajahku di taruh kalau bertemu ibunda di alam sana membiarkan adiknya pergi sendiri".


Permaisuri May Lien tertawa melihat mimik wajah Boma yang memelas datang-datang seperti jagoan di gertak sedikit jadi memelas.


"Dari mana kau dapatkan anak Wisanggeni".


"Pertama aku datang ke sini saat itu aku sedang bersama Naga Bumi Sabui menelusuri sungai Citarum ini, setelah jauh ke hilir aku melihat sampan tidak ada penumpangnya yang menjadi heran sampan itu di kelilingi buaya,.....


...ketika melihat Naga Bumi Sabui para buaya itu pergi meninggalkan sampan tersebut, aku mendekati sampan tersebut, terlihat oleh ku seorang anak berambut panjang sekitar usia 1 setengah tahun sedang tidur dengan badan terbungkus kain aku membawanya pulang Mawinei sangat senang karena ada teman bermain anak ku yang perempuan,....


Sejak saat itu ku angkat jadi anak ku anak itu mempunyai kelebihan dia tidak pernah menangis dia selalu mengikuti gerakan ku ketika aku berlatih, tidak di sangka dalam usia 4 tahun dia bisa berlari secepat orang dewasa berlari".


Boma mengakhiri ceritanya, Shun Land tidak menceritakan bahwa di dalam tubuh Wisanggeni ada tenaga dalam yang tersegel dan pusaka bintang Sumpit Raja Neraka.


Tidak lama kemudian datang Mawinei dan kedua anaknya Wisanggeni dan Ayu Atiek Prapti datang di depannya permaisuri Sari Tungga Dewi dan permaisuri Dewi Sumayi.


Wisanggeni berlari menuju Boma sesampainya di depan Boma lalu berkata dengan wajah serius sangat mengemaskan.


"Ayah aku di beri hadiah oleh paman raja tapi hadiahnya menghilang kata paman raja 'hadiahnya bisa di pegang setelah Wisanggeni besar".


"Hey apa yang kau berikan pada anak ku, aku tidak ingin anak ku seperti mu tidak ada waktu untuk keluarga". Boma melotot pada Shun Land.

__ADS_1


"Rahasia nanti juga kau tahu sendiri". Shun land menjawab seenaknya.


"Wisanggeni apa yang paman raja berikan". Boma bertanya.


Dengan wajah berjalan menuju permaisuri May Lien Wisanggeni menjawab dengan santai.


"Rahasia ayah kata paman raja".


Mendengar ini Boma sangat kesal tapi tak berdaya.


Para pelayan perempuan kerajaan memanggang ikan dan mempersiapkan tempat dan yang lainya.


Mereka makan bersama penuh canda dan tawa setelah makan Shun land menceritakan niatnya besok akan pergi ke daratan luas Swarnabumi bumi khususnya ke daerah Rijang Renah Selawi.


Boma pun meminta izin pada Mawinei untuk menemani Shun Land.


"Kau harus kembali membawa putri Serindang bulan agar sang raja betah di istana".


Ucap permaisuri Sari Tungga Dewi kepada Boma maksudnya itu adalah sindiran buat Shun Land.


Shun land terperangah mendengar permaisuri Sari Tungga Dewi yang biasanya tidak terlalu perduli kini berkata demikian.


"Kalau aku tidak keberatan dia juga sepertinya tulus tapi entah menurut adik May keberatan atau tidak". Permaisuri Dewi sumayi berkata sambil melirik ke arah permaisuri May Lien.


"Kalau aku setuju saja asal dia mau tinggal bersama agar Raja kita tidak pergi jauh-jauh lagi". Timpal permaisuri May Lien.


Shun Land tidak berani berkata apa pun, Boma tertawa cengengesan mengetahui Shun Land yang mati kutu di keroyok tiga istrinya.


Boma menggendong Wisanggeni, Mawinei menggendong Ayu Atiek Prapti menuju ke kediamannya.


Sedangkan mereka berempat tetap tinggal, mereka ingin menghabiskan malam itu bersama.


Lodaya sang harimau besar berjalan lalu duduk dekat perapian Shun Land memberikan beberapa potong daging panggang yang tak habis.


Sang Lodaya setelah makan naik ke pendopo dan berbaring Shun Land merebahkan badan kepalanya berada di perut sang Lodaya.


Shun land menatap langit langit pendopo terbayang Ketika berlatih pertama kali ilmu saipi angin di temani sang Lodaya dengan setia.


Shun land ingat saat pertama merasakan tubuhnya bagai hancur saat pembentukan tulang sebagai dasar pondasi ilmu Kanuragan Lodaya lah yang membantu meredakan rasa nyeri dan menemani dengan setia.

__ADS_1


Akhirnya Shun Land tertidur lelap di perut sang sahabat setianya.


-----------*****-----------


__ADS_2