
"Pendekar Jaya Sempurna keluar kau hadapi aku jangan jadi pengecut kau telah lancang menjadi raja Tarumanegara, kalau kau tidak keluar aku akan meratakan pedukuhan ini dengan tanah". Shun Land bersandiwara. Satu hal Shun Land lupa.
Semua orang keluar dan yang pertama menghadap adalah Dewi Tanjung dan pangeran Dehen, keduanya langsung berlutut dan memberi salam.
"Sembah bakti kepada paduka Raja". Hanya itu yang pangeran Dehen dan istrinya Pendekar bukan merah Sri Tanjung. Pangeran Sanjaya triloka keluar bersama istrinya dan langsung berlutut di hadapan Shun Land.
"Sembah bakti pada paduka raja lama tidak berjumpa, untuk masalah ini saya tidak ikut campur, pendekar Jaya Sempurna sedang tidak ada di sini sejak setahun yang lalu, yang ada di sini hanya istrinya". Pangeran Sanjaya triloka memberi penjelasan.
Shun Land seperti tidak mendengar ucapan pangeran Sanjaya triloka dan pangeran Dehen. Tidak lama Dewi Lasmini datang sambil berjalan menatap tajam Shun Land.
"Sekali lagi berteriak keras aku tidak akan memberikan jatah makan dan kau harus tidur di luar rumah, kau mau menipuku dengan membawa burung besar bengek itu, itu salah aku di ajarkan oleh mu aku tidak akan tertipu kau mengaku raja Tarumanegara, kau lupa di dalam tubuhku ada kekuatan air dari mustika air panca warna milikmu, paman Delay bawakan air satu ember kita mandikan yang orang kesurupan". Dewi Lasmini berkata sambil berjalan mengitari Shun Land.
Pangeran Sanjaya triloka dan pangeran Dehen merasa kebingungan, tidak lama Delay datang membawa ember yang terbuat dari kayu. "Maaf tuan jaya saya tidak berpihak pada siapapun silahkan lanjutkan perang tuan dan nona Dewi Lasmini saya sedang membuat kayu bakar yang hampir habis". Delay berlalu tanpa beban.
Shun Land yang tadinya ingin membuat kejutan pada istrinya jadi salah tingkah. Sang sahabat Rajawali Api mengirim suara melalui telepati. "Dasar pemuda tua pea lagi gara-gara kau aku di sebut burung bengek".
Setelah berkata sang Legenda Rajawali Api pergi melayang masuk ke dalam hutan. Semua penduduk keluar semua berkumpul melingkari Shun Land dan Dewi Lasmini.
Shun Land menjadi salah tingkah bingung mau bicara apa, "bangunlah kalian semua". Nanti malam kita akan makan bersama di sini". Shun Land berkata sambil menghampiri nyai Gora Sindula dan langsung berlutut, "terima kasih Ibu, karena kesabaran ibu saya bisa menemukan jati diri, saya pun akan segera memulai membangun istana kerajaan Galuh Sindula".
"Bangunlah tidak pantas seorang raja besar dan agung berlutut di hadapan pelayanannya" nyai Gora Sindula membangunkan Shun Land dengan kedua tangannya.
Dewi Lasmini mendengar ucapan nyai Gora Sindula menjadi salah tingkah kebingungan, lalu menghampiri pangeran Sanjaya triloka dan bertanya. "Pangeran Sanjaya sebenarnya dia itu suamiku atau Raja agung Tarumanegara ?" Ucapan Dewi Lasmini seperti berbisik.
Pangeran Sanjaya triloka menjawab dengan terus terang, "Dia adalah pendekar Legenda Rajawali Api Raja agung Tarumanegara".
__ADS_1
Dewi Lasmini jantungnya seperti berhenti ternyata dirinya salah menebak, tapi dalam relung hati yang paling dalam bertanya-tanya 'kenapa aura mustika air panca warna ada di tubuh raja Shun Land, bukankah mustika air panca warna milik suaminya'.
Telinga Shun Land yang tajam bisa mendengar apa yang di tanyakan Dewi Lasmini dia pun tersenyum dalam hati.
"Pangeran Sanjaya dan putri Sanja bagai mana kabarnya lama tidak bertemu, apa pangeran Sanjaya tahu kabar istana saya belum sempat ke istana rasanya hidup kembali setelah lama dalam pengasingan". Shun Land menghampiri pangeran Sanjaya triloka dan berpura-pura tidak mengenal Dewi Lasmini.
