
Ketiganya membungkuk memberikan Hormat pada ke empat Ras manusia purba raksasa. Permaisuri Sari Tungga Dewi menghampiri ratu Arimbi dan berdiri di depannya mereka sejajar wajahnya padahal Ratu Arimbi duduk bersimpuh di hadapan Nyai Gora Sindula dan Dewi Darmawati.
"Terima kasih Ibu Ratu Arimbi dan Arimba telah mendirikan istana sangat besar dan megah untuk kami semua umumnya untuk seluruh Negeri Sundaland khususnya untuk Ratu Galuh Sindula dan Kakang Prabu Jaya Sempurna dan kami istri-istrinya".
Setelah bicara permaisuri Sari Tungga Dewi mendekati dan memeluk Ratu Arimbi dan Arimba kemudian menghampiri putri Sarpa. Permaisuri Sari Tungga Dewi memegang kedua pipi putri Sapta dan menciuminya.
"Putri sangat cantik mengemaskan kakak jadi iri ingin seperti putri bertubuh besar jadi ketika kakang Jaya nakal bisa kakak banting". Permaisuri Sari Tungga Dewi bicara bercanda. Putri Sarpa menimpalinya.
"Sebaliknya saya ingin mempunyai tubuh kecil seperti kakak bila kakang Jaya Singa Triloka pergi bisa menyelinap di bawah kantong celananya". Putri Sarpa melirik ke arah pangeran Jaya Singa Triloka, Semuanya tertawa.
Suara pintu berderit dari arah belakang kursi singgasana Keprabon Shun Land dan Ratu Galuh Sindula keluar berjalan beriringan. Semua mata tertuju pada keduanya.
Keduanya mengeluarkan pamor kekuningan tidak ada yang mampu memandang langsung keduanya kecuali ketiga permaisuri. Shun Land sambil berjalan mendekat bicara. "Sepertinya ada yang membicarakan diri ku dan ingin membanting diri ku, jelaskan apa saja diri ku".
"Salahnya jelas satu telah meninggalkan tanpa satu kata pun kesalahan kedua adalah telah meniduri seorang putri dan tidak mau menikahinya sampai sekarang". Permaisuri Sari Tungga Dewi berkata tanpa ragu-ragu.
Ratu Galuh Sindula memandang wajah Shun Land dengan pandangan yang tajam sampai ke dalam jantung Shun Land.
__ADS_1
"Nyai Dewi Pakuan dulu memandang dan ponis kakang bertemu putri Serindang bulan ketika kakang belum memperistri Nyai Dewi, tidak benar kakang tidak mau menikahinya tetapi belum ada kesempatan karena sesuatu hal". Prabu Jaya Sempurna menjelaskan.
"Masalah ini belum tuntas kita berempat akan menyidang kakang lain waktu". Ratu Galuh Sindula berkata dengan tegas.
"Mati kau pemuda semprul, orang pada bekerja malah enak-enak tidur, rasakan waktunya penyiksaan tiba". Sang legenda Rajawali Api berkata pada batin Shun Land.
Shu Land tidak meladeni ocehan sang Legenda Rajawali Api sahabatnya. Pangeran Sanjaya triloka dan Lamsijam datang ingin memberi laporan bahwa 70 kerbau dan 163 Banteng hutan siap di sembelih untuk acara makan bersama raja manusia purba raksasa Taksaka dan rakyatnya.
"Sang prabu area depan dan samping istana telah menjadi lapang yang sangat luas berkat Raja Taksaka dan rakyatnya mereka menebang hutan dengan cepat dan dua ratus lebih kerbau dan banteng hutan sudah di sembelih untuk makan bersama mereka sudah memulai mengulitinya dan menyiapkan perapian untuk memanggangnya". Pangeran Sanjaya triloka memberikan laporan secara terperinci.
Shun Land dan yang lainnya keluar dari istana begitu keluar dari gerbang luar terlihat hamparan lapangan yang sangat luas sisi kiri dan kanan ada sekitar 2 hektar sedangkan di depan istana ada sekitar 3 hektar, kayu-kayu di tumpul secara rapi di samping belakang istana.
