LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
173. Rencana licik Niraya Sura.


__ADS_3

Shun land memberi tahukan tempat dan waktunya. Setelah pembicaraan selesai mereka kembali ke penginapan.


Di bangunan termegah di tengah kota guha pawon Niraya Sura sedang mengadakan pembicaraan tentang peraturan kompetisi pendekar muda persilatan.


Di sana telah hadir pendekar pedang setan dan Pendekar Badak liar selain pendekar Gelap ngampar sebagai tuan rumah.


Juragan Upiak arai duduk di samping Niraya Sura di sebelahnya Maasiak yang berganti nama Asma Sangkuni,


Pendekar pedang setan Nyai Andita telah pulih kondisinya dari pertempuran dengan Shun land di penyebrangan sungai Citarum.


Duduk di sebelah kanan Nyai Andita si pedang setan ada pendekar Badak liar Arya Teja di sebelahnya lagi ada Ki Kartolo si golok iblis dari perguruan Golok setan dari gunung Kawi.


Empat perguruan besar telah menjadi kaki tangan Niraya Sura. Niraya Sura bicara dengan tegas. "Ki Saron bagai mana dengan perguruan Semeru apa mereka mau bergabung dengan kita".


"Setelah saya mendengar penjelasan dari utusan yang pergi kesana mereka memilih tidak memihak dan tidak akan mengirimkan utusan untuk mengikuti kompetisi pendekar muda persilatan ini". Ki Saron memberi keterangan.


"Bagai mana dengan perguruan Cimande di kaki gunung salak dan perguruan Gajah Mungkur apa jawaban mereka". Niraya Sura meneruskan pertanyaan.


"Menurut Bandi dan ketiga temannya perguruan gajah Mungkur dia tidak memberi jawaban sedangkan perguruan Cimande tuan Asma Sangkuni yang mendatangi".


Ki Saron memberi jawaban.


Maasiak segera menimpali. "Tuan Niraya Sura saya telah bicara langsung dengan guru besar Aria natanagara dia akan datang mengikuti kompetisi pendekar muda persilatan tetapi dia tidak bersedia bergabung dengan kita dia ingin bebas tidak terikat pada suatu golongan".


"Dalam hal ini kita akan menjebak mereka yang tidak mau bergabung dengan kita, kita bunuh mereka karena akan menjadi batu sandungan untuk menguasai daratan luas Dwipa ini, Ki Saron siapkan seluruh kekuatan kita untuk mengepung arena pertandingan",


Niraya Sura keluar sifat licik dan kejamnya.


Hari pertandingan kompetisi pendekar muda persilatan tinggal dua hari lagi di gerbang kota guha pawon tiga kuda berhenti menunjukkan undangan kompetisi dari perguruan gelap ngampar.

__ADS_1


Mereka pun di persilahkan masuk ke kota, belum jauh mereka melangkah dari gerbang kota guha pawon seorang pemuda menghampiri lalu sambil berjalan menawarkan suatu penginapan.


"Tuan apakah tuan-tuan membutuhkan penginapan sampai kompetisi pendekar muda persilatan di mulai". Sang pemuda berkata sambil berjalan mengikuti langkah kuda yang berjalan.


"Apakah kamu tahu penginapan para pendekar yang mengikuti kompetisi aku ingin menginap bersama mereka". Salah satu pendekar yang paling tua balik bertanya.


"Kebetulan sekali tuan pendekar tujuh hari yang lalu ada sepuluh pendekar yang datang menginap di penginapan kami mereka berkata berasal dari perguruan Ciomas dan perguruan macan putih tapi yang tidak tiga lagi kami tidak tahu". Jawab pemuda itu.


"Baiklah antar aku kesana dan pesankan satu kamar untuk kami bertiga dekat dengan mereka". Pendekar memberi keputusan.


Mereka bertiga mengikuti pemuda itu menuju penginapan yang di sana ada Shun land beserta rombongan.


Setelah mendaftar dan membayar untuk tiga hari tiga malam tiga pendekar itu masuk di antara ke lantai 2 menuju kamar yang bersebelahan dengan kamar rombongan Shun land.


Sebelum sampai mereka melewati ruangan makan satu suara memanggil salah satu pendekar itu.