Dewi Lasmini dengan langkah gontai berjalan menunduk ke dalam rumah dan tidak keluar lagi nyai Gora Sindula pun mengikutinya.
Dewi Lasmini sesampainya di dalam kamar langsung membantingkan pinggulnya ke ranjang kedua telapak tangannya menutupi wajahnya sambil terisak menangis sangat sedih dan malu. Dalam hatinya bila ada suaminya mungkin kejadiannya tidak begini.
Nyai Gora Sindula mengetuk pintu. "Putri ku bukalah ibu mau bicara sedikit". Pintu terbuka. Dewi Lasmini langsung memeluk sambil terisak-isak.
"Kenapa putri ku menangis ceritakan lah". Nyai Gora Sindula bertanya keheranan.
Mendengar ucapan Dewi Lasmini nyai Gora Sindula tersenyum lalu berkata sambil menuntun Dewi Lasmini ke ranjang. Mereka pun duduk berdampingan.
"Putri ku.....! apa putri tau mengapa Nak Jaya Sempurna sangat kaya raya uangnya di bagikan tidak habis-habis". Nyai Gora Sindula bertanya dengan serius.
Dewi Lasmini yang aslinya masih lugu menggelengkan kepalanya, nyai Gora Sindula lalu melanjutkan bicaranya.
"Karena dia adalah seorang raja agung yang sakti Mandara guna, tetapi kesaktian dan agung nya dia tutupi, tapi keagungannya berganti dengan keagungan akhlak dan welas asih kepada sesama".
"Benarkah ibu, berarti selama ini yang aku omeli dan aku suruh suruh adalah raja agung Shun Land" Dewi Lasmini bertanya sambil menggoyang-goyangkan tangan Nyai Gora Sindula.
Tapi di balik rasa kaget hati Dewi Lasmini merasa senang walau pun seandainya sekarang raja Shun Land sudah tidak mau lagi kepadanya setidaknya dirinya mempunyai kenangan yang indah bersama seorang raja.
__ADS_1
"Benar putri ku dia adalah raja yang sah Kerajaan Tarumanegara dan kerajaan Kutai Martadipura di daratan Nusa Kencana". Nyai Gora Sindula memperjelas.
"Ibu terus dia masih menerima ku tidak sekarang". Dewi Lasmini semakin panik dan merasa bersalah memperlakukan suaminya bagai orang biasa.
Pintu kamar ada yang mengetuk dari luar. Dewi Lasmini berdiri dan membuka pintu, terlihat pangeran Sanjaya triloka berdiri lalu bicara.
"Maaf nona Dewi Lasmini sekarang nona harus menghadap paduka raja Shun Land di pendopo pedukuhan". Setelah bicara pangeran Sanjaya triloka langsung berlalu pergi.
"Ibu tolong temani saya menghadap paduka raja, agar hukuman ku tidak berat" Dewi Lasmini menarik tangan nyai Gora Sindula.
Memang selama ini hubungan nyai Gora Sindula dan Dewi Lasmini seperti ibu kandung dan anak kandung.
Mereka pun berjalan keluar kamar kamar saat depan pintu berpapasan dengan Delay, Delay bicara sambil berlalu seperti bicara sendiri. "Paduka raja Shun Land marahnya mengerikan". Mata Delay melirik ke arah Dewi Lasmini dan mempercepat langkahnya.
Sesampainya di pendopo di sana sudah berkumpul seluruh anggota juragan dagang utusan keadilan. Dewi Lasmini berjalan menunduk sampai di depan Shun Land langsung berlutut dan mengucapkan salam.
"Sembah bakti saya haturkan kepada paduka, mohon maaf dengan sambutan yang kurang menyenangkan hati paduka". Shun Land menatap tajam seolah-oleh marah besar.
Dewi Lasmini yang jarang berhubungan dengan para bangsawan atau pun raja menjadi benar-benar gemetar lalu berkata terbata-bata. "Paduka raja saya siap untuk di hukum tapi mohon jangan hukum yang berat hukum yang ringan-ringan saja paduka, paduka juga harus tahu bahwa saya juga masih istri paduka".
Delay membawa minuman dan makan lalu berkata, "hukum saja jangan ragu-ragu paduka raja bila perlu masukan ke kamar hukum 10 tahun jangan boleh keluar". Setelah berkata Delay cepat pergi lagi.
Dewi Lasmini yang sedang ketakutan menanti hukuman hatinya sangat jengkel sekali, "awas kau paman pembalasan ku" hati Dewi Lasmini menggerutu.
********************
__ADS_1