LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
133. Tempat mustika air panca warna


__ADS_3

Pangeran Shun land tidak mengetahui bahwa tadi sang Rajawali Api terbang terlalu rendah jadi membuat geger orang seisi pelabuhan.


Naga bumi Sabui berenang di dalam air menuju ke timur di ikuti oleh sang Rajawali api dari atas.


Setelah sampai di pantai naga bumi Sabui merentangkan sayapnya di terbang rendah melintas hutan mangrove ke arah Utara tidak lama dia hinggap di tanah datar di tengah rawa.


Lebar rawa itu sekitar sekitar seribu Depa persegi di tengahnya ada semacam pulau kecil sekitar seratus depan persegi lima.


Sang Rajawali api hinggap di sebelah Naga bumi Sabui, "kau tidak salah naga bumi Sabui mustika air panca warna ada di sini". Sang Rajawali Api mempertanyakan hal mustika air panca warna.


(Letaknya naga bumi Sabui tunjukan. sekarang ini adanya di percandian, candi Blandongan, dan candi jiwa di daerah barat Karawang, di sebelah barat candi jiwa sekitar lima puluh meter ada percandian yang belum di pugar di sana ada satu sumur tua lebar garis tengah sekitar 70 Senti meter. Sumur bata tersebut, batanya sama dengan bata candi tersebut, menurut perkiraan para ahli sumur di buat bersamaan dengan candi tersebut, tes uji karbon usia candi tersebut sekitar 200 MS sampai 400 MS).


"Kau tidak bisa merasakan keberadaan mustika air panca warna tersebut" naga bumi Sabui bertanya serius.


"Kau ini pikun apa pura-pura lupa, aku ini mempunyai kekuatannya api mana mungkin bisa merasakan mustika air panca warna yang bertipe air". Sang Rajawali Api sedikit dongkol hatinya.


"Ikuti aku" naga Bumi Sabui berjalan ke sisi Utara agak ke barat, setelah dekat yang di tuju di sana ada sebuah sumur dengan garis tengah satu satu Depa, "tuan muda Shun land akan bermeditasi di tepi sumur ini sampai mustika air panca warna mengakui bahwa dia sebagai tuannya".


Naga bumi Sabui menjelaskan pada sahabatnya sang Rajawali Api.


 


Sebuah kapal melaju menuju pinggir dermaga salah satu kru kapal melemparkan tali seorang petugas pelabuhan mengikat tali tersebut pada tiang pancang.


Pangeran Shun land, pangeran Makkamaru, putri Dian Prameswari dwibuana, Boma Nahkoda Lemo-lemo, mereka turun dengan perahu keci di susul dengan kru kapal lainnya.


Sebuah bangunan berdiri terbuat dari kayu dengan kokoh, di samping kiri dan kanan bangunan bertingkat dua dan tiga terlihat dari tulisannya itu sebuah penginapan.


"Tuan Satria tunggu di sini, saya akan mendaftarkan sekaligus membayar uang sandar satu bulan di sini". Nahkoda lemo-lemo berjalan tidak menunggu jawaban.


Satu pasangan mata memperhatikan pangeran Shun land dan rombongan alisnya sedikit berkerut, "mengapa tidak aura api yang keluar apa dia menyembunyikannya".


Dia adalah Ki Bajul pakel yang menduga bahwa yang datang adalah manusia pilihan yang akan memimpin perang besar melawan Angkara murka dan ketidak Adilan.


Tidak lama Nahkoda Lemo-lemo kembali lalu mengajak mereka menuju Rumah makan yang sudah menjadi langganan di pelabuhan Tarumanagara.

__ADS_1


Seperti biasanya Boma yang berpakaian bangsawan berjalan di depan beriringan dengan Nahkoda Lemo-lemo.


"Tuan Boma akan senang dengan pelayanan rumah makan yang satu ini". Nahkoda lemo-lemo berkata pada Boma.


Ki Bajul pakel yang memperhatikan tercengang mengapa manusia pilihan itu berbadan tambun itu tidak sesuai dengan prediksinya.


Rombongan pangeran Shun land masuk di salah satu rumah makan terbesar di antara rumah makan yang berjejer.


Rumah makan ini mirip dengan kedai bunga mawar merah di pelabuhan Kutai khal, ada tiga lantai tersedia di sana, dari yang biasa sampai yang kelas VIP.


Boma di sambut salah seorang pelayan cantik sekitar usia 25 tahunan, pelayan ini tersenyum manis menyambut Boma yang di sangka kepala Rombongan tersebut.


"Silahkan masuk, tuan akan memilih lantai kelas 2 apa lantai kelas 3", pelayan itu memberi pilihan.


Dengan gaya khas Bangsawannya Boma menjawab. "Saya pilih kelas 2 tolong layani semua pengikut ku dengan baik".


