
"Aku setuju paduka tapi bagai mana dengan adik Dewi sumayi". Permaisuri Sari Tungga Dewi bicara dan bertanya pada permaisuri Dewi sumayi.
"Aku juga setuju karena kadang kalau lagi bosan aku kan bisa tidur bersama adik May lien". Permaisuri Dewi sumayi tidak keberatan.
Mereka pun kembali ke istana, dua permaisuri Dewi sumayi dan permaisuri Sari Tungga Dewi, kembali ke kediaman masing-masing, hanya permaisuri May lien yang tinggal di kediaman Raja muda Shun land.
Boma kembali ke kediaman sang mertua kepala pengawal istana Djata.
Malamnya pangeran Shun land mengunjungi markas Bhayangkara-1, markas pasukan khusus senyap, bekas kediaman juragan pasar tuan Upiak arai.
Markas ini di kepalai oleh kepala divisi Gustaman, jati priantoro, Wisnu dan Setyo Adi, hanya untuk saat ini mereka berempat di alih tugaskan ke markas Bhayangkara-2 di gunung pamaton bekas padepokan Tapak maut.
Perluasan kekuasaan di sana sangat pesat, mereka berempat memang di latih langsung pendekar Antaka ilmu saipi angin, hingga sangat cocok untuk tugas telik sandi.
Mengawasi daerah yang rawan kejahatan, entak perampokan atau kejahatan lainnya.
Perluasan wilayah kerajaan Kutai khal ke barat kini sudah mencapai sungai Barito. Yang di sana sangat cocok untuk membuat pusat pemerintahan kerajaan Kutai khal, ini pendapat pangeran Dehen dan pangeran Labas Paban yang memang ahli strategi kenegaraan, dan ini akan di bicarakan dengan pangeran Shun land.
Markas itu sekarang di pegang Dewi lerna. Pemimpin tiga Dewi kematian. Untuk pengelolaan kedai-kedai makan hiburan sebagai sumber keuangan operasional di pegang pendekar duo Dewi kematian Tuti Baniah dan Tuti ulwiyah.
Pangeran Shun land masuk dengan menyamar wajahnya di tutup cadar dia memasuki Markas bhayangkara lewat jalan pintu belakang.
Delapan orang sedang berlatih, mereka sangat terkejut tiba-tiba ada seorang bercadar berdiri di samping halaman melihat mereka.
Salah satu komandan pasukan melompat kehadapan pangeran Shun land, "siapa kau, apa tujuan mu mengintai markas kami".
"Hahahaha aku kesini ingin menjajal kekuatan pasukan khusus yang katanya sangat tangguh, majulah kalian semua biar aku dengan cepat memusnahkan kalian". Pangeran Shun land menggertak.
"Kau tak tau tatak rama bocah tengik, tidak perlu semua pasukan untuk meringkus mu, cukup aku saja bisa membuat mu gempor".
Komandan pasukan melompat mengayunkan pedangnya menyilang menerjang ke arah pangeran Shun land sambil berterik
"Matiii kau bangs**........!!!
__ADS_1
Satu pasukan masuk kedalam markas Bhayangkara-1, yang enam lainnya ikut melingkar mengeroyok pangeran Shun land yang memakai cadar.
Intinya pangeran Shun land ingin menjajal pasukannya, sampai di mana kemajuan olah Kanuragan para mereka.
Pangeran Shun land dengan mudah menghindar serangan itu. Melihat serangannya tak menghasilkan apa dia melompat keatas dan turun sambil mengayunkan pedang dengan seluruh Tanaga dalamnya.
Pedang meluncur cepat menimbulkan angin tebasan dingin mengiringinya. Tapi pangeran Shun land bukan pendekar kemarin sore, andai dia mau satu gerakan bisa melumpuhkan semua yang ada di situ.
Beberapa nyari lari pedang itu menghantam kepala pangeran Shun land, tubuh itu seakan-akan menghilangkan hingga tebasan vertikal menghantam angin.
"Sedang mencari apa prajurit aku di sini". Pangeran Shun land sudah berada di belakang kepala pasukan itu sambil menepuk pundak nya.
Komandan pasukan melompat berbalik wajahnya pucat pasi, andai pendekar bercadar itu menyerang balik pastinya dia sudah terbelah menjadi dua atau hancur tubuhnya.
