LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
174. Berita pahit untuk Ki Mahisa Taka.


__ADS_3

Ki Mahisa taka dan Ki Aria natanagara pamit untuk beristirahat setelah selesai tidak ada lagi yang perlu di bicarakan.


Sebuah anak panah meluncur dari jendela menancap di dinding kamar Shun land, di anak panah terikat sebuah gulungan surat.


Shun land mengambil anak panah tersebut lalu membuka gulungan surat tersebut, setelah di baca gulungan tersebut di bakar dengan kekuatan api abadinya.


Dua pemuda berhenti di depan penginapan setelah menambatkan kuda kedua pemuda tersebut menghampiri tempat pendaftaran.


"Maaf bolehkah saya bertanya sedikit". Salah satu dari mereka bertanya pada pelayan pendaftaran.


"Silahkan tuan". Pelayan perempuan penjaga pendaftaran menjawab.


"Saya ingin bertemu dengan peserta kompetisi pendekar muda persilatan dari perguruan Ciomas, apa dia menginap di sini". Pemuda itu bertanya.


Ternyata dia adalah Dirga dan Tanu yang ingin menjumpai guru mereka Ki Mahisa taka untuk menyampaikan kejadian pahit di perguruannya.


"Sebenar ya tuan saya memeriksanya". Pelayan wanita itu memeriksa daftar tamu lalu segera berkata. "Benar tuan dia menginap di lantai dua di kamar nomor empat".


"Bolehkah saya masuk untuk menemuinya nona". Dirga bertanya dengan sopan dia tidak langsung masuk takut ada peraturan yang tidak menginap di larang masuk.


"Silahkan tuan tapi ada pengawal yang menemani tuan". Jawab pelayan pendaftaran sambil melambaikan tangan pada salah satu penjaga ke aman.


"Paman penjaga keamanan tolong antar dua pemuda ini ke lantai dua, setelah dia benar murid dari tamu kita kalian boleh kembali lagi". Pelayan wanita itu memberi perintah.


Dirga dan Tanu berjalan di ikuti penjaga keamanan menuju lantai dua, sesampainya di depan kamar nomor empat penjaga keamanan mengetuk pintu kamar.


"Maaf mengganggu istirahat tuan, ada yang mencari tuan, apa benar dia murid tuan". Setelah pintu terbuka penjaga keamanan bertanya pada Ki Mahisa taka.


Ki Mahisa taka keluar setelah melihat Dirga dan Tanu lalu berkata,. "Benar penjaga kedua pemuda itu murid saya terimakasih telah mengantar mereka sampai kesini".

__ADS_1


Ki Mahisa taka merogoh saku bajunya memberikan tips pada penjaga keamanan.


Dirga dan Tanu masuk ke dalam kamar Ki Mahisa taka setelah minum dan tenang Dirga segera bicara.


"Guru saya menyusul guru kesini ingin menyampaikan berita pahit,..... Sebelum selesai bicara Ki Mahisa Taka memotong ucapan Dirga.


"Berita pahit gimana Dirga, Tanu cepat sampaikan dengan jelas". Ucap Ki Mahisa Taka dengan jantung berdegup kencang.


"Guru perguruan kita di serang oleh pendekar-pemdekar berilmu tinggi berpakaian serba hitam memakai cadar di wajahnya, semua murid di bunuh dengan keji saja dan keluarga besar guru segera masuk ke ruang bawah tanah hingga kami selamat". Dirga menyampaikan sambil menahan kepedihan hati mengingat banyak saudara seperguruannya mati dengan mengenaskan.


Ki Mahisa taka seakan jantung berhenti perguruan yang baru saja mulai berkembang setelah tiga puluhan tahun yang lalu ayah sekaligus gurunya mati di bantai oleh orang yang tidak di kenal dengan kemampuan yang tinggi kini terulang lagi.


Akhirnya Ki Mahisa taka bisa menguasai dirinya lalu berkata,. "Dirga, Tanu mungkin kau lapar setelah perjalan jauh ini sebaiknya kau dan Tanu makan dulu setelah itu kita bicarakan lagi masalah ini".


Ki Mahisa dan kedua muridnya keluar menuju ruang makan, Ki Mahisa taka memesan makanan pada pelayan setelah itu dia menemui Shun land di kamarnya.


Shun land berpikir sesaat sebelum memberikan saran lalu berkata.


