LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
69. perjalanan baru pangeran Shun Land 7


__ADS_3

Dialah Dewi Lerna salah satu dari tiga Dewi kematian, yang telah berhasil memperalat istri dan pejabat tinggi tetua Menteng.


Nyonya sari jari mengambil salah satu perhiasan yang dirasa bagus, dia hanya mengambil satu.


"Ini sudah cukup nona Dewi"


"Kalau nyonya masih ada yang suka silahkan pilih lagi nyonya" Dewi Lerna menawarkan dengan senyum ramahnya.


"Sudah cukup, nona kemana lagi setelah dari sini, nona Dewi" nyonya sari jati bertanya.


"Nyonya, apa nyonya tidak ingin melihat kedai bunga melati milik nyonya, kan nyonya baru sekali melihatnya, itu waktu pembukaan"


Dewi Lerna membujuk nyonya sari jati.


"Baiklah nona Dewi"


"Tapi nyonya sari jati jangan kaget dengan perubahan yang ada, itu semua demi, keuntungan yang besar bisnis kita....


coba nyonya bayangkan kalau mengandalkan penghasilan tuan tetua Menteng, bisakah nyonya membeli perhiasan yang begitu bagus....


Uang yang buat membeli perhiasan itu adalah hasil dari kedai bunga melati dua hari nyonya, bayangkan kalau setahun bisnis kita ini jalan, berapa kayanya nyonya nanti"


Mendengar keterangan dari Dewi Lerna nyonya sari jati sangat kaget dan gembira di hatinya.


"Baiklah, saya akan percaya apapun yang nona Dewi Lerna lakukan, demi keuntungan kita, saya berjanji tidak akan protes apa pun perubahan yang nona lakukan dengan kedai Bunga melati milik kita" nyonya sari jati menyakinkan Dewi Lerna.


Dewi lerna bisa saja menggunakan ilmu gendam nya tetapi itu tidak di lakukan.


karena mengunakan ilmu gendam merenggut Sukma sangat beresiko, untuk di tujukan pejabat tinggi kerajaan, di sana banyak kalangan yang berilmu tinggi, yang bisa mendeteksi ilmu gendam merenggut Sukma milik Dewi lerna.


Ini bisa menggagalkan rencana besar milik kelompok mereka, yang sudah di rancang bertahun tahun.


Rombongan nyonya sari jati keluar dan berjalan ke belakang pasar menuju kedai Bunga melati milik mereka.


Kedai Bunga melati di bangun di belakang pasar sedikit ke tepi hutan, tapi di sana ada aksen jalan besar.


Sedikit tersembunyi tapi mudah di kunjungi, dari berbagai akses, bisa dari samping pasar melalu jalan atau dari depan pasar melalui jalan kecil.


Tanpa mereka sadari ada pengemis yang mengikuti mereka dengan seksama, walau sedikit agak jauh.


"Aku mulai paham dengan cara mereka bekerja" gumam dalam hati pengemis itu


Nyonya sari jati dan rombongan sampai di Kedai Bunga melati.

__ADS_1


Para penjaga membungkuk badan dan kepalanya menghormati Rombongan nyonya sari jati.


Kedai ini tak jauh beda dengan kedai bunga mawar merah, di dalamnya ada tiga ruangan, dan di ruangan terakhir ada kamar-kamar yang kedap suara.


Perbedaan kedai bunga melati lebih besar dan mewah di dan kedai bunga mawar merah.


Pengemis itu setelah memastikan Rombongan nyonya sari jati, masuk dan lama tidak keluar dia pun pergi dari sana.


Nyonya sari jati duduk di Ruangan elite, dengan meja besar, empat prajurit pengawal, duduk terpisah di lain meja.


Empat pelayan yang sudah di beri perintah oleh Dewi lerna, untuk melayani segala keinginan para prajurit itu.


Tentu saja mereka sangat senang, kesempatan ini, belum tentu datang dua kali dalam hidup mereka, karena untuk masuk ketempat ini sangat mahal bagi ukuran kantong mereka, pikir para prajurit.


Dewi lerna menyodorkan minuman ke nyonya sari jati, nyonya sari jati menerima minuman itu, dan langsung meminumnya.