"Silahkan tuan ikuti saya" Boma segera di gandeng oleh pelayan cantik berambut ikal berkulit kuning Langsat.


"Hmmm" pangeran Makkamaru berdehem sedikit keras, Putri Dian Prameswari dwibuana berkata, "paman Lemo-lemo istri paman sedang mengandung sudah lima bulan, semoga anak istri paman tidak melihat laki-laki yang tidak setia". Suara. Putri Dian Prameswari dwibuana sedikit keras.


Boma melirik dengan pandangan kesal.


Yang lainnya memilih meja di sampingnya.


Di sebelah ujung lainnya ada seorang pendekar dengan topi terbuat dari anyaman Bambu menutupi sebagian wajahnya.


Di luar rumah makan semua orang terburu-buru masuk rumah dan mengunci pintu.


Satu buah kapal berbendera hitam dengan gambar tengkorak di tengahnya melaju dengan pelan, satu kru kapal meloncat ke pinggir dermaga yang lainnya melemparkan tali pancang.


Satu orang melompat berjumpalitan di udara dan mendarat di pinggir dermaga, walau tubuhnya tambun dia sangat gesit dan ringan.


Pengawakan sedikit pendek badan subur wajah berkumis besar kepada di ikat dengan kain warna hitam.


Empat orang melompat dari kapal mengikuti jejak sang ketua Meraka, salah satu dari mereka berkata pada ketuanya, "ketua ternyata kehadiran kita kali ini tidak ada yang menyambut dengan hangat".

__ADS_1


Ketua yang bertubuh tambun itu hanya mengangguk, "kita kerumah makan itu, mungkin pemilik kapal mewah ini sedang makan di sana". Ki Tarpa ketua bajak laut Karimun hitam. Memerintah.


Mereka berlima masuk ke rumah makan yang di sana ada rombongan pangeran Shun land dan Ki Bajul pakel.


Para tamu rumah makan itu panik ketakutan, mereka mengetahui bajak laut Karimun hitam sangat kejam dan arogan.


Begitu masuk Bodil anak buah ki Tarpa langsung berkata dengan keras, "Mana di antara kalian pemilik kapal pinisi yang bersandar di dermaga".


Semua menggelangkan sangat ketakutan. Bodil menggebrak meja hingga hancur.


Di lantai dua Boma dan rombongan tenang-tenang saja tidak terpengaruh suara keributan.


Boma segera bicara, "Satria Nusa kencana dan kau pendekar Makkamaru tolong perisa yang membuat keributan di bawah kalau mereka melawan bunuh saja". Dalam hati Boma kapan lagi waktunya menyuruh-nyuruh adik angkatnya ini kalau bukan sekarang.


Putri Dian Prameswari dwibuana melotot kearah Boma, pangeran Shun land tidak banyak bicara langsung berdiri di ikuti pangeran Makkamaru.


Mereka berdua turun ke lantai bawah Ki Bajul pakel pun ikut turun.


Pangeran Shun land berjalan dengan tenang mengahampiri kelompok bajak laut Karimun hitam,


Pangeran Shun land lantas bicara "mana ketua bajak laut Karimun di antara kalian, ada satu pesan yang harus aku sampaikan cepat jangan membuang waktu ku". Pangeran Shun land sambil bicara mengeluarkan aura api abadinya mengintimidasi mereka berlima.


Ketua bajak laut Karimun hitam gemetar mendapat tekanan aura yang jauh lebih tinggi dia segera mendekat "saya tuan ketua dari bajak laut Karimun hitam".


Semuanya terpana tidak menyangka anak muda tampan berkulit kuning Langsat ini bisa menakuti kepala bajak laut Karimun hitam yang ganas dan kejam.


Setelah dekat pangeran mendekatkan wajahnya dan berkata dengan pelan.


"Paman Sarpa menyuruh kalian menunggu di sini, kalian yang membangkang tahu akibatnya, turunkan bendera bajak laut kalian jangan bikin onar di sini".


Ki Tarpa gemetar tubuhnya mendengar nama Sarpa bagai melihat hantu, Ki Tarpa adalah adik seperguruan Sarpa ketua bajak laut Karimun.


Bajak laut Karimun sendiri terdiri dari empat kelompok 1.bajak laut Karimun hitam 2.bajak laut Karimun kuning. 3.bajak laut Karimun biru. 4.bajak laut Karimun merah yang di ketuai langsung Sarpa yang sekarang menjadi panglima armada laut kerajaan Kutai khal.


Ki Tarpa langsung berbalik hendak keluar Bodil penasar bertanya "ketua ada apa ? kita belum mendapatkan apa-apa dari sini".

__ADS_1


Tapi Bodil di bentak dengan keras. "Diam kau ikuti aku". Bodil dan ketiga lainnya mengikuti langkah ketua mereka yang keluar dari rumah makan tersebut.


...****************...


__ADS_2