"Apa sebenarnya tujuan pendekar ini, kenapa dia tidak menyerang balik, dengan ilmu dan tenaga dalamnya dia mampu mengalahkan ku dan pasukan ku dengan mudah tapi dia tidak melakukannya" hati komandan bergumam.
Enam pasukan anak bawahan komandan serentak menyerang dengan formasi yang mereka miliki, menyerang dan saling melindungi silih berganti, serangannya kombinasi mereka lakukan andai di hadapi pendekar pertengahan tahap ketiga itu bisa membuat binasa.
Pangeran Shun land menghindar meloncat kesana-kemari sambil sesekali menyerang dengan kecepatan yang mengimbangi pasukan tersebut.
Badrowi menyerang jurus andalannya, jurus bangau putih, tangannya yang menyerupai kepala bangau meliuk-liuk menyerang.
"Bangau menyergap mangsa....".
Badrowi berteriak sambil menyerang menyemangati diri sendiri.
Setelah di latih pendekar syair kematian Antaka dengan ilmu saipi angin, penguasaan tenaga dalamnya pun meningkat pesat dari empat ribuan lingkaran naik enam ribuan lebih lingkaran.
Pangeran Shun land senang sekali pasukannya khusus senyap nya berkembang dengan pesat. Dia meladeni serangan Badrowi hanya dengan kecepatan mengimbanginya.
Sekali Badrowi harus jatuh bangun untuk menghindari serangan balik pendekar bercadar ini.
Nafas Badrowi terengah-engah, setelah melompat mundur menghindari serangan tapak harimau kumbang yang di gunakan pangeran Shun land.
__ADS_1
Badrowi mengerutkan keningnya seakan mengenal jurus ini tapi dia tidak mengingat secara detil.
Badrowi mengabaikan ingatan itu dia menyerang lagi dengan jurus pamungkas Bangau putih menerjang badai dan menggabungkan ilmu saipi anginnya yang di dapat dari pendekar syair kematian Antaka.
"Bangau menerjang badai"...
Tubuhnya seperti terbang dengan tangan kanan menekuk seperti kepala bangau dan tangan satunya sama tetapi sedikit di tarik kebelakang.
Kecepatan jurus bangau putih yang di dasari ilmu saipi angin mempunyai efek kecepatan dan kerusakan tidak bisa di anggap enteng.
Pangeran menghindari dengan mudah karena bagai manapun tingkatan perbedaan kekuatan yang sangat jauh. Apa lagi setelah pangeran Shun land menyempurnakan dengan berlatih di Dimensi penyakit hati atau dimensi iblis hati.
Di saat pangeran Shun land menghindar sekilas mata Badrowi melihat sebuah lencana di pinggang pangeran Shun land.
Serta Merta Badrowi langsung berlutut dan berkata. "Salam hormat dan sembah bakti kepada paduka Raja, maaf telah lancang berani menyerang paduka".
Serentak pasukan yang ada di sana berlutut mengikuti guru mereka.
"Salam hormat paduka dan sembah bakti terima kasih telah memberikan pelajaran kepada kami".
Pangeran Shun land melepas cadarnya.
"Bangunlah aku hanya ingin menguji kalian, di mana bibi Dewi lerna apa dia ada di sini".
Pangeran Shun land memerintahkan anak buahnya untuk berdiri dan menanyakan kepala pasukan Bhayangkara-1 Dewi kematian Dewi lerna.
Dua pelayan membawa nampan berisi buah-buahan dan minum hangat, tidak lama ketua pasukan Bhayangkara-1 Dewi lerna bersama pelayan pribadinya pelayan Dasem datang dengan tergopoh-gopoh.
"Iih sudah kebiasaan paduka raja kalau datang tidak memberi kabar terlebih dahulu". Dewi Lerna dan pelayan Dasem berlutut dan memberi hormat
"Bangunlah sudah ku katakan jangan seperti di istana, bersikaplah biasa saja bibi". Pangeran Shun land menjawab.
"Paduka sangat rendah hati, ada apakah gerangan paduka sampai ke datang sendiri kesini tidak mengutus prajurit istana". Dewi Lerna setelah duduk dan mempersilahkan pangeran Shun land mencicipi hidangan bertanya akan keprluan pangeran Shun land.
__ADS_1
...****************...