LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
346. Jaya Sempurna 79. Bertemu dengan murid Ki Wirantaka Jatnika dan Santaka


__ADS_3

Pangeran Jaya Singa triloka langsung ke kediaman leluhur Ki Birawa. Pintu terbuka mata Ratu Prameswari dwibuana terbuka lebar melihat gadis cantik berkulit kuning Langsat bermata jeli, "Ibu ini putri Sapta putrinya Raja Taksaka".


"Putri ibu cantik sekali sini sayang" Ratu Prameswari dwibuana melambaikan tangannya, putri Sapta melangkah ke depan dan bersedeku tangannya merangkul pada Ratu Prameswari dwibuana.


"Ibu restui kami dan izinkan pangeran Jaya Singa triloka hidup bersama saya" Putri Sapta menangkupkan kedua tangannya dan menundukkan badannya dengan tangan di menempel dahinya.


"Bangunlah putriku restu kami berdua bersama kalian, ibu rela anak ibu hidup bersama mu". Ratu Prameswari Dwibuana memegang wajah putri Sapta dengan kedua tangannya dan mengangkatnya meletakkannya di pipinya.


Leluhur Ki Birawa tidak bisa berkata-kata matanya berkaca-kaca hatinya terharu melihat pangeran Jaya Singa triloka mendapat calon istri yang mempunyai kesamaan dengannya.


Mereka pun berjalan menuju aula besar dan tinggi hanya aula itu pangeran Jaya Singa triloka tidak berjalan tidak menunduk. Memang aula itu di buat sedemikian rupa agar pangeran Jaya Singa triloka merasa nyaman dan tidak merasa berbeda.


Dalam setiap generasi keluarga Ratu Prameswari Dwibuana ada yang memiliki tubuh besar tinggi meniru leluhur mereka dari garis ibu Dewi Sapta sedangkan kebanyak keturunan Pangeran Cakrawala dan Dewi Sapta mempunyai tubuh manusia biasa.


Perlu di ketahui istri pangeran Cakrawala bernama Dewi Sapta, sedangkan putri dari Raja manusia purba raksasa Taksaka bernama Putri Sapta, ini hanya mempertegas saja biar tidak tertukar.


Di dalam aula besar sudah duduk berbaris Shun Land dan Dewi Lasmini beserta rombongan yang tidak terlihat hanya Lamsijam dan Pataya beserta ke4 anak buahnya mereka sedang mempersiapkan kuda untuk berkeliling ke penduduk di sekitar istana.

__ADS_1


Setelah selesai merekapun bergabung dengan Shun Land dan Rombongan yang di sana sudah berkumpul dan memulai makan. Nyai Karmia memberikan piring yang berisi nasi dan lauknya kesukaan suaminya.


Dalam kesempatan itu pun Shun Land berpamitan pada Dewi Lasmini dan Leluhur Ki Birawa dirinya dan Lamsijam akan pergi ke gunung Sumbing ingin mengurus sesuatu. Leluhur Ki Birawa yang ingin bicara empat mata berusaha menahan diri karena yang akan di bicarakan sangatlah rahasia.


"Tuan Jaya Sempurna setelah pulang dari gunung Sumbing berikan yang tua ini waktu untuk membicarakan sesuatu, dan jangan khawatir Nona Dewi Lasmini dan rombongan akan di dampingi pangeran Sanjaya triloka dan Pramuja dan murid-muridnya untuk membantu melakukan kegiatan-kegiatan Darma bakti sesama". Leluhur Ki Birawa berkata serius.


"Terima kasih leluhur jangan khawatir setelah urusan saya selesai saya akan meluangkan waktu seluas-luasnya kepada leluhur, saya rasa tidak akan memakan waktu tidak lama". Shun Land menjawab dengan hati-hati.


Shun Land dan Lamsijam memilih menunggang kuda tapi ketika mereka berdua akan keluar gerbang di kejar oleh Aji Wisesa dan Aji Wijaya, "Tuan jaya tunggu saya ikut". Shun Land yang akan keluar gerbang menghentikan kudanya.


"Ada pa kakang Aji Wisesa tiba-tiba ingin ikut dan tadi malam kemana tidak ikut makan bersama". Shun Land cepat bertanya. Aji Wisesa cepat menjawab.


