
Setelah sinar itu masuk ke tubuh pangeran Shun land, kesadaran pangeran Shun land kembali dan membuka matanya mengakhiri semedi dan Tapa bratanya.
Naga bumi Sabui dan sang Rajawali Api mendekati keduanya sangat gembira semangat dan harapan untuk mengalahkan Mara Deva dan naga api hitam semakin besar.
"Sudah berapa lama aku bersemedi". Tanya pangeran Shun Land.
"Pangeran bertapa dua Minggu tiga hari". Naga bumi Sabui menjawab.
Pangeran Shun land minum air dari sumur Kahuripan jiwa beberapa tegukan lalu mencuci muka, tapi dia merasa tubuhnya bau amis entah bau dari mana.
Akhirnya pangeran Shun land menceburkan diri mandi di sumur Kahuripan jiwa.
Setelah mandi pangeran Shun land ingin melatih menggunakan kekuatan api dan air berbarengan.
Pangeran Shun land mengalirkan kekuatan api abadinya seluruh tubuh bagian luar bersamaan itu dia pun mengalir kekuatan air keseluruhan organ dalam dan bagian-bagian tubuh dalamnya.
Pangeran berlatih menyeimbangkan kekuatan api yang keluar dan kekuatan air yang menstabilkan Suhu tubuhnya.
Perlahan tapi pasti pangeran memulai bergerak mengikuti jurus Saipi geni makin lama makin cepat, seiring dengan bertambah mahir dalam keseimbangan menggunakan kekuatan api abadi dan kekuatan air kehidupan.
Pangeran Shun land mencoba mengeluarkan semua kekuatan apinya dia pun mengalirkan kekuatan air yang ada batasnya yang berasal dari mustika air panca warna yang telah menyatu pada tubuhnya.
Roh mustika api merah delima mengeluarkan kekuatan api abadinya hampir enam puluh persen.
Makin lama berlatih pangeran Shun land semakin memahami cara mengatur kekuatan api dan kekuatan air bersamaan.
Gerakan jurus Saipi Geni sampai pada gerakan jurus Saipi ke empat Api menghancurkan alam.
Tubuh pangeran Shun land melenting keatas lalu menukik ke bawah kedua telapak tangannya di dorong ke depan kekuatan api dari tubuhnya mengalir ke kedua telapak tangannya dengan kekuatan penuh.
Naga bumi Sabui dan sang Rajawali Api melihat kobaran api yang akan menghantamnya dia segera menghindar secepat mungkin.
Kobaran api sangat panas menghantam tawa Baru jaya.
__ADS_1
Pangeran turun perlahan dan menampakan kakinya kembali tanah lalu menoleh kanan kiri mencari dua sahabatnya.
"Kemana mereka berdua". Pangeran Shun land bergumam, tidak lama naga bumi Sabui dan sang Rajawali Api datang.
"Dasar raja sempruul kau mau membakar kami berdua". Sang Rajawali Api bersungut-sungut, kalau lambat sedikit dia terpanggang api abadi dari jurus Saipi Geni menghancurkan alam.
Pangeran Shun land tidak menanggapi omelan sang Rajawali Api.
"Cepat antarkan aku ke pelabuhan aku seperti mendapati firasat kurang baik, Naga bumi Sabui kau berjaga di laut dekat pelabuhan".
Tanpa banyak bicara pangeran Shun land langsung naik ke punggung sang Rajawali Api.
Di rumah makan kembang Tanjung Maasiak duduk menikmati makanan bersama Brojo dan Angsana.
Selesai makan Maasiak bicara pada Brojo dan Angsana. "Cepat kau selesaikan makan kalian kita harus segera pergi kita sudah mendapatkan apa yang kita cari".
Brojo dan Angsana mempercepat makannya.
Ketika di pintu keluar Maasiak persengkokolan bagu dengan seorang bertubuh gemuk tidak lain dia adalah Boma mereka bertatapan sambil berjalan Maasiak segera menundukkan kepalanya dan mempercepat langkahnya menuju kuda yang di tambatkan.
Boma merasa pamiliar dengan tatapan itu, setelah duduk beberapa lama dia segera berdiri dan berkata "paman Sarpa segera kejar tiga orang tadi yang berpapasan dengan dengan kita dia pembunuh yang kita cari selama ini". Boma tidak menunggu jawaban langsung berlari ke luar.
