
Pajar menyingsing dengan malu-malu, kicau burung menambah indah suasana perkampungan santui, kegembiraan terpancar dari riak wajah penduduk yang cerah, secerah mentari pagi.
Seruput air hangat di campur nira, ubi rebus menghiasi piring terbuat dari tembikar di lapisi daun pisang mengeluarkan aroma pandan menggugah selera sarapan pagi.
Mulut Boma di penuhi dengan ubi pakaian kebesaran pangeran tak lepas dengan badannya, semua penduduk di sana tertipu gaya dan penampilan Boma yang seolah-olah benar-benar bangsawan dari kerajaan Kutai khal.
Pagi itu para perempuan sudah datang pagi-pagi sekali, ke rumah Kalur untuk memasak hidangan makan besar bersama dewa penolong mereka.
Penduduk itu ingin berterima kasih atas jasa ke tiga satria dan satu putri yang telah mengatasi dan menangkap biang teror di kampungnya.
Pangeran Shun Land telah mengundang tokoh-tokoh kampung itu melalui Boma.
Penunjuk jalan Karba telah di jemput salah satu penduduk, Karba merasa gembira bisa jadi bagian pembasmi kejahatan di kampung itu.
Di pagi itu telah berkumpul para tokoh-tokoh kampung dan rombongan pangeran Shun Land, untuk membicarakan hukum apa yang pantas untuk para penculik dan biang penculik itu.
Di sana telah hadir, pak karsa, pak Toleng, pak kirdun, pak kasmis dan dua pemuda Tejo dan Karman, tuan rumah pak Kalur memimpin musyawarah itu,
Di samping pak Kalur Boma yang berlaga seolah dia lah pahlawannya.
Pangeran Shun lan duduk di apit Pangeran Sanjaya triloka di kiri dan dan sebelah kanan putri Dian Prameswari dwibuana.
Pak Kalur membuka musyawarah itu.
"Kepala pangeran Boma dan kawan-kawan saya menghaturkan terima kasih, khusus nya pada nak Satria Nusa kencana, pangeran Sanjaya dan putri Dian Prameswari dwibuana....
"Para tokoh kampung ini dan para pemuda, musyawarah ini membahas tentang hukuman apa yang setimpal buat kepala kampung yang telah mengunakan wewenangnya berbuat kejahatan.....
Sebelum pak Kalur meneruskan bicaranya, dari luar seorang pria paruh baya berteriak.
"Yang pantas buat Bangs** Sotang adalah hukuman mati, yang telah membunuh dengan sadis tanpa perikemanusiaan, manusia berwatak dan bertabiat iblis tak pantas hidup di bumi ini".
NB'(Sotang ini ada dua, 1. Sotang kepala pelabuhan 2. Sotang pengabdi ilmu sesat kepala kampung Santui)
Seluruh tokoh kampung dan rombongan pangeran Shun Land, merasa maklum karena bapak itu kehilangan anak gadisnya, dengan mengenaskan, bahkan sang ibu wanita itu sampai sakit-sakitan, kehilangan putrinya sejak tiga bulan yang lalu, dan saat di temukan dalam keadaan tak bernyawa.
Gadis gadis itu, darahnya di buat persembahan dan di buat bahan minuman untuk meningkatkan kekuatan oleh Sotang.
Hingga mereka kekurangan darah, dan gadis perawan pertama paling banyak di ambil darahnya hingga kematian, karena kehabisan darah.
Suasana menjadi ramai di luar rumah, semua menuntut hukuman mati buat Sotang seorang pengabdi setan.
Andaikan pangeran Shun Land tidak ingin mengajarkan asas musyawarah kepada rakyatnya, tentunya tubuh Sotang sudah hancur.
Secara pribadi pangeran Shun Land sangat mengutuk perbuatan Sotang, apa lagi mengingat perilaku seksual menyimpang, tindak sodomi yang di perbuat kepada anak-anak, akan membekas di jiwa korban sampai akhir hayat, sebuah cacat psikologis yang sulit di sembuhkan.
Pangeran Shun Land bicara dengan di lambari tenaga dalam sambil berdiri. suaranya menggema hingga semuanya terdiam dan tenang kembali.
"Harap tenang saudara-saudara ku. Aku utusan raja kalian dari kerajaan Kutai khal, akan memberikan hukuman yang setimpal, perbuatannya, percayalah pada kami"
__ADS_1
"Nak Satria Nusa kencana, sebaiknya nak Satria langsung saja, kemukakan, keputusan karena para penduduk hanya mendengar dan mematuhi pendapat dan keputusan nak Satria, kami yang berkumpul disini akan mendukung semua keputusan nak Satria, bukan begitu saudara-saudara ku semua ?".
Pak Kalur mengemukakan pendapat dan di iyakan seluruh yang hadir di sana.
"Baiklah kalau begitu, tapi bagai mana menurut pangeran Boma". Pangeran Shun Land sedikit berpura-pura, hingga penyamarannya terlihat sempurna.
Boma hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Pangeran Shun Land keluar dan berdiri di depan rumah pak Kalur, semuanya keluar rumah berdiri di depan rumah.
"Bawa kemari para pelaku penculikan kita akan memeriksa satu persatu" pangeran Shun Land memerintah.
Dua pemuda tangkas Tejo dan Karman serta beberapa penduduk kampung pergi, ke rumah kepala kampung, tempat kelima pelaku penculikan di ikat.
Kelimanya di giring dengan tangan yang terikat, dari kelimanya yang paling parah, sampai mukanya tak di kenali hanya Sotang.
Para penduduk laki-laki dan perempuan semuanya berseru.