Rasa minuman ini manis dan ada rasa pahit sedikit, yaah itu adalah tuak manis.


Setelah meminum beberapa tegukan nyonya sari jati sedikit pusing dan kontrolnya mulai hilang, Dewi lerna tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Nyonya sedikit pusing" dewi lerna pura-pura bertanya.


Nyonya sari jati hanya mengangguk.


minum ini minuman surga nyonya, coba nyonya minum lagi biar pusingnya hilang di ganti dengan rasa senang percayalah pada saya"


Dewi lerna menuangkan lagi ke gelas nyonya sari jati, bagai kena hipnotis nyonya sari jati menurut saja, dia langsung meneguk semua, dan di tuangkan lagi oleh Dewi lerna, lalu di tenggak lagi.


Setelah tiga kali Dewi lerna berhenti.


"Bagai mana rasanya nyonya sari jati"


"Enak sekali nona Dewi baru kali ini, aku merasakan bagi di atas Awang" jawab nyonya Sari jati


Dewi lerna bangkit dan mendekati nyonya sari jati dari belakang, lalu membisikan sesuatu sambil tangannya meraba leher nyonya sari jati dari belakang.


"Nyonya lebih asik dan bebas kalau nyonya masuk ke dalam"


"Tapi aku ingin minuman di tambah lagi" jawab nyonya sari jati, tanpa malu-malu.


Dewi lerna langsung menuangkan minuman itu agak banyak sedikit dari yang pertama.


Mereka berjalan bersama, tubuh nyonya sari jati di rangkul pinggangnya oleh Dewi lerna, berjalan masuk ke dalam ruangan ketiga,

__ADS_1


"Nyonya sari bagai mana kalau kita masuk ke kamar untuk bersenang-senang" sambil bicara Dewi Lerna, melambaikan tangan ke pemuda berbadan tegap berwajah cukup tampan.


Mereka bertiga pun masuk kedalam kamar tak keluar lagi.


Hari mulai senja di pasar besar kota Nusa kencana, pengemis dengan baju yang lusuh dan caping yang sedikit menutupi wajahnya.


Pengemis itu berjalan menyusuri pinggiran jalan pasar itu.


Ketika melewati penjual hewan potong, di sebrang jalan terlihat kedua pemuda dan satu orang setengah agak tuaan, sedang memaksa meminta uang seorang wanita paruh baya, penjual alat-alat dapur dari anyaman bambu.


Terdengar dengan keras pemuda itu berteriak.


"Cepat kau bayar uang pajak keamanan pada kami, sudah empat hari kau tidak membayar uang keamanan, kau ingin lapak mu ku gusur" pemuda itu bicara sambil menaikkan satu kakinya di meja tempat barang dagangan wanita itu.


"Maaf tuan saya cuma pedagang kecil, dagangan saya lagi sepi jangankan untuk tuan, untuk kami makan saja tidak ada"


Jawab wanita paruh baya itu.


"Jangan banyak alasan cepat bayar, mau makan mau tidak itu urusan kamu"


Pemuda itu menendang salah satu tumpukan Dagangan wanita itu, hingga berserakan.


Anehnya di antara mereka tidak ada yang berusaha menolong wanita tersebut, mereka seolah-olah tidak melihat kejadian itu.


Wanita paruh baya itu, mengumpulkan barang dagangan nya, sambil menangis.


"Tuan tolonglah saya, nanti saya akan membayar kalau dagangan saya ada yang laku, sampai mati pun saya tidak akan bisa membayar tuan, karena saya tidak ada uang"


"Sudah sering kau berkata begitu, tapi kau tak pernah membayarnya, lebih baik kau mati saja, biar jadi contoh orang yang tidak membayar uang keamanan pada kami"


Pemuda itu melayangkan tinjunya ke dada wanita paruh baya itu.


Sebelum sampai tinju itu pada dada wanita paruh baya, tiba-tiba.....


...****************...


janga lupa like and support nya


serta kritik dan sarannya di kolom komentar, untuk pertumbuhan tulisan ini 🙏🙏🙏


SALAM NUSANTARA


SALAM GARUDA PERKASA

__ADS_1


__ADS_2