Panglima Sarpa mengikuti bersama empat prajurit yang lain.
Boma memacu kudanya dengan cepat tapi di depan ada persimpangan jalan ke arah barat kearah timur Boma bingung menentukan jalan, panglima Sarpa datang bersama empat prajurit lainnya.
"Tuan panglima tuan Boma ada tiga jejak kuda yang baru saja melintas ke arah barat". Seorang prajurit menunjuk ke arah jejak kuda berlari.
Boma tanpa dan panglima Sarpa langsung memacu kudanya tanpa banyak bicara menuju barat di ikuti ke empat prajurit lainnya.
Di saat itu Maasiak berlari bersama dua pengawalnya Brojo dan Angsana, waktu di persimpangan mereka melepaskan kudanya ke arah barat sedangkan mereka meneruskan berlari mengunakan ilmu meringankan tubuh mereka.
Maasiak dan pengawalnya setelah mengetahui ada yang mengejar mereka merelakan kuda mereka demi mengecoh yang mengejar.
__ADS_1
"Di depan ada Pedukuhan Karawang kita bisa membeli kuda". Maasiak hatinya sedikit gentar andai dia tertangkap habislah riwayatnya.
Boma sangat marah dirinya di permainan oleh Maasiak, dia dan panglima Sarpa hanya mendapatkan 3 kuda tanpa penunggang.
Boma dan panglima Sarpa beserta empat prajuritnya kembali lagi ke kota Taruma negara.
Di sebelah selatan pelabuhan Tarumanagara sedikit kebarat sebuah istana kerajaan yang sederhana terbuat oleh kayu jati purba yang kokoh berdiri sebagai pusat kerajaan yang baru berdiri kerajaan Tarumanegara perwakilan kerajaan Kutai khal di daratan luas Kalimantan.
Di ruangan utama istana duduk di kursi singgasana pangeran Shun land, akan mengadakan pertemuan dengan seluruh pejabat.
Di sana ada putri Dian Prameswari dwibuana dan pangeran Makkamaru panglima Sarpa dan panglima armada laut Naga biru Tarpa, hadir juga Antaka pimpinan pasukan khusus senyap dan Ki Bajul pakel, Boma dan pangeran Nanjan sebagai ahli strategi armada laut.
Dewi Kamalia yang di tunjuk sebagai pengumpul informasi dadir bersebelahan dengan juragan Casta yang di tunjuk sebagai tetua bagian perdagangan.
Pangeran Shun land memulai bicara.
"Siapa dulu yang akan melaporkan situasi sekarang".
Putri Dian Prameswari dwibuana mengangkat tangan, "paduka saya yang di tunjuk paduka untuk memimpin akan melaporkan,.....
Putri Dian Prameswari dwibuana menerangkan bahwa perkembangan kerajaan sangat pesat sekarang ini banyak pedukuhan yang bergabung dengan kerajaan Tarumanegara di barat sudah sampai ke sungai Cisadane dan ke timur sudah hampir sampai pelabuhan Cilamaya dan untuk ke selatan sampai gunung pangrango.
Demikian lah yang bisa saya laporkan". Putri Dian Prameswari dwibuana mengakhiri laporannya.
Setelah itu Boma mengangkat tangan dan berkata. "Pangeran Tadi siang saya bertemu dengan sosok yang mirip dengan Maasiak pembunuh ibu kita tapi sayang saya dan panglima Sarpa kehilangan jejak, tadinya saya terkecoh dengan dandanan dan pakaiannya yang berubah meniru pakaian adat sini, setelah di selidiki dia telah seminggu di sini dan memakai nama Asma Sangkuni begitu kata pelayan yang sering melayani dia".
"Paman Antaka sebarkan telik sandi cari informasi Nama Asma Sangkuni sampaikan langsung kepada saya". Pangeran berhenti sejenak
"Paman Tarpa serang pelabuhan Cilamaya dan pelabuhan kali Sewo, kita harus kuasai pelabuhan-pelabuhan di daratan luas Dwipa ini hingga mempersempit kelompok Mara Deva dan sekutunya, mulai sekarang kita melakukan perang terbuka, bila ada pengikut Mara Deva harus kita musnahkan jangan ragu-ragu". Pangeran Shun land mengakhiri bicaranya.
Pangeran Shun land membubarkan pertemuan lalu pergi ke tempat peristirahatan yang telah di bangun secara sederhana.
...****************...
__ADS_1