Selain itu permaisuri Sari Tungga Dewi mengatur kepala dapur dan merekrut beberapa puluh wanita dari murid Dewi Sukma untuk menjadi pengawal istana. Dan untuk pelayan dan juru masak istana akan mengambil dari istana Sundapura dan pekerja nyai Gora Sindula di penginapan Kalingga di pedukuhan Asemarang.
Hari beranjak siang matahari sudah berada di kening(bahasa jawanya sengenge Ning batuk). Datang dua orang kusir membawa dua buah kereta kecil dan besar yang kelelahan.
Mereka berdua di gendong oleh rakyat raja Taksaka dan kedua keretanya di angkat oleh dua orang masing-masing kereta. Keduanya di letakkan di teras istana, para murid Jatniko memberikan air dan makanan. Mereka berdua pun makan dengan lahap. Mereka habis di kejar hewan buas dan di tolong manusia purba raksasa yang sedang berburu kerbau dan banteng hutan.
__ADS_1
Tidak lama suara gemuruh kaki kuda dan asap mengepul mendatangi kawasan istana.
Pertama muncul pangeran Makkamaru di ikuti sebuah kereta kemudian kereta-kereta peralatan dan kereta-bahan makan setelah itu seribu prajurit berkuda mengiringi di susul prajurit jalan kaki yang di persenjataan lengkap, ada yang bersenjata panah, bersenjata pedang dan lainya.
Mata pangeran Makkamaru dan putri Dian Prameswari Dwibuana terbelalak melihat sekumpulan manusia purba raksasa mereka berdua yang merasa kuat karena membawa 3000 prajurit lengkap dengan berbagai senjata dan memiliki seribu pasukan berkuda, sekarang hatinya ciut pasukannya bulan apa-apanya di bandingkan dengan rakyat raja Taksaka belum lagi di kalangan laki-lakinya tingkatan tenaga dalam mereka paling rendah 70ribu lingkaran.
Pangeran Jaya Singa triloka melihat pangeran Makkamaru langsung menyongsong karena memastikan di dalam kereta ada kakak perempuannya Putri Dian Prameswari Dwibuana, walaupun belum pernah berjumpa tatapi putri Dian Prameswari Dwibuana mengirimkan lukisan Suaminya.
Setelah sampai di depan pangeran Makkamaru pangeran Jaya Singa triloka langsung membukukan badan tanda menghormat. "Salam hormat pada kakang Makkamaru saya adik Dari putri Dian Prameswari Dwibuana menghaturkan sembah bakti". Pangeran Makkamaru tidak bereaksi tertegun melihat manusia purba raksasa yang sangat besar dan tinggi.
Tetapi yang bereaksi putri Dian Prameswari Dwibuana yang langsung meloncat turun dan berkata, "adik ku pangeran Jaya". Putri Dian Prameswari Dwibuana meloncat keatas atas dan di tangkapan pangeran Jaya Singa triloka dan di peluknya.
"Mana istri mu, kata adik Sanjaya triloka kau sudah beristri dengan paras sangat cantik kenalkan 0ada kakak". Putri Dian Prameswari Dwibuana nyerocos dengan pertanyaan.
Adegan ini seperti seorang bapak mengendong anaknya. Sampai di hadapan Shun Land putri Dian Prameswari Dwibuana turun dari gendongan pangeran Jaya Singa triloka.
"Salam hormat dan sembah bakti pada Prabu Jaya Sempurna". Putri Dian Prameswari Dwibuana memberi salam. "Bangunlah putri, tapi seperti ada yang kurang". Shun Land menjawab salam lantas berjalan ke depan menghampiri pangeran Makkamaru yang sedang mengatur pasukan mendirikan tenda dan berbagai keperluan lainnya.
__ADS_1
Shun Land mendatangi kereta yang naiki putri Dian Prameswari Dwibuana begitu lebih dekat seorang anak perempuan keluar dan berlari. "Paman raja Pratiwi kangen ingin di gendong, Pratiwi tunggu tunggu paman tak datang-datang, kaya ayah paman kebanyakan istri". Pratiwi bicara dengan polosnya.
*********************