"Sepuh menurut saya andai sepuh pulang pun percuma tidak ada yang bisa sepuh lakukan, sebaiknya sepuh menunggu kompetisi ini selesai nanti kita akan mencari tahu bersama siapa yang menjadi dalang semuanya, saya rasa ini ada hubungannya dengan pembantaian tiga puluh tahun yang lalu".


"Baiklah nak mas Satria saya juga ada pemikiran ke sana tapi saya sedikit ragu terima kasih sarannya nak mas".


Ki Mahisa Taka pamit lalu kembali ke Dirga dan Tanu, berita ini pun segera di sampaikan kepada Dewi bulan merah, Ki Wirantaka, Ki Aria natanagara mereka pun sepakat akan membantu Ki Mahisa Taka untuk mengusut siapa di balik dalang kejadian ini.


Di dalam kamar Shun land berpikir keras mencari segala kemungkinan siapa sebenarnya dalam persoalan ini.


Andai Niraya Sura Shun land merasa tidak yakin karena bawahan Niraya Sura tidak ada yang berilmu tinggi, Shun land tidak bisa menebak tapi dia menyimpulkan ini mungkin tindakan Kama Deva kaki tangan Mara Deva yang memiliki ilmu lebih tinggi dari Niraya Sura.


Andai saja Shun land membawa pendekar tiga serangkai tapak yang tersisa tapak besi dan tapak bayu murid dari Ki tapak sakti dari perguruan tapak maut di daratan luas Kalimantan.

__ADS_1


Shun land akan segera tahu dalang dari semua kejadian ini, karena perguruan tapak maut adalah perguruan spesialis pembunuh bayaran kelas atas yang berkerja sama dengan Kama Deva.


Pajar telah menyingsing menandakan pagi segera tiba matahari sedikit demi sedikit menampakan wajah tapi di sebagian angkasa Mega hitam menutupi sebagian sang matahari Mega hitam seakan ingin ikut melihat kejadian penting di hari ini.


Kota guha pawon pagi-pagi sekali sudah ramai oleh murid-murid perguruan gelap ngampar dan sekutunya menyiapkan area pertandingan kompetisi pendekar muda persilatan.


Kompetisi ini di adakan di dalam ruangan luas yang di kelilingi oleh pagar tinggi terbuat dari batu Alam, kompetisi pendekar muda persilatan ini tidak seperti biasanya yang di adakan di tempat terbuka hingga para penduduk bisa menyaksikan pertarungan para pendekar peserta kompetisi pendekar muda persilatan.


Di salah satu sudut kota dekat dengan pagar arena pertandingan dua orang sedang duduk di sebuah kedai makan sedang menikmati minuman hangat pagi itu.


Pakaian dua orang tersebut seperti penduduk kota tersebut tapi dari gerak geriknya jelas terlihat orang tersebut berilmu tinggi.


"Tuan Kama Deva apa tuan sudah yakin tidak akan membantu Niraya Sura". Salah satu orang tersebut bertanya.


Dua orang tersebut adalah Kama Deva dan anak buahnya bernama Kayan sedang menyamar mengawasi tindakan Niraya Sura.


"Diam lah, kau tidak akan mengerti bagai mana politik dan taktik perang, Niraya Sura sedang menggali kuburnya sendiri dia tidak mencoba mengenal dan mengukur kekuatan lawan yang di hadapinya, kita tidak perlu repot-repot untuk menyingkirkannya dia akan hancur sendiri". Kama Deva bicara di akhiri tertawa terbahak yang di tahan.


Kayan tidak bicara lagi dia mengerti dan mengetahui Kama Deva tuannya ini ahli strategi perang dan politik kerajaan.


Di pinggir hutan agak kedalam sedikit sang Rajawali Api mondar-mandir sedang gelisah, semalam terbang melintas di atas kota Guha pawon dia merasa aura yang sangat di kenalnya, aura dari musuh sejatinya sang Naga Api hitam.


Sebenarnya aura itu berasal dari Kama Deva yang memiliki ilmu saipi Geni dia menyerap kekuatan api yang di berikan Naga Api hitam.


Sang Rajawali Api sangat mengkhawatirkan tuannya sedangkan posisi naga bumi Sabui sangat jauh dia sedang memeriksa air terjun yang memiliki peta pedang naga bergola berada.


Akhirnya sang Rajawali Api memutuskan untuk menyusul Naga bumi Sabui di daerah timur daratan luas Dwipa.


------------------------*****---------------------

__ADS_1


__ADS_2