"Ki Aria natanagara kebetulan sekali kau menginap di sini". Suara itu dari Ki Mahisa taka yang sudah mengenal salah satu dari ketiga pendekar itu.


"Ki Mahisa taka bagai mana kabar mu lama kita tidak latih tanding". Ki Aria natanagara berkata sambil menghampiri Ki Mahisa taka bersama dua muridnya yang sedang bersantai sambil meminum secangkir teh.


"Kabar ku baik-baik saja bagai mana kau bisa terlambat, aku mampir ke perguruan mu tapi tidak kau sedang ke daerah ujung kulon menurut istri mu". Ki Mahisa taka menjawab.


Ki Mahisa taka menyuruh muridnya untuk memesan tiga porsi makanan untuk Ki Aria natanagara dan kedua muridnya yang sedang menuju kamarnya.


Sebelum menjawab Ki Aria natanagara menengok kanan kiri lalu berbicara pelan sambil mendekatkan wajahnya ke Ki Mahisa taka.


"Aku pada saat itu menemui Sesepuh Ki Srengga di ujung kulon, aku di beri wejangan untuk bergabung dengan muridnya yang terakhir Satria Nusa kencana apa dia menginap di sini". Ki Aria natanagara berkata setengah berbisik.


"Dia menginap di sini nanti setelah makan kita akan menemuinya di kamarnya mungkin kau ingin menyampaikan sesuatu".

__ADS_1


Ki Mahisa taka menjawab di balas dengan anggukan oleh Ki Aria natanagara tidak ada pembicaraan lagi kedua murid Ki Aria natanagara Danur dan Praja datang setelah mengetahui kamarnya.


Tidak lama kemudian para pelayan datang mengantarkan pesan, mereka bertiga makan dengan lahap mungkin mereka tidak sempat makan di dalam perjalanan.


Setelah selesai makan mereka berdua melangkah ke kamar Shun land, Ki Mahisa taka mengetuk pintu tidak berapa lama pintu terbuka.


"Silahkan sepuh masuk". Shun land mempersilahkan Ki Mahisa taka dan Ki Aria natanagara ke dalam pintu di tutup kembali.


"Silahkan duduk sepuh maaf tidak bisa menghormat dan ada keperluan apa sepuh menemui saya". Shun land mempersilahkan tamunya dan bertanya.


Ki Aria natanagara pendekar nomor dua setelah Leluhur Ki Srengga bukannya duduk tapi segera memegang bahu Shun land sambil mengalirkan tenaga dalamnya memeriksa tulang dan peredaran darah Shun land.


Shun land hanya diam nalurinya mengatakan bahwa sepuh yang di depannya bukan orang jahat.


Ki Aria natanagara melepaskan tangannya lalu berkata. "Kau benar Ki Mahisa taka dia orang yang aku maksud, nak mas Satria murid Leluhur Ki Srengga".


Ki Aria natanagara bertanya ingin memastikan lagi langsung.


"Betul sepuh saya Satria Nusa kencana dari daratan luas Kalimantan kalau boleh tahu siapakah sepuh ini". Shun land menjawab.


Pertanyaan Shun land di jawab oleh Ki Mahisa taka. "Dia adalah guru besar perguruan Cimande Ki Aria natanagara nak mas Satria".


Mereka bertiga duduk di kursi tamu dalam kamar, Ki Aria natanagara menceritakan semua dari awal dia bermimpi ketemu dengan gurunya memerintahkan dia untuk menjumpai leluhur ki Srengga di ujung kulon


Setelah bertemu Leluhur Ki Srengga dia di beri wejangan untuk menyusul ke perguruan Gelap ngampar dan bergabung dengan Satria Nusa kencana.


Ki Aria natanagara menyampaikan pesan pada Shun land dari leluhur Ki Srengga untuk berhati-hati kompetisi pendekar muda persilatan ini di khawatirkan jebakan.


"Terima kasih sepuh telah mempercayai saya dan menyampaikan pesan dari guru saya, dalam hal ini saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya". Shun menimpali ucapan ki Aria natanagara.

__ADS_1


Ki Mahisa taka dan Ki Aria natanagara pamit untuk beristirahat setelah selesai tidak ada lagi yang perlu di bicarakan.


---------------*****-----------------


__ADS_2