"Bunuh bunuh bunuh". Ada juga yang berteriak
"Bakar bakar saja pengikut setan ini"
Kelimanya berlutut di hadapan pangeran Shun Land, pangeran Shun land menanyai ke empat anak buah Sotang.
"Apa alasan mu mengikuti dan patuh kepada Sotang pengabdi setan ini"
"Tuan kami terpaksa mengikuti ketua Sotang karena kami membutuhkan uang untuk menghidupi keluarga kami dari kelaparan, andai ada pekerjaan lain tentu saja kami akan memilih pekerjaan itu"
Ke empatnya memiliki alasan yang hampir sama dengan yang pertama, hanya suami pemilik warung yang berbeda, dia di paksa warungnya akan di tutup paksa bila tidak menuruti perintah kepala kampung.
Istrinya pun ikut menyakinkan sambil menendang kepala kampung dengan kebencian karena salah satu korbannya anak laki-laki adalah keponakannya.
"Untuk pak Kasdi menurut saya, harus di bebaskan karena dia berbuat demikian oleh keterpaksaan, apa kalian setuju", pangeran Shun Land memutuskan untuk pak Kasdi.
Semuanya merasa senang karena pak Kasdi mempunyai perilaku yang baik tidak mungkin berbuat kejahatan kalau tidak ada ancaman.
"Setujuuuuuu", yang hadir berseru dengan keras.
Pak Kasdi di buka ikatannya, lalu bersujud di hadapan pangeran Shun Land, sambil berterima kasih
"Terima kasih Tuan Satria Nusa kencana"
"Aku wakil dari raja kalian pangeran Shun Land, akan berbuat adil seadil-adilnya" pangeran Shun Land berhenti sejenak lalu melanjutkan bicaranya.
"Untuk tiga pendekar saya akan mengampuni mu tapi dengan sarat kalian harus mengabdi pada kampung ini, untuk menjaga keamanan dan mengajarkan ilmu olah Kanuragan kepada para pemuda di sini, apa kalian sanggup, bila kalian sanggup lakukan sumpah darah ke bumi, untuk setia pada raja, pada kerajaan dan keadilan....
"Apa kalian semua setuju dengan keputusan ini". Pangeran Shun Land memberi kepuasan dan bertanya kepada para penduduk.
"Setujuuuuuu..." Semuanya memuji akan keputusan Satria Nusa kencana, dia cerdas dan bijaksana.
__ADS_1
Pangeran Shun Land, ingin memanfaatkan, olah Kanuragan ketiganya untuk kebaikan kampung itu.
Ketiganya mengucapkan ikrar janji dan sumpah darah kebumi, di saksikan seluruh warga kampung Santui.
Warga kampung Santui berteriak-teriak dengan semangat.
"Hidup Satria Nusa kencana, hiduuup Satria Nusa kencana"
Pangeran Shun Land mengangkat tangan tanda menyuruh tenang. Bagai di hipnotis semuanya diam.
"Untuk hukuman mati bagi otak dari kejahatan ini butuh wewenang raja, atau permaisuri langsung, saya akan mengirim penghianat Sotang pengabdi setan, ke istana untuk di adili, dan kepalanya di bawa kemari sebagai peringatan akan tragedi ini, kuharap kalian semua menyetujui keputusan ini".
Pangeran Shun Land membuat keputusan ini, ingin mendidik Rakyatnya bahwa memutuskan menghilangkan, nyawa seseorang walau pun dia seorang penjahat harus melalui proses pengadilan, dan dapat restu dari raja atau permaisuri, kerajaan sebagian tanda tunduk terhadap kerajaan.
"Setujuuuu" mereka sangat mengagumi Satria Nusa kencana, di benak masing-masing, andai raja mereka seperti ini, mereka akan membela dan mengabdi sepenuh hati, mereka tidak tahu bahwa yang di hadapannya raja mereka yang asli.
Pangeran Shun Land memanggil sang Rajawali api, dan menugaskan pangeran Sanjaya triloka untuk membawa Penghianat Sotang ke istana kerajaan Kutai khal.
Pangeran Sanjaya yang telah di beri tahu apa saja yang harus dilakukan tadi malam segera maju ke depan.
Teriakan mahluk legenda sang Rajawali api, membuat para penduduk sedikit menjauh ada rasa takut di serang mahluk legenda besar itu.
Penghianat Sotang di bawa pangeran Sanjaya menaiki sang Rajawali api, sang Rajawali api langsung terbang.
Salah satu penduduk berkata dengan keras.
"Itu LEGENDA RAJAWALI API yang ada di dongeng orang tua kita dulu". Semuanya mengiyakan ungkapan itu.
Semua berseru bersamaan dengan menunjuk ke arah pangeran Shun Land.
"Dia pendekar Legenda Rajawali api"
Setelah itu semuanya berlutut, salah satu dari mereka berkata.
"Kami menghaturkan salam hormat kepada pendekar legenda Rajawali api, dari bapak, dari kakek, dan leluhur kami....
Mereka berpesan agar kami mengabdi dan patuh bila di masa depan kami bertemu dengan seorang pendekar yang mempunyai seekor burung Rajawali api...
Karena dia utusan keadilan dari sang maha pencipta, kami sangat beruntung dapat berjumpa dengan tuan pendekar".
Putri Dian Prameswari dwibuana sangat kaget dan bangga, ternyata sahabatnya ini, seseorang yang telah di ramalkan sejak ratusan tahun yang lalu, bahkan ribuan tahun yang lalu.
...****************...
like, support dan komennya di tunggu. untuk pertumbuhan tulisan ini.
SALAM NUSANTARA
SALAM GARUDA PERKASA
__ADS_1