"Perguruan Nenek nenek yang satu ini sangat sudah keterlaluan, belum lama ini menyerang perguruan Macan putih dan membunuh paman Wirantaka dan perguruannya di hancurkan tak tersisa, sekarang menyerang perguruan langit ini tak bisa di biarkanlah". Shun Land berkata dalam hati, lalu menjawab Aji Wisesa.


"Silahkan kakang itu lebih bagus karena kakang yang lebih mengenal daerah ini bisa menjadi penunjuk jalan agar lebih cepat sampai. Akhirnya mereka berempat keluar dari gerbang dan memacu kuda mereka dengan cepat.


Setelah keluar dari kawasan utama istana kebangsawanan Wajak sampailah di lembah paling barat terlihat puing-puing bangunan perguruan Macan yang di bakar habis oleh Dewi Andita si pedang setan, Shun Land memelankan lari kudanya matanya menatap bekas berdirinya perguruan Macan putih anggota koalisi perguruan Dunia persilatan dengan Kerajaan Tarumanegara, di sana juga ada Ki Wirantaka yang banyak berjasa ikut bagian menjaga keamanan wilayah demi kedaulatan kerajaan.

__ADS_1


Hati Shun Land niatnya semakin kuat untuk mengunjungi perguruan pedang setan di gunung ceremai, Shun Land berasumsi bahwa perguruan pedang setan menjadi berkembang pesat pasti ada yang menyokong dana dan keilmuannya Shun Land benar-benar bertekad akan mengusut ini sampai tuntas.


Sedang berjalan pelan menatap puing-puing bangunan terlihat oleh Shun Land ada dua orang sedang duduk bersila di depan sebuah makam, setelah dekat Shun Land mengenalinya mereka berdua adalah kedua murid utama Ki Wirantaka, Jatniko dan Santaka.


Mendengar langkah kuda Keduanya menoleh begitu melihat Shun Land keduanya berdiri dan berbalik badan lalu berlutut, "Rupanya sang maha Pencipta sedang menunjukkan jalan sehingga mengirim paduka raja Shun Land ke hadapan saya".


Shun Land langsung turun dari kudanya dan berkata dengan mengeluarkan aura air dari tubuhnya untuk mengelabuhi Jatniko dan Santaka. "Kalian telah salah orang aku memang mirip raja Tarumanegara yang pengecut itu tapi aku ingin menawarkan suatu kebaikan pada kalian berdua, ooh iya Ki Sanak kenalkan Nama ku Jaya Sempurna dari negeri Swarna Bumi, bagai mana apa kau tertarik....?".


Jatniko dan Santaka mata memperhatikan gaya bicara dan gaya tingkah laku Shun Land dengan sembunyi-sembunyi yang terpenting Jatniko dan Santaka pun merasakan aura air yang kuat hingga mempercayai ucapan Shun Land.


"Tuan pendekar Jaya Sempurna, tuan belum menyebutkan pekerjaan apa yang tuan tawarkan kepada kami berdua". Jatniko menjawab tawaran Shun.


"Hahahaha saya lupa menyebutkan pekerjaannya karena melihat puing-puing bangunan ini, saya sedang merekrut banyak orang yang berilmu tinggi untuk menjadi pengawal istri saya berdagang agar aman dalam perjalanan tenang masalah upah tidak akan mengecewakan dan kebutuhan hidup saya yang jamin bagai Ki sanak". Shun Land berkata sambil pura-pura meneliti kemampuan ilmu olah Kanuragan mereka berdua.


Jatniko melirik ke arah Santaka kali ini Santaka ikut bicara. "Tuan Jaya kami bukan hanya berdua ada 22 lagi saudara-saudara seperguruan kami yang baru saja di tinggalkan oleh guru kami di bunuh oleh si pedang setan Dewi Andita, kami semua akan siap menjadi pengawal istri tuan dan tidak perlu membayar kami semua dengan satu permintaan,.....


,........ yaitu tuan Jaya membalaskan dendam kami ke pada si pedang setan dan menghancurkan perguruan pedang setan hingga seperti perguruan kami ini, saya melihat tuan Jaya Sempurna mempunyai ilmu yang lebih tinggi dari kami dan tenaga dalam yang tidak bisa saya ukur".

__ADS_1


************************